Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 245 Setiap Pertemuan pasti Ada Perpisahan


__ADS_3

Begitu Riska dan Nouval meninggalkan kediaman pak Po, Fey langsung mengomeli Refald habis-habisan karena suaminya sejak tadi terus-terusan bersikap aneh. Masih mending dua orang manusia biasa itu tadi tidak menganggapnya gila. Kalau sampai itu terjadi, Fey bakal benar-benar marah pada Refald.


Di pun tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga mereka berdua dan lebih memilih pergi masuk kamarnya dimana sudah ada pak Po didalamnya. Entah apa yang sedang dilakukan pasangan beda dunia itu di dalam kamar.


Fey terus mengamati suaminya yang tetap saja menatapnya sambil tersenyum manis. Gadis itu melipat kedua tangannya di dada sambil menunggu Refald benar-benar kembali.


“Aku tahu aku sangat tampan Honey, jangan melihatku seperti itu,” ujar Refald memperbaiki tempat duduknya. Kali ini ia sudah mau bergerak kesana-kemari serta mengamati sekeliling.


Akhirnya, yang ditunggu datang juga, Refald kembali ketubuhnya, batin Fey.


“Darimana saja, kau!” tanya Fey mulai sewot.


“Apa maksudmu, Honey? Sejak tadi aku ada disini?”


“Jangan bohong Refald! Kau pikir aku tidak tahu? Tubuhmu memang ada disini, tapi jiwamu tidak! Katakan yang sejujurnya atau jangan harap aku mau melihatmu lagi!” Fey menatap tajam mata suaminya dengan marah.


“Bagaimana kau bisa tahu, Honey? Aku belum memberitahumu?” Refald tidak menyangka istrinya yang sedang hamil muda ini bisa menyadari kekuatan barunya secepat ini.


“Refald suamiku, berapa lama aku hidup denganmu? Setiap perubahan kecil yang ada didirimu pasti aku langsung tahu meskipun kau tidak mengatakannya padaku.”


Alasan yang dikatakan Fey sangat masuk akal. Mereka berdua memang tidak bisa menyembunyikan apapun karena jiwa dan raga mereka sudah bersatu dalam ikatan suci.


“Maaf Honey, tadinya aku ingin memberimu kejutan, tapi ternyata kau sudah mengetahui rahasia dari kekuatan baruku. Ada banyak urusan yang harus aku selesaikan tadi, tapi aku tidak mau meninggalkanmu sendiri. Aku sudah janji akan selalu berada disisimu apapun yang terjadi. Kau benar, meski tubuhku ada disini dan berinteraksi denganmu, tapi jiwaku memang sedang pergi. Aku ... ingin menunjukkan sesuatu padamu.”


“Apa itu?” tanya Fey penasaran.


“Tidak sekarang Honey, persiapannya masih belum selesai, aku janji setelah kita menghadiri pernikahan Riska dan Nouval, aku akan langsung membawamu kesana. Kau tunggu saja, sekarang kita juga harus berkemas-kemas pergi ke Swiss dan menetap disana.”


“Apa? Secepat itu? Bagaimana dengan pernikahan Eric dan Nura? Bukankah mereka menunda pernikahannya demi, kita? Lalu ... Di gimana? Masa kita meninggalkan dia disini sendirian?”


“Di akan kembali ke Norwegia Honey, dikediamannya sendiri. Dia lebih terbiasa disana daripada disini, lagian pak Po akan selalu menjaga dan menemaninya selama aku tidak memanggilnya. Kau jangan khawatir, tidak ada yang berubah. Mereka berdua baik-baik saja dengan kehidupan mereka yang sekarang. Biarkan mereka menjalani kehidupan rumah tangga mereka.


"Kalau soal Eric, dia masih berada di Jerman, tapi Nura masih sibuk dengan bisnisnya. Mereka berdua masih menunggu kepulangan kita dan baru akan melangsungkan pernikahan mereka yang tertunda begitu kita kembali. Fokuslah pada kehamilanmu, Honey. Mulai sekarang jangan khawatirkan apapun termasuk urusan orang lain. Kau juga tidak boleh melakukan apapun tanpa seizinku. Kau mengerti, Honey?” Refald mulai menunjukkan sikap over protektifnya.


“Terserah kau saja!” Fey meninggalkan Refald dan berjalan pelan menaiki tangga.


Dengan gerakan super duper cepat Refald menggendong tubuh ramping Fey menaiki tangga sambil berkata, “Kau tidak boleh kelelahan, aku akan menggendongmu kemana-mana.”


“Jangan memanjakanku, aku baik-baik saja. Aku bukan orang sakit yang harus kau perlakukan istimewa.” Fey menatap wajah suaminya sambil mengalungkan tangannya di leher Refald.


“Tapi aku ingin memanjakanmu, kau tidak bisa melarangku, Honey.” Refald melesat cepat menuju kamar peristirahatan mereka.


Perlahan, Refald membaringkan tubuh istrinya diatas tempat tidur sambil terus menatap wajah Fey yang semakin hari, terlihat semakin cantik saja.


“Apa ada yang kau inginkan, Honey? Apa kau mau makan sesuatu? Katakan saja.”


“Tidak, untuk saat ini, aku tidak ingin apapun.” Fey mencoba rileks.


Fey masih belum merasakan ada yang berbeda dengannya selain lemas dan pusing. Ia jadi ragu apakah dirinya benar-benar hamil atau tidak. Bisa jadi ini efek karena tubuhnya memang terlalu lelah.


"Karena kau sedang berbadan dua, maka tubuhmu jadi mudah lelah Honey. Kalau kau ragu, nanti kita periksa ke dokter kandungan untuk memastikan bahwa apa yang aku katakan ini benar. Biasanya, aku tidak pernah salah." Refald menatap mata istrinya yang terkejut karena ia tahu segala hal uang Fey pikirkan.


"Wuahh, kau semakin luar biasa saja."


“Terima kasih atas pujianmu, Honey. Aku merasa tersanjung. Kau belum makan sejak tadi, Honey. Makanlah sedikit saja, katakan apa yang kau inginkan?” Refald mengusap lembut wajah istrinya dan terus mengamati perutnya.


“Kau yakin kau mau menuruti apapun yang aku inginkan?”


“Ehm.” Refald mengangguk pelan. “Apapun itu, katakan saja apa yang ingin kau makan.”

__ADS_1


“Baiklah, kalau kau memaksa ... aku ingin makan ketoprak!”


Refald mengerutkan dahinya karena baru pertama kali ini ia mendengar ada makanan bernama ‘ketoprak’.


“Hah? Apa itu, Honey? Makanankah? Bukannya itu nama orang, ya?”


“Ya bukanlah, masa iya aku ingin makan orang? Kau ini ada-ada saja? Masa kau tidak pernah dengar makanan yang bernama ketoprak? Enak tahu! Pokoknya aku ingin makan itu sekarang.” Fey tersenyum meiihat wajah kikuk Refald yang sama sekali tidak tahu apa itu ketoprak.


Selama tinggal disini tidak banyak makanan di negara ini yang disukai Refald, ia hanya makan masakan Fey saja. Fey lebih sering memasak makanan Jepang daripada masakan Indonesia, tapi ia juga sangat menyukai mi ayam dan juga ketoprak serta beberapa jenis makanan tradisional lainnya karena terpengaruh teman-teman semaasa sekolah dulu.


“Dimana aku bisa mendapatkan ketoprak itu? Apa lokasinya jauh dari sini?”Refaldpun buka suara.


“Ehm, jauh sekali. Itu salah satu makanan khas yang ada di ibu kota negara ini. Awalnya, aku dulu tidak suka, tapi setelah mencicipinya ternyata enak juga.”


“Kapan kau mencicipinya? Kenapa aku tidak tahu?”


“Itu sudah lama. Jauh sebelum kau datang kemari sebagai murid SMA. Sekolahku mengadakan study tour di ibu kota. Jadi aku dan teman-temanku menggunakan kesempatan itu untuk jalan-jalan disana. Banyak orang yang makan ketoprak sehingga kami pun ingin memakannya juga. Sudah! Jangan banyak bicara, aku ingin memakannya sekarang. Kau sendiri yang tadi bilang mau menuruti apapun yang aku inginkan.”


“Baiklah, tunggu disni. Aku akan membawakan ketoprak untukmu!”


“Oh iya? Apa kau yakin bisa membawakannya untukku sekarang? Posisi kita ada diluar pulau loh.” Fey menatap wajah suaminya yang berdiri dan bersiap-siap pergi.


