
Mbak Kun dan Arka melayang-layang menuju kamar Rhea. Mereka berdua penasaran seperti apa pria asing yang di bawa Rhea kemari. Sementara Rhea sendiri harap-harap cemas menunggu teriakan histeris yang akan ia dengar dari cowok playboy sombong itu. Sejak tadi, gadis cantik itu senyam-senyum sendiri menunggu detik-detik menegangkan yang pastinya akan membuatnya tertawa puas karena telah berhasil mengerjai cowok menyebalkan yang pernah ia temui.
“Lumayan, ada hiburan dikit. Pasti itu cowok bakal terkencing-kencing melihat ada sosok hantu fenomenal paling menakutkan di negara ini, hehehe.” Rhea terkekeh membayangkan seperti apa wajah takut Rey bila melihat mbak Kun dan suaminya datang menghantuinya.
Jika manusia biasa yang melihat makhluk astral yang sudah dianggap Rhea sebagai paman dan bibinya ini, wujudnya benar-benar menakutkan. Tidak seperti yang dilihat Rhea sekarang. Di depan Rhea, wujud mbak Kun dan Arka sedang dalam mode pasangan artis Korea Lee dong wook dan Jo bo ah, tidak ada serem-seremnya, tapi berbeda jika yang melihat wujud mereka adalah Rey. Kedua pasangan dedemit itu bakal berubah mengerikan, dan siapapun yang melihat mereka bakal pingsan.
Beberapa menit telah berlalu, tapi suara teriakan yang ditunggu-tunggu Rhea tak kunjung terdengar juga. Gadis itu jadi semakin penasaran dan ia pun memutuskan masuk dalam kamarnya sendiri untuk memeriksa apa yang sedang terjadi disana. Perlahan, Rhea membuka pintu dan melihat Rey sedang duduk rileks diatas kasurnya. Cowok itu menundukkan wajahnya seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.
Dan yang membuat Rhea terkejut bukan kepalang adalah, mbak Kun dan Arka ... sosok hantu yang paling ditakuti, sedang bersimpuh dihadapan Rey!
Sekali lagi, mbak Kun dan Arka bersimpuh dengan khidmad dihadapan Rey. Seketika itu juga Rhea bingung dan tidak mengerti, kenapa dengan mereka berdua sampai harus bersimpuh seolah sedang ketakutan dihadapan manusia biasa seperti Rey itu.
“Ada apa ini?” gumam Rhea masih sangat penasaran. Ia memerhatikan selendang yang ia ikatkan di lengan Rey yang sedang dipegang-pegang oleh Rey.
“Masuklah, kenapa kau mengintip di luar.” Rey yang mengetahui bahwa ada Rhea dibalik daun pintu hanya menundukkan kepala sambil mencerna situasi yang aneh ini.
Sebenarnya Rhea tidak yakin apakah Rey bisa melihat mbak Kun dan Arka, tapi melihat sosok itu terus menunduk dan tak mau mengangkat kepalanya membuat jantung Rhea jadi semakin berdetak kencang. Ia merasakan ada firasat buruk sedang terjadi disini.
“Apa ... kau bisa melihat mereka?” tanya Rhea hati-hati sedangkan mbak Kun langsung meliriknya tajam penuh dengan api kemarahan.
“Lihat apa? Aku tidak lihat apa-apa? Memangnya ada orang lain selain kita?” Rey tertawa mencurigakan menatap Rhea yang juga membalas tatapannya.
Pasti ada sesuatu yang tidak beres disini, batin Rhea.
Rhea memerhatikan mbak Kun dan Arka yang hanya diam menunduk tanpa berani mengangkat mukanya. Rhea ingin bertanya langsung pada mereka berdua tapi ia takut dianggap gila oleh Rey, sebab Rey bilang ia tidak bisa melihat apa-apa. Tapi kenapa mbak Kun dan Arka terlihat tampak cemas?
