
PERINGATAN!
Ini hanya murni kisah fiksi fantasi, jika ada kesamaan nama dan kejadian seperti yang ada dalam cerita, berarti hanya kebetulan. Kisah ini juga terinspirasi dari film fenomenal yang diperankan oleh ratu horor almarhum Susana yang berjudul Malam Satu Sura. Yang suka film horor, pasti tahulah ya ... (no bully). Kalau tidak suka boleh diskip. Hehehe ...
Happy reading
***
Suasana malam semakin terasa mencekam. Suara binatang-binatang kecil yang tadinya ramai terdengar, kini tampak berangsur sepi. Hanya ada aura mistis yang datang menyerang karena semua makhluk astral tak kasat mata yang entah dari mana datangnya sedang berkumpul mengitari Fey dkk. Meski Refald sudah membuat penghalang untuk melindunginya, tetap saja Fey merasakan aura kebencian yang sangat besar ditujukan kearahnya.
“Honey, jangan pedulikan yang lain. Fokuslah, biar aku yang mengurus semuanya. Cepat selesaikan sebelum malam ini terlewat,” ujar Refald kembali menyemangati istrinya.
Dengan memantapkan hatinya, Fey pun mengangguk. Gadis itu kembali fokus pada paku yang sudah ia tancapkan dikepala pak Po. Pukulan pertama, tidak ada reaksi apa-apa, begitu pula dengan pukulan kedua dimana paku yang ditancapkan sudah masuk separuh badan. Namun, tidak dengan pukulan ketiga. Saat Fey memukul dengan palunya, mulai muncullah asap dan juga darah segar berwarna merah keluar dari dalam paku yang sudah hampir seluruhnya menancap dikepala pak Po. Tubuh pak Po pun mulai bergetar hebat.
“Refald!” seru Fey pada suaminya karena panik melihat darah dan gerak gerik pak Po. Saking paniknya, tanpa sadar Fey mundur selangkah ke belakang.
“Tidak apa-apa, Honey. Ini adalah proses transisi pak Po menjadi manusia. Begitu prosesnya selesai, aku akan menyembuhkan lukanya. Jangan cemas, oke!” Refald mencoba menenangkan istrinya. Ia memusatkan kekuatannya untuk melindungi istrinya yang sedang dalam bahaya.
Kekuatan seluruh para makhluk astral yang ada diluar penghalangnya begitu kuat dan sangat besar. Namun, Refald masih bisa menghalaunya meski tidak bisa lama-lama. Jika tidak, Refald sendiri juga bisa kehabisan tenaga.
“Tapi ... pak Po ... dan, juga ... mereka semua ....” Fey menatap takut pak Po yang ada dihadapannya dan beralih melihat para makhluk astral yang terlihat marah dibelakangnya. Seandainya tidak ada penghalang dari Refald, mungkin Fey sudah jadi santapan ribuan atau bahkan jutaan para makhluk astral tak kasat mata itu.
Semua makhluk astral dari luar penghalang yang dibuat Refald berusaha masuk menyerang Fey dan juga yang lainnya. Namun, penghalang itu terlalu kuat untuk bisa mereka tembus. Alhasil, mereka semua menjadi semakin marah dan mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk menghancurkan penghalang itu.
Para pasukan Refald juga sudah siap sedia untuk menghalau mereka semua jika penghalang itu berhasil ditembus oleh mereka. Dan benar saja, semakin lama penghalang itu semakin menipis, tak butuh waktu lama bagi makhluk-makhluk itu untuk bisa menembus penghalangnya.
Sementara itu, tubuh pak Po masih saja gemetar dan mengucurkan banyak darah. Hal itu semakin membuat Fey panik dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Namun, ditengah-tengah kepanikannya, tiba-tiba muncullah suara bisikan yang Fey yakini sebagai suara almarhum kakeknya sendiri.