Refald menundukkan kepalanya dan menempelkannya di dahi Fey. “Honey, kau lupa dengan siapa kau menikah? Aku ... adalah pangeran Mirza Banta, calon raja selanjutnya dari dunia lain. Tidak ada yang tidak bisa akulu lakukan. Jangankan luar pulau. Luar antariksapun bisa kulalui dalam waktu singkat.” Refald langsung mencium lembut istrinya.


“Ya sudah kalau begitu, jangan lupa tambahin telur dadar.”


“Apalagi?”


“Krupuk Betawi nya juga, yang ukuranya sebesar piring. Krupuk itu juga enak sekali.”


“Apalagi?”


“Baiklah, aku akan kembali dalam 10 menit. Jangan merindukanku oke!” Refaldpun langsung menghilang begitu saja tanpa jejak.


Fey hanya terpana memandang kepergian suaminya yang sekarang sudah bukan lagi seperti manusia, melainkan hantu gentayangan yang datang dan pergi seenak udelnya.


“Heh,10 menit apanya? Proses membuat ketoprak dan pempek saja paling tidak butuh waktu 15 menit, itupun belum antri. Dasar narsis!” gerutu Fey sendirian di dalam kamar.


Rasanya benar-benar sepi kalau memang tidak ada Refald disisinya. Mungkin selama ini, Fey sudah terbiasa bersama dengan Refald dan mereka selalu menghabiskan waktu bersama-sama.


Sepuluh menitpun sudah berlalu. Seperti yang sudah dijanjikan Refald. Ia kembali ke kamar istrinya hanya dalam kurun waktu 10 menit sambil membawa semua pesanan Fey tanpa ada yang terlewat. Tentu saja hal itu membuat Fey semakin tercengang tak percaya karena Refald benar-benar kembali dalam waktu singkat.


“Kau ... benar-benar kembali? Dalam 10 menit?” seru Fey sambil menatap Refald.


“Seorang pangeran sepertiku, tidak akan pernah mengingkari apa yang sudah dikatakannya, Honey. Harusnya kau tahu ... itulah diriku.” Refald tersenyum dan meletakkan semua pesanan Fey diatas meja. Ia membantu menyiapkan makanan yang ia bawa agar Fey bisa langsung memakannya.


“Makanlah, aku akan menyuapimu. Ayo, buka mulutmu, Honey?” tanpa Refald suruhpun, sejak tadi mulut Fey memang belum bisa menutup saking terkejutnya betapa menakjubkannya Refald saat ini.


“Bagaimana bisa? Makanan ini asli bukan, sih? Ini bukan berasal dari dunia lain, kan? Kok bisa cepat bikinnya? Kau yakin kau membelinya di ibu kota?” Fey memandangi ketoprak yang ada di tangan Refald. Ingin rasanya ia segera mencicipinya tapi Fey ragu. Jangan-jangan itu hanya khayalannya saja.


“Honey, kenapa kau tidak percaya padaku? Begitu kau mengungkapkan pesananmu, aku langsung masuk ke dalam pikiran penjual ketoprak yang pernah kau beli bersama teman-temanmu dulu. Aku memintanya membuatkan apa yang kau inginkan begitu pula dengan penjual pempek yang terlintas dipikiranmu. Saat aku tiba disana, makanan itu sudah siap dan aku hanya tinggal membayar. Cicipi saja makanannya supaya kau tidak ragu lagi. Aku yakin, kau tidak akan lupa dengan rasanya.”


Penjelasan Refald membuat Fey semakin tak bisa bersuara lagi. Semakin lama, Refald semakin luar biasa saja. Kekuatannya benar-benar bertambah kuat dari sebelumnya.


“Daebak!” ujar Fey lirih dan masih memandangi Refald tanpa kedip.


“Berhenti mengagumi suami kerenmu ini, ayo buka mulutmu dan habiskan makanan ini. Atau ... apa kau ingin aku menyuapimu dengan mulutku. Dari mulut ke mulut maksudku.” Refald mulai menggoda Fey.


“Tidak, terimakasih. Aku bisa makan sendiri, berikan padaku!” ujar Fey sewot. Bisa-bisanya Refald bersikap mesum padanya.

__ADS_1


“Bercanda, Honey. Biar aku saja yang menyuapimu.” Refald menyuapi istrinya dengan telaten. Dan rasa ketopraknya memang benar-benar enak seperti yang pernah Fey makan dulu. “Bagaimana? Enak?” tanya Refald. Fey terlihat sangat menikmati ketopraknya terutama sayur toge dan telur dadarnya.


“Kau mau coba? Ini sangat enak.” Ganti Fey yang menyuapi suaminya.


Sebenarnya, Refald enggan memakannya karena tidak biasa memakan makanan seperti ini, tapi Fey terus memaksanya sehingga mau tidak mau Refald terpaksa menurutinya daripada nanti Fey marah dan mogok makan.


Mereka berdua saling tertawa satu sama lain menikmati hidangan yang Refald bawa. Sesekali suami Fey itu menunjukkan perhatiannya dengan mengusap sisa makanan Fey yang belepotan dibibirnya. Mereka berdua juga saling menyuapi dan saling berbagi kebahagiaan karena sebentar lagi, keduanya akan segera menyambut kehadiran sang calon buah hati pertama mereka.


***


Beberapa hari telah berlalu, Refald dan Fey menghadiri pesta pernikahan Riska dan Nouval yang digelar dikediaman Nouval. Acara pernikahan berlangsung dengan khidmad dan lancar tanpa halangan. Semua tamu undangan juga mengucapkan selamat pada kedua mempelai atas bersatunya mereka kembali.


Sayangnya, Refald dan Fey tidak bisa lama-lama menghadiri pesta resepsi pernikahan Riska dan Aditya karena mereka harus segera kembali pulang lalu mengantar Di ke bandara. Hari ini, Refald, Fey dan Di akan meninggalkan desa ini dan juga semua kenangan selama mereka tinggal dilingkungan ini.


“Kenapa kalian semua harus pergi mendadak begini? Kapan kalian akan kembali kemari?” tanya Riska. Raut wajahnya terlihat sedih karena mereka akan segera berpisah.


“Masalah kami disini sudah selesai, Riska. Tidak ada alasan bagi kami semua untuk terus berada di tempat ini, tapi kalian jangan khawatir, suatu saat nanti pasti kita akan bertemu lagi. Selamat untuk pernikahan kalian berdua, ya? Semoga kalian bahagia selamanya dan cepat diberi momongan,” ujar Fey sambil memegang lembut tangan Riska. Ia terlihat cantik dengan berbalut baju pengantin khas daerah sini.


“Aku punya hadiah untuk kalian.” Refald menyerahkan sebuah berkas yang berisi surat kontrak pada Riska dan suaminya. Refald sudah menyiapkan semuanya dari jauh-auh hari sebelum ia dan Fey meninggalkan perkampungan ini.


“Apa ini tuan, Refald?” tanya Riska dan Nouval bersamaan.


“Itu adalah surat kontrak dan juga surat kuasa yang aku berikan pada kalian berdua untuk mengelola pabrik yang awalnya aku siapkan untuk pak PO dan istrinya. Berhubung pak Po sudah tidak ada lagi disini dan Di harus kembali ke Norwegia. Sebab itulah pembangunan pabrik itu aku serahkan sepenuhnya pada kalian. Aku harap, kalian berdua bisa mengelolanya dengan baik agar masyarakat disini tak lagi kesusahan finansial lagi. Itu adalah hadiah pernikahan kalian. Semoga kalian suka.”


Mata Nouval dan Riska langsung berkaca-kaca karena tak menyangka bahwa mereka mendapat hadiah tak terduga ini. Tentu saja mereka sangat bahagia kerena diberi kepercayaan untuk mengelola pabrik atas nama Ezi dan Di yang pastinya pabrik tersebut akan berguna bagi kelangsungan hidup para penduduk desa ditempat ini.


“Terima kasih, tuan Refald atas kepercayaan yang anda berikan pada kami. Kami berjanji akan melakukan usaha terbaik kami untuk mengelola pabrik ini. Kami tidak akan mengecewakan kalian berdua.” Noval memeluk pelan bahu Refald sebagai tanda ungkapan terimakasih.


“Jangan berterimakasih padaku. Ini sudah seharusnya terjadi. Kamilah yang berterima kasih pada kalian karena mau membantu mengelola pabrik milik Ezi dan Di. Aku percayakan pembangunan dan pengelolaan pabrik itu pada kalian berdua.”


