Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 246 Gambaran Masa Depan


__ADS_3

“Apa maksud ucapanmu tadi Refald? Bertemu mereka lagi dengan kisah yang baru? Apa itu?” tanya Fey saat keduanya sudah berada di dalam mobil canvas Refald. Mereka berdua hendak bersiap berangkat menuju bandara untuk mengantar Di yang tentu saja sudah ada pak Po disisinya.


“Honey, aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti. Yang jelas, begitu buah hati kita lahir, maka kisah kita berdua akan digantikan dengan kisah para buah hati kita dengan kisah-kisah keseruan mereka yang baru. Tunggu saja masa-masa itu.” Refald mulai menyalakan mesin mobilnya.


Bukannya paham atas apa yang dijelaskan Refald, Fey malah semakin memiliki sejuta pertanyaan lain dibenaknya. Kekuatan Refald tidak hanya bertambah pesat, tetapi kemampuannya melihat masa depan juga semakin jelas. Butuh daya pikir tingkat tinggi agar bisa memahami setiap kata yang keluar dari bibir suaminya itu.


Di dan pak Po duduk di bangku belakang mobil Refald sedangkan Fey duduk disamping suaminya. Didetik-detik terakhir keberangkatan, Fey sempat memerhatikan bangunan tua berlantai tua yang menjadi tempat persinggahannya bersama Refald saat bersiap-siap menghadapi para iblis jahat yang menyerangnya. Kini, masa-masa itu sudah lewat dan hanya menyisakan kenangan saja. Banyak sekali hal mengejutkan terjadi selama Fey dan Refald ada disini. Tentu saja semua itu membuat Fey tidak akan mudah melupakan tempat ini.


“Haaah, aku pasti akan merindukan rumah itu dan lingkungan yang ada disini. Meskipun tak banyak berinteraksi dengan penduduk desa ini, bagiku ... rumah tua itu seperti rumah keduaku. Entah sudah berapa lama kita tinggal disini dan sekarang kita harus pergi dari sini,” gumam Fey sambil berkali-kali menghela napas panjang.


“Suatu saat nanti kita berdua pasti akan sering datang kemari, Honey.” Refald memegang tangan Fey untuk menghiburnya.


“Kapan?”


“20 tahun yang akan datang, atau bisa saja lebih lama dari itu.”


“Apa? Selama itu?”


“Kalau kau mau, kau bisa datang kapan saja kemari, Honey. Apa susahnya?”


“Bukan masalah kapan saja aku bisa datang kemari Refald. Kalaupun aku bisa kemari semuanya tidak akan sama seperti yang sudah kita lalui bersama. Aku memang bisa kesini kapanpun aku mau, tapi ... pak Po dan Di tidak akan ada disini. Jelas rasanya sangat berbeda.”


“Kau benar, saat kau datang kemari memang akan berbeda ceritanya. Tunggu saja Honey, ada banyak hal suka dan duka yang akan kita lalui bersama setelah ini. Untuk sekarang, jangan pikirkan apapun. Lihatlah pasangan sejoli yang ada dibelakang kita. Baru lima menit mobil ini melaju mereka sudah tertidur pulas seolah tak pernah terkadi apa-apa.”


Fey memerhatikan pak Po dan Di yang saling menempelkan kepala mereka satu sama lain dan sedang tertidur lelap. Siapa sangka hantupun bisa tidur juga.


“Refald, apa aku tidak salah lihat? Pak Po bisa tidur sepulas itu? Apa dia cuma pura-pura tidur?”


“Tidak, Honey. Wujud pak Po yang sekarang adalah setengah manusia dan setengah hantu. Ada kalanya dia bisa seperti layaknya manusia biasa yang juga butuh tidur, tapi itu juga tak berpