
Setelah memastikan Fey dan yang lainnya keluar dari tempat ini dan berada ditempat aman, Refald mulai memunculkan aura kekuatannya yang luar biasa. Orang-orang yang menatap mata Refald langsung terpental jauh kebelakang. Bahkan tak sedikit dari mereka langsung pingsan. Namun, hal itu tidak berpengaruh pada ketua penyamun itu. Ia memang sudah bersekongkol dengan iblis sebelum mereka dimusnahkan oleh Refald saat itu. Penyamun tersebut telah menyatukan jiwanya dengan iblis agar ia mempunyai kekuatan sama seperti makhluk mengerikan itu.
Tatapan mata Refald, tak bisa menumbangkan penyamun berwajah mirip simpanse. Sebaliknya, manusia setengah siluman itu malah menyerang Refald dengan kekuatan iblisnya. Refald menghalau serangan itu dengan kedua tangannya sehingga tak satupun mengenainya.
“Tanpa pasukanmu, kau bukan apa-apa!” teriak penyamun itu semakin membabi buta menyerang Refald. Namun, semua serangan dari manusia iblis itu berhasil dihalau oleh Refald.
“Untuk memusnahkan Lutung sepertimu, aku tidak butuh pasukanku!” kali ini Refald menggunakan kekuatannya untuk membalas serangan penyamun itu.
Semua batu-batu besar dan benda-benda berat yang ada disekitar mereka, digunakan Refald untuk menyerang tubuh musuhnya. Sayangnya, Simpanse tersebut memiliki ilmu kekebalan tubuh sehingga benda apapun yang dihantamkan kearahnya, semuanya tidak mempan. Si Lutung itu sama sekali tidak terluka.
“Kau tidak akan bisa membunuhku dengan mudah. Hatiku tidak selemah raja iblis yang sudah kau musnahkan. Dan seandainyapun kau mengalahkanku, kau tetap tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini. Karena aku sudah memagari tempat ini dengan sebuah penghalang yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh siapapun atau makhluk apapun. Aku sendiri juga tidak bisa menembus penghalangnya. Hahaha ... dengan kata lain, selamanya ... kau dan aku akan terjebak di dalam penghalang ini.” Penyamun itu tertawa terbahak-bahak karena merasa menang.
Refald menghentikan serangannya dan berdiri tegap menatap penyamun yang sedang tertawa dengan keras. Ia mengarahkan beberapa binatang kecil seperti lalat, nyamuk, dan sejenisnya masuk ke dalam tenggorokan penyamun itu sehingga ia tersedak dan terbatuk-batuk.
“Uhuk ... uhuk ....” penyamun itu merasakan sakit ditenggorokannya karena ada beberapa binatang kecil masuk ke mulutnya saat ia tertawa.
“Ck ck ck ... harusnya kau berhati-hati dengan lalat dan nyamuk di sini. Mereka suka sekali dengan rongga mulut yang lebar. Aku sarankan kalau kau tertawa tidak perlu menunjukkan gigi jelekmu, atau binatang-binatang berukuran kecil itu akan masuk ke dalam mulutmu dan tinggal didalamnya,” ledek Refald.
“Kau!” geram penyamun itu sambil terbatuk-batuk.
Tanpa membuang-buang waktu, Refald menyerang Simpanse itu dengan serangan pamungkas yang pernah ia gunakan saat mengalahkan raja iblis Gengishkhan. Karena terlalu lengah, penyamun itu tidak sempat menggunakan ilmu kebalnya sehingga serangan Refald tepat mengenai tubuhnya dan membuatnya terpental jauh kebelakang. Punggungnya membentur dinding bangunan dengan keras sampai dinding tersebut retak dan hancur berkeping-keping saking kuatnya serangan Refald.
“Kau lengah,” ledek Refald lagi dan ia menyerang penyamun itu lagi tanpa ampun. Refald berlari cepat ke arah penyamun itu dan langsung mencekik lehernya hingga tubuhnya melayang keatas karena mendapat tekanan kuat dari tangan Refald. “Beraninya kau mencoba bermimpi menjadikan istriku sebagai istrimu. Kau bahkan berusaha menculiknya waktu itu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu bahkan jika kau bersujud dikakiku! Kau bedebaah yang harus dimusnahkan!” geram Refald melampiaskan semua amarahnya.
