
Beberapa jam setelah kami kembali ke kamar inap, keadaan di luar langsung ramai dan jadi heboh. Aku menatap Refald untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di luar sana.
“Apa kau bisa jelaskan situasinya?” tanyaku sambil rebahan di dada Refald.
Refald memejamkan matanya sekilas untuk berkosentrasi. Melihat Refald seperti itu, aku jadi semakin terpesona, sebab dia cool banget, Edward saja kalah cool dari dia.
“Kau bisa pingsan jika menatapku seperti itu terus, Honey. Sebab, aku akan menciummu sampai kau kehabisan napas.” Dengan mata terpejam, Refald masih saja bisa mengancamku. Aku bangun dan bersandar di sandaran ranjang untuk mengalihkan perhatianku dari Refald. Entah kenapa udara sekitar, rasanya benar-benar panas padahal AC ruangan ini menyala. Aku sungguh lupa kalau Refald bisa membaca pikiranku.
“Bagaimana? Apa di luar baik-baik saja?” tanyaku kemudian berharap Refald melupakan tatapanku padanya.
“Dokter Raska bilang, kalau suster Sista sedang kerasukan arwah gentayangan di rumah sakit ini dan tidak sengaja merusak pintu ruang jenazah saat dokter Raska berusaha menghentikannya. Itulah alibi yang dikatakan dokter Raska pada penjaga dan yang lainnya. Mereka saat ini sedang memperbaiki pintunya yang rusak meski mereka merasa aneh dengan jenis kerusakannya,” terang Refald.
“Ya iyalah, kau menghancurkan pintu itu layaknya sedang *******-***** kertas.” Aku agak keki juga dengan Refald yang tak merasa bagaimana ia merusak pintunya.
“Meremas?” tanya Refald dengan kilatan mata yang menurutku sedikit mencurigakan, apalagi ia memerhatikanku dari atas sampai bawah.
“Iya, kau meremas pintu besi itu. Seperti ini!” aku mempraktekkan cara Refald meremas pintu ruang jenazah layaknya sedang meremas kertas sampai berbentuk tak karuan.
“Kata-katamu membuatku travelling kemana-mana, Honey. Kau membuatku ingin memakanmu sekarang juga.”
“Kau bilang kau bukan Edward? Kenapa mau memakanku?” tanyaku masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Refald.
“Hah, sudahlah, sekarang sebaiknya kita tidur. Jangan buat aku kehilangan kekuatanku lagi. Sini, tidurlah dipelukanku.” Refald mengulurkan tangannya supaya aku mau datang kepelukannya.
“Nggak! Aku mau tidur diranjangku sendiri. Kau menakutkan malam ini, kau juga bilang mau memakanku, jadi aku harus berhati-hati denganmu.” Aku berdiri dan langsung tidur diranjangku sendiri membelakangi Refald.
Namun, sepertinya Refald tidak menyerah, dia menggeser ranjangnya dan menjadikan satu dengan ranjangku, lalu ia memelukku dari belakang karena ranjang kami sudah berjajar rapi.
“Aku masih bisa mengendalikan diri. Besok aku tidak bisa bermesraan denganmu lagi,” bisik Refald di telingaku.
__ADS_1
“Kenapa?” tanyaku dan mulai berbalik badan menghadap Refald yang tidur di hadapanku.
“Besok ibu mertuamu, nenekmu dan juga teman-temanmu akan datang mengunjungi kita. Aku harus berakting lagi. Kau mengerti?” Refald mencium keningku dengan mesra. “Sekarang tidurlah, have nice dream Honey, and I love you so much.”
“I love you too.” Aku mengecup sebentar bibir Refald dan memejamkan mata sampai aku tertidur lelap.
Samar-samar, aku masih mendengar Refald mengatakan soal hadiah pernikahanku, tapi mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Jadi, aku tidak tahu apa yang dikatakan Refald karena aku langsung tertidur memimpikan Refald.
***
Keesokan paginya, aku terjaga dan berasa sangat lelah. Aku senang karena ketika mataku terbuka, yang kulihat pertama kali adalah wajah Refald yang tampan. Dan dia jauh lebih tampan kalau sedang tertidur lelap seperti itu.
Perlahan, aku mengusap lembut wajah Refald dan menghafal semua sudut yang membetuk wajah sempurnanya. “Bagaimana bisa ada manusia setampan dia?” gumamku lirih.
