Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 155 Sang Pangeran


__ADS_3

Semua MaBa berbaris jadi satu barisan per masing-masing kelompok yang sudah dibagi. Mereka semua berbaris untuk menerima pengarahan sebelum diberangkatkan dengan menggunakan bus universitas yang sudah disediakan. Setelah sambutan-sambutan selesai di berikan, semua mahasiswa diarahkan untuk segera masuk ke dalam bus sesuai dengan kelompok mereka masing-masing.


Kebetulan Leo, Shena, Roy dan Laura satu kelompok sehingga mereka juga satu bus selama perjalanan menuju lokasi ospek mereka. Shena memilih duduk dengan Laura di kursi tengah. Namun, baru saja keduanya duduk nyaman, tiba-tiba Roy datang menghampiri keduanya.


“Laura,” panggil Roy dengan suara yang menggoda sehingga membuat Laura terpana. “Mau nggak, kamu duduk sama aku. Aku bosan dengan Leo, sesekali aku ingin cari suasana yang berbeda. Kali aja kamu mau menemaniku selama perjalanan yang membosankan ini.” Roy mengedipkan salah satu matanya sambil tersenyum manis untuk merayu Laura.


Sudah bisa ditebak seperti apa reaksi Laura dengan apa yang dilakukan Roy padanya. Tanpa suara, Laura pun menganggukkan kepalanya dan berdiri mengikuti Roy dari belakang. Gadis yang terbuai asmara itu tidak memedulikan panggilan Shena, malah terkesan lupa dengan segalanya seolah kini dunia Laura hanya untuk Roy seorang.


“Ra! Kamu mau kemana? Kok kamu ninggalin aku, sih? Terus aku sama siapa?” teriak Shena tapi tidak ada balasan dari Laura. Sepertinya Laura sudah terhipnotis sama pesona Roy yang begitu memesona dimatanya. Keduanya malah memilih kursi paling belakang dan duduk manis bersama.


“Sama aku saja Shena, aku bersedia nemenin kamu kok!’ ucap salah satu pria berkacamata. Sepertinya ia menyukai Shena. Laki-laki itu hendak duduk di bangku Laura tadi duduk, tapi kerah bajunya tiba-tiba ditarik dari belakang oleh seseorang yang tidak lain adalah Leo.


“Itu kursi gue oncom! Jangan coba-coba lo dudukin kursi itu atau kalau nggak kepala lo bakal copot dari tempatnya! Paham lo!” ancam Leo sambil menatap tajam pria berkacamata itu.


“Pa-paham,” ucap cowok itu sambil gemetar ketakutan.


Leo melepas tarikannya dan mendorong tubuh pria malang itu menjauh darinya dengan kasar. Leo meletakkan tas ranselnya diatas rak bus dan duduk di sebelah Shena tanpa suara. Shena sendiri hanya menganga tak percaya melihat jiwa gengster Leo mulai keluar. Ia juga tidak berani berkutik jika ingin selamat dari macan Leopard satu ini. Jalan satu-satunya hal yang bisa Shena lakukan hanyalah diam dan menganggap Leo seolah tidak ada.


Sepertinya perjalananku bagai di neraka karena ada Leo di sini, sedangkan Laura sih enak, bagai di surga karena ia duduk dengan orang yang ia sukai. Kenapa aku apes banget sih hari ini? Kenapa juga si macan tutul ini terus saja ngikutin aku. Jerit Shena dalam hati sambil memalingkan muka dari Leo.


“Hei, Leo! Daripada kamu duduk disitu, mending duduk sama aku, yuk? Aku pasti bikin kamu anget di bus yang full AC ini. Jadi, kamu nggak bakal kedinginan. Badanku juga semloheh loh, mirip bantal empuk. Pas banget deh buat kamu tidur serasa di atas kasur.” Salah satu wanita yang ada di samping Leo mencoba merayu dan menggoda Leo tanpa punya rasa malu. Atau bisa jadi urat malunya sudah putus sehingga wanita itu berani berkata seperti itu.


Sementara Shena lebih memilih memakai airphonennya sambil mendengarkan lagu kesukaannya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dilakukan Leo dan para wanita-wanita ganjen yang menggoda Leo.


“Huh, aku lebih nyaman duduk di sini daripada duduk dengan rubah sepertimu. Jangan ganggu aku atau mengajakku bicara! Aku sedang tidak mood sekarang. Jika ada yang menggangguku, akan aku sumpal mulut kalian semua.” Leo menyahut salah satu airphone milik Shena tanpa permisi dan bersandar di bahu Shena tanpa izin pula. “Jangan coba-coba protes kalau kau tidak ingin kucium di sini,” ancam Leo sebelum Shena buka suara. Leo pun pura-pura tidur di bahu Shena.

__ADS_1


Semua wanita yang melihat sikap Leo pada Shena langsung marah dan cemburu. Mereka tidak terima diperlakukan Leo seperti itu sementara ia bersikap so sweet pada Shena.