Penyamun itu menatap tajam mata Refald yang juga menatapnya. “Walaupun ... kau membunuhku, kau ... tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Huh, aku harap kau sudah mengucapkan kata selamat tinggal untuk istrimu itu!” ujar penyamun itu terbata-bata karena ia mulai kesulitan bernapas.
“Kau terlalu meremehkanku. Siapa bilang aku tidak bisa keluar dari sini? Akan aku pastikan kau membusuk ditempat ini sendirian sampai kau menyadari kesalahanmu sendiri. Bahkan jika kau sadar sekalipun, semuanya sudah terlambat dan hanya penyesalanlah yang akan menemanimu sampai kau mati. Ah, satu lagi ... tidak ada kata perpisahan diantara aku dan istriku, yang ada hanyalah ‘kata cinta’. Huh, aku kasihan padamu, kau sudah menyia-nyiakan hidupmu hanya demi memuja iblis yang cuma bisa menyesatkanmu! Membusuklah kau didalam sini, bahkan iblis yang kau puja-puja itu tidak akan bisa menyelamatkanmu sekalipun kau minta tolong!” Refald melempar jauh penyamun itu ke sisi lain sehingga ia tak bisa bergerak lagi.
Sementara diluar penghalang, Fey memikirkan cara agar ia bisa membuka penghalang itu dan mengeluarkan suaminya, Refald yang terjebak didalam.
“Apa tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk membuka penghalang ini, Pak Po? Aku khawatir pada suamiku di sana. Pasti ada cara, beritahu aku, pak Po. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Fey dengan panik dan juga cemas.
Penghalangnya terlalu kuat sehingga sehelai daunpun tak bisa menembus penghalang itu. Bahkan makhluk hidup seperti burung dan binatang lainnya akan hancur lebur menjadi abu jika sampai menyentuh penghalang itu.
Pak Po tak langsung menjawab pertanyaan istri pangerannya. Dia sibuk melayang-layang kesana kemari untuk mencari inspirasi. Tak berselang lama, pak Po pun mendapat ilham dan turun menghadap Fey.
“Putri, ada satu cara, meski aku tidak yakin apakah cara ini berhasil atau tidak, tapi tidak ada salahnya jika kita mencoba.” Pak Po terlihat senang tapi juga sedikit ragu karena takut idenya gagal.
“Katakan, apa itu?” tanya Fey antusias.
“Selendang pemberian Raja Inu Kartapati, leluhur anda sendiri putri, gunakan selendang pelangi itu untuk membuka penghalang itu. Begitu penghalang itu terbuka, saya akan masuk dan membawa pangeran Refald keluar dari tempat itu,” terang pak Po sambil melihat raut wajah istri pangerannya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Fey pun menyetujui usulan Pak Po. Gadis itu memejamkan mata dan dalam hitungan detik, sebuah selendang pelangi muncul di telapak tangan kanannya.
“Aku akan mencobanya, mudah-mudahan cara ini berhasil.” Fey bersiap untuk mengibaskan selendang pelanginya pada dinding penghalang yang dibuat oleh penyamun itu.
Ternyata, apa yang dilakukan Fey berhasil, hanya dengan sekali kibas, penghalang itupun bisa terbuka. Fey bergegas melapisi tangannya dengan selendang pelangi yang ia pegang untuk menahan penghalang yang terbuka. Hal itu Fey lakukan karena ia tak bisa menahan dinding penghalang itu dengan tangan terbuka tanpa pelindung apapun, sebab dinding tersebut bisa menghancurkan kulitnya. Namun, berbeda jika Fey melapisi tangannya dengan selendang pelangi yang baru saja ia gunakan untuk membuka penghalang tersebut, Fey bisa menahannya tanpa takut terluka.
“Cepat pak Po, masuk dan bawa Refald kemari!” seru Fey.
“Baik, Putri!” Pak Po pun menghilang dan beberapa saat kemudian ia muncul kembali dengan membawa Refald bersamanya. Begitu suami dan pasukannya keluar, Fey melepaskan pegangannya dan penghalang itu kembali menutup rapat.
