
“Ada apa Yua?” tanya Epank. Bukannya menjawab pertanyaan Yua malah mengacuhkan cowok itu dan mendekat ke arah para polisi yang membawa Bayu.
“Saya mohon lepaskan dia, Pak. Saya tidak menuntut dia atas kejadian yang menimpa saya. Saya ingin menyelesaikan masalah ini secara baik-baik.” ucap Yua dengan tenang.
Para polisi dan semua orang yang ada di sini saling pandang. Aku sendiri juga terkejut, tapi aku memuji dalam-dalam tindakan Yua kali ini.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Epank lagi. Sepertinya ia tidak paham dengan apa yang dilakukan Yua. “Kenapa kau menghentikan Pak Polisi ini? Biarkan saja dia dihukum atas apa yang dilakukannya. Ia tidak memikirkan apa yang akan terjadi akibat tindakannya?”
“Aku tahu Epank, tapi apa kau tidak memikirkan masa depan Bayu jika ia sampai dipenjara? Masa depannya akan hancur, hukuman yang diberikan padanya tidak akan menjamin masa depannya jadi lebih baik atau tidak. Selain itu, nama organisasi kita, sekolah kita, akan tercoreng jika sampai masalah ini dibawa keranah hukum. Aku tidak ingin itu terjadi. Akan lebih baik jika insiden ini hanya kita saja yang tahu. Orang diluar sana tidak boleh ada yang tahu. Lagi pula, Bayu adalah teman kita. Kau masih ingat ikrar janji yang sudah kita ucapkan bersama sewaktu peresmian keanggotaan kita? Sesama anggota harus saling melindungi dan saling tolong menolong satu sama lain walaupun nyawa kita dalam bahaya.”
“Tapi dia tidak pantas menyandang gelar sebagai anggota PMR setelah apa yang ia perbuat padamu!” Epank menunujuk-nunjuk wajah Bayu. Orang yang ditunjuk hanya menundukkan kepala dan diam membisu.
“Mungkin kau benar, tapi Bayu hanya manusia. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Aku harap ia tidak akan mengulangi kejadian seperti ini lagi. Aku yakin ia pasti punya alasan yang kuat kenapa ia melakukan itu. Meski begitu, aku sudah memaafkannya. Bagaimanapun juga, kita semua juga pernah merasakan kesengsaraan bersama-sama sewaktu masih menjadi junior dulu. Aku harap kau tidak melupakan itu, Epank.”
Kali ini, giliran Epank yang diam. Dia menatap Yua dengan tatapan yang sama seperti saat Refald menatapku. Refald menggenggam tanganku dengan erat, entah sejak kapan ia berdiri disebelahku. Mataku berbinar-binar menatap Refald. Bukan karena aku sedang dimabuk asmara karena pesonanya, tapi karena aku bisa merasakan benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di hati Epank. Aku yakin Refald juga bisa melihatnya.
Aku bisa melihatnya dengan jelas, tatapan mata Epank ... itu adalah tatapan penuh cinta. Apa Yua juga bisa melihatnya?
Semua berdecak kagum mendengar kata-kata Yua yang memang ada benarnya. Mendadak, Yua menjadi pahlawan kesiangan yang dikagumi semua orang, terutama yang ada di sini. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak sorai atas apa yang dilakukan oleh Yua.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh polisi jika Yua sudah berkata seperti itu. Para polisi itu berbincang-bincang dengan Pak Agus selaku pembina kami untuk mendiskusikan sesuatu. Begitu mereka selesai berdiskusi, borgol yang ada ditangan Bayu langsung dilepas, tapi ia tetap akan dibawa pergi dari sini dan tidak diizinkan lagi mengikuti kegiatan ini.
“Untuk sementara,” ucap Pak Agus pada kami semua yang ada di sini. “Bayu akan ikut dengan kami untuk mendapatkan sangsi dari sekolah. Kami akan membawa Bayu bertemu dengan kepala sekolah dan kedua orang tuanya. Seperti yang sudah dikatakan oleh Yua selaku korban insiden ini, saya harap kalian semua merahasiakan insiden yang sudah terjadi dan menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi. Apa kalian semua bisa melakukannya?” tanya Pak Agus.
Untuk sesaat, semua memang tampak hening, tapi kemudian mereka semua bersorak sorai dan beteriak bersamaan dengan kompak, “Kami setujuuuuuuu ....”
“Baiklah, kalau begitu.” ucap Pak Agus sambil tertawa. “Acara bisa kalian lanjutkan lagi. Besok adalah hari terakhir kalian semua berada di sini. Mudah-mudahan acara kalian terus berjalan dengan lancar sampai selesai.”
Kami semua memberi salam kepada pembina dan para polisi dengan penuh kelegaan dihati kami masing-masing sebelum mereka pergi meninggalkan lokasi perkemahan ini. Para Junior yang tadinya ada di dalam tenda juga ikut keluar semua setelah mendengar teriakan kami yang kelewat senang karena masalah yang menimpa Yua dan Epank sudah selesai.
Beberapa alumni langsung pergi mengambil alih untuk mengkondisikan para junior agar bisa mengikuti acara selanjutnya yang akan diadakan nanti malam. Yaitu Caraka.
“Kami akan membuat persiapan untuk nanti malam. Semua panitia harap bersiap-siap juga.” ucap Alex pada kami dan berlalu mendekat ke arah Yua. “Kau hebat sekali, Sis. Kau menyelamatkan kami semua yang ada di sini dari masalah besar. Aku kagum padamu.”
“Terimakasih, Kak.” Yua tersenyum malu melihat Alek dan teman-temannya pergi.
Aku melepaskan genggaman tangan Refald dan berlari memeluk Yua. Sambil menangis aku meminta maaf padanya. “Maafkan aku, Yua ... ini semua salahku!”
__ADS_1
“Sudah kubilang kau tidak perlu minta maaf, Fey! Ini semua bukan salahmu. Berhentilah berkata seperti itu atau aku akan benar-benar marah padamu.” Yua tersenyum melihatku.
Perlahan, aku melepaskan pelukanku. Tapi Mia dan Nura mendadak memeluk kami secara bersamaan. Alhasil kami berempat saling berpelukan sambil menahan tangis haru.
“Ehemm ... hem ... tidak adakah yang mau memelukku juga?” ucap Refald.
Kami berempat saling melepas pelukan kami masing-masing dan menghadap Refald bersamaan.
“Kau mau kami peluk juga?” tanya Mia dengan tatapan yang menakutkan. Sepertinya sampai saat ini Mia masih saja melancarkan api ketidaksukaannya pada Refald.
“Apa kau tidak keberatan jika aku yang memelukmu sebagai tanda terima kasihku atas semua yang sudah kau lakukan pada kami semua yang ada di sini?” tanya Yua pada Refald yang sukses membuat kami semua terkejut mendengar pernyataannya.
“Apa? Ehmmm ... sepertinya tidak perlu, aku tadi hanya bercanda.” ucap Refald terbata-bata karena ada beberapa pasang mata yang menatap tajam padanya. Termasuk juga tatapanku.
“Kenapa? Apa kau takut Fey marah padamu? Kau tenang saja, dia bukan tipe cewek pencemburu. Lagi pula aku sangat berterimakasih padamu. Tidak ada yang bisa kuberikan padamu untuk membalas semua jasa-jasamu padaku selain dengan pelukan terimakasih dariku.” Yua menatapku untuk meminta izin memeluk Refald, tapi aku malah jadi kikuk tidak tahu harus bagaimana.
“Kenapa ... kau menatapku seperti itu?” tanyaku pada Yua.
“Hei, Fey! Kau tidak keberatan jika Yua memeluk Refald?” tanya Nura.
“Tapi sepertinya orang itu takut jika kau ngambek nanti?”
“Bukan begitu ... aku tidak khawatir Fey bakal cemburu padaku meski aku ingin sekali dia cemburu. Hanya saja ... bukan Fey yang cemburu jika kau memelukku. Tapi ... orang itu ....” Refald menatap seseorang yang masih berdiri terpaku memandangi Yua.
Aku dan Yua mengikuti ke mana arah mata Refald memandang. Aku terkejut dan tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Sekali lagi aku mengusap mataku agar penglihatanku semakin jelas.
Apa mungkin orang yang dimaksud Refald adalah Epank? Apa itu mungkin? Apakah Yua menyadarinya juga?
Aku memerhatikan Yua yang juga terpaku melihat Epank yang berdiri menatapnya. Mereka saling beradu pandang. Aku bahkan bisa melihat Epank tidak menggubris Via yang mengajaknya bicara. Cowok itu, jelas sekali hanya melihat Yua yang juga melihatnya.
Kisah mereka begitu rumit layaknya sebuah novel yang penuh dengan lika liku drama cinta segitiga. Aku punya kartu As untuk mengakhiri drama cinta segitiga antara Yua, Epank dan Via, tapi aku ragu apakah aku harus membuka kartu itu sekarang atau tidak.
