
Upacara penutupan kegiatan caraka sudah dimulai. Semua orang yang ada di sini mengikuti upacara dengan khidmad. Mereka bahkan terbawa emosi ketika kami semua menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Jiwa patriotisme kami pun muncul seketika. Inilah jiwa yang diinginkan setiap bangsa dan negara supaya generasi penerus bangsa mau mencintai negaranya. Pidato penyemangat juga diucapkan pembina kami dengan penuh semangat, mengalahkan semangat pembacaan teks proklamasi yang selalu dikumandangkan setiap memperingati hari kemerdekaan.
Tidak terasa 30 menit sudah pelaksanaan upacara penutupan ini berlangsung, begitu semua pasukan dibubarkan, kami saling berpelukan satu sama lain. Aku merasa bahagia, karena acara ini sukses sesuai harapan. Meski banyak hal yang terjadi selama kegiatan berlangsung, kami semua tetap bisa melaluinya dengan penuh semangat. Aku meneteskan air mata melihat suasana haru ini.
Nura dan Mia langsung berlari memelukku. Tubuhku hampir terjungkal ke belakang karena tidak kuat menahan beban tubuh mereka.
“Kau berhasil, Fey! Acara kita sukses kali ini,” seru Mia.
Perlahan aku melepaskan pelukan mereka. “Semua ini berkat bantuan dari kalian semua. Aku tidak akan bisa melakukan apapun jika kalian semua tidak bersamaku dan mendukungku.”
“Kami memang akan selalu mendukung dan membantumu, Fey ... kapanpun kau membutuhkannya.”
Aku tersenyum melihat Mia.
“Maafkan aku, Fey. Aku sempat ragu kalau kau bisa memimpin acara ini,” tukas Nura. “Itu karena kau anak yang pendiam sekali. Kau tidak akan bicara dengan siapapun selain dengan kami, aku merasa khawatir saat mereka semua memilihmu. Namun aku salah, ternyata kau lebih bisa melakukan tugasmu lebih dari yang kubayangkan. Bahkan kau sangat keren saat menghadapi beberapa masalah yang terjadi selama kegiatan ini berlangsung. Jika waktu itu yang jadi ketua pelaksana adalah aku, mungkin aku tidak akan bisa menghadapi dan menyelesaikan semua masalah itu. Tapi kau bisa, kau luar biasa, Fey ... sebagai sahabat, aku benar-benar bangga padamu.”
Aku langsung memeluk Nura. “Terima kasih, Nura ... aku baru tahu kalau kau bisa juga memuji orang. Aku kira kau hanya bisa narsis saja.” Aku terkekeh.
“Aku memang narsis, tapi entah kenapa aku sangat salut dengan cara kau memimpin kami selama kegiatan berlangsung terlepas dari betapa menegangkannya kejadian yang terjadi waktu itu, untung bukan aku yang terpilih sebagai ketua....”
“Memang siapa yang memilihmu?” taya Mia yang mulai kesal dengan sifat narsis Nura. “Tidak akan ada seorangpun yang mau memilih ketua narsis sepertimu! Kalaupun kau yang terpilih menjadi ketua pelaksana, sementara kita dihadapkan dengan berbagai insiden seperti yang terjadi kemarin, mungkin kau sudah pingsan atau kabur duluan dan meninggalkan kami sendirian di sini.” Mia mulai beraksi menggoda Nura.
“Enak saja! Tapi ... mungkin kau benar Mia. Aku tidak akan kuat menanggung beban sebesar itu. Tapi, Fey ... teman pendiam kita ini, bisa menyelesaikannya dengan baik bahkan tanpa ada masalah apapun.”
“Sudah-sudah, berhenti memujiku, semua masalah selesai, itu bukan karena aku saja, tapi berkat kalian semua yang ada di sini.”
Terutama Refald, dialah orang yang berdiri dibelakangku dan membantuku. Entah apa yang terjadi jika dia tidak ada di sini. Aku bukan apa-apa tanpa dia.
“Yang lalu, biarlah berlalu,” lanjutku. “Kita tidak perlu lagi mengingat hal-hal buruk yang terjadi di hutan ini. Ayo kita bersiap-siap. Sebentar lagi kita semua akan turun.”
Aku mencoba melupakan rentetan kejadian demi kejadian yang kualami selama ada di sini, kedua temanku ini memang tidak tahu apa yang aku alami sebenarnya, dan aku juga tidak ingin mereka tahu. Oleh sebab itu, sebisa mungkin biarlah yang terjadi kemarin, hanya aku dan Refald saja yang tahu.