“Hei, kau Tarsani! Apa yang kau lihat? Jawab pertanyaanku!” panggil Rey.
Apa? Tarsani? Dasar bajiingan tengik! Seenaknya saja memanggil nama orang, batin Rhea kesal.
Rhea memelototi paman dan bibinya karena hanya diam saja mendengar ia dikatai Rey seperti itu. Padahal tadi jelas-jelas mereka tidak terima dan marah. Namun, sekarang justru sebaliknya. Mereka tidak melakukan apa-apa pada Rey. Hal itu membuat Rhea jadi curiga. Siapa Rey sebenarnya sehingga bisa membuat mbak Kun dan Arka bertekuk lutut seperti itu.
“Ada apa ini?” tanya Rhea agak sedikit marah.
“Apanya yang ada apa?” Rey malah balik bertanya.
“Kau bisa melihat mereka, kan? Apa yang kau lakukan pada mereka berdua?” Rhea sudah mulai emosi. Ia ingin Rey berkata jujur padanya. Sebab, selain dihadapan raja dan ratu, mbak Kun tidak pernah menundukkan kepalanya pada siapapun. Sangat aneh jika mbak sekarang bibinya ini jadi begitu.
“Mereka siapa yang kau maksud? Kau ini bicara apa? Apa kau sedang kerasukan?”
“Jangan pura-pura tidak tahu! Tidak mungkin mereka jadi seperti itu tanpa sebab, pasti kau sudah melakukan sesuatu pada mereka? Katakan padaku apa yang kau lakukan?” nada suara Rhea semakin tinggi sehingga membuat senyum Rey memudar. Ia bangun berdiri dari duduknya dan berjalan pelan mendekat ke arah Rhea.
Gadis itu mundur selangkah demi selangkah karena Rey terus mendekatinya. Tatapan mata Rey benar-benar menakutkan, wajahnya seperti harimau yang sedang kelaparan. Rhea tidak sadar kalau tubuhnya sudah membentur dinding goa yang bentuknya tak beraturan. Gadis itu tidak bisa lagi menghindar dari Rey yang terus saja mendekat ke arahnya.
“Ma-mau apa kau, berhenti disitu! Jangan dekat-dekat!” ancam Rhea. Ia ingin menggunakan kekuatannya untuk melawan Rey tapi anehnya mbak Kun melotot marah padanya.
Jangan sekali-kali kau menyakitinya atau akan kuhabisi kau! Itulah makna dari tatapan mata mbak Kun.
__ADS_1
Mulut Rhea langsung menganga lebar. Ia tak percaya bibinya yang selalu baik dan melindunginya bakal seperti itu padanya. Bukannya berpihak padanya mbak Kun malah membela pria asing tak dikenal ini.
“Siapa kau?” tanya Rey langsung.
“Kenapa aku harus menjelaskannya padamu? Harusnya aku yang bertanya, siapa kau? Kau apakan paman dan bibiku?” Rhea masih emosi pada pria ini karena mbak Kun terus saja memelototinya tanpa sebab seolah dialah yang bersalah disini. Hal itu membuat Rhea iri, harusnya bibinya itu membelanya, bukan malah menyalahkannya. Tatapan amarah mbak Kun membuat Rhea semakin kesal.
"Paman dan bibi mana yang kau maksud? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan?"
"Kau sungguh tidak bisa melihat mereka?"
"Berapa kali aku harus bilang? Aku tak lihat apa-apa, ada hal yang jauh lebih genting sekarang, dan kau harus bertanggung jawab!"
"Apa maksudmu? Tanggung jawab apa?" Rhea semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Selendang ini!” Rey menunjuk selendang pelangi yang diikatkan dilengannya. “Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?”
“Apa kau buta? Aku menghentikan pendarahanmu dengan menggunakan selendang itu?”
“Selendang ini, tidak bisa dilepas!” jelas Rey dengan kesal.
