Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 152 Latihan 2


__ADS_3

Di malam pernikahan mereka, Fey harus melakukan ritual mandi kembang di tengah malam, sebagai pengganti ritual siraman. Sebab, pernikahan Fey dan Refald berbeda dengan pernikahan manusia pada umumnya. Meski pernikahan ini dilakukan sesuai dengan adat dan kebudayaan setempat, mereka berdua harus tetap mematuhi segala peraturan yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak keluarga, terutama keluarga besar Fey.


Ritual terakhir yang harus Fey lalui kali ini agak berat. Ia harus berendam di bawah air selama kurang lebih setengah jam untuk menyucikan jiwa dan raga Fey sebelum ia menempuh hidup baru bersama Refald di tempat yang sudah ditentukan oleh nenek Fey sendiri.


Hal itu dilakukan agar Fey senantiasa bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan Refald tanpa mengalami kendala apapun meski sebenarnya hanya Tuhanlah yang menentukan hidup dan mati seseorang. Namun, nenek Fey percaya, tidak ada salahnya jika Feypun menjalani ritual sesuai dengan tradisi keluarga yang sudah turun temurun dilakukan.


Nenek Fey tidak ingin hal yang terjadi pada Nadeshiko putrinya alias ibu dari Fey, terjadi juga pada cucunya. Ibu Fey menikah tanpa restu darinya dan tidak melakukan ritual seperti yang harusnya dilakukan keturunan keluarga kerajaan Daha dan Kahuripan sebelum menempuh hidup baru bersama dengan pasangan, makanya ada banyak sekali lika liku yang harus di alami Nadeshiko dan juga keturunannya. Karena itulah, nenek Fey kali ini meminta Fey dengan keras supaya cucunya mau mematuhi peraturan tradisi keluarga besar mereka.


Perlahan Refald mendekati calon istrinya yang mulai bersiap melakukan latihan. Ia membelai lembut wajah Fey dan menciumnya dengan mesra. “Kau pasti bisa, Honey. Mulai sekarang setiap latihan, kau harus mengajakku. Jangan sampai kau latihan sendiri. Aku akan mengawasimu dari sini.” Refald menyentuh kedua pipi calon istrinya untuk memberinya semangat,


“Ehm, aku mengerti. Aku akan mulai.” Fey meneruskan melepas pakaiannya dibantu oleh Refald.


Saat membantu melepas pakaian, Refald terlihat begitu serius, seolah ada rasa cemas yang berlebihan terpancar diwajah tampannya. Biasanya, Refald akan langsung bersikap jail atau mengerjai calon istrinya jika Fey melakukan sesuatu yang bisa memancing birahinya. Namun, kali ini Refald hanya diam saja tanpa berkata-kata. Bahkan ia tidak tergoda sama sekali melihat kemolekan tubuh wanita yang akan segera menjadi istri sahnya ini.


“Kau memakai bikini yang bagus.” Akhirnya, Refald berkomentar juga dengan ekspresi yang sangat tenang tapi ada yang aneh dengan ekspresi Refald kali ini. Sifat mesumnya tiba-tiba saja menghilang.


“Yua yang memilihkannya untukku, dia bilang aku terlihat seksi jika memakai ini.” Fey mencoba menggoda Refald.


“Kau memang sangat seksi, aku bahkan tidak bisa melihat wanita lain selain dirimu. Lain kali, pakailah bikini yang aku belikan untukmu.” Refald mencium mesra kening Fey. “Kau siap?”

__ADS_1


“Aku siap daritadi,” ujar Fey sambil tersenyum.


“Aku akan menjagamu dari sini.” Tatapan mata Refald benar-benar terlihat cemas.


“Kelihatannya, kau khawatir padaku. Kau tidak percaya dengan kemampuanku. Lihat saja, kau akan takjub melihatku.” Fey melepas genggaman tangan Refald dan ia mulai berjalan masuk ke dalam danau secara perlahan.


