
Suster dan para asistennya sibuk menata ruangan tempat tidur tambahan untukku. Mereka semua pamit undur diri begitu menyelesaikan pekerjaan mereka. Sementara ayahku dan ayah Refald saling berbincang-bincang seolah mereka puas sudah mengatur tempat tidurku di ruangan ini. Mereka bahkan tak tampak mengkhawatirkan Refald yang masih belum sadar walaupun dia hanya pura-pura.
Sebagai orang tua yang normal, harusnya ayah Refald khawatir pada keadaan putranya yang tak kunjung sadar juga, tetapi yang aku lihat malah sebaliknya. Ekspresi mertuaku terlihat tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran akan kondisi putra semata wayangnya. Apalagi ayahku juga meladeni apa yang dibicarakan ayah Refald seakan lupa bahwa menantunya juga belum sadarkan diri.
“Apa cuma aku saja yang mengkhawatirkanmu di sini meski aku tahu kau hanya pura-pura sekarat. Lihatlah para orangtua kita, enjoy saja mengobrol seolah tidak terjadi apa-apa,” gumamku pada Refald. Aku tahu Refald mendengarku tapi dia sama sekali tidak bereaksi. “Dia tidak bergerak lagi, pasti sedang tidur.”
“Fey,” panggil ayah Refald padaku. “Aku harus pergi sekarang. Tolong jaga Refald, ya. Dan hati-hati kalau dia sudah sadar. Sampai ketemu lagi. Ibumu akan tiba besok pagi.”
“Ibu?” aku agak terkejut, tapi aku langsung mengerti ibu siapa yang dimaksud ayah mertuaku ini. “Ehm, iya ... baik Ayah. Aku akan menyambut kedatangannya. Ayah tidak perlu khawatir.” Aku tersenyum meski sebenarnya aku lupa seperti apa wajah ibu mertuaku. Secara kami sudah lama tidak bertemu.
Biar nanti kutanyakan pada Refald. Pikirku.
“Ayah, juga harus segera bersiap-siap pulang ke Jepang setelah ini. Kau tidak apa-apa jika kami tinggalkan sendiri?” Ayah berjalan mendekatiku dan menatap Refald.
“Apa tidak bisa salah satu dari kalian menunggu sampai Refald sadar?” tanyaku sudah kesal karena mereka sepertinya terlalu menganggap enteng keadaan Refald walaupun ini hanya sandiwara.
“Yang Refald butuhkan saat ini bukan kami, tapi kau, Sayang. Kaulah kekuatannya saat ini. ayah janji, begitu urusan di Jepang selesai, ayah akan kembali lagi kemari. Nenekmu juga akan datang besok pagi, aku sudah memberitahunya kalau kau sudah sadar dan baik-baik saja.” Ayah mengecup keningku dengan penuh kasih sayang.
Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi jika ayah bilang begitu. Mereka berdua sepertinya memang sengaja meninggalkan kami berdua malam ini. Apa yang sedang mereka pikirkan sebenarnya? Apa mereka sengaja mau membuat kami menikah malam ini? batinku kesal.
Refald mulai membuka matanya begitu pintu ruangan tertutup rapat dan hanya tinggal kami berdua. “Kenapa wajahmu manyun begitu?” tanyanya padaku.
“Bagaimana bisa ayah-ayah kita meninggalkan kita hanya berdua di sini? Apa yang mereka rencanakan sebenarnya? Apa mereka tahu kalau kau hanya pura-pura?” nada bicaraku meninggi karena aku masih kesal.
“Honey. Kau sungguh tak tahu apa-apa?” tanya Refald yang menatapku dengan heran.
“Apa maksudmu?”
“Mereka tidak hanya ingin kita berdua saja, mereka menginginkan lebih dari itu.”
__ADS_1
“Jangan bikin aku bingung dengan membuat teka-teki yang tidak ku mengerti dari tadi. Jelaskan padaku, memangnya apa yang sebenarnya mereka inginkan? Kau juga belum menjawab pertanyaanku.”
Refald melirikku sambil berkata, “Berikan aku ciuman, baru aku akan menjawab semua pertanyaanmu.”
“Ha?” aku memejamkan mata dan juga menghembuskan napas panjang agar bisa bersabar menghadapi Refald. “Bagaimana kalau aku tidak mau?” tantangku.
“Tidak ada ciuman, tidak ada jawaban, dan jangan harap aku mau bicara denganmu lagi.” Refald pura-pura memejamkan matanya lagi dan pura-pura tak sadarkan diri.
