
“Ayo! Kita pergi dari sini,” ajak Leo setelah ia mulai menemukan titik terang jalan mana yang akan mereka lalui.
Shena hendak melangkah lagi, tapi tiba-tiba kakinya terasa sakit. “Aduh!” seru Shena sambil mengamati bagian kakinya yang sakit.
Ternyata, lutut Shena berdarah dan terluka lumayan parah. Ia bahkan sulit menggerakkan kakinya. Leo menoleh ke arah Shena dan berlutut didepannya untuk memeriksa luka Shena.
Darah Shena yang mengucur keluar, lumayan banyak juga. Leo langsung bertindak cepat dengan merobek bagian bawah kemeja atas Shena tanpa permisi dan mengikat robekan kain tersebut dilutut Shena untuk menghentikan darahnya agar tidak banyak yang keluar.
Awalnya, Shena terkejut dan ingin mengomel, tapi begitu melihat aksi Leo yang berniat baik. Ia tidak jadi protes. Gadis itu hanya diam sambil menatap Leo yang serius merawat lukanya.
“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku,” ujar Shena setelah Leo selesai menghentikan pendarahannya. Leo berdiri dan melepaskan jaketnya lalu memakaikannya di tubuh Shena supaya gadis itu tidak kedinginan. "Kau tidak perlu melakukan ini," cetus Shena lagi.
"Perutmu kelihatan, aku tidak mau Laura menuduhku yang bukan-bukan lagi, pakai saja jaket itu untuk menutupinya." Leo berbalik badan saat Shena hendak mengomel. Cowok itu berjongkok di depan Shena yang tidak jadi bicara. “Naiklah ke punggungku!” suruh Leo.
“Tidak mau! Aku bisa jalan sendiri!”
“Jangan keras kepala!” bentak Leo. “Aku melakukan ini bukan karena menolongmu, tapi supaya kita lebih cepat keluar dari sini. Kecuali kalau kau mau aku tinggal sendirian disini sementara aku pergi mencari bantuan, Jika kau memaksakan diri berjalan, minggu depan baru kita bisa keluar dari hutan,” terang Leo.
Yang dikatakan Leo memang benar. Kaki Shena benar-benar sakit sekarang. Ia juga kesulitan berjalan. Shena tidak mau ditinggal di sini sendirian. Jadi, tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti kata-kata Leo. Shena terpaksa mau digendong Leo untuk kesekian kalinya.
Selama berjam-jam Shena dan Leo berjalan menyusuri hutan, sampai akhirnya keduanya sampai disebuah tempat yang tidak seharusnya tempat itu mereka kunjungi. Sebab, tempat yang tepatnya berada di tengah-tengah hutan itu adalah tempat perkumpulan penjahat dan berandal desa yang berhasil selamat dari amukan bencana dahsyat saat melanda kampung setan beberapa waktu yang lalu.
Mereka semua kini berganti profesi menjadi penyamun. Dengan kata lain, tempat yang baru saja didatangi Shena dan Leo adalah tempatnya sarang penyamun. Lebih parahnya lagi adalah beberapa orang dari penyamun itu merupakan orang yang pernah menculik Fey dan Shena. Orang-orang ini adalah pengikut iblis Gengishkhan yang tersisa.
Awalnya Leo tidak curiga dan terus saja masuk ke tempat persembunyian mereka. Namun, lama-kelamaan Leo mulai memahami situasi bahwa ia dan Shena sedang dalam bahaya. Beberapa orang mulai datang dan mengepung keduanya.
“Wuah, suatu kebetulan kita kedatangan tamu. Huh, lihat siapa mereka. Senang bisa bertemu denganmu lagi, Nona,” sapa salah satu penyamun yang berkumis tebal dan berbadan gempal itu pada Shena.
Karena ingatan Shena sudah dihapus Refald sebelumnya, Shena jadi tidak tahu siapa orang yang bersikap sok kenal dan sok dekat padanya.
__ADS_1
“Apa kau kenal orang itu?” tanya Leo yang berdiri di depan Shena. Ia menatap penyamun itu penuh waspada.
“Aku tidak tahu, aku juga baru melihatnya sekarang,” jawab Shena.
Penyamun itu pun tidak terima karena dirinya dilupakan. Pria itu pun mengingatkan lagi kejadian dimalam Shena dan Fey dibawa ke dunia lain oleh mereka dan bermaksud dijadikan tumbal.
“Huh, beraninya kau melupakanku di depan pacarmu! Kau takut dia cemburu? Padahal aku menyukai gadis cantik sepertimu. Kau lupa, atau pura-pura lupa, ha? Kalau begitu biar aku ingatkan lagi. Kamilah yang ....”
Belum sempat penyamun itu melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Leo melemparinya dengan batu besar yang ia temukan dibawah kakinya agar penyamun itu tak dapat lagi bicara. Sebab, bisa gawat kalau Shena kembali mengingat kejadian ghaib waktu itu.
Lemparan Leo tepat mengenai pipi penyamun itu sehingga ia tersungkur ke belakang saking kerasnya hantaman batu sebesar kepalan tangan Leo.
Pluk!