“A-apa? Mana mungkin?” Rhea tidak percaya.
“Coba saja kalau kau tidak percaya? Lepaskan selendang ini?” mata Rey menatap tajam wajah Rhea.
Rhea pun mencoba membantu melepas selendang itu dan ia sangat terkejut karena yang dikatakan Rey ternyata benar. Selendangnya, tidak bisa dilepas.
Gadis itu terus menarik dan menarik lagi selendangnya dan usahanya itu tetap tidak membuahkan hasil. Selendang pelangi pemberian ratu Fey, tetap menempel sempurna di lengan Rey. Wajah Rhea jadi pucat karena bingung. Ini pertama kalinya selendang tersebut benar-benar melekat ditubuh seseorang. Padahal sebelumnya, tidak pernah ada kejadian aneh bin langka seperti ini.
“Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?” tanya Rhea agak shock juga.
“Selendang ini akan terus menempel padaku, dan baru bisa lepas kalau kau ... menikah denganku!” ujar Rey serius.
“Hah?” mata Rhea langsung mendelik melihat Rey. “Apa kau sudah gila, ha?” ia tidak percaya cowok playboy ini benar-benar tidak sopan padanya. Bisa-bisanya ia mengajaknya menikah hanya karena alasan yang tidak masuk akal ini.
“Aku tidak gila, aku masih waras, kau yang gila! Kita harus menikah untuk mengakhiri kegilaan ini.”
“Aku tidak mau menikah denganmu. Kau jangan bercanda.”
“Kenapa kau tidak bisa menikah denganku? Semua wanita mendambakan ingin menjadi kekaksihku, aku memintamu menikah denganmu. Harusnya kau senang?” Rey tersenyum menggoda Rhea.
“Sepertinya kau sudah salah paham padaku. Jangan samakan aku dengan wanita-wanita bodoh yang mudah terpedaya olehmu. Alasan kenapa aku tidak mau menikah denganmu karena, satu ... aku tidak mencintaimu. Kau adalah pria paling menyebalkan yang pernah aku temui di dunia ini. Kedua, kau masih sekolah, siswa sekolah di negara ini dilarang menikah. Jika kau melanggar, maka kau di drop out seterusnya dan tidak bisa melanjutkan ke sekolah manapun, lagian siswa 17 tahun sepertimu mana pantas menjadi seorang suami? Konyol sekali. Ketiga ... aku ... sudah punya calon suami. Dia seorang pangeran. Aku hanya bisa menikah dengannya. Jadi, maaf aku menolak menikah denganmu dan lebih memilih pangeranku.” Rhea tersenyum bangga membayangkan calon suaminya yang pastinya lebih keren dari cowok ini, tanpa ia sadari bahwa Reylah calon suaminya yang ia bangga-banggakan itu.
Rey hanya menahan tawa agar tidak muncrat keluar saat mendengar Rhea berkata seperti itu tentangnya. Gadis ini sangat lugu dan menarik. Pilihan ibunya sungguh tepat. Rey menyukai tipe gadis yang seperti ini. Ia bahkan tidak keberatan bila memang harus dinikahkan sekarang dengan gadis unik nan dudul ini.
“Apa ... kau sudah pernah bertemu dengan calon suamimu?” Rey mencoba menggoda Rhea dengan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Deg!
__ADS_1
Pertanyaan Rey langsung membaut jantung Rhea berdetak kencang. Ia memutar bola matanya karena tidak tahu harus menjawab apa. Pria asing menyebalkan didepannya ini pasti bakal menertawainya kalau ia mengatakan sama sekali belum pernah bertemu dengan calon suaminya.
“Ehm, itu ....”
“Jangan bilang kau belum bertemu dengannya. Mana ada seorang pangeran mau menikah dengan Tarsani sepertimu!” Rey sengaja memancing emosi Rhea dengan meledeknya.