Aku hanya menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Kekesalanku benar-benar sudah berada di puncak. “Dasar mesum! Ada, ya manusia super mesum kayak kamu! Kau itu pangeran! Huh, pangeran apanya? Mana ada pangeran otaknya kongslet kayak kamu!” tiba-tiba saja Refald langsung bangun dan menciumku saat aku sedang asyik ngedumel. Mataku terbelalak akibat ciuman dadakan dari Refald.
“Kau itu berisik sekali, aku jadi tidak bisa tidur,” ucap Refald setelah menyudahi ciuman mautnya yang memang berhasil membuatku bungkam.
Tiba-tiba saja terdengar suara dari luar dan Refald kelabakan karena ia harus berpura-pura akting sekarat.
Aku hanya tertawa melihat selang infusnya tidak terpasang dengan benar. Buru-buru aku membenahinya tepat di saat pintu ruangan terbuka.
“Tidak, Dok. Pasien masih tetap belum sadarkan diri,” jawab suster itu sambil memeriksa buku catatan kesehatan Refald.
“Kau yakin dengan apa yang kau catat? Kau bisa bekerja dengan benar, tidak?” bentak dokter itu pada susternya sehingga membuatku kaget dan juga tegang.
Wajah suster itupun jadi bingung dengan sikap dokter itu yang tiba-tiba saja membentaknya tanpa sebab. Soalnya, dari hasil catatan yang dia lihat, Refald memang belum menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan sadar.
“Dok, berdasarkan catatan ini ...,”
“Sudah berapa kali ku bilang? Jangan hanya mengandalkan catatan!” teriak dokter itu sambil melempar buku catatan yang dipegang suster cantik itu sehingga jauh terpental dan membuatku ikut terkejut juga. “Gunakan panca indramu! Terutama indra penglihatan! Bagaimana bisa pasien sekarat seperti Refald bisa berciuman, ha? Dan kau bilang dia masih belum sadar? Kau ingin aku pecat?” Dokter itu membentak suster dengan sangat keras
“Apa?” suster itu terkejut dan takut, tapi juga tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kata-kata dokter itu. “Ta-tadi Dokter bilang apa?”tanya suster itu lagi.
Sebuah pukulan telak seolah sedang menghantam kepalaku dengan kuat. Aku tahu maksud dokter itu, dia pasti melihat Refald menciumku. Gawat! Apa rahasia Refald sudah terbongkar? Bagaimana ini? aku hanya menggigit bibir dan mengamati Refald.
__ADS_1
Dasar sial, kenapa akting Refald sempurna sekali? Batinku.
“Jangan berciuman lagi!” pinta dokter tampan itu.
Aku terkejut sampai gugup setengah mati, tapi aku bingung, yang diajak bicara dokter itu adalah suster cantik itu, bukan aku. Bahkan dokter itu memegang bahu susternya dengan kuat. Keduanya saling menatap.
“Aku tidak ingin melihatmu berciuman dengannya. Akhiri hubunganmu dengan pacar nggak jelasmu itu, dan menikahlah denganku!”
Tuingg!
Aku langsung melting mendengar apa yang dikatakan dokter tampan itu pada suster cantiknya. Aku kira rahasia Refald ketahuan, tapi ternyata ... itu hanya alibi dari permasalahan kedua sejoli yang ada di depanku ini.
“Maaf, Dok. Bisa kita bicarakan masalah ini nanti? Ada pasien yang harus Dokter periksa, dan tidak enak juga dilihat wali pasien ini.” Suster itu berusaha menjauh dari Dokter tampan itu setelah sempat terkejut mendengar kata-kata dokter yang tiba-tiba saja melamarnya.
“Tidak!” dokter itu beralih manatapku dan menanyakan sesuatu. “Maaf, apa kau keberatan jika aku bicara sebentar dengan susterku sebelum aku memeriksa ... ehm ...,” dokter itu bingung menyebut Refald sebagai apa-ku.
“Suamiku, kami sudah menikah,” jawabku cepat. Aku menghela napas lega, karena rahasia Refald masih aman tersimpan. Hampir saja, aku kira bakal ketahuan, pantas Refald bersikap sangat tenang.
Tunggu! Apa dokter ini sedang mengerjaiku? Entah kenapa, aku mulai menyadari sesuatu dan aku harus bertindak cepat jangan sampai aku terjebak.
BERSAMBUNG
****
seneng nggak sih aku up lagi sore yang syahdu ini ... hehe ...
gantengnya mas Refald .. padahal muka benyok begitu.. hehe
__ADS_1