Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 107 Ritual Kedua


__ADS_3

Kakek membawa kami semua kesebuah tempat yang lebih terbuka dari sebelumnya. Aku berjalan beriringan dengan ibuku dan menggamit lengannya dengan manja. Sesekali aku bersandar di pundak ibuku yang wajahnya, tetap saja terlihat cantik sama seperti terakhir kali aku melihatnya 10 tahun silam, kami bahkan terlihat seumuran jika berjalan bersama. Karena ini malam, aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas mengenai apa saja yang ada di sekitar kami. Yang jelas sepertinya kami berada ditepian sebuah danau yang besar.


Kakek merentangkan kedua tangannya ke atas dan seketika suasana menjadi terang dan menakjubkan. Sebuah danau megah mirip seperti danau di sebuah pulau Komodo, terpampang jelas di depan kami saat ini. Aku merasa, aku benar-benar ada di sebuah danau fenomenal itu.


“Tempat apa ini Kakek, inikah yang dinamakan dengan danau pulau Komodo?” tanyaku terkesima sampai tidak sadar tanganku sudah terlepas dari lengan ibuku. Aku berlari kecil menuju pinggiran danau dan berharap, apa yang aku lihat ini bukanlah mimpi. Benar-benar pemandangan yang sangat indah.


“Anggap saja begitu. Ritual selanjutnya, kalian berdua harus membawa lilin ini menuju ke tengah danau itu sampai tubuh kalian berdua sama-sama tenggelam di dasar danau.” Tiba- tiba saja di kedua tangan kakek Refald sudah ada lilin menyala yang ditaruh diatas cawan kecil agak lebar.


Masing-masing lilin tersebut kakek berikan padaku dan juga pada Refald yang berdiri di belakang kakeknya. Pandangan matanya tetap lurus ke depan, dan ia masih belum mau melihatku.


Ada apa ini? kenapa Refald tidak mau menatapku? Ia juga tidak bicara sepatah katapun. Baik padaku, atau pada siapapun. Ia bahkan tidak menyapa ibuku. Padahal, dia juga ibu mertuanya sendiri. Jangankan menyapa, menoleh saja tidak. Aku membatin dalam hati, karena terlalu kecewa melihat Refald tiba-tiba bersikap acuh seperti itu.


Ingin sekali aku membatalkan pernikahan ini tapi, aku tidak bisa. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi jika tiba-tiba saja aku membatalkannya. Apalagi, ini adalah sebuah perjanjian yang wajib kami laksanakan meski aku tidak tahu untuk apa perjanjian ini dilakukan.


Aku memandangi lilin kecil itu, cahaya temaramnya menyinari seluruh wajah dan seolah menembus langsung ke dalam jiwaku. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku merasa kalau cahaya lilin ini merasuk ke dalam tubuhku.


Aku mengesampingkan perasanku pada Refald dan berbalik arah untuk bersiap menjalani ritual selanjutnya. Sejujurnya, aku takut melakukan ritual kedua ini. Sebab, kami harus menenggelamkan diri ke dasar air yang terlihat sangat dalam di tengah danau itu. Kedengarannya, terkesan seperti orang yang sedang melakukan bunuh diri saja.


Namun, sekali lagi ini bukan di dunia nyata, jadi aku tidak mungkin mati tenggelam di danau yang entah ada di mana ini. Pasti ada alasan tertentu kenapa kakek Refald menyuruh kami melakukan semua ini. Dan kami, harus wajib mengikuti semua peraturannya tanpa syarat apapun.

__ADS_1


“Kalian bisa mulai sekarang,” perintah kakek Refald pada kami.


Aku bisa merasakan Refald berjalan dan berdiri sejajar denganku. Jarak kami berdiri juga tidak terlalu jauh, lengan bajuku dan bajunya bahkan saling bersentuhan. Anehnya, Refald masih tetap saja diam dan sama sekali tidak mau melihat atau bicara padaku.


Perlahan, kami berdua berjalan bersama-sama menuju pinggiran danau. Kami berdua langsung masuk ke dalam air yang semakin lama, semakin dalam saja. Tubuh kami berdua melayang-layang di dalam air danau layaknya orang yang sedang tenggelam. Lilin yang tadinya ada di tangan kami juga tiba-tiba saja raib tanpa jejak.


Aku dan Refald terkejut, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku berusaha berenang di dalam air dan menuju permukaan sebelum aku kehabisan udara. Sayangnya, Refald hanya diam dan tidak membantuku. Tentu saja hal itu membuatku kesal setengah mati. Ia hanya terus fokus menatap ke depan dan juga tidak melakukan seperti apa yang aku lakukan sekarang.


