
Pagi begitu cerah, burung-burung tampak sibuk bertengger disetiap cabang pohon pilihan mereka untuk berkicau dan saling bersahutan sehingga alunan kicauan mereka terdengar sangat merdu, bagai irama nada lagu yang asyik dan syahdu untuk didengarkan disuasana pagi hari yang menyejukkan hati.
Aku terbangun oleh indahnya suara kicauan para burung-burung itu. Bau pinus yang menyengat juga membuatku semakin bersemangat. Aku sangat menyukai aroma pinus yang khas. Aku menghirup dan merasakan udara yang begitu segar, membuat pikiranku lagsung fresh dan menyejukkan. Perlahan, aku membuka mataku, dan yang pertama aku lihat setelah mata ini terbuka adalah wajah Refald yang bercahaya. Wajahnya begitu menawan, tampan dan sangat kontras dengan sinar mentari yang menyapu wajah oval ala bulenya.
Berada dipelukannya membuatku sangat nyaman, sungguh aku sangat bahagia memiliki Refald disisiku. Refald begitu istimewa dan juga sangat sempurna. Rasanya, aku ingin sekali berada di sini lebih lama bersama Refald, karena kami hanya berdua, meninggalkan segala hiruk pikuk duniawi yang penuh dengan berbagai macam masalah yang tiada henti.
Aku ingin menikmati sendiri moment indah ini, di mana hanya aku saja yang bisa melihat betapa memesonanya tunanganku ini, sebab aku yakin setelah kami ke luar dari sini, para cewek-cewek ganas yang ada di luar sana pasti akan berusaha mendekati dan mencari-cari perhatian Refald.
“Berhenti menatapku seperti itu? Aku tahu, aku memang sangatlah tampan,” ucap Refald padahal matanya masih terpejam.
Senyumku tiba-tiba saja menghilang dan jadi salah tingkah setelah tahu kalau Refald ternyata juga tahu kalau aku sedang mengamatinya dari tadi.
“Idih, siapa juga yang menatapmu? Kau terlalu Ge-Er.” Aku berusaha melepas pelukan Refald dan mencoba berdiri karena sudah terlalu malu.
Namun, Refald langsung menarik tanganku sehingga aku terjatuh dalam dekapannya. Tanpa sengaja bibir kami pun bertemu dan sebuah ciuman manis mendarat mulus menyapa pagi hariku.
“Morning, Honey ...,” sapa Refald setelah menyudahi ciuman mautnya.
Aku yang masih terpaku hanya bisa menunduk malu. Aku sungguh sangat malu. Ini pertama kalinya aku merasakan sesuatu seperti ini. Aku marasa, seolah-olah kami seperti pasangan pengantin baru yang baru saja menikah.
“Kenapa wajahmu merah semangka begitu? Kau tidak perlu malu, Honey. Cepat atau lambat, kita akan melalui hal seperti ini. Tidur bersama, bangun di pagi hari bersama-sama, melakukan aktivitas bersama-sama, sampai malam kembali tiba. Kita akan selalu bersama-sama. Hanya saja yang berbeda adalah ... kita masih belum bisa bersatu jiwa dan raga ....” Refald mengatakannya dengan suara yang sangat menggoda, membuatku tidak tahan mendengarnya.
“Stop! Hentikan, aku rasa masih terlalu dini kita membicarakan hal ini. Tidak bisakah kita pergi sekarang? Aku sangat khawatir dengan Yua dan Epank.” aku berusaha mengalihkan pembicaraan karena mukaku sudah sangat panas mendengar kata-kata Refald.
Refald tiba-tiba terdiam. Ia seolah sedang mendengar seseorang berbicara. Aku hanya bisa memerhatikan tingkah laku Refald yang mulai aneh ini. Kalau tebakanku benar, Refald pasti sedang mendengar sebuah laporan dari pasukan para dedemitnya.
Refald terus menatapku sambil mengangguk-angguk. “Terimakasih informasinya, sekarang pergilah, aku akan memanggil kalian semua nanti jika aku butuh bantuan dari kalian lagi,” ucap Refald pada pasukan dedemitnya yang tidak bisa aku lihat.
__ADS_1
Sebenarnya aku masih merinding membayangkan banyaknya makhluk astral disekelilingku, meski aku tidak dapat melihat mereka, tapi aku bisa merasakan kehadirannya. Tapi, mengingat Refald yang bersikap biasa seolah tidak ada apa-apa membuatku jadi ikut bersikap sama sepertinya. Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan sisi lain yang Refald miliki saat ini.
“Ada apa? Apa yang dikatakan pasukan dedemitmu?” tanyaku penuh penasaran.
“Yua dan Epank baik-baik saja. Tim SAR sudah menemukan mereka tadi malam. Saat ini mereka sedang di evakuasi ke tempat lebih aman,” terang Refald sambil berdiri dan menuntunku. “Apa kakimu masih sakit?” tanya Refald mengubah haluan pembicaraan. Mungkin ia tidak ingin aku mengkhawatirkan kondisi teman-temanku sementara kami sendiri masih belum bisa ditemukan keberadaannya.
Aku memerhatikan kaki kiriku dan mencoba menggerak-gerakannya. “Aku rasa sudah tidak apa-apa. Memang sedikit sakit tapi tidak separah kemarin. Aku masih bisa berjalan, kok. Bagaimana kalau kita pergi sekarang saja.”
Refald menatapku seolah ia tidak percaya kalau aku baik-baik saja. “Ayo, aku akan menuntunmu. Atau ... kau mau kugendong?”
“Tidak!” jawabku cepat. Aku tidak ingin Refald mendengar detak jantungku yang berdebar terlalu cepat. “Aku bisa jalan sendiri.” Aku mencoba berjalan untuk membuktikan pada Refald bahwa aku baik-baik saja meski jalanku agak sedikit pincang. “Lihat! Aku baik-baik saja, kan?” aku meyakinkan Refald kalau aku baik-baik saja sehingga kita bisa melanjutkan perjalanan.
“Jangan sok kuat!” Refald langsung menggedongku dalam dekapannya. “Diam dan jangan banyak protes.”
Aku mau protes namun tidak jadi karena Refald sudah lebih dulu memperingatkanku. Dalam sekejap, aku sudah berada dalam gendongannya.
Bibirku manyun mendengar ocehan Refald yang terlalu berlebihan. “Bagaimana bisa kau menyamakan aku dengan kura-kura? Jelas-jelas kami sangatlah berbeda,” gerutuku pada Refald.
Tunanganku ini hanya tersenyum sambil terus berjalan. Aku akui, ia sangat cepat meski sambil menggendongku. Dengan sigap ia melangkah melewati semak-semak dan rimbunan pepohonan yang tinggi menjulang. Kami sengaja berjalan di sisi aliran sungai sebagai penunjuk arah yang akan membawa kami ke desa karena kami yakin, sungai ini pasti mengarah ke sana.
Tak terasa sudah hampir satu jam Refald berjalan sambil menggendongku. Namun tampaknya, Refald tidak terlihat lelah, ia bahkan tidak berkeringat sama sekali.
Sekurus itukah aku sehingga Refald sama sekali tidak merasa berat menggendongku?
“Apa kau tidak lelah? Pasti tubuhku berat, ya?” tanyaku mulai khawatir. Aku takut Refald hanya pura-pura kuat menggendongku.
“Panggil aku ‘sayang', baru aku akan menjawab petanyaanmu.”
__ADS_1
Dasar Refald! Tinggal jawab saja harus mengajukan syarat?
Aku berpikir sejenak. Aku rasa, tidak ada salahnya menuruti permintaan Refald, karena aku juga sangat salut akan banyaknya pengorbanan yang sudah Refald lakukan demi aku. “Baiklah, ehem ... Sayang, apa kau tidak lelah? Kita bisa beristirahat jika kau kelelahan.” Aku menahan tawa agar tidak keluar mendengar kata-kataku sendiri yang terdengar aneh menurutku.
Refald langsung berhenti berjalan dan menatapku dengan tatapan penuh haru. “Ini pertama kalinya kau memanggilku ‘sayang’ Honey. Kau membuatku jadi bersemangat sekali. Terus panggil aku dengan sebutan itu.”
Apa? Sesenang itukah Refald saat aku memanggilnya ‘sayang’?
Mendadak aku jadi ikut terharu juga menatap mata Refald. “Sayang, Sayang, Sayang, Sayang ... aku akan terus memanggilmu seperti itu mulai sekarang.” ucapku malu-malu kucing.
Refald mendaratkan ciuman mautnya lagi padaku. “I love You, Honey.” Refald menyudahi ciumannya dan menatapku hangat. Matanya berbinar-binar seolah menunjukkan bahwa ia sangat bahagia. “Kau tidak berat dan aku juga tidak lelah. Pegang yang Erat, Honey. Aku akan berlari.”
Aku yang tadinya tersenyum langsung bingung dengan maksud ucapan Refald. “Kau mau berlari? Apa kau tidak lelah, Sayang? Kita istirahat dulu, oke!”
“Kau masih meragukanku, Honey? Sudah kubilang aku sangatlah kuat. Tapi aku bukan Edward seperti cerita yang pernah kau baca itu. Saat ini aku sangat bahagia, Honey, dan aku sangat bersemangat sekali hari ini. Sekarang aku ingin cepat kembali ke desa dan kita akan pergi ke Jepang, setelah itu ke Swiss juga.”
“Tunggu-tunggu ... Jepang? Swiss? Kenapa kita harus ke Jepang dan Swiss?” aku jadi semakin tidak mengerti apa-apa.
Refald tidak menggubris pertanyaanku. “Pegang yang erat!” teriak Refald penuh antusias.
Refleks aku langsung mengalungkan tanganku di leher Refald dan berpegangan erat seperti yang ia perintahkan.
Lalu, secepat kilat Refald berlari layaknya pembalab yang sedang berpacu di area lomba. Kecepatannya benar-benar luar biasa. Aku hampir saja tidak percaya kalau Refald ternyata bisa juga berlari sekencang Edward. Namun, mungkin inilah keistimewaan lain yang dimiliki seorang Refald yang memang keturunan dari seorang Raja. Pasti Raja tersebut sangatlah kuat sehingga dedemitpun bisa menjadi pasukannya. Bahkan Raja tersebut masih bisa melindungi semua keturunannya.
Sugoiiiii! Ini sungguh luar biasa! Aku kira hal semacam ini hanya ada dalam cerita fiksi atau film saja. Tidak kusangka aku sendiri mengalaminya. Bahkan aku merasa seolah-olah menjadi Bella Swan. Tokoh utama wanita dalam kisah romansa Twilight.
*****
__ADS_1