Darah langsung mengucur deras di pipi penyamun itu. Pria itupun langsung berteriak histeris sampai memekikkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
Mata elang Leo juga sedang menyiratkan kemarahan yang begitu besar. Tangannya mengepal kuat dan 10 tanduknya pun mulai bermunculan. Leo mulai mengeluarkan seluruh jiwa gengsternya untuk menghabisi semua penyamun itu.
“Beraninya kau bermimpi menjadikan wanitaku sebagai istrimu! Membiarkanmu melihatnya seperti itu saja sudah membuatku marah, apalagi kalau sampai kau menyentuhnya! Kalian semua belum tahu siapa aku! Bagus tempat ini jauh dari pemukiman, jadi aku bisa menjadikan kalian bergedel di tempat ini!” Aura membunuh Leo mulai tampak dan sedikit membuat beberapa penyamun gemetar ketakutan.
“Bos, sepertinya orang itu bukan orang biasa, tatapan matanya saja menakutkan begitu!” bisik salah satu anak buahnya pada penyamun itu.
“Dia itu cuma bocah sekolahan, masa kalian takut sama bocah bau kencur sepertinya! Cepat habisi dia! Jangan merengek saja!” bentak penyamun itu. Para anak buahnya langsung berlari menyerang Leo secara bersamaan.
“Tetaplah berada didekatku, Shena. Jangan jauh-jauh dariku karena kakimu sedang terluka,” ujar Leo sambil menendang ulu hati para penyamun yang mendekat kearahnya.
Shenapun mengangguk karena ketakutan dan juga panik. Tiba-tiba saja ia diserang oleh beberapa orang jahat tak dikenal. Namun, Leo dengan sigap menangkis dan menghalau semua serangan penyamun yang mencoba menyerangnya. Cowok itu juga langsung melayangkan pukulan mautnya pada wajah beberapa orang yang mencoba mendekati Shena dan dirinya.
Berkali-kali Leo melindungi Shena dengan berputar-putar mengelilingi tubuh gadis itu untuk menghalau serangan orang-orang yang hendak menyentuh Shena. Leo menghajar semua orang itu dengan membabi buta. Bahkan ia terlihat kalap sampai orang yang pingsan pun masih dipukul habis-habisan hingga babak belur.
__ADS_1
Alhasil beberapa penyamun tumbang dan terkapar tak berdaya akibat serangan yang bertubi-tubi dari Leo. Saat ada yang mencoba mendekati Shena lagi, Leo langsung melompat dan menyerang penyamun tersebut dengan tendangan salto ala Steven Chou sampai orang tersebut terpental jauh kesamping. Semua orang yang menatap aksi Leo, jadi tertegun melihat betapa kerennya Leo karena dalam sekejap, ia bisa menumbangkan banyak orang dengan tangan kosong.
Kelihaian Leo berkelahi membuat beberapa penyamun yang tersisa mulai berpikir ulang untuk menyerang Leo kembali atau tidak, sebab teman-temannya yang terkapar sepertinya sudah banyak mengalami patah tulang disekujur tubuh mereka.
“Wuah, daebak,” gumam Shena sambil terus memerhatikan Leo. Shena sendiri tidak bisa bergeming dari tempatnya karena kakinya masih terasa ngilu.
Meski bukan pertama kalinya Shena melihat aksi Leo, entah kenapa gadis itu mengagumi orang yang sudah berkali-kali menyelamatkannya itu, apalagi Leo memang terlihat cool saat menghajar para penjahat itu. Namun, senyumnya memudar ketika Leo mengedipkan salah satu mata genitnya pada Shena sehingga gadis itu jadi ilfeel lagi.
“Dasar buaya laaknat! Sekali buaya tetap saja buaya. Aku pasti sudah gila jika kagum pada playboy seperti dia!” gerutu Shena sambil mengalihkan padangan ke suatu tempat yang membuat mata Shena langsung terbelalak karena terkejut.
Tidak salah lagi, Shena melihat penyamun itu mengeluarkan sebuah pistol yang ia tujukan tepat ke arah Leo yang sedang sibuk bak buk bak buk menghajar para penjahat saat mencoba menyerangnya. Sebelum penyamun itu menarik pelatuknya, refleks tubuh Shena berusaha berlari sekuat tenaga untuk menghalau peluru itu walau Shena tidak tahu apakah tepat waktu atau tidak.
Dor!
Penyamun itu menarik pelatuknya tepat saat Shena berdiri dibelakang Leo yang sedang mencengkeram erat leher salah satu penjahat itu. Suara tembakan yang terdengar keras membuat Leo tersentak dan ia pun melepaskan cengkeramannya dan menoleh kebelakang bersamaan dengan tumbangnya Shena dipelukan Leo.
“Shena!” teriak Leo dengan suara gemetar. Ia merengkuh tubuh Shena dan memeluknya agar tidak jatuh ke lantai.
Mata Leo tertegun saat melihat ada sosok lain yang berdiri di belakang Shena sambil merentangkan satu tangannya.
“Dia tidak apa-apa!” ujar sosok itu sambil tersenyum membelakangi Leo dan Shena.
BERSAMBUNG
****
Masih ada bonus episode 1 lagi. Komentarnya dong ... komentar kalian bikin aku semangat loh ... hiks hiks .. kenapa Refald sepi nggak kayak Leo ya ... huaaaaa ...
__ADS_1