“Fey cucuku, aku kakekmu. Dengarkan apa yang aku katakan karena kita tidak punya banyak waktu.” Fey tersentak mendengar suara bisikan itu, ia menoleh ke segala arah untuk mencari sumber suara tersebut, tapi tak juga menemukannya. Selain itu, sepertinya hanya Fey saja yang mendengar suara dari seseorang yang mengaku sebagai almarhum kakeknya. “Ambillah bunga marigold yang ada didekatmu dan lemparkan bunga itu di atas kepala makhluk yang ingin kau jadikan manusia. Pejamkan matamu dan berdoalah agar semuanya baik-baik saja. Senang bisa bicara denganmu, cucuku. Aku bangga padamu!” suara itupun langsung menghilang dan Fey tersadar dan bergegas melakukan apa yang dianjurkan oleh almarhum kakeknya.
Terimakasih, Kakek! Aku juga senang akhirnya bisa mendengar suara Kakek. Senang sekali bisa menjadi cucumu, Kek! Batin Fey dalam hati dan Refald langsung menatapnya seolah ikut terkejut mendengar suara hati istrinya.
Meski Fey tidak bisa bertemu langsung dengan sosok kakeknya, Fey tetap merasa bahagia karena untuk pertama kali dalam hidupnya, ia bisa mendengar suara kakeknya sendiri apalagi disaat genting seperti ini. Awalnya Refald sangat terkejut, tapi akhirnya ia ikut tersenyum melihat senyum kebahagiaan yang dirasakan Fey saat ini.
Fey mengambil semua bunga marigold yang ada disekitarnya lalu menaburkannya diatas kepala pak Po. Setelah itu Fey mengatupkan kedua tangannya sambil memanjatkan doa seperti yang dianjurkan almarhum kakeknya barusan. Secara ajaib, tubuh pak Po yang tadinya bergetar kencang, seketika berhenti bergerak begitu juga dengan darah yang mengucur dari kepala pak Po, tiba-tiba saja berhenti mengalir. Kesempatan itu, Refald gunakan untuk menyembuhkan luka akibat tancapan paku yang ada dikepala pak Po.
Saat itu juga, tubuh pa Po yang tadinya transparan, kini berangsur memadat layaknya tubuh manusia lain pada umumnya. Dengan kata lain, pak Po pun sudah kembali hidup dan menjadi manusia biasa seperti istrinya, Rosalinda Di.
“Apa saya boleh membuka mata saya, Pangeran?” tanya pak Po seketika. Sepertinya perubahan dirinya dari hantu menjadi manusia tak berpengaruh pada ingatannya.
Fey pun tersenyum lega menatap pak Po. Akhirnya ... prosesnya berjalan dengan lancar. Kini, pak Po, ah bukan ... nama pak Po yang sekarang adalah Haerun Alfarezi, bukan pak Po lagi. Mata gadis itu berkaca-kaca. Tubuhnya lemas seketika tapi Fey berusaha tetap kuat agar Refald tak lagi terus-terusan mencemaskannya.
“Ehm, khusus kau saja ... tapi istrimu belum boleh membuka matanya,” ujar Refald. “Honey, kemarilah, berdirilah disebelahku.” Refald menatap wajah Fey dengan senyuman manisnya. Fey pun balas tersenyum dan berjalan mendekati suaminya. Refald sendiri langsung merangkul pinggang istrinya sambil berkata, “Kau berhasil Honey, kau luar biasa. Aku semakin jatuh cinta padamu. Sekarang, kau lebih keren dariku.” Refald mencium kening Fey dengan lembut sampai air mata Fey pun terjatuh saking terharunya.
“Tapi ... bagaimana dengan mereka ... sebentar lagi penghalang itu akan rusak.” Fey mulai mencemaskan keadaan yang terjadi di luar penghalang.
Refald hanya diam menatap para makhluk astral yang berusaha menyerang mereka. Suami Fey itu memutuskan untuk tidak melakukan apapun seolah sedang menunggu sesuatu.
“Eh, kutu kupret!” teriak pak Po tiba-tiba setelah ia membuka matanya. “Apa-apaan mereka itu?” tanya pak Po mengagetkan Fey dan Refald disaat keduanya sedang diselimuti rasa cemas yang amat sangat.
“Kau masih bisa melihat mereka, pak Po? Ehm ... maksudku ....” Fey bingung harus memanggil pak Po dengan sebutan apa.
“Panggil saja Ezi, Putri?” jawab pak Po sambil mengamati makhluk astral yang ada dihadapannya. Jumlah mereka begitu banyak dan menyeramkan. Kilatan mata mereka penuh dengan amarah dan kebencian. “Apa rencana anda, Pangeran.” Pak Po beralih menatap Refald yang berdiri dibelakangnya.
Sebenarnya, Refald sangat kesal dengan pak Po yang tadi mengagetkannya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tapi ia berusaha memaklumi kondisi pak Po yang beralih dari hantu menjadi manusia sehingga ia kurang begitu peka dengan situasi yang terjadi saat ini.
__ADS_1
“Berbaliklah, dan pegang tangan istrimu seperti yang aku lakukan pada istriku sekarang pak Po, ah bukan ... maksudku, Ezi.” Refald memperlihatkan genggaman tangannya di tangan Fey agar dicontoh pak Po.
Hantu, yang kini sudah berubah menjadi manusia itupun mengerti dan melakukan seperti apa yang dilakukan Refald.
“Kalian semua!” Refald beralih menatap semua pasukannya yang berdiri dihadapannya. “Beri aku waktu 1 menit dengan menghalau mereka menggunakan kekuatan kalian agar penghalangnya tidak rusak. Aku akan kembali setelah memindahkan manusia-manusia ini dari sini!” seru Refald pada pasukan dedemitnya.
“Siap, Pangeran! Selamat untukmu pak Po, semoga kita bisa bertemu lagi,” ujar para dedemit itu serentak dan kompak.
Mereka semua ikut bahagia dengan pak Po yang kini bisa menjadi manusia kembali bahkan sudah punya istri pula. Selain itu, para pasukan Refald ternyata adalah dedemit yang pengertian. Mereka sama sekali tidak iri melihat pak Po yang memiliki kesempatan menjadi manusia lagi. Justru mereka mendukung apapun keputusan yang diambil rekannya asalkan hal itu membuat pak Po bahagia.
“Terimakasih untuk kalian semua. Datanglah ketempatku jika kalian senggang. Aku akan menyambut kedatangan kalian semua.”
Tiba-tiba saja penghalang yang dibuat Refald berhasil ditembus oleh semua makhluk astral dan mereka hendak menyerang Fey dan Refald bersama-sama. Secepat kilat, tangan kiri Refald yang bebas langsung menggenggam tangan pak Po dan mereka menghilang dari tempat tersebut tepat para makhluk astral itu berhasil masuk.
Serangan para makhluk tak kasat mata itu terhenti karena orang yang mereka serang sudah hilang tanpa jejak. Begitu pula dengan para pasukan dedemit Refald, mereka semua juga ikut menghilang.
Refald dan lainnya, kembali muncul di sebuah rumah bangunan tua yang ternyata rumah ini adalah rumah peninggalan kedua orang tua pak Po yang hidup pada setengah abad yang lalu. Masih teringat jelas di ingatan pak Po bagaimana ia menghabiskan masa kecil dan remajanya di rumah yang sudah tak terurus ini. Sepanjang tempat dipenuhi semak belukar yang tumbuh liar.
Kerena sudah puluhan tahun tak terurus, rumah yang hampir mirip istana hantu berlantai tiga ini terlihat angker dan terkesan mistis.
“Ada dimana kita, Suamiku?” tanya Fey langsung bergidik ngeri melihat bangunan kumuh yang ada dihadapannya karena sudah tak terawat sekian lama.
“Akan aku jelaskan nanti, Honey. Aku janji.” Refald masih menggenggam erat tangan Fey sambil mengecup lembut keningnya. “Nyonya, Di. Bukalah matamu,” pinta Refald.
Pak Po dan Fey baru sadar kalau Rosalinda Divani masih menutup matanya. Karena ia adalah seorang tunanetra, mungkin tidak ada bedanya antara menutup dan membuka mata, toh ia tetap tidak bisa melihat apa-apa. Namun, hal berbeda terjadi pada dirinya kali ini. Begitu istri pak Po membuka mata, hal pertama yang wanita cantik itu lihat adalah wajah pak Po yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
Sekali lagi, Rosalinda Di akhirnya bisa melihat kembali. Dia ... sudah tidak buta lagi. Rosalinda Divani, sudah bisa melihat dunia yang fana ini. Sudah tidak ada lagi kegelapan yang menyelimuti matanya. Wanita cantik itu bisa melihat warna warni kehidupan yang ada disekitarnya. Di, sudah bisa melihat dengan jelas.
“A-ada apa ini ...” tanya Di sambil berkaca-kaca. “Apa aku sedang bermimpi?” tanyanya lagi.
“Tampar aku!” pinta Di pada pak Po. Tentu saja suaminya itu langsung terkejut.
“Hah? Kenapa aku harus menamparmu?” tanya pak Po bingung.
“Untuk membuktikan kalau ini bukanlah mimpi,” jawab Di masih sambil berkaca-kaca.
Ingin sekali ia menangis tapi Di berusaha menahannya sampai ia sendiri memastikan bahwa yang terjadi padanya bukanlah mimpi.
Pak Po semakin tidak mengerti dan hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia beralih menatap Refald yang tetap berdiri diam di samping Fey.
“Pangeran, apa saya boleh mencium istriku sekarang?” tanya pak Po meminta pendapat Refald.
“Memangnya aku Bapakmu? Kenapa kau minta izin padaku? Lakukan saja apa yang kau mau!” Refald jadi keki sendiri mendengar pertanyaan konyol pak Po yang kini sudah menjadi mantan pasukan dedemitnya. Bisa-bisa nya pak Po meminta izin padanya hanya karena ingin mencium istrinya sendiri.
“Ehm, Pangeran ... sebenarnya ... saya tidak pernah melakukannya. Saya lahir dijaman kuno, sekalipun saya tidak pernah mencium wanita. Bisakah anda mengajari saya, Pangeran?” Wajah polos pak Po langsung membuat bingung Refald begitu juga dengan Fey.
Semakin puyenglah kepala Refald, ia jadi membayangkan, jangan-jangan Pak Po juga tidak bisa melakukan malam pertama. “Honey,” bisik Refald pada Fey. “Masa iya kita harus mempraktekkan adegan maju mundur cantik kita berdua dihadapan pak Po dan Di?”
“Hah? Apa kau gila? Itu namanya pornoaksi, tahu! Kalau pak Po tidak tahu caranya, suruh saja dia browsing di mbah google? Kenapa kita harus repot-repot mempraktekkannya? Dasar kau Pangeran mesum!” wajah Fey langsung merah padam membayangkan apa yang diucapkan suami mesumnya itu. Fey tidak habis pikir, darimana ide gila itu muncul di kepala Refald.
“Kalau begitu ... kita praktekkan yang ini saja.” Refald beralih menatap pak Po dan Di bergantian sambil berkata, “Perhatikan aku baik-baik! Ini adalah adegan live streaming kami berdua!” Refald langsung menatap wajah istrinya lagi dan Fey langsung menegang. Gadis itu tahu apa yang bakal dilakukan suaminya di depan sepasang pengantin baru somplak itu. “Lakukan seperti yang aku lakukan!” tanpa aba-aba terlebih dulu, Refald langsung mencium mesra bibir Fey lalu mengisap lembut kedua bibir ranum tersebut.
Lumayan lama juga Refald melakukannya karena ia terhanyut akan perasaan cinta pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya ini. Begitu pula yang dirasakan Fey, ia pun tenggelam dalam lautan cinta Refald dalam bentuk ciuman yang menggetarkan hati dan jiwanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Di langsung mempraktekkan apa yang dicontohkan pasangan fenomenal Fey dan Refald pada suaminya, pak Po. Tentu saja wajah pak Po langsung menegang dan terkejut bukan kepalang menyaksikan istrinya tiba-tiba menciumnya seperti itu. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, istrinya ini tahu dimana letak bibir pak Po dengan tepat layaknya manusia normal lainnya yang artinya, Di sekarang sudah bisa melihat lagi.
__ADS_1
“Di ... kau ... kau bisa melihatku?” kini giliran pak Po yang shock dan tak percaya mengetahui istrinya sudah bisa melihat.
Di pun hanya mengangguk senang tanpa bisa berkata apa-apa. Wanita cantik itu langsung memeluk leher suaminya saking bahagianya karena ia bisa melihat pria yang sangat dicintainya. Apalagi pria tampan yang tadinya bukan manusia itu sudah sah menjadi suaminya.
“Pangeran, ada apa ini? Kenapa istri saya bisa melihat kembali?” tanya pak Po heran dan masih tidak mengerti. Namun tak dapat dipungkiri, ia pun juga merasa sangat senang.
“Kekuatanmu yang menghilang, aku berikan pada istrimu dan efek dari kekuatan itu adalah menyembuhkan segala macam penyakit yang dideritanya termasuk kebutaannya. Apalagi istrimu itu tidak buta permanen. Dia buta karena kecelakaan yang menimpanya. Sekarang, ia sudah bisa melihat lagi, kalian berdua sudah menjadi pasangan yang sempurna. Berbahagialah, mantan pak Po! Seperti yang pernah dikatakan istriku Fey, kalian berhak bahagia.” Refald menatap Fey yang juga menatapnya. Istri Refald itu pun tersenyum melihat pak Po terlihat sangat bahagia sekarang.
“Senang bisa melihatmu tersenyum seperti itu pak Po,” ujar Fey.
Tiba-tiba saja, pak Po melepaskan pelukan istrinya dan langsung berlari hendak memeluk Fey, tapi langkahnya itu langsung dihalang oleh Refald.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Refald.
“Memeluk istri anda Pangeran, sudah lama sekali saya ingin memeluk tuan Putri karena sudah membuat saya seperti ini! Sekarang saya sudah jadi manusia, jadi saya bisa memeluknya!” ujar pak Po tidak sadar kalau Refald sudah memancarkan api kecemburuan yang amat besar.
“Kau mau cari mati, ha? Kau meminta izin padaku saat kau hendak mencium istrimu, tapi kau main nyelonong begitu saja tanpa bilang padaku saat kau ingin memeluk, istriku? Kau mau aku cincang jadi daging giling disini, ha?” bentak Refald tak terima.
“Maaf, Pangeran! Bukan itu maksud saya, bagi saya ... tuan Putri dan anda adalah orang yang berjasa dalam hidup hamba. Karena itu, izinkan saya memeluk tuan putri sekali saja sebagai tanda terimakasih saya atas apa yang sudah Putri lakukan pada saya.” Pak Po sepertinya serius dengan ucapannya.
“Tidak bisa!” hardik Refald. “Tidak ada yang boleh menyentuh Fey selain aku! Camkan itu baik-baik. Peluk saja istrimu sendiri, sana!” perintah Refald.
Refald pun berbalik badan menggandeng tangan Fey dan bermaksud pergi dari tempat ini. Namun, langkahnya terhenti tiba-tiba karena mendadak dadanya terasa sakit sehingga Refald mengerang dengan keras.
Arrgghhhhh!
Fey yang menyaksikan suaminya seolah sedang kesakitan jadi ikutan cemas juga. “Ada apa, Suamiku? Apa yang terjadi?” Fey pun ikut membungkuk mengikuti gerakan Refald.
Suaminya itu tidak menjawab pertanyaan Fey, ia terus menahan sakit sampai keringat dingin mengucur di pelipisnya. Dan seketika itu juga, Refald pun pingsan dipelukan Fey.
“Refald!” teriak Fey terkejut. Pak Po dan Di langsung berlari ke arah Refald yang tiba-tiba saja terkapar dalam pelukan istrinya.
BERSAMBUNG
****
Terimakasih buat yang sudah setia menunggu up kisah Refald dkk. Terimakasih juga sudah memberikan dukungan berupa like dan juga hadiah koin serta poinnya. Aku sangat seneng banget dan membuatku semakin bersemangat menceritakan kisah halu yang sudah melebihi kapasitas ini. semoga kalian tidak bosan membaca tulisan haluku yang tidak masuk akal ini.
Dan jangan lupa ... besok adalah rilis pertama Playboy Jatuh Cinta season 2 (Kisah Shena dan Leo) seperti apa kelanjutan kisah nggak ada akhlaknya mereka? jangan lupa mampir ya di novel barunya besok. Beri like dan komentar juga pastinya ... love you all forever ...
Besok aku rilis covernya disini juga.
Refald
Fey
Rosalinda Divani
__ADS_1
pak Po