
Aku beralih membuka layar ponselku dan mencoba menghubungi Yua. Ternyata ia sendiri juga masih belum tidur. Benar dugaanku, ia memikirkan tentang apa yang aku bicarakan dengan Epank dan Via. Ia tidak mau meneleponku terlebih dulu sebelum aku yang menghubunginya. Sebab ia tahu kalau aku mungkin masih bersama dengan Refald, dan itu memang benar.
Aku menjelaskan sedikit pada Yua mengenai pembicaraan kami tadi siang. Aku meminta bantuan Epank sebagai ketua PMR untuk acara survey di hutan besok lusa. Sebagai anggota PMR, Yua, Epank, Via dan juga anggota yang lainnya harus terlibat dalam kegiatan yang kuadakan untuk mengantisipasi bila ada yang sakit atau terluka. Karena itulah aku meminta mereka bergabung dalam kegiatanku, yaitu survey terakhir di hutan yang nantinya akan dijadikan lokasi untuk acara CARAKA.
Tentu saja Yua terkejut mendengar penjelasanku. Ia kurang setuju karena ia tidak ingin melihat Epank dan Via bersama apalagi dalam jangka waktu yang lama.
“Maaf Fey, Aku tidak bisa ikut." ujar Yua dengan nada sedih.
“Jika kau tidak ikut, siapa yang akan membantu Epank?”
“Bukankah ada Via? Mereka berdua saja sudah cukup.” aku mendengar nada kecewa di sana. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Via tidak akan bisa membantu Epank karena dia bertugas dikegiatan Pramuka. Jadwal kegiatan kami bentrok dengan jadwal kegiatan yang diadakan Pramuka. Hanya lokasinya saja yang berbeda. Bagaimana bisa Via membantu Epank diwaktu yang bersamaan dilokasi berbeda? Kau pikir dia punya jurus teleportasi yang bisa berpindah tempat hanya dalam waktu singkat seperti yang ada di anime Naruto?”
Via terkejut mendengar penjelasanku. Meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya, aku bisa merasakannya.
"Benarkah itu?” terdengar tawa riang diseberang sana.
Aku mengiyakan dan mematikan sambungan teleponnya. Aku membiarkan Yua hanyut dalam kesenangannya untuk saat ini.
Entah usahaku ini berhasil atau tidak, aku hanya bisa melakukan apa yang aku bisa. Ini adalah kesempatan yang langka, karena dalam kegiatan nanti, Yua akan punya waktu banyak bersama dengan Epank tanpa memikirkan orang yang ada didekatnya.
Selama ini, Yua hanya melihat Epank dari jauh tanpa pernah bicara dengannya, itu karena Via selalu ada di samping Epank. Kini, Via akan berada dikegiatan lain yang berbeda lokasi. Jadi, kemungkinan besar Yua dan Epank punya kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain.
Aku harap semua berjalan dengan lancar.
****
Keesokan harinya aku memberikan copyan proposal yang sudah ditanda tangani oleh pembina PA dan kepala sekolah kepada Epank dan Yua untuk memberitahu lokasi dan kegiatan apa saja yang akan kami lakukan nanti.
Hari ini aku memang lebih sibuk dari biasanya. Mengadakan rapat kegiatan dan mengumpulkan semua anggota untuk memberikan pengarahan tentang kegiatan apa saja yang nanti dilakukan. Apa saja yang akan dibawa dan juga membagikan surat izin pada orang tua untuk kegiatan ini.
__ADS_1
Saat rapat, aku membagi beberapa kelompok dalam satu tim. Setiap tim mendapat tugas masing-masing.
Besok lusa adalah tugas dari tim survey untuk melihat situasi dan kondisi lokasi yang akan diadakan dalam kegiatan. Selain tim survey, ada beberapa kelompok lagi, yaitu kelompok persiapan kegiatan yang bertugas untuk menyiapkan dan menyusun rencana kegiatan selama acara berlangsung, yang kedua yaitu kelompok logistik yang bertugas untuk menyiapkan berbagai perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan.
Sedangkan yang terakhir adalah kelompok medis yang dianggotai Epank dan Yua. Dalam survey ini memang tidak semua anggota organisasi dilibatkan, hanya beberapa saja yang bertugas dan bertanggungjawab untuk menyusuri lokasi kegiatan.
Hal itu dilakukan supaya bila ada kendala bisa langsung diantisipasi. Sedangkan yang lainnya bertugas menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan seperti konsumsi dan keamanan selama pelaksanaan kegiatan berlangsung.
Hari ini Refald tidak banyak bicara. Kami berangkat bersama ke sekolah dan langsung masuk ke kelas kami masing-masing. Anehnya, para penggemarnya tidak seperti biasanya. Sepertinya mereka semua sudah mulai tenang, tidak ada teriakan dan tatapan tajam, mungkin mereka sudah terbiasa dengan kebersamaan kami berdua.
Masalahnya adalah saat ini aku sedikit risih karena Refald selalu membuntutiku kemana-mana. Bahkan di saat forum rapatpun, ia juga tetap memaksa ikut masuk.