“Dasar gadis jaalang!” umpat semua wanita yang menatap sinis Shena karena termakan api cemburu.


***


Fey duduk termenung di bawah air terjun dekat dengan tempat tinggal vila Refald. Disampingnya ada mbak Kun dan juga Pak Po yang sejak tadi memerhatikan istri pangeran mereka. Keduanya tak berani bicara atau memulai pembicaraan karena Fey, terlihat sedang memikirkan sesuatu yang membuat gadis itu begitu kalut dan galau.


Fey hanya memainkan gemericik air yang mengalir sambil duduk ditepian sungai. Sesekali ia hanya menghela napas panjang. Gadis itu terus memikirkan Refald yang akhir-akhir ini terlihat tak bahagia. Ia jarang tertawa dan juga bercanda, Refald lebih terkesan lebih banyak diam dan sedikit bicara.


Sejujurnya, Fey juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghibur suaminya terlebih apa yang akan terjadi nanti.


“Putri, kau menangis?” tanya mbak Kun yang sudah tidak bisa diam lagi melihat orang yang dicintai pangerannya meneteskan air mata tepat didepannya.


Air mata yang keluar dari mbak Kun membuat cuaca cerah tiba-tiba menjadi gerimis mengundang dan memunculkan banyak pelangi disekitar mereka akibat pembiasan cahaya di tengah teriknya mentari bersinar.


“Jangan menangis mbk Kun, kalau Refald tahu. Ia tidak akan pernah memaafkan aku.”


Mbak Kun pun menghentikan tangisannya dan cuaca kembali cerah tanpa hujan. “Maafkan aku Putri, air matamu juga membuatku sedih. Jika kau tidak ingin aku menangis, maka kau juga tidak boleh menangis lagi.


Fey terharu mbak Kun bicara seperti itu, tapi masalahnya sekarang, Fey tak bisa membendung kesedihannya bila mengingat kejadian mengerikan yang sebentar lagi bakal terjadi.


“Apa kalian tidak bisa bicara pada mereka semua? Bukankah kalian sama-sama makhluk astral? Tidak bisakah mereka ... membatalkan perjanjiannya?” Fey bertanya penuh harap agar bisa menemukan solusi untuk mencegah bencana itu.


“Putri, meski kami sama-sama makhluk astral, kami berbeda aliran. Anggap saja aliran kami adalah aliran putih dan hanya berpihak pada kebaikan. Sedangkan mereka adalah aliran hitam yang selalu mendukung kejahatan dengan meminta imbalan atau tumbal. Kami tidak bisa saling ikut campur kalau tidak ingin keseimbangan alam ini hancur.

__ADS_1


"Pangeran Refald sendiri juga tahu itu. Sebagai keturunan putra raja, Pangeran juga tak bisa ikut campur urusan mereka. Berulang kali pangeran datang melalui mimpi para manusia itu untuk berhenti melakukan kemaksiatan di tempat mereka dan segala hal yang berbau syirik di wilayah ini, tapi mimpi sang pangeran tidak diindahkan oleh mereka dan hanya menganggap itu sebuah angin lalu saja.


"Kini semua sudah ada pada puncaknya. Mereka semua marah dan meminta tumbal. Jika tidak diberikan, maka bencana dahsyat tak akan bisa dihindari atau dihentikan lagi. Pangeran sudah berupaya semaksimal mungkin dengan segala kekuatan yang ia punya untuk mencegah bencana ini, tapi semua itu sudah tak bisa dihilangkan lagi terlebih karena ulah manusia itu sendiri.” Mbak Kun menjelaskan panjang lebar tentang segala hal yang sudah dilakukan Refald selama ini, tapi usahanya itu tidak membuahkan hasil. Pantas saja Refald terlihat begitu sedih dan murung.


Bayangan kematian mulai melintas lagi dan memenuhi seluruh pikiran Fey. Gadis itu menundukkan kepalanya agar bisa menyembunyikan air mata yang tak mau berhenti keluar.


“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Fey dalam tangisannya sambil terus menundukkan kepalanya.


“Kau hanya perlu disisiku, Honey.”


Fey tersentak kerena suara itu adalah suara Refald, suara suaminya sendiri. Orang yang sejak tadi ia khawatirkan, tiba-tiba saja sudah ada di sini. Fey mengangkat kepalanya dan menatap Refald berdiri dihadapannya.


Keduanya saling menatap sampai Fey berdiri sejajar dengan Refald. Tanpa suara, Refald langsung memeluk Fey dengan sangat erat. Saking eratnya sampai tidak ada sekat lagi diantara keduanya.


BERSAMBUNG


***


Tiap like nya tembus 150 like aku langsung up lagi ... kasih semangat aku dong ... love you ...




DILARANG BAPER! hehehehe

__ADS_1


__ADS_2