Refald langsung menciumku tanpa peringatan sehingga membuatku terkejut dan hampir saja jantungan. Dia tersenyum manis padaku sambil berkata, “Aku mendapatkanmu duluan.” Refald mengedipkan salah satu matanya padaku.
Sungguh, aku tidak menyangka Refald bisa semesum itu padaku. “Kau!” geramku.
Rasanya ingin marah, tapi Refald malah memelukku dengan erat. “Kau sangat cantik, Honey. Bagaimana aku bisa tidur sementara di depanku ada wanita cantik sepertimu sedang tertidur lelap dan memimpikanku. Aku tidak akan melewatkan dan membuang-buang kesempatan itu.” Sepertinya Refald tersenyum saat mengatakan kalimatnya.
“Ha? Jangan bilang, kau tidak tidur semalaman?” aku berharap dugaanku salah.
“Tidur, tapi cuma sebentar,” jawab Refald masih terus memelukku. Tiba-tiba saja marahku padanya mendadak hilang.
“Kau bisa sakit jika terus-terusan seperti ini.”
“Honey, berapa kali aku harus bilang padamu. Aku sangat kuat, bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah tidur dan hanya memikirkanmu, sama sekali tidak ada pengaruhnya padaku. Kecuali kalau aku manusia biasa, mungkin aku bakal mati dari dulu jika aku tidak tidur.”
Aku sudah tidak kaget lagi dengan kekuatan fisik yang dimiliki Refald mengingat siapa dia sebenarnya. Pantas saja aku merasa semalam ia sedang berbicara mengenai suatu hal. Aku teringat kalau Refald mengatakan sesuatu soal hadiah pernikahan yang aku minta, tapi aku tidak bisa menyimak apa yang diucapkannya. Aku mencoba mengingat-ingat lagi dan hendak bertanya kembali pada Refald sampai aku tersadar ada orang lain di dalam ruangan ini selain kami berdua.
__ADS_1
“Ehem, ehem.” Terdengar suara seorang wanita sedang berdeham dan aku langsung terperanjat sampai tidak sengaja tubuhku terjatuh dari atas ranjangku sendiri karena kelabakan mendengar suara deheman seseorang tersebut .
Sedangkan Refald langsung berpura-pura tidur tanpa peduli padaku. Aku sungguh kesal dengan Refald tapi aku juga terkejut saat melihat ada wanita cantik dengan setelan gaun putih indah melekat sempurna di tubuhnya.
“Kalian berdua, apa yang sedang kalian lakukan?” tanya wanita itu. Aku tak berani menatap wanita itu dan hanya menelan salivaku tanpa bisa menjawab saking malunya diriku.
Wanita itu berjalan mendekat kearahku dan tanpa dinyana-nyana, dia langsung memukuli Refald tanpa henti sambil terus mengoceh. “Dasar anak nggak tahu diri! Bikin malu orang tua saja! Apa yang kau lakukan pada menantuku, ha?” teriak wanita itu sambil terus memukuli Refald.
Aku sendiri hanya bisa melongo menatap apa yang yang terjadi di hadapanku, dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah, ternyata wanita itu adalah ibu mertuaku alias ibu dari saumiku sendiri, Refald.
Tapi, kenapa ia malah memukuli putranya seperti itu? Harusnya dia marah padaku? Pikirku yang masih bingung dengan apa yang dilakukan oleh ibu mertuaku yang baru saja ku tahu.
Aku langsung berlari menghalangi ibu mertuaku agar ia berhenti memukuli putranya. Refald sangatlah kuat, tapi ia sama sekali tidak melawan. Aku jadi semakin salut dengan Refald.
“Hentikan, Ibu! Refald sama sekali tidak bersalah, kami juga tidak melakukan apa-apa, mohon jangan pukuli dia lagi!” pintaku pada ibu mertuaku. Aku mengatupkan kedua tanganku dan memohon pada ibu mertuaku agar tidak lagi memukuli Refald.
Aku kira wanita cantik nan anggun ini bakal marah dan meneriakiku, tapi ternyata dugaanku salah besar, ia langsung meraih tubuhku dan memelukku dengan erat.
“Aku pikir dia sudah memakanmu, aku hampir saja membunuh putraku sendiri jika sampai ia menodai gadis suci sepertimu, Shiyuri.”
Deg ...
BERSAMBUNG
****
Maaf up nya telat, karena lagi KO dan baru bisa up sekarang, terus ikuti lanjutan kisah Refald ya ... love you all
__ADS_1