Selendang pelangi yang tadi ia gunakan juga langsung menghilang dengan sendirinya. Fey bernapas lega karena suaminya keluar dalam keadaan sehat tanpa luka sedikitpun.
“Kau tidak apa-apa, Suamiku?” tanya Fey sambil memegang kedua pipi Refald.
Tanpa bicara, Refald memeluk tubuh istrinya dengan erat. Ia sangat senang dan bangga memiliki istri yang tangguh seperti Fey saat ini. Sekarang Fey jauh lebih kuat dari sebelumnya.
“Terimakasih, Honey. Kali ini kau menyelamatkanku. Kau sungguh luar biasa. Aku jadi semakin cinta padamu,” ujar Refald sambil tersenyum senang. Refald tak ingin melepaskan pelukan istrinya.
“Itu karena aku adalah istrimu, aku sangat khawatir padamu ... syukurlah kau baik-baik saja.”
Refald langsung menyambar bibir ranum Fey dan menciumnya dengan mesra, isapan demi isapan kecil mereka lakukan untuk mencurahkan rasa suka cita dan cinta mereka masing-masing.
“Ehem ... ehem,” pak Po yang menyaksikan romantisme kemesraan pangeran dan istrinya jadi keki sendiri. “Bolehkah saya pergi, Pangeran, sepertinya saya hanya jadi obat nyamuk di sini!” Pak Po bicara seperti itu tanpa berani memandang wajah pangerannya.
Tanpa kata-kata lagi, pak Po pun menghilang dalam sekejap mata. Ia juga kesal kerena gagal memiliki pasangan untuk kesekian kali karena pangerannya juga batal menikah lagi. Padahal, Dia juga ingin beromantis ria bersama dengan pasangannya walau hanya di dunia lain saja.
***
Mbak Kun memberi petunjuk jalan pada Leo agar ia tidak tersesat saat kembali ke Camp dimana teman-teman Leo dan Shena termasuk Roy dan Laura berada. Dari ketinggian, Leo sudah bisa melihat area camp tersebut.
“Tuan muda Leo, sudah sampai. Jika tidak ada lagi yang anda butuhkan, saya pamit dulu,” ujar mbak Kun yang melayang-layang di atas Leo. Leo sendiri tetap fokus berjalan sambil menggendong Shena.
“Terimakasih mbak Kun, Pergilah! Sampaikan salamku pada kakak dan kakak iparku!” ucap Leo. Ia pun pergi menuruni bukit menuju camp tempat berkumpulnya seluruh teman-temannya.
Seperti sebelumnya, semua mata memandang heran dan juga bingung sekaligus takjub, karena setiap kali Leo dan Shena menghilang, keduanya pasti kembali datang dengan beradegan gendong-gendongan ala drama-drama Korea atau China. Ditambah lagi, Shena selalu pingsan dalam gendongan Leo. Pemandangan itulah yang membuat semua orang yang melihat Leo dan Shena jadi tak bisa berkata-kata lagi.
“Wuah, daebak! Berapa kecebong yang udah kau masukkan, bro? Shena sampai pingsan, gitu?” tanya teman Leo yang bernama Brandon.
“Aku bahkan belum memasukkan satu kecebongpun padanya, tapi ia sudah pingsan duluan!” Leo tersenyum sinis.
Kali ini si gengsternya Leo tidak terlihat marah mendengar kritikan pedas dari temannya. Sebaliknya, cowok itu malah menanggapinya dengan santai bahkan Leo merasa sedikit melucu.
__ADS_1
Mendengar jawaban Leo, semua teman-temannya tertawa sekaligus salut karena Leo tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan yang dialami Shena, mengingat laki-laki manapun yang terjebak seperti Leo, pasti bakal mengambil kesempatan langka itu.
“Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kau tahu? Kau punya kesempatan tiga kali, sayangnya kau tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik. Jika saja itu aku, pasti sudah ratusan kecebong aku masukin, supaya kita bisa cepat dinikahkan!” ledek teman Leo yang lainnya, sambutan tawa riuh ricuh langsung menggema dimana-mana.