Apakah aku harus membukanya sekarang? Ataukah kubiarkan takdir yang membuka kebenarannya sendiri? Entahlah ... aku pusing memikirkan drama yang hampir saja merenggut nyawa sahabatku sendiri. Aku hanya berharap semoga semua ini bisa segera berakhir.
Tanpa dinyana-nyana sebuah tangan tiba-tiba melingkar di tubuhku yang membuatku langsung terperanjat ketika melihatnya meski aku tahu tangan itu adalah tangan milik Refald yang memelukku dari belakang.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” aku berusaha melepas pelukannya karena beberapa pasang mata sudah memerhatikan kami.
__ADS_1
“Sebenarnya, hanya satu orang yang ingin aku peluk saat ini. Maaf Yua ... aku tidak bisa memelukmu karena kau sudah ada yang mengincar.” Refald menyeringai senang saat Yua memerhatikannya, sedangkan aku mati-matian berusaha menjauhkan tangannya dari tubuhku meski usahaku itu gagal.
“Kalian berdua tidak keberatan jika aku memeluk istriku seperti ini di depan kalian, bukan?” tanya Refald pada Mia dan Nura.
“Kalian berdua benar-benar menggelikan.” Nura dan Mia memandang kami dengan tatapan yang aneh. Merekapun langsung meninggalkan kami begitu saja.
“Ayo Nura, kita pergi dari sini. Berada di sini membuat mata kita jadi sakit saja,” cetus Mia.
Mia menarik tangan Nura dengan paksa meski gadis itu tidak mengerti mengapa ia dipaksa pergi meninggalkan tempat ini.
Refald langsung melepaskan pelukannya begitu Nura dan Mia meninggalkan kami. “Mudah sekali mengusir mereka dari sini.”
“Tapi tidak harus dengan cara seperti itu. Kau tidak lihat? Semua orang melihat kita.” Aku mulai emosi juga pada Refald. Bisa-bisanya dia melakukan hal bodoh seperti itu.
“Siapa yang peduli.”
Aku sudah ogah mendengar kata-kata itu lagi dari Refald. Aku langsung melengos pergi meninggalkannya dan berniat menyusul Mia dan Nura. Yua juga berlari menyusulku.
“Hei!” teriak Refald. “Kalian mau ke mana?”
Aku tidak mau mendengar suara Refald lagi, aku menutup telingaku dengan kedua tanganku dan berjalan ke arah tenda panitia untuk mengadakan rapat yang harus kami susun ulang akibat acara yang sempat tertunda tadi. Aku bersyukur Refald tidak mengikutiku.
Rapat kali ini adalah membahas tentang kegiatan caraka yang akan diadakan tepat tengah malam nanti. Kami semua sepakat bahwa kami tidak akan melakukan kegiatan apapun sampai acara caraka dimulai, hal itu karena kejadian tadi siang sudah banyak menguras emosi dan tenaga kami. Di tambah lagi, para junior harus mempersiapkan fisik dan mental mereka agar siap melakukan kegiatan caraka dengan aman dan lancar.
Rapat selesai tepat pada pukul 15.00 sore. Kami semua kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat sejenak sembari menunggu makan malam tiba. Sementara para junior dihimbau untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mengikuti acara caraka. Karena hari ini adalah hari terakhir, maka jam tidur dipercepat lebih awal daripada biasanya.
Beberapa teman-temanku memanfaatkan waktu istirahat ini untuk membersihkan diri dan melakukan persiapan lainnya. Begitu juga aku. Setelah berbincang-bincang dengan Yua, Mia dan Nura, aku berniat pergi ke sungai untuk membasuh mukaku.
Hari ini sangat berat bagiku, kejadian demi kejadian terjadi berurutan begitu saja. Meski sekarang masalahnya sudah selesai, tapi banyak sekali misteri-misteri yang masih belum bisa kucerna dengan akal sehatku. Sejak datang kemari, aku memang merasakan ada hal-hal yang agak berbeda, meski bukan pertama kali ini aku merasakannya, namun tetap saja kejadian-kejadian yang sudah terjadi membuatku tidak bisa tenang.
Aku mendengar gemericik suara air yang mengalir. Artinya, aku semakin dekat dengan sungai. Namun, dari kejauhan aku melihat seseorang yang sedang berdiri seorang diri di tepi sungai. Aku menajamkan penglihatanku untuk mencari tahu siapa orang itu dan apa yang dia lakukan di sana.
Semakin dekat melihatnya aku semakin yakin dan tidak salah lagi, orang itu adalah Refald.
Sedang apa dia di sini?
****
__ADS_1