Syukurlah Refald sudah turun terlebih dulu dan membantu membawakan barang-barangku. Mungkin saat ini, dia sudah ada di bawah dan menungguku. Dia meninggalkan ponselnya lagi untukkku. Jadi, total semua ponsel yang kumiliki sekarang ada tiga, dan ketiga-tiganya aku bawa. Namun, di sini susah sekali signalnya, mungkin jika sudah sampai di bawah, signal baru ada lagi.
“Untuk sementara aku akan menyimpan semua ponsel ini. Siapa tahu nanti berguna!” gumamku dalam hati.
Secepatnya, aku ingin meninggalkan tempat ini dan kembali kekehidupanku yang biasa bersama dengan teman-temanku dan juga orang yang aku cintai, Refald. Aku sudah mulai bisa membayangkan seperti apa hari-hari yang akan kulalui nanti setelah kami keluar dari hutan ini.
Sebentar lagi, kehidupan baruku yang bahagia akan dimulai. Aku yakin ibuku juga pasti senang kalau dia tahu aku sudah kembali seperti diriku yang dulu lagi. Semua ini berkat Refald dan juga teman-temanku yang setia bersamaku.
“Aku sudah tidak sedih lagi, ibu ... aku harap ibu senang melihatku di atas sana.” Aku menatap langit yang tertutup oleh rimbunan pepohonan.
Semilir angin berhembus kencang menerjang wajahku dengan lembut. Semua daun-daun seolah-olah ikut menari melenggak lenggok menyelimutiku yang kini sungguh terlepas dari semua beban kesedihan yang sudah bertahun-tahun aku pendam. Kini, rasa sedih itu perlahan mulai terkikis hilang dan hanya meninggalkan sejuta kenangan yang indah.
Aku mulai bisa tersenyum lepas tanpa harus memikirkan masa lalu yang penuh dengan kesedihan. Saat ini, yang ada di depanku hanyalah masa depan yang terang. Seperti apa aku nanti, aku sudah mulai bisa melihatnya. Kini, aku bisa berjalan dengan perasaan lega.
Selamat tinggal masa lalu, dan selamat datang masa depan.
Aku pun pergi ke tempat semua teman-temanku sedang berkumpul. Kami semua berkumpul di lapangan untuk membagi regu. Peserta junior yang baru saja lulus ujian caraka adalah regu pertama yang akan turun dari bukit ini. Mereka akan turun terlebih dulu dan didampingi oleh beberapa senior yang sudah terpilih dari kami.
Regu kedua yang akan turun adalah tim PMR dan senior yang tersisa, sedangkan regu terakhir yaitu tim panitia pelaksana termasuk aku dan tim logistik serta para alumni yang membantu kegiatan ini. Regu yang terakhir turun nanti, bertugas untuk memeriksa semua tempat agar tidak ada yang terlewatkan atau ketinggalan, serta memastikan bahwa lokasi kami berkemah tetap bersih dan aman seperti sebelum kami datang.
“Apa regu pertama sudah siap?” tanyaku pada Lisa setelah pembagian regu selesai.
__ADS_1
“Sudah, aku, Juna dan beberapa anggota lainnya akan mendampingi regu pertama turun. Setelah itu baru anggotan PMR dan anggota kita yang tersisa yang akan turun, termasuk kau sendiri.” jawab Lisa sambil menyerahkan data absen regu pertama. “Selanjutnya aku serahkan padamu. Kami berangkat dulu.” Lisa pergi meninggalkanku dan menghimbau regunya agar bersiap untuk berangkat.
Aku mencari-cari keberadaan Yua dan timnya, tapi aku tidak menemukan Yua dimana-mana. Padahal sebentar lagi adalah waktunya mereka untuk turun setelah regu pertama berangkat. Via dan Epank juga tidak ada.
“Ke mana mereka?” aku mencari-cari keberadaan mereka tapi tidak menemukan siapapun.
Aku menghampiri Nura yang sedang bersiap-siap bersama dengan Mia dan yang lainnya.
“Apa kalian melihat Yua dan timnya?” tanyaku pada kedua sahabatku.
Mia menggeleng, begitu juga dengan Nura.
“Dari tadi aku tidak melihat Yua,” ucap Mia.
