
“Kau tidak bohong, kan?” tanyaku dengan suara gemetar.
Via tidak menjawabku. Ia hanya menangis tersedu-sedu.
“Tidak! Aku yakin kau berbohong padaku. Tidak mungkin, sungguh itu tidak mungkin terjadi, Yua pasti masih ada di sekitar sini.” Aku berusaha menyakinkan diriku sendiri untuk menerima fakta ini. Meski aku tidak bisa memungkiri bahwa kemungkin seperti itu bisa saja terjadi. Aku mencoba menahan air mataku agar tidak tumpah keluar. Aku harus kuat agar bisa menemukan Yua secepatnya.
“Itu benar, Fey.” Jawab gadis yang ada di depan Via. “Kami semua melihat Yua yang berlari menyusul Epank saat banjir itu menerjang. Kami sudah berteriak pada Yua agar tidak berlari ke arah sungai, tapi dia tidak menghiraukan teriakan kami ... Yua tetap terus berlari ke sungai menyusul Epank yang sudah mulai terbawa arus.”
“Apa?” lagi-lagi aku terkejut.
Tubuhku terasa lunglai mendengar penjelasan teman Via. Aku terduduk lemas menatap area sungai yang rusak berantakan akibat banjir dan longsor yang habis melanda. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Kepalaku terasa pusing dan tubuhku gemetar membayangkan Yua menghilang terseret arus bersama dengan Epank.
Ini aneh, banjir yang terjadi ini tidak masuk akal. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Bagaimana mungkin banjir bisa melanda tempat ini?
Aku mengamati sisa sungai yang masih mengalir dari terjangan banjir tadi, yang bisa kusimpulkan saat ini ... dibatas sana mungkin sedang terjadi hujan sangat deras karena awan hitam menutupi puncak gunung sehingga debit air membludak dan banjir mulai menerjang dataran rendah yang dialirinya. Itulah dugaan sementara dariku. Meski sebenarnya aku tidak begitu yakin.
Jika nanti sudah keluar dari tempat ini, aku akan menanyakannya kepada petugas BMKG mengenai bencana yang terjadi secara mendadak ini. Aku memerhatikan Via yang tidak juga berhenti menangis daritadi. Entah kenapa aku merasa sangat kesal dengan gadis itu yang lebih mementingkan keselamatan diri sendiri daripada keselamatan pacarnya.
“Harusnya yang menyelamatkan Epank bukan Yua! Tapi kau! Karena kaulah pacarnya! Kenapa harus Yua?” aku mencoba bertanya pada Via. Tanpa sadar aku mulai meluapkan emosiku padanya. Terlebih sebagian kejadian yang kemarin terjadi itu juga semua gara-gara Via.
Gadis itu semakin menangis menjadi-jadi mendengar teriakanku yang penuh emosi. Dua temannya hanya diam menatapku dan mencoba menenangkan Via kembali.
“Kau tidak bisa menyalahkan Via atas apa yang terjadi pada temanmu, Fey. Semua orang pasti ketakutan jika berada di posisi kami saat itu?” teman Via ini sepertinya berusaha membela Via.
“Lalu Yua? Kau pikir dia juga tidak takut? Sehingga dia nekat berlari ke arah marabahaya demi menyelematkan orang lain daripada nyawanya sendiri? Kalian berada di tempat dan situasi yang sama. Apa bedanya Via dan Yua saat itu? Kalian sama-sama ketakutan dan panik, kan?” aku mulai emosi juga dengan teman Via yang sok jadi pahlawan kesiangan karena membela rubah tanpa ekor ini. “Coba kau pikir, jika Via yang dalam posisi bahaya, maka Epank akan langsung menyelamatkannya tanpa pikir panjang, karena apa? Karena Epank mencintai Via, tapi lihat sebaliknya, Epank dalam bahaya tapi pacarnya malah sibuk sendiri menyelamatkan diri. Bukannya menyelamatkan pacarnya tapi malah orang lain yang melakukannya. Pacar macam apa kau ini?” teriakku pada Via. Tangisannya membuatku semakin kesal. Ingin sekali aku menampolnya dengan sandal.
