
Secara ajaib, langit yang tadinya tampak biru cerah mendadak berubah menampilkan sebuah kejadian layaknya film yang diputar pada sebuah layar lebar. Hanya saja, langit-langit itu berisikan gambaran sebuah kenangan dari ingatan seseorang. Awalnya, Fey hanya mengamati saja rangkaian kejadian yang sedang berlangsung sampai akhirnya ia menyadari sesuatu. Kenangan dari ingatan seseorang yang dimaksud Refald atau lebih tepatnya yang sedang ia lihat ini adalah kenangan dari suaminya sendiri. Tidak salah lagi, sosok yang ada dalam gambaran cerita yang ditampilkan dilangit-langit itu tidak lain dan tidak bukan adalah Refald.
Kenangan itu memperlihatkan tentang masa kecil Refald. Meski sudah lama berlalu, Fey yakin anak laki-laki itu adalah Refald kecil. Fey sangat terkejut karena itu adalah sepenggal kisah hidup Refald sebelum ia dijodohkan keluarganya dengan Fey.
“Honey, kau mengenali anak laki-laki itu?” tanya Refald untuk memastikan apakah Fey masih mengingatnya atau tidak.
“Kau bisa membaca pikiranku, pastinya kau sudah tahu jawabannya.” Tatapan mata Fey masih mengamati gerak gerik Refald kecil saat ia bersama dengan ayah dan ibunya. Fey benar-benar fokus melihat kenangan masa kecil suaminya yang terlihat sempurna. Keharmonisan keluarga Refald, tak jauh beda dengan keluarganya sewaktu ibunya masih hidup.
“Tapi, aku ingin mendengarnya langsung darimu,” pinta Refald sambil menggenggam erat tangan Fey. Fey pun hanay bisa menghela napas panjang karena sudah diingatkan pada sosok anak laki-laki yang dulu sempat ia benci.
“Tentu saja aku tidak akan pernah lupa wajah seorang anak laki-laki menjengkelkan itu karena dia telah berani merebut kue ulang tahunku.”
“Aku hanya membantumu meniup lilin itu, Honey. Bukan merebut,” ralat Refald.
“Meniup kue ulang tahunku tanpa izin dariku sama saja dengan merebutnya, Refald.” tandas Fey menahan geram.
“Kau masih dendam padaku soal itu?” Tanya Refald tak percaya kalau istrinya ini masih saja kesal padanya hanya gara-gara kue ulang tahun.
“Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu, biarkan aku menikmati kenangan masa kecilmu ini. Jangan ganggu aku!” Fey kembali fokus melihat Refald kecil yang sedang terkejut saat diberitahu ayahnya alias ayah mertua Fey bahwa Refald akan segera bertunangan dengan gadis pilihan orang tuanya yaitu Fey, yang kala itu masih memakai nama Shiyuri.
Melihat bagaimana ekspresi Refald saat ia diberitahu akan bertunangan dengan seseorang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya, mengingatkan Fey pada dirinya sendiri. Waktu itu, Fey juga merasakan hal sama seperti yang dirasakan Refald kecil. Pertunangan yang tiba-tiba, apalagi diusia yang masih tergolong belia, merupakan hal tersulit yang harus diterima oleh Fey dan Refald tanpa punya pilihan lain selain harus menerima perjodohan mereka.
Hanya saja, mereka sedikit tidak mengerti mengapa dizaman modern, perjodohan masih saja harus mereka alami. Meski demikian, mereka berdua tak kuasa menolak keinginan kedua orangtua mereka apalagi almarhum ibu Fey sangat mendukung pertunangan ini.
Berbeda dengan Refald kecil yang Fey lihat diatas langit-langit saat ini, walau awalnya Refald terkejut, ternyata anak kecil yang kini sudah menjadi suaminya itu sangat penasaran seperti apa sosok calon tunangannya.