“Tapi ... tadi pagi aku sempat melihat Yua dan anggotanya berjalan ke arah sungai. Aku pikir mungkin dia dan teman-temannya ingin membersihkan diri setelah 3 hari tidak bisa mandi di tempat ini,” jelas Nura.
“Apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa masih belum kembali juga sampai sekarang?” gumamku.
Apa mungkin terjadi sesuatu?
Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa gelisah. Pikiran dan hatiku tidak tenang. Aku takut terjadi apa-apa pada Yua.
“Sebaiknya, aku menyusulnya dulu. Kalian boleh berangkat duluan kalau aku masih belum kembali,” ujarku pada Nura dan Mia dan beranjak pergi menyusul Yua.
Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh disertai dengan goncangan yang keras melanda area ini. Suara gemuruh yang menggelegar itu mengagetkanku dan membuat keseimbangan tubuhku jadi goyah dan hampir saja terjatuh akibat goncangan mendadak yang bisa terbilang dahsyat.
Angin kencang tiba-tiba berhembus memporak-porandakan tempat ini hanya dalam waktu sekejap. Beberapa tanah tempatku berpijak juga mulai retak. Bahkan ada beberapa pohon yang langsung tumbang sembarangan tanpa bisa memberi peringatan.
Semua teman-temanku yang ada di sini panik dan berteriak. Begitu juga denganku. Aku mengawasi Mia dan Nura yang saling berpelukan akibat ketakutan, sebisa mungkin aku menyuruh mereka segera ke luar dari tempat ini sebelum pohon-pohon yang ada di sini tumbang satu persatu dan mengenai kami.
“Kalian pergilah dulu dan cari bantuan! Aku akan ke suatu tempat,” seruku pada Mia dan Nura, lalu berlari ke arah sungai tempat Yua dan teman-temannya berada.
“Fey!” teriak Nura dan Mia bersamaan.
“Kau mau ke mana? Sebaiknya kita turun dulu, baru kita cari mereka lagi!” teriak Mia.
“Kalian saja yang turun!” balasku berteriak sambil berlari mundur. “Aku akan kembali! Aku janji!” aku masih berlari sambil berteriak. Entah mereka berdua bisa mendengar ucapanku atau tidak.
“Bagaimana kalau Refald menanyakanmu pada kami! Apa yang harus kami jawab?” Mia juga masih berteriak.
“Suruh dia menunggu! Aku pasti akan menyusul!” teriakku dan berbalik badan lalu berlari sekencang-kencangnya menuju sungai.
Semoga mereka semua baik-baik saja.
Aku membuang seluruh pikiran negatifku dan berharap Yua dan juga yang lainnya baik-baik saja. Syukurlah goncangan tadi tidak berlangsung lama, hanya sekitar 5 menit. Tapi, akibatnya berdampak besar. Sebagian jalan setapak retak dan tertutup oleh batang pohon yang roboh. Aku berusaha keras untuk mengingat arah yang benar meski sebagian besar jalur rusak tidak karuan.
Burung-burung dan binatang kecil lainnya mulai berterbangan dan berlari menjauh dari hutan. Anehnya, suasana di sini sangatlah cerah dan bersahaja. Matahari juga bersinar sangat terang. Tidak ada mendung, tidak ada hujan, hanya angin yang berhembus kencang.
Bagaimana mungkin tiba-tiba saja ada gempa dan merusak semua tempat ini? Ini benar-benar sangat aneh.
Aku menaiki setiap pohon tumbang yang menghalangi jalan, sambil berteriak memanggil-manggil nama Yua.
“Yua! Kau dengar aku?” teriakku.
__ADS_1
Aku bisa mendengar suaraku sendiri menggema sambil mengamati sekelilingku. Aku berharap bisa menemukan seseorang.
Ketika aku berlari bersama Nura dan Mia tadi, aku juga sempat melihat semua teman-temanku ikut berlari menjauh dari tempat ini. Semoga saja mereka tidak tersesat dan tidak ada yang tertinggal.
Aku mengamati beberapa area dan tidak menemukan siapapun. Tempat yang kami gunakan untuk berkemah pun juga kosong. Itu artinya semua orang sudah pergi meninggalkan tempat ini sewaktu terjadi gempa tadi.
Aku langsung menuju ke arah sungai untuk mencari keberadaan Yua dan yang lainnya. Meski hatiku bergejolak tidak tenang, tapi aku hanya berharap bahwa mereka semua baik-baik saja.
“Yuaaa ....!” teriakku lagi. “Jika kau mendengarku, jawab aku!” aku menelusuri beberapa tempat yang ada di sini.