“Pernah, dia sangat tampan, baik hati suka menolong dan tentu saja sangat keren, karena dia ... sangat luar biasa. Pokonya dia yang terbaik. Kau sama sekali tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan calon suamiku itu.” Rhea terpaksa berbohong karena tidak terima dengan ledekan Rey. Ia menggambarkan sosok raja Refald yang menjadi ayah kandung pangerannya karena sebenarnya ia tidak tahu seperti apa calon suaminya itu.
Jika ayahnya saja sekeren itu, pasti anaknya juga jauh lebih keren, batin Rhea sambil senyam-senyum sendiri.
Rey sendiri memalingkan wajah untuk menyembunyikan tawanya karena pangeran yang dibicarakan Rhea adalah dirinya sendiri.
“Terserahlah, tapi kau memang harus, kudu, wajib menikah denganku. Baru selendang ini bisa lepas? Mana mungkin aku membawa selendang ini kemana-mana? Ini risih sekali!” Rey menatap aneh selendang pelangi itu.
“Kenapa? Kau cocok sekali memakainya? Biarkan saja selendang itu melekat padamu.” Rhea jadi bingung. “Ah, tidak! Selendang itu harus aku kembalikan pada ratu." Tiba-tiba Rhea teringat sesuatu. "Bagaimana kalau kau ikut denganku besok?” Rhea mendapat ide untuk melepaskan selendang tersebut.
“Kemana?” tanya Rey.
“Menemui ratu,” jawab Rhea cepat.
“Ratu?”
“Calon ibu mertuaku. Selendang itu adalah pemberian darinya. Pasti ratu bisa melepaskan selendang itu, kita akan menemuinya besok.” Rhea terlihat senang, ia berpaling menatap mbak Kun yang sejak tadi mulutnya menganga menatapnya. “Bibi, tolong sampaikan pada ratu, aku ingin bertemu dengannya besok,” ujar Rhea dan mbak Kun pun mengangguk pelan. Tanpa suara, mbak Kun dan suaminya segera menghilang meninggalkan Rhea dan Rey berdua saja di dalam goa.
“Istirahatlah, besok selendang itu pasti bisa lepas.” Rhea beranjak pergi meninggalkan Rey. Tapi lengan gadis itu dicekal sebelum mencapai daun pintu. “Apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh menyentuhku?” bentaknya.
“Kenapa tidak boleh? Kau akan segera jadi istriku?”
Ini orang benar-benar gila, ya? Rhea mulai emosi lagi, tapi kali ini ia memilih menahan amarahnya dan menepis kasar cekalan tangan Rey.
“Dengarkan aku, aku tidak peduli siapa kau dan darimana asalmu. Kalau kau sampai bersikap kurang ajar lagi padaku, maka aku akan membunuhmu! Hanya suamiku saja yang boleh menyentuhku! Camkan itu baik-baik!” ancam Rhea, dan iapun pergi tidur di kamar orangtuanya dengan raut wajah super duper kesal.
Rey tertawa pelan melihat pintu goa ditutup kasar oleh Rhea. “Dan akulah suamimu itu, dasar bodoh!” gumam Rey.
BERSAMBUNG
***
Ada kuis di grub chatku .. ikutan ya .. yuk liat ke grub chat ... tinggalin jejak komentar baru bisa di terima.
Dukung like, komen dan vote nya ya... yang belum aku follow back akunnya bisa tunjuk jari. Aku mau bikin tim vote untuk dukung karya ini. Bagi yang bersedia saja. Yang nggak mau juga nggak apa-apa. Yang jelas aku sayang kalian semua karena sudah mau baca karya nggak jelasku ini yang halunya entahlah, aku nggak tahu sudah sampai tingkat berapa.
Maaf juga kalau gak bisa balas komenar kalian satu-persatu, tapi aku berterimakasih banget karena mau meramaikan karya ini dengan memberi like dan dukungan lainnya. Love you all ...
__ADS_1