Setiap hari, Refald mengamati gerak gerik Fey yang selalu berangkat dan pulang bersama dengan Sakura, kakaknya. Bahkan tingkah pola Fey yang semangat 45 menjodohkan Sakura dengan Sauran, juga ikut mengundang simpati Refald meski ia hanya bisa melihat Fey dari kejauhan.
“Jadi ... kau menguntitku?” komentar Fey setelah melihat sekilas kenangan masa kecil Refald begitu mereka akan dijodohkan.
“Sudah kubilang, Honey. Aku penasaran denganmu. Seperti apa dirimu sampai orang tuaku begitu ngotot menjadikanmu menantunya. Apa istimewanya dirimu bagi mereka sehingga mereka menyandingkanmu denganku.”
“Lalu? Apa pendapatmu tentangku?”
“Ehm ... kau ... cantik,” jawab Refald sambil tersenyum. Ia mengajak duduk Fey di sebuah taman bunga yang ada disekitarnya sambil terus menatap langit-langit.
“Cuma itu?” Fey masih penasaran.
Tidak mungkin Refald tertarik padanya hanya karena dirinya cantik, pasti ada alasan lain mengingat semua wanita yang tergila-gila dengan Refald rata-rata berparas menawan juga.
“Kau pintar bermain alat musik apapun, gitar, biola, piano bahkan harmonika, kau menguasai semuanya. Tidak ada anak kecil lain sehebat dirimu. Sejak saat itu, aku mulai mengerti alasan orangtuaku memilihmu sebagai pendamping hidupku. Bagi orangtuaku yang kini sudah menjadi mertuamu, kau adalah gadis paling sempurna untukku.”
Fey hanya diam dan mulai merebahkan kepalanya di paha Refald yang sedang duduk menyilang. Refald membelai lembut rambut istrinya sambil tersenyum senang. Sementara Fey langsung memasang wajah serius ketika melihat keluarga Refald mendapat kabar bahwa mereka semua dideportasi dari negara Jepang dan tidak diperbolehkan datang kembali dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan akibat konflik yabg terjadi antara negara asal keluarga Refald dan negeri Sakura itu.
Bersamaan dengan apa yang menimpa keluarga Refald, ibu Fey meninggal dunia akibat sakit yang sudah lama dideritanya. Air mata Fey langsung mengalir deras kala mengingat masa-masa suram dalam hidupnya. Sejak kejadian itu, Fey seolah kehilangan arah dan berubah menjadi orang lain. Nama Shiyuri mendadak hilang dalam dirinya bersamaan dengan hilangnay waktu kebersamaan yang terjalin antara Fey dan ibunya. Fey memilih mengasingkan diri karena tidak bisa menerima takdir yang sudah digariskan padanya. Kehilangan ibunya untuk selamanya adalah hal terberat yang pernah terjadi dalam hidup Fey.
“Maafkan aku, karena saat kau sedang dalam keadaan terpuruk, aku tak bisa mendampingimu.” Refald mulai mengutarakan pendapatnya saat melihat Fey menangis dipelukannya. Berbeda dengan Sakura yang ditemani Sauran, dan ayahmu yang selalu ditemani sahabat almarhum ibumu sekaligus ibu dari Tomoyo, teman dekat Sakura, kau sendirian tanpa diriku. Sebagai tunanganmu, aku tak bisa berbuat apa-apa untukmu, bahkan saat itu aku belum memiliki kekuatan super seperti sekarang ini.”
“Aku tahu,” Fey menyeka air matanya dan bangun menatap Refald. “Kau sudah menjelaskan padaku semuanya. Meski awalnya aku membencimu karena salah paham padamu, kini aku mengerti semuanya. Jangan lagi merasa bersalah padaku, karena aku jauh lebih merasa bersalah padamu karena sempat tidak menganggapmu sebagai tunanganku. Yang lebih parahnya lagi adalah, aku melupakanmu. Waktu itu aku benar-benar tidak ingat kalau aku sudah bertunangan dengan seseorang yang ternyata adalah kau.” Fey dan Refald saling tertawa satu sama lain mengenang semua masa lalu mereka karena dipermainkan oleh takdir. Padahal, mereka sudah pernah bertemu sebelumnya tapi tidak saling mengenal.