Tidak ada sahutan. Aku terus berjalan dan berjalan sambil mengamati sekitar. Sungguh luar biasa kerusakan yang kulihat hanya karena disebabkan gempa sesaat. Benar-benar sangat luar biasa kekuatan gempa ini. Aku terlalu syok sekaligus ngeri melihat pemandangan yang mengerikan ini.
Hutanku yang indah, hutanku yang rindang, kini jadi rusak berantakan tidak karuan. Batang-batang pohon tumbang berserakan. Tidak ada lagi keindahan, yang ada hanya kesuraman yang mencekam.
Namun yang terpenting bukanlah mengagumi dahsyatnya kerusakan yang diakibatkan oleh gempa dan betapa besar kekuatannya sehingga bisa merusak hutan seperti ini. Melainkan mencari tahu apakah ada korban luka yang diakibatkan oleh gempa tadi.
Aku berusaha mencari keberadaan Yua dan yang lainnya. Aku tidak tahu bagaimana kondisi mereka saat ini setelah melihat kerusakan akibat gempa tadi.
Apakah Yua baik-baik saja? Bukan, apakah Yua masih hidup?
Aku mulai panik memikirkan keadaan Yua. Sebisa mungkin aku membuang pikiran negatif yang bersarang dikepalaku. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa Yua pasti baik-baik saja. Aku hanya perlu menemukan keberadaannya.
Dari kejauhan aku mendengar suara tangisan. Itu artinya aku sudah mulai dekat dengan sungai. Aku mencari-cari sumber suara tangisan itu berasal. Dan aku menemukan Via serta dua orang lainnya yang tidak kuhafal namanya sedang terduduk lunglai sambil menangis. Kalau dilihat dari seragam mereka, ketiganya adalah anggota PMR.
Tidak salah lagi, mereka adalah anggota PMR yang satu kekompok dengan Yua.
Aku berlari ke arah mereka secepatnya. “Apa yang terjadi? Apa kalian baik-baik saja? Di mana yang lainnya?” tanyaku begitu aku sampai di samping mereka.
“Aku ... aku ....” isak Via dan yang lainnya masih sambil menangis antara syok dan ketakutan.
Gempa di tempat ini ternyata lebih parah dibandingkan dengan yang terjadi di lokasi tempat kami berkemah jika dilihat dari kerusakannya. Wajar jika mereka bertiga sangat ketakutan.
Aku memeluk mereka untuk menenangkannya, meski aku sendiri sudah tidak sabar untuk menunggu penjelasan dari mereka terutama soal keberadaan Yua saat ini.
Sambil menunggu Via dan yang lainnya merasa tenang, aku mengamati keadaan sekitar yang memang jauh lebih parah kondisinya daripada tempat-tempat yang baru saja kulewati.
Hanya dengan sekali lihat sudah jelas bahwa baru saja terjadi banjir bandang di sini. Air sungai yang tadinya bening dan mengalir dengan tenang berubah berarus deras dan menyeramkan. Kini, airnya sudah berubah jadi kecoklatan karena sudah bercampur rata dengan tanah. Sepertinya, juga sedang terjadi banyak longsor di tempat ini. Mereka bertiga benar-benar beruntung bisa selamat dari gempa tadi.
Aku bisa membayangkan betapa dahsyatnya banjir dan longsor yang baru saja terjadi di tempat ini. Mungkin suara gemuruh tadi disebabkan oleh banjir dan longsor yang terjadi di sini.
“Apa baru saja terjadi banjir?” tanyaku pada ketiga orang yang ada didepanku.
Mereka semua mengangguk, tapi masih dalam keadaan syok. Mungkin kejadian tadi membuat mereka sangat ketakutan. Aku memerhatikan pakaian mereka yang basah kuyub. Aku hanya bisa menyimpulkan bahwa mereka berhasil selamat dari derasnya arus sungai.
Tapi, Yua ... aku tidak melihatnya dimanapun.
“Di mana Yua?” tanyaku dengan nada cemas yang sudah sampai puncak.
Sekali lagi aku mengamati sekitar dan tidak menemukan siapa-siapa di sini selain kami.
“Yua ... dan Epank ... mereka ... mereka ikut terbawa arus!” jawab Via disusul dengan tangisan yang menggelegar.
Bagai tersambar petir aku tertegun mendengar apa yang dikatakan Via.
__ADS_1
“Apa?”
****