“Tapi Tuan, dimana pak Ezi? Kenapa kami tidak melihatnya lagi?” tanya Riska bingung, tiba-tiba saja orang yang biasa dipanggil pak Po itu menghilang tanpa jejak.


Riska bahkan berpikir kalau pak Po sudah tiada, tapi jika dia memang benar-benar tiada, dimana jasadnya dan kapan pemakamannya? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya seputar menghilangnya pak Po yang begitu tiba-tiba dan penuh dengan misteri. Hal itulah yang membuat Riska tidak mengerti sampai sekarang. Ia berharap, kali ini Refald mau memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada pak Po


Fey dan Refald saling pandang sampai akhirnya, Refaldlah yang memutuskan untuk menjelaskan pada Riska dan suaminya tentang Ezi alias apak Po.


“Dia sedang ada urusan, kalau tidak ada halangan, bulan depan pasti pak Po akan datang kemari untuk menemui kalian. Baru setelah itu, dia akan menyusul istrinya ke Norwegia. Urusannya apa, aku tidak bisa menjelaskan secara rinci pada kalian berdua, karena itu privasinya. Aku harap kalian mau mengerti pak Po,” terang Refald tanpa Riska dan Nouva tanpal tahu bahwa Ezi alias pak Po sedang berdiri diantara mereka berdua sambil menatap Refald seolah kata-kata Refald itu ditujukan padanya.


Refald tidak berbohong, semua yang dilakukan pak Po adalah urusan privasinya yang tidak boleh diketahui orang lain. Tidaka ada yang boleh tahu wujud pak Po yang sekarang keculai Refald, Fey, Di dan semua rekan dedemitnya. Tepat di bulan baru nanti, pak Po memang harus menemui Riska dan suaminya karena saat itu, ia akan berubah wujud menjadi manusia walau itu hanya sehari.


“Begitu rupanya, baiklah. Terimakasih untuk kalian berdua kerena selama ini telah bersedia membantu kami. Sejujurnya dari dalam lubuk hatiku yang terdalam, saya sangat senang bisa bertemu dengan orang luar biasa seperti anda berdua.” Riska menyeka air matanya yang sudah mulai jatuh membasahi pipi. Ini adalah pertemuan terakhir mereka setelah apa yang sudah mereka lalui bersama.


“Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan, Riska. Jangan bersedih. Tetaplah bahagia karena kini kalian berdua sudah saling mencintai. Kami hanya bisa berdoa supaya hubungan kalian langgeng sampai hari tua.” Fey memeluk Riska agar mempelai pengantin wanita itu merasa tenang.


“Kita akan bertemu lagi nanti dengan kisah yang baru. Tunggu saja, saat itu ...pasti akan tiba. Jaga kesehatan kalian dan juga selamat untuk pernikahan kalian, kami harus pergi sekarang. Aku akan menghubungimu untuk melihat sampai sejauh mana perkembangan pembangunan pabrik itu. Aku juga sudah membentuk tim pembangunannya, mereka semua adalah orang-orang hebat kepercayaanku. Mereka akan menemuimu nanti. Cetak birunya ada pada mereka. Kalian berdua bisa bekerja sama dengan mereka nanti.” Refald memberikan penjelasan panjang lebar dan tinggi sebelum ia benar-benar pergi.


“Tentu, sekali lagi terimakasih banyak, tuan Refald.” Riska dan Nouval berucap bersamaan.


Mereka berdua memandang haru kepergian dua sejoli paling menakjubkan yang pernah Riska lihat. Satunya tampan dan rupawan serta memiliki multitalenta langka yang tidak akan pernah bisa dimiliki oleh manusia biasa pada umumnya. Satunya lagi, cantik jelita dan bijaksana serta penyayang dan juga lemah lembut. Kadang terlihat konyol kalau sudah berhadapan dengan pak Po. Mereka berdua, adalah pasangan manusia langka yang tiada duanya di dunia ini.


BERSAMBUNG


***


Wauuuw, partnya panjang banget ya ... hehehe ... untuk Leo season 2 aku up besok saja dobel episode. Mohon sabar menunggu dan terima kasih atas dukungannya selama ini. semoga gak bosan ya 🤣🤣


Jangan lupa vote, like dan komentarnya ... syukur-syukur kalau ada yang mau ngasih hati dan kopinya. Mawar juga boleh hehehe ... biar lebih semangat lagi gitu nulisnya. Love you all ...


__ADS_1



__ADS_2