“Apa maksudmu, Fey!” tanya teman Via.
“Kau tidak pantas mendapatkan cinta Epank Via! Orang sepertimu terlalu baik untuknya! Aku tidak habis pikir apa yang Epank lihat dari orang egois sepertimu!” ucapku dengan nada tinggi dan mengacuhkan pertanyaan teman Via yang belum kutahu siapa namanya.
“Sudah! Cukup, hentikan ocehanmu, Fey! Berhenti menyalahkan dan menyudutkanku,” balas Via berteriak sambil menangis.
Akhirnya nyai ronggeng ini mulai memunculkan sisi bringasnya. Dasar air mata buaya! batinku kesal.
“Apanya yang menyudutkanmu?” balasku nyolot.
“Kau pikir aku tidak tahu? Temanmu itu menyukai pacarku, bukan? Dan kau sendiri juga sengaja membuat mereka bersama dengan melibatkan mereka dalam acara ini, iya, kan? Kau benar-benar licik. Kau membuat hubunganku dan Epank berantakan! Kau puas sekarang, ha? Epank datang ke sini untuk mengakhiri hubungan kami. Meski ia tidak bilang kenapa. Tapi aku sudah tahu penyebabnya. Semua karena Yua dan kau!” Via beralih menyalahkanku.
Aku hanya tersenyum sinis menatapnya.
“Oh iya? Kau yakin Epank memutuskanmu hanya karena aku dan Yua?” aku menatap tajam mata Via. Ia memicingkan alisnya karena tidak mengerti maksud ucapanku. “Haruskah kubuka topengmu dihadapan teman-temanmu ini? Bahwa kau berselingkuh dengan Bayu dan menyuruhnya mencelakai Yua?” teriakku dengan kesal.
Kedua teman Via langsung terkejut mendengar ucapanku. Begitu juga Via yang langsung terhuyung ke belakang karena aku mengetahui semua rahasianya.
“Kenapa? Kau terkejut karena aku mengetahui rahasiamu yang kau tutup-tutupi rapat-rapat?” aku puas sekali melihat wajah Via yang jadi pucat karena tegang. Kedua teman Via juga menatapnya tajam. “Aku mengira Epank itu sangat bodoh karena mau saja diperbudak oleh manusia rubah sepertimu. Tapi ternyata aku salah. Sepertinya ia sudah tahu sendiri bahwa kau ini orang seperti apa. Selama ini aku kira yang tahu rahasiamu hanya aku dan Refald saja. Yua dan pacarmu itu tidak tahu apa-apa.
"Kami sengaja tidak memberitahu mereka. Itu karena aku masih memandang Epank yang sangat mencintaimu dan juga atas permintaan Yua, supaya tidak mengganggu hubungan kalian meski aku tahu rahasia jahatmu itu. Memang, Yua sangat mencintai Epank, tapi dia tidak ingin merusak hubungan kalian berdua karena kau adalah temannya. Cinta Yua jauh lebih murni dibandingkan dengan cintamu yang palsu! Mungkin Tuhan tahu dan membuat Epank mengerti siapa kau sebenarnya! Aku khawatir Epank akan menyadarinya lebih lama dari ini. Tapi ternyata aku salah, baguslah dia lebih cepat sadar dari yang aku duga.”
“Tapi, Epank memutuskanku tanpa alasan yang jelas. Kau pasti sudah memberitahunya, kan?”
“Terserah kau mau percaya atau tidak. Lagi pula percuma kau menyembunyikannya, karena cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga. Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga. Aku tidak tahu darimana Epank tahu soal perselingkuhan kalian karena aku tidak suka mencampuri urusan orang lain. Bisa jadi, burung-burung di sini yang memberitahunya karena semua makhluk hidup yang ada di sini tahu kejahatan dan kelicikanmu termasuk saat kau menyuruh Bayu agar mencelakai Yua!”
