Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 61 Mimpi yang Sama


__ADS_3

Aku masih terpana dengan apa yang aku lihat di depan mata. Makhluk yang mirip seperti guling itu menghilang seketika setelah sempat memelototiku. Tiba-tiba tubuhku langsung lemas dalam pelukan Refald yang entah mengapa aku merasa bahwa Refaldlah yang meminta pocong itu menghilang dari hadapanku. Lalu, aku tidak sadarkan diri.


Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku saat ini. Seingatku tadi, aku terduduk lemas dipelukan Refald, tapi sekarang aku malah berada di sebuah tempat berkabut di tengah hutan yang lebat.


Sepertinya ini sudah pagi, ah bukan sepertinya aku memasuki dimensi lain lagi.


Benar, tidak salah lagi. Aku kembali masuk kedimensi lain setelah melihat pocong yang mengerikan tadi. Anehnya, aku merasa tidak asing dengan tempat ini, aku yakin aku pernah datang kemari. Aku mengamati sekelilingku dan mecoba mengingat-ingat lagi.


Aku mendengar suara derasnya air mengalir tepat di sebelah kananku. Aku langsung berlari menuju ke sumber suara itu.


Benar dugaanku, aku melihat sungai itu lagi. Kalau tidak salah ingat, aku pernah mengalami mimpi yang sama persis seperti ini. Itu berarti sebentar lagi ada ... Refald!


Aku mencari-cari di mana Refald saat ini. Jika ini adalah mimpi yang sama persis sepeti waktu itu, sebentar lagi pasti ada Refald sedang berdiri di tengah sebuah rakit yang terhanyut di atas sungai didepanku ini.


Aku berlari ke arah sungai itu dan berhenti di tepi. Aku sudah tidak bisa maju lebih dekat lagi karena sungai itu semakin dalam dan ada di bawah tempatku berdiri. Jika aku maju selangkah saja, maka aku akan jatuh dan ikut terseret arus sungai yang sangat deras ini.


“Di mana Refald? Kenapa aku masih belum bisa melihatnya?” gumamku.


Aku memutuskan menunggu kedatangan Refald di tepi sungai dengan harap-harap cemas. Sampai akhirnya, aku mendengar suara seorang laki-laki asing yang tidak aku kenal.


“Apa yang kau lakukan?” tanya seseorang itu dari belakang tempatku duduk.


Aku merasa sangat aneh saat mendengar suara itu. Tiba-tiba saja, bulu kudukku berdiri merinding, hawa disekitarku mendadak berubah menjadi sangat dingin. Akupun jadi gemetar ketakutan, perasaan ini sama seperti yang kurasakan saat melihat makhluk seperti guling yang sedang memelototiku sebelum aku pingsan.


Perlahan, aku menoleh untuk memastikan bahwa apa yang aku pikirkan ini salah. Ini adalah dunia mimpi, tidak mungkin kalau pocong itu juga menghantuiku di alam mimpi.


Saat aku benar-benar menoleh, aku sangat syok. Makhluk putih itu kini benar-benar ada dihadapanku bahkan ia tersenyum padaku. Aku terkejut dan ingin sekali berteriak. Tapi, lagi-lagi aku tidak bisa bergerak, apalagi bersuara. Seluruh tubuhku seakan terkunci begitu aku melihat sosok yang paling kutakuti di dunia ini.


“Hai ...,” sapa pocong itu dengan senyum ramahnya.


Aku mengamati pocong itu, dan aku merasa ada yang aneh dengan sosok putih itu.

__ADS_1


Tunggu! Wajah pocong itu .... dia ... oh my God ... dia sangat tampan!


Aku mengusap-usap mataku berharap bahwa aku sekarang sedang tidak salah lihat. Aku rasa saat ini aku terlalu berhalusinasi tingkat tinggi. Tapi sekali lagi aku memastikan bahwa penglihatanku ini tidak salah.


Mahkhluk yang mirip guling itu, pocong putih itu, memang benar-benar tampan!


Aku takjub sekaligus heran, “Bagaimana bisa kau ....”


“Aku memang sangat tampan! Lebih tampan dari pacarmu, kan?” pocong itu masih tersenyum menyeringai dan sok narsis sehingga membuatku jadi langsung ilfeel.


Ketakutan yang tadi kurasakan mendadak hilang tak berbekas setelah tahu kalau ternyata pocong bisa narsis juga.


Aku kira cuma manusia hidup yang masih bisa narsis. Ternyata dedemit satu ini juga! Tak sadar diri, kah?


“Aku bisa mendengar suara hati dan pikiranmu! Hati-hati kalau bicara,” ucap pocong itu berlagak sombong.