Saat aku bergelut dengan pikiranku tentang perubahan sikap Refald yang tidak biasa dan terkesan acuh padaku, tiba-tiba saja aku sudah berada di ruangan lain lagi. Aku yakin, aku sudah tidak lagi berada di dasar air danau. Melainkan berada di sebuah ruangan dengan kondisi terbaring di atas kasur yang empuk dan nyaman. Pakaian yang aku kenakan juga tidak basah sama sekali.


Aku mengamati sekeliling tempatku berada ini. Jika dilihat dari dekorasinya, tempat ini pasti ada di dalam istana lagi. Sebab, banyak sekali benda-benda antik yang terbuat dari emas terpajang rapi di setiap sudut ruangan.


Aku pun tersentak mendengar ada seseorang datang menghampiriku. Aku mencoba bangun dan betapa terkejutnya aku, karena ada banyak orang disekelilingku dan di seberang sana, juga sudah ada Refald yang duduk manis di atas kasur sama seperti denganku dan sedang dirias sedemikian rupa. Hampir saja aku tidak mengenalinya.


Tunggu! Dirias? Aku terkejut dengan pikiranku sendiri. Di depan mataku, Refald sedang dipakaikan sebuah baju khas istana ini begitu juga diriku yang juga sudah memakai baju dan sangat berbeda dari yang kupakai tadi.


Mulutku menganga melihat pakaianku sendiri. Ini sungguh kelewat luar biasa. Pertama kalinya dalam hidupku aku mengalami banyak sekali hal magic seperti ini. Walaupun Refald juga sudah banyak memperlihatkanku banyak sekali keajaiban-keajaiban yang ada diluar nalar manusia, tetap saja ... rasa shock, terpukau, juga takjub tidak akan cukup menggambarkan situasi yang kurasakan saat ini.


Ditambah lagi, sampai detik ini juga, Refald masih saja diam seribu bahasa. Mulutnya seakan terkunci rapat dan tak dapat lagi bicara. Padahal, ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. Namun, jika Refald mengacuhkanku seperti itu, bagaimana bisa aku bertanya padanya? Yang bisa kulakukan sekarang hanya menatapnya dan mencari jawabanku sendiri melalui ekspresinya.

__ADS_1


Dia sudah berubah jadi patung dan lebih mirip dengan robot berjalan! Gumamku dengan kesal.


“Kalian berdua sudah siap?” tanya ibuku yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu.


Aku tersenyum menatap wajah ibuku yang benar-benar cantik berseri. Kedatangan ibuku, sukses memudarkan kekesalan yang kurasakan pada Refald. Tiba-tiba saja, aku memikirkan ayahku yang pasti sangat mencintai ibuku. Itulah kenapa, sampai saat ini ayah tidak pernah punya niatan untuk menikah lagi. Melihat bagaimana ibuku ini, hal itu sangat wajar mengingat betapa cantik dan anggunnya wanita yang ada didepanku sehingga tidak ada alasan apapun untuk tidak mencintai wanita secantik ibu. Tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi ibuku di hati ayahku. Meskipun maut, sudah memisahkan mereka berdua, namun cinta mereka tetap abadi selamanya.


“Kamu benar-benar cantik, Sayang.” ibuku meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Entah kenapa aku ingin sekali menangis jika ibuku memelukku seperti ini.


Aku ingin pelukan ini setiap hari, dan aku tahu, kalau itu tidak akan mungkin terjadi karena dunia kami sudah berbeda. Walaupun begitu, aku tetap bahagia, masih diberi kesempatan untuk bisa kembali bersama ibuku meski tidak bisa selamanya. Momen kebersamaan kami saat ini, akan aku simpan dalam hati dan kujadikan kenangan terindah yang takkan pernah aku lupakan sampai kapanpun.


“Ayo, kalian berdua harus melakukan ritual terakhir sebelum kalian benar-benar resmi menikah di dunia lain ini.” ibuku membantuku berdiri dan menuntunku berjalan ke tempat Refald yang entah sejak kapan ia sudah berdiri diambang pintu seakan sedang menungguku.


Saat ini, kami seperti sepasang pengantin sungguhan sekarang. Bedanya, kami bukan pengantin di dunia nyata, melainkan pengantin di dunia lain, sebuah dunia tak kasat mata yang dipenuhi oleh para makhluk astral.


***



Kim Ji won aku pilih jadi ibu Fey .... hahaha haluku..

__ADS_1


__ADS_2