__ADS_1
Via semakin pucat wajahnya. Ia jadi kebingungan dan panik.
“Tidak ku sangka kau seperti itu, Via.” Komentar salah satu teman Via.
“Selama ini kau selalu menghasut kami untuk membenci Yua, ternyata kau serigala berbulu domba. Wajahmu cantik, tapi hatimu sungguh busuk!” Geram teman yang satunya lagi.
Aku hanya tersenyum sinis mendengar komentar-komentar pedas teman-teman Via sendiri. Via hanya diam seribu bahasa tanpa mampu berkata apa-apa. Ia berusaha mencari simpati dan empati sahabatnya dengan berpura-pura menangis lagi.
“Dasar air mata buaya!” gumamku dalam hati lagi.
Akhirnya kebenaran tentang misteri kisah cinta Yua sedikit demi sedikit mulai terungkap. Aku lega sekaligus senang mengetahui Epank sudah mengakhiri hubungannya dengan nenek sihir ini. Di sisi lain aku juga marah pada Yua yang bertindak nekat atas nama cinta serta kagum atas tindakannya yang rela mengorbankan nyawanya demi orang yang ia cintai meski orang itu telah banyak menyakitinya.
Dasar Yua gadis tengik!
“Sepertinya aku harus bergegas mencari Yua dan Epank. Hatiku mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja,” ucapku pada kedua teman Via yang sedang menghujani Via dengan beribu pertanyaan yang bertubi-tubi. “Maaf aku tidak bermaksud mengganggu kalian, tapi aku tidak bisa lama-lama ada di sini.”
“Apa kami boleh ikut, Fey? Kami jadi merasa bersalah pada Yua karena terkena hasutan Via.”
“Tidak! Kalian semua cepatlah pergi dari sini, tidak menuntut kemungkinan banjir susulan bisa saja terjadi lagi. Tempat ini sangat berbahaya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena semuanya terjadi secara tidak terduga. Sebaiknya kalian cepat. Ikuti jalan lurus ini, dan segera minta bantuan dengan ini.” Aku memberikan ponselku yang diberikan Refald padaku pada salah satu teman Via. “Hubungi seseorang begitu kalian menemukan signal.” Aku bergegas pergi setelah menyerahkan ponselku pada teman Via.
“Kau mau ke mana?” tanya gadis itu.
“Aku akan pergi mencari Yua dan Epank,” jawabku cepat.
“Lalu, kau bagaimana? Jika ponselmu kau berikan pada kami, bagaimana denganmu? Bagaimana kalau kau membutuhkan bantuan?”
“Aku masih punya ponsel satu lagi.” Aku memperlihatkan ponselku sendiri pada mereka. “Cepat pergilah! Hati-hati di jalan!”
“Terima kasih, Fey! Kau juga harus hati-hati.” Teriak teman Via
“Oke! Akan kusampaikan ... ehmm ... siapa namamu?”
“Lydia!”
“Aku ... Chicha!”
“Oke! Lydia dan Chicha ... akan aku ingat. Doakan saja, Oke!”
“Mereka pasti baik-baik saja. Semangat! Dan kau juga harus hati-hati! Kami akan segera mencari bantuan untukmu!”
“Aku juga berharap begitu. Sampai jumpa lagi. Terima kasih!” aku langsung berlari ke arah sungai yang dilewati bekas banjir.
Aku terlalu syok untuk mencerna kejadian di tempat ini dengan logika sampai aku tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.
Aku memutuskan untuk menyusuri bekas banjir ini dan terkejut setelah tahu bahwa yang mengalami kerusakan parah hanya bagian sungai saja, sedangkan kedua sisi daratannya aman terkendali tanpa mengalami kerusakan apapun.