“Oh, iya? Sepertinya aku harus memberikan penjelasan padamu meski sebenarnya kau mungkin sudah tahu,” sanggahku. “Bagiku ... hanya Refald yang paling tampan dan keren di dunia ini. Jangan bandingkan dia dengan hantu mengerikan sepertimu! Kau bisa mengubah wajahmu jadi apa saja, tapi kau tidak akan pernah bisa berubah seperti Refald. Apalagi sampai meniru wajahnya. Akan aku pastikan kau tidak akan bisa bergentayangan lagi di sini jika kau sampai berani melakukan itu." tanpa sadar, aku sudah mengancam sesosok dedemit dengan sok berani, padahal tadi aku takut sekali.


“Oke-oke sepertinya kau sudah tidak takut lagi padaku, kau bahkan sudah berani mengancamku. Tapi, bagaimana dengan yang ada dibelakangmu?”tanyanya mencurigakan.


Aku terkejut pocong sok tampan itu tersenyum menyeringai padaku. Dan aku tidak mengerti apa maksud dari ucapannya.


Memangnya apa yang ada di belakangku. Jangan-jangan ....


Aku menoleh ke belakang dan langsung berteriak sekencang-kencangnya setelah melihat sosok kuntilanak yang mengerikan itu berdiri tepat di depan wajahku.


“Aaaaaahhhhhhhhhhhhh ....” aku berteriak sekuat mungkin dan berusaha menjauhkan tubuh kuntilanak itu dariku. “Pergi! Jangan dekati aku! Pergi kau!” aku mendorong tubuh seseorang yang ternyata itu adalah Refald.


“Fey! Tenanglah! Ini aku, Refald!” Refald langsung menangkap tanganku yang sedang menyerangnya dan menggenggamnya erat lalu secepat kilat ia memelukku dan menenangkanku. “Ini aku, sadarlah, Fey!”


Mendengar suara Refald dan berada dalam pelukannya, tiba-tiba aku tersadar kalau aku baru saja mengalami mimpi yang sangat mengerikan. Tawa ciri khas makhluk putih itu masih terngiang dikepalaku. Kali ini, aku benar-benar ketakutan. Aku sungguh tidak bisa melupakan suara tawa makhluk yang mengerikan itu.

__ADS_1


Aku menangis dalam dekapan Refald. Saking takut dan syoknya aku. Sungguh mimpi itu benar-benar menakutkan. Mata kuntilanak yang menatapku seolah-olah ia benar-benar akan memakanku.


“Fey!” panggil Refald setelah tahu aku sudah sedikit tenang. “Kau baik-baik saja, Honey?”


Aku hanya mengangguk pelan karena masih syok dan ketakutan. “Aku bermimpi buruk. Para dedemit itu datang dan menakutiku di alam mimpi? Aku tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi? Apa aku mengganggu ketenangan mereka? Tapi aku tidak pernah melakukan apapun?”


“Itu hanya mimpi, jangan khawatir, sudah tidak apa-apa. Tidak akan ada yang bisa menakuti ataupun menyakitimu. Aku janji padamu. Sekarang ada aku bersamamu, Honey. Tenang saja, oke!” Refald mencium keningku dengan lembut.


Aku sendiri masih menangis sesenggukan karena terlalu syok.


“Minumlah ini!” Refald memberiku sebah botol minuman kemasan supaya aku jauh lebih tenang.


Aku terkejut melihat Refald memberiku air yang ada di dalam botol dan itu seperti baru saja dibeli kerena tutup botolnya masih tersegel rapat.


“Refald? Dari mana botol ini?” tanyaku penasaran karena tidak percaya kalau ada sebuah botol kemasan di sini. Padahal sebelumnya kami tidak punya peralatan apa-apa. “Bagaimana kau bisa membelinya? Apa di hutan ini ada toko?” aku benar-benar heran dengan keberadaan botol ini.


Refald menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal karena bingung harus berbicara apa.


“Sudah aku bilang, kita bisa mendapatkan semua yang kita butuhkan bila malam sudah tiba.”


“A-apa? Apa maksudmu?” aku masih tidak mengerti makna dari ucapan Refald.


“Aku tidak yakin apakah aku harus menjelaskannya padamu malam ini. Bagaimana kalau saat ini kita tidur dan besok pagi saja kujelaskan begitu kita bangun. Aku takut kau akan pingsan lagi bila mendengarnya,” terang Refald.


“Tidak! Aku mau kau menjelaskannya malam ini. Cukup sudah! Jangan membuatku penasaran lagi, please!” aku memohon pada Refald yang tentu saja ia langsung mengabulkan apapun yang aku inginkan.


“Baiklah! Dengarkan aku baik-baik. Jangan menyela pembicaraan sebelum aku selesai berbicara. Kau boleh bertanya apa saja setelah aku selesai menjelaskan semuanya padamu.” Refald mulai terdengar serius.


“Oke!” jawabku singkat karena aku sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari Refald.


****

__ADS_1


__ADS_2