__ADS_1
Fey kembali melihat gambaran ingatan Refald selanjutnya dari atas langit-langit. Gadis itu menyunggingkan senyumnya ketika melihat Refald kecil sedang duduk diam di jendela sambil memikirkan sesuatu. Dilihat dari setting tempatnya, sepertinya itu ada di Jerman. Fey menyimak dengan seksama ekspresi wajah suaminya yang suka menyendiri, baik saat berada di sekolah ataupun ketika berada dirumah.
Awalnya, hari-hari Refald berjalan seperti biasa. Refald kecil selalu cuek dan tidak peduli dengan semua orang yang ada disekitarnya, meski begitu ia tetap banyak dikagumi banyak wanita. Entah sudah berapa anak yang mencoba mendekatinya bahkan tak segan-segan menyatakan cinta tapi Refald hanya diam 1000 bahasa dan tak pernah menanggapinya. Jangankan bicara, menatap anak yang menyatakan cinta padanyapun tidak. Refald kecil benar-benar dingin sedingin es.
“Kau benar-benar sedingin salju. Aku baru tahu kalau aku adalah satu-satunya orang yang kau cintai di dunia ini. Aku pikir sebelum kau menemukanku kau pernah menyukai orang lain.”
“Kalau aku menyukai wanita lain, kenapa aku harus repot-repot mencarimu sampai kemari?”
“Tapi kan kau tidak tahu, selama aku ada disini, ada orang yang aku suka atau tidak.”
“Tidak ada seorangpun yang kau suka sampai aku datang kemari. Bahkan kedua seniormu itupun menaruh hati padamu tapi kau tidak memedulikan mereka. Akulah satu-satunya orang yang bisa membuatmu jatuh cinta.”
Fey terdiam karena apa yang dikatakan Refald memang benar. Niat hati ingin menggoda Refald malah ia kena skakmat. Gadis itupun memutuskan kembali melanjutkan kenangan masa lalu Refald.
Selama tinggal di Jerman, hanya Ericlah yang ia ajak bicara sedangkan yang lainnya Refald anggap tidak ada. Fey tertegun melihat apa yang dilakukan Refald saat ia tahu tunangannya sudah tidak ada lagi di Jepang. Refald berlari cepat masuk kedalam hutan dan ia pun sampai disebuah pegunungan tinggi di Eropa, yaitu pegunungan Alpen. Entah apa yanga ada dalam pikiran Refald saat itu yang jelas ia berlari tanpa tahu arah sampai akhirnya ia jatuh kedalam jurang.
Fey tersentak dan hampir saja berteriak melihat suaminya terjatuh ke dasar jurang dan anehnya, Refald tidak mati. Ia bahkan tidak mengalami luka sedikitpun. Padahal jelas-jelas Refald jatuh pada kedalaman yang tak bisa diukur. Dari situlah Refald menyadari bahwa ia istimewa dan ternyata memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa lainnya bahkan ia pun juga memiliki pasukan langka, yaitu pasukan dedemit.
Satu persatu, Refald mulai menghafal semua nama pasukan dedemitnya dan mulai sering menjelajahi alam untuk mengisi waktu senggang. Hingga akhirnya, Refald memutuskan untuk mencari keberadaan tunangannya yang menghilang tanpa jejak. Siapa lagi kalau bukan Fey sendiri.
“Apa yang aku lihat tadi, Refald? Kau mencoba bunuh diri?” tanya Fey meminta penjelasan soal Refald yang sengaja menjatuhkan diri kedasar jurang.
“Kau satu-satunya orang yang ada dalam pikiranku, Honey. Perasaanku hancur saat mengetahui kau menghilang dari kehidupanku. Tapi paman Byon berhasil membuatku bertekad untuk mencari keberadaanmu sampai dapat, karena itulah aku mencoba menguji diriku sendiri karena almarhum kakekku datang kedalam mimpiku untuk memberitahu bahwa aku adalah keturunan raja dari dunia lain selanjutnya.