Semakin lama, tubuh Fey pun mulai terendam air danau. Refald hanya menatap nanar wanita pujaannya yang mencoba masuk ke dalam danau dalam itu. Ingin sekali ia mengikutinya tapi jelas itu tidak mungkin Refald lakukan. Fey melakukan semua ritual ini untuknya dan juga demi kebahagian mereka berdua kelak. Itulah yang dipercayai keluarga besar Fey sehingga mereka menyetujui pernikahan ini.


Kecemasan Refald semakin memuncak ketika Fey sudah tidak terlihat lagi. “Honey!” panggil Refald saat tidak menemukan Fey dimana-mana.


5 menit, 10 menit, Fey tak juga muncul sehingga membuat Refald semakin khawatir. Ia bertekad jika dalam 5 menit Fey tak juga muncul ke permukaan, maka Refald pun akan terjun ke dalam air.


Refald sudah bersiap melepas sepatu dan kaus kakinya. Ia hendak masuk ke dalam danau untuk mencari Fey. Namun, belum sempat ia menginjakkan kakinya di air, Fey pun muncul dengan kerennya dari dasar air ke permukaan. Gadis itu mengusap lembut rambutnya yang terurai ke belakang.


Untuk sesaat, Refald terpesona dengan kecantikan calon istrinya itu. Keduanyapun saling menatap satu sama lain. Refald terus melangkah masuk ke dalam air danau menghampiri Fey yang baru saja keluar dari dasar air.


“Kau sengaja membuatku cemas, ha? Hampir saja aku menggunakan kekuatanku untuk mengosongkan air di danau ini jika saja kau tidak muncul tadi. Ini sudah lebih dari 20 menit, bagaimana bisa kau bertahan di dalam air selama itu? Sejak kapan kau punya insang?” Refald langsung memeluk tubuh Fey.


“Aku bukan ikan! Dan aku tidak punya insang!” Fey jadi sewot karena Refald membandingkannya dengan ikan.

__ADS_1


“Tapi tadi ... kau benar-benar membuatku ketakutan, aku takut kau tenggelam dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.”


“Dari sekian banyak hal yang kau takuti? Kau paling takut aku tenggelam? Aku bisa berenang Sayang. Sudah kubilang, kau akan terpana melihat aksiku.” Fey melingkarkan kedua tangannya di leher Refald. “Aku menyimpan udara dari ciuman yang kau berikan untukku tadi. Ciuman itu kugunakan untuk menyimpan oksigen sebanyak-banyaknya sehingga aku bisa bertahan lama di dasar air. Biasanya aku cuma mentok 10 menit saja. Jika ini bisa mencapai lebih dari 20 menit, itu artinya aku berhasil.” Fey tersenyum senang karena latihannya sudah membuahkan hasil.


Refald langsung mencium mesra Fey di tengah-tengah danau. Keduanya saling meluapkan emosi masing-masing. Suasana syahdu nan romantis menghiasi adegan mesra yang dilakukan Refald terhadap Fey saat keduanya beradu mesra di dalam air.


“Hentikan Refald, kau mulai lepas kendali.” Fey mendorong tubuh Refald agak menjauh darinya. “Sebaiknya kita kembali, hari semakin sore. Aku takut nenek akan mencariku.” Fey berjalan menuju ke arah tepian danau, tapi Refald langsung memeluknya dari belakang.


“Maaf, Honey. Aku sangat mencintaimu, bisakah kita seperti ini sebentar saja? Aku janji tidak akan lepas kendali lagi.” Refald mengeratkan tangannya dipinggang Fey sambil merebahkan kepalanya di bahu wanita yang amat sangat ia cintai ini.


“Aku juga mencintaimu.” Feypun menuruti permintaan Refald sambil berendam bersama di tengah danau dalam diam.


BERSAMBUNG


***


Jangan lupa like dan komennya ya. .


__ADS_1


__ADS_2