Tidak ada jalan retak seperti yang kutemui di tempat lokasi, tidak ada angin dan juga tidak ada pohon yang rusak atau tumbang. Sepertinya tempat lain tidak terkena gempa seperti yang ada di tempat kami berkemah. Kedaaan hutan dikedua sisi sungaipun juga tetap asri seolah banjir ini hanya menerjang aliran sungai dengan rapi dan lurus tanpa merembet kemana-mana.
Lalu? Ke mana perginya Yua dan Epank?Jujur sampai saat ini aku masih tidak percaya Yua nekat melakukan itu semua. Apa yang dipikirkan gadis itu sehingga harus mengalami kejadian seperti ini?
Tak terasa sudah lebih dari satu jam aku menyusuri sungai tapi aku masih belum bisa menemukan apa-apa. Tidak ada petunjuk apapun mengenai keberadaan Yua dan Epank. Apa mereka berdua masih hidup atau tidak aku tidak tahu. Aku mulai lelah, dan mencoba duduk di sebuah batu besar di pinggiran sungai.
__ADS_1
Sepertinya hari sudah semakin siang. Matahari bersinar sangat terik. Aku tidak membawa apa-apa dan aku mulai kehausan. Di saat seperti ini terlintas Refald dipikiranku. Jika dia ada di sini, mungkin dia akan menyodorkan air mineral padaku yang entah ia dapat darimana. Cowok itu selalu tahu dan ada setiap kali aku membutuhkannya.
Apa dia juga tahu kalau aku sekarang juga dalam kesulitan? Apa dia sedang menyusulku dan mencariku saat ini?
Aku mulai merasa takut. Takut hal buruk terjadi pada Yua dan Epank. Aku mulai berjalan lagi dan melanjutkan menyusuri tempat ini. Satu-satunya petunjukku hanya jalur air bekas dilewati banjir ini. Jika Yua dan Epank terseret arus, mereka pasti ada di ujung arus sungai ini. Aku harus cepat menemukan mereka.
Lima ratus meter dari tempatku berjalan, aku mulai melihat sesuatu. Aku mencoba memfokuskan pandanganku untuk memastikan apa yang baru saja aku lihat. Sepertinya ada seseorang di ujung sana. Kebetulan tempat ini adalah tempat terbuka. Dan banyak sekali bebatuan yang malang melintang di area ini. Aku melihat sebagian besar batang-batang pohon tersangkut di bebatuan besar ini. Aku memerhatikan seseorang yang sepertinya masih bisa bergerak.
Itu ... adalah Yua! Iya benar ... orang itu, aku yakin dia adalah Yua. Akhirnya aku menemukannya. Aku sangat yakin dari baju yang dia pakai. Gadis yang sedang tertelungkup itu adalah memang benar Yua.
Aku bergegas berlari ke arahnya. “Yuaaaaaa ... !” teriakku. Meski tidak ada sahutan aku yakin seratus persen dia adalah Yua.
Setelah aku dekat ke arah Yua, aku melihat ada yang sedikit aneh di sana. Yua masih dalam keadaan tertelungkup bukan tertelungkup di tanah, tapi dia tertelungkup di bibir jurang seolah sedang memegang sesuatu.
“Yuaaa .... !” teriakku sambil berlari mendekat ke arahnya. Pasir dan bebatuan bekas banjir menghalangi langkahku sehingga agak sedikit melambat.
“Fey! Bagaimana kau bisa ada di sini?” teriak Yua dengan terbata-bata seolah sedang menahan beban berat.
“Aku datang untuk mencarimu! Apa yang terjadi? Dan kenapa kau seperti itu?”
“Cepat tolong aku, Fey!” teriak Yua. “Epank sedang pingsan dan dia hampir saja jatuh ke jurang, aku bisa menahannya tapi aku tidak kuat menariknya!” jelas Yua.