Leopun berhenti berjalan dan menatap tajam mata teman yang meledeknya. “Aku bukan bajingaan sepertimu! Aku tahu kapan aku bisa memasukkan kecebongku, tapi tidak sekarang. Aku akan menjaga mahkotanya sampai saat itu tiba!” tandas Leo.
“Wuaaaah, kau keren, bro! Daebak! Sugoi!” teman-teman Leo yang mendengar kata-kata mutiara Leo langsung mengacungkan dua jempol mereka bersamaan.
Leo hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya membawa Shena menuju ke ruang kesehatan supaya Shena segera mendapat perawatan. Sebab, meski lukanya sudah disembuhkan oleh kakak iparnya saat dihutan tadi, tetap saja Leo masih khawatir pada Shena. Tak seperti biasanya yang langsung meninggalkan Shena setelah meletakkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur, kali ini Leo ingin menemani Shena sampai ia sadarkan diri kembali.
Sekilas, terlintas dibenak Leo detik-detik gadis itu memaksakan diri menyelamatkannya dari tembakan penyamun saat Leo sedang sibuk berkelahi. Leo sangat terkejut melihat Shena yang begitu tenang melindunginya walau peluru itu tak bisa menembusnya berkat bantuan Refald. Leo penasaran apa yang membuat Shena nekat melakukan tindakan yang bisa merenggut nyawanya sendiri, padahal Shena selalu bilang kalau gadis itu tidak menyukainya.
Jika Shena benar-benar membenci Leo, harusnya gadis itu membiarkan laki-laki yang dibencinya tertembak. Namun, yang dilakukan Shena malah sebaliknya, ia tidak berpikir panjang bahwa nyawanya sendiri pun juga dalam bahaya besar saat itu.
“Kenapa kau lakukan itu, Shena? Ingatanmu juga sudah dihapus oleh kakakku. Kenapa kau malah bertindak bodoh seperti itu. Jika sampai kau melibatkan dirimu dalam bahaya lagi demi aku, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.” Leo menggenggam erat tangan Shena.
“Apa yang kau lakukan, ha?” teriak Laura saat ia datang ke ruang Shena dan mendapati Leo duduk disebelahnya. “Kau apakan lagi, Shena?” tanya Laura marah. Roy pun ikut berlari menghampiri Leo dan Shena.
Tidak seperti Laura yang menggebu-gebu, Roy hanya mengamati wajah Leo dan Shena secara bergantian. Ini pertama kalinya Leo terlihat murung menatap Shena seolah tahu ada sesuatu yang terjadi lagi.
Tanpa menoleh ke arah Laura, Leo berkata, “Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Kali ini, dialah yang menyelamatkanku. Tinggalkan kami sendiri, jika dia sadar nanti ... aku ingin menanyakan apa alasannya dia rela mengorbankan nyawanya demi aku,” terang Leo lirih dan hanya menatap wajah Shena.
“Hah?” tanya Laura bingung.
Roy yang mengerti maksud Leo mengajak paksa Laura untuk keluar meninggalkan mereka berdua. “Ayo kita keluar!” ajak Roy.
“Nggak! Aku tidak yakin kalau si kampret ini nggak macam-macam sama Shena, aku juga mau nemenin dia di sini!” tolak Laura.
Tanpa izin, Roypun mengikuti cara Leo saat memperlakukan wanita ketika tidak menuruti keinginannya, yaitu menggendong Laura yang beratnya hanya 42 kg keluar dari ruangan dengan paksa tanpa peduli gadis itu setuju atau tidak.
“Apa yang kau lakukan? Lepasin! Atau aku teriak, nih!” ancam Laura.
Roy bersikap lembut dan menurunkan Laura ketika keduanya sudah diluar ruangan. “Kenapa kau selalu ikut campur urusan mereka? Tidakkah kau ingin berduaan denganku saja?” Roy mencoba menggoda Laura dengan mengedipkan salah satu matanya.
Cowok itu juga menggenggam erat tangan gadis manis yang berdiri bingung didepannya. Jurus playboy andalan Roy, sudah mulai ia keluarkan.
BERSAMBUNG
****
maaf baru bisa up
__ADS_1