“Kau ini! Bagaimana jika kekuatanmu tidak muncul, ha? Apa kau tahu apa yang terjadi padamu? Tubuhmu bisa saja hancur berkeping-keping. Itu adalah tindakan terbodoh yang pernah aku lihat.”
“Tapi nyatanya aku masih bisa duduk disini bersamamu, Honey. Kenapa kau marah?”
Kali ini, Fey sedikit terkejut saat melihat Refald yang masih memakai seragam sekolah datang menemui neneknya saat menghadiri arisan dirumah teman nenek Fey. Kedatangan Refald membuat nenek Fey terkejut karena di depan semua teman-temannya, tanpa basa basi Refald berlutut untuk meminta izin menjadi kekasih Fey. Tentu saja semua orang yanag ada disana benar-benar shock sekaligus kagum melihat keberanian Refald. Mereka semua malah mendukung sikap gentlemen Refald yang jarang dilakukan oleh pria manapun.
Tak hanya meminta izin, Refaldpun menjelaskan alasan kenapa ia harus meminta izin terlebih dulu pada neneknya. Ia tidak ingin kejadian yang terjadi pada kedua orang tua Fey, tidak terjadi juga padanya. Seandainya waktu itu nenek Fey tidak merestui hubungan mereka, maka Refald akan terus berusaha sampai nenek Fey mau menerimanya menjadi bagian dalam hidup Fey. Sebagai wanita tertua di desa itu, nenekpun tidak mau dianggap sebagai seorang nenek yang jahat. Untuk itulah Refald langsung mendapat restu. Benar-benar mujur.
Fey mencoba mengingat-ingat kapan kejadian itu terjadi tapi ia sama sekali tidak ingat. Rupanya tanpa sepengetahuannya, Refald masih bisa jadi keren juga.
“Kapan kau menemui nenekku dan melakukan hal konyol seperti itu?”
“Setelah aku mengantarmu pulang, kau habis pingsan di UKS waktu itu.” Refald menatap wajah istrinya yang sedang memikirkan masa-masa itu.
“Kalau tidak salah, saat itu aku mulai sedikit terbuka padamu dan memberitahumu kalau aku sudah punya tunangan, dan lucunya, tunanganku adalah kau sendiri. Pantas saja nenek selalu welcome setiap kali kau datang ke rumah ataupun saat mengajakku keluar. Ternyata ini alasannya?” Fey tersenyum simpul menatap Refald.
“Baiklah, cukup sampai disini dulu. Kita harus kembali kerumah dan menemui semua teman-temanmu. Kita juga harus segera bersiap-siap kembali ke Swiss serta menghadiri pernikahan Nura dan Eric.” Refald membantu Fey bangun tapi Fey malah menahan pergerakan Refald. “Ada apa, Honey?” Refald kembali duduk dan menatap lembut wajah istrinya.
“Bisakah kita tinggal disini sebentar? Aku sangat menyukai tempat ini.”
“Kita bisa datang lagi sesuka hatimu kalau kita sudah berada di Swiss. Ada banyak hal yang harus kita lakukan sekarang, kau juga belum makan.” Refald membelai lembut pipi Fey yang merona merah saat menatapnya.
“Ada yang ingin aku coba disini bersamamu.” Fey melihat area sekelilingnya.
Tempat ini memiliki pemandangan indah yang luar biasa. Di dunia nyata, dunia seperti ini tidak mungkin ada. Semua benda-benada yang ada disekeliling Fey terlihat nyata, bahkan harum semerbak bunga yang tumbuh disekitar Fey duduk pun juga bukan khayalan semata. Wanginya benar-benar menyegarkan sehingga membuat pikiran Fey menjadi fresh. Tempat ini sangat cocok untuk melepaskan penat dan stres.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu lagi, Fey mencium bibir suaminya dengan lembut, mengisapnya bergantian dan penuh dengan kehangatan. Tentu saja apa yang dilakukan Fey membuat Refald terkejut dan tidak menyangka kalau istrinya ini bisa bersikap agresif juga. Refald tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia pun membalas setiap ciuman yang diberikan Fey padanya.