“Kau tidak bisa masuk! Tunggu diluar!” aku menghadangnya saat mau mengikutiku masuk ke dalam.
“Tidak mau!” ia langsung nyelonong masuk ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi para anggota didominasi kaum hawa. “Apa ada yang keberatan jika aku ikut rapat kalian kali ini? Aku janji tidak akan mengganggu rapat ini!” Refald mengatakan itu dengan senyuman manis yang dibuat-buat. Membuat kaum hawa yang ada di sini langsung leleh melihat pesonanya. Tentu saja tidak ada yang menolaknya.
“Tentu saja!” teriak Lisa. “Silahkan duduk di sini.” Lisa mempersilahkan kursinya untuk Refald.
“Tidak! duduk di sini saja!” teriak seseorang yang lain.
"Tidak aku saja!" yang lainnya ikut berebutan.
"Tidak bisa! Aku yang duluan!" beberapa sudah mulai saling solot menimbulkan kericuhan.
"Tetap saja tidak bisa! Dia yang harus duduk di sini!"
Aku semakin stres melihat pemandangan ini, mereka beradu mulut memperebutkan Refald supaya mau menduduki kursinya, hampir saja mereka semua juga menyerang Refald untuk memaksanya duduk disebelah mereka. Tapi aku langsung sigap menghalanginya dengan tubuhku sebelum tangan ganas mereka sampai dibadan Refald. Aku berdiri di depan Refald tepat sebelum ia diserang.
“Dia akan berdiri disebelahku. Tidak ada tempat duduk untuknya! Kalian mengerti!” nada suaraku agak tinggi dan terlihat sedikit protektif.
Aku menatap mereka dengan tatapan penuh amarah dan mereka langsung berhenti bergerak. “Bisa kita mulai rapatnya sekarang?” aku masih menatap mereka semua dengan tajam. Tanpa bicara, mereka kembali ketempat duduk mereka masing-masing dengan rasa kesal, marah dan kecewa.
__ADS_1
Refald sempat menyanjungku karena aksi yang kulakukan tadi, dan aku sama sekali tidak tertarik mendengarnya. Aku memulai rapatnya dan syukurlah semua berjalan dengan lancar. Meskipun ada sedikit kendala akibat kehadiran Refald di sini. Aku masih bisa mengatasinya dengan mengancam mereka bahwa aku akan mengeluarkan Refald dari ruangan ini jika mereka terus-terusan saja berdebat.
Semua anggota sudah mendapat tugas dan tanggung jawab masing-masing. Semua persiapan untuk survey dan pelaksanaan inti kegiatan juga sudah disiapkan semaksimal mungkin. Sekarang, hanya tinggal menunggu izin dari orang tua dari masing-masing junior yang mau mengikuti kegiatan ini.
“Kau terlihat keren saat memimpin rapat tadi” ucap Refald saat kami semua keluar dari ruang rapat.
“Terimakasih, tapi aku tidak punya uang receh.” aku berlalu meninggalkan Refald yang bingung dengan maksud ucapanku.
“Aku tidak mengerti ucapanmu!” Refald berhasil menyusulku. “Bisakah kita makan? Ini sudah jam istirahat. Aku lapar sekali!”
Kami berdua pergi ke kantin dan mencari makanan di sana. Aku sangat senang hari ini. Karena untuk pertama kalinya, tanpa sengaja aku melihat Epank dan Yua bersama membahas proposal yang kuberikan tadi pagi. Pemandangan ini benar-benar langka. Sayang aku tidak bisa mengabadikannya karena di sini dilarang membawa ponsel. Mereka tampak serasi bila dilihat dari kejauhan.
Namun, pemandangan indah itu tidak berlangsung lama, karena Via langsung menghampiri Epank untuk mengajaknya pergi. Mereka berduapun terpaksa mengakhiri pembicaraan mereka dan Epank pergi meninggalkan Yua sendirian. Aku memanggilnya kemari begitu Epank dan Via pergi.
Yua datang dan langsung duduk disebelahku. “Bagaimana? Kalian jadi ikut besok?”
Dengan tersenyum senang, Yua mengangguk tanda setuju. Refleks aku memeluknya dan Refald terlihat kesal dengan reaksiku yang menurutnya terlalu berlebihan.
“Kalian berdua sungguh kekanak-kanakkan!”
Aku menatap tajam pada Refald dan Refald langsung balas memelototiku.
“Apa? Aku hanya bicara jujur!”serunya.
“Kau sendiri juga seperti anak ayam yang mengikuti induknya kemana-mana. Bahkan untuk makanpun kau juga masih minta disuapi!” aku sengaja menyindirnya dan berhasil. Refald terlihat emosi.
“Apa? Kau bicara apa tadi?”
Aku tertawa mengejeknya dan mengajak Yua pergi masuk ke kelas.
Refald masih berteriak marah tidak terima karena kutinggalkan begitu saja. “Hei Fey! Aku belum selesai! Menurutmu, salah siapa aku jadi seperti ini?”teriaknya dan aku tidak peduli.
__ADS_1
Semua orang melihat kearahnya, Refald terlihat sangat kesal, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun juga memutuskan meninggalkan kantin dan masuk ke dalam kelasnya.
****