Astaga! Jadi karena itulah Yua tertelungkup di bibir jurang sambil menahan berat tubuh Epank yang sedang pingsan? Yua ... kau memang luar biasa!
Aku bergegas mempercepat langkahku tanpa peduli berapa banyak batu yang menyandung kakiku. Aku harus cepat sampai ke Yua sebelum terlambat. Aku langsung membantu menarik tangan Epank yang tergantung di bibir tebing. Sebenarnya aku sangat syok melihat ketinggian dari tebing ini.
Tinggi sekali, dan di bawah sana sudah terhampar hutan yang sangat luas. Air sungai yang ada di sebelah kiriku terlihat sangat mengerikan jika membayangkan terjatuh dari atas tebing ini.
Tidak salah lagi, posisi kami saat ini, sedang berada di atas tebing, tepatnya di sebelah air terjun yang juga baru saja dilewati banjir.
“Berapa lama kau menahan beban tubuh Epank seperti ini?” tanyaku setelah aku sampai di dekat Yua.
“Sejam yang lalu! sudah, jangan banyak tanya lagi. Cepat bantu aku menariknya! Aku sudah tidak kuat!”
Aku menuruti perintah Yua. Sekuat tenaga kami menarik tubuh Epank yang sangat berat ini. Aku mengerahkan seluruh tenagaku yang tersisa untuk bisa menarik tubuh Epank ke atas tebing. Begitu tubuh cowok itu mulai terangkat, Yua bergegas melepas tangannya dan langsung meraih tubuh Epank ke dalam pelukannya. Aku membantu mendorong tubuh Epank dari samping supaya Yua bisa menariknya menjauh dari bibir tebing.
Namun tiba-tiba saja, tanah pijakan tempatku berpijak tiba-tiba retak dan tanpa peringatan apapun aku langsung terjatuh ke bawah.
Yua yang menyaksikan tubuhku terpental akibat retakan tanah langsung syok dan dengan cepat berusaha meraih tanganku. Tapi apa daya, gaya gravitasi bumi jauh lebih cepat daripada reaksi Yua apalagi ia sedang menahan beban berat tubuh Epank yang dua kali lipat dari beban tubuhnya.
Tanganku tak bisa meraih uluran tangan Yua dan aku mulai terjatuh. Aku melihat Yua menangis meneriakiku tapi entah kenapa aku malah merasa bahagia.
“Feyyyy ....!” teriak Yua menggelegar sambil menangis. “Tidak! Ini tidak mungkin, Feyyyy ....!”
Aku merasakan tubuhku seolah melayang, satu yang terlintas dipikiranku saat ini. Akhirnya Yua ... bisa mendapatkan cintanya. Aku yakin setelah ini Epank akan semakin mencintai Yua begitu tahu apa yang sudah Yua korbankan untuknya.
Jangan bersedih Yua, aku bahagia meski mungkin aku tidak bisa merayakannya bersamamu! Kau berhasil mendapatkan cintamu setelah penantian yang begitu panjang. Selamat ... dan selamat tinggal ....
Aku memejamkan mataku. Tanpa terasa air mataku ke luar dan menyatu dengan kecepatan angin yang membawaku jatuh.
Takdir itu penuh dengan misteri. Datang dan pergi silih berganti. Tidak ada yang bisa melawan takdir. Apalagi melarikan diri darinya. Takdirku ... mungkin berliku-liku, sekali lagi, kebahagiaanku, terenggut oleh takdir. Maafkan aku Refald, aku sekali lagi aku harus pergi tanpa bisa mengucapkan kata-kata perpisahan untuk yang terakhir kali. Aku tidak tahu apakah kita akan bisa bertemu lagi. Aku tidak ingin meninggalkanmu lagi seperti ini.
__ADS_1
Namun, akankah kali ini, kau bisa menemukanku lagi? Karena sepertinya, kita akan sulit bertemu kembali setelah ini.
****