Semakin lama, Fey ternyata benar-benar bertambah merajalela. Tanpa izin dari Refald, ia membuka resleting celana suaminya sehingga Refald kembali terkejut.
“Tunggu, Honey? Apa yang kau lakukan?” tanya Refald, walau sebenarnya dalam hati ia senang sekali.
“Apa lagi? Bukankah kau sangat suka kalau aku memberimu nutrisi?” Fey mencoba mencium bibir Refald kembali.
“Tunggu, maksudmu ... kita akan melakukannya disini?”
“Kenapa? Apa akan ada orang lain yang datang?”
“Tidak ada siapapun yang bisa datang kemari tanpa izin dariku, Honey.”
“Kalau begitu, tidak masalah kan? Tempat ini seperti kamar pribadi kita.”
“Iya, tapi masa melakukannya ditempat terbuka begini?”
“Kau jangan membuatku tertawa, Refad? Sejak kapan kau mendadak jadi polos begitu? Kau bilang dunia ini hanya tercipta untuk kita berdua. Berarti tidak akan ada yang tahu kalau kita melakukannya disini, kan?” Fey mencoba meraba-raba dada bidang suaminya agar Refald semakin terangsang dengan sentuhannya.
“Iya ... tapi ini ....”
“Sudah jangan banyak bicara! Kita lakukan saja dengan cepat!” Fey membuka pakaiannya sendiri di depan Refald dan membantu melepas pakaian yang dikenakan suaminya. Sementara Refald hanya terbengong-bengong melihat perubahan mendadak sikap Fey yang ganasnya luar baisa. Dan Refald baru menyadarinya.
“Kali ini aku yang diatas, kau dibawah!” Fey mencoba megambil alih kepemimpinan adegan pengisian nutrisi yang mereka lakukan.
“Terserah kau saja Honey, aku pasrah.” Ekspresi Refald benar-benar terlihat senang sekali.
Ritualpun dimulai dan seluruh alam malu-malu kucing menjadi saksi bisu pergerakan dua insan manusia yang memadu kasih dalam penyatuan tubuh keduanya. Suara desahan-desahan ringan menyatu dengan angin yang bertiup lembut seakan menari-nari mengikuti gerakan yang dilakukan Fey saat ia berada diatas tubuh suaminya.
Beberapa menitpun berlalu dan Refald mulai merasa akan mengalami pelepasan. Ia langsung bangun dari posisinya dan memeluk tubuh istrinya. Dengan lembut, Refald membaringkan Fey diatas kasur yang ternyata, mereka berdua sudah berpindah dimensi lagi. Kali ini, Refald dan Fey berada di kamar tidur mereka sendiri.
“Kenapa kita pindah kemari?” tanya Fey disela-sela aktivitasnya.
Saat ini posisi Refald berada dibalik punggung Fey. Keduanya sedang mencoba posisi miring seperti yang dianjurkan oleh dokter spesialis kandungan Fey.
“Aku hanya ingin membuatmu nyaman, Honey. Aku juga tidak mau Refald kecil kenapa-napa.” Refald masih melanjutkan gerakan maju mundur cantiknya dengan napas ngos-ngosan. Sampai akhiranya, mereka mengalami pelepasan bersama-sama.
“Refald, bagaimana dengan pakaian kita? Masa kita tinggal disana?” tanya Fey sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Kenapa? Kau takut kalau akan ada orang yang memungutnya?” goda Refald sambil tersenyum.
“Memangnya, ada?” Fey malah balik bertanya.
“Semoga saja tidak.” Refald sengaja menggantung jawabannya. “Sudah, jangan khawatirkan pakaian kita, biarkan saja.” Refald memeluk erat tubuh Fey dalam dekapannya.
“Hah?” Fey benar-nenar tidak mengerti kenapa Refald terlihat begitu santai padahal pakaian mereka masih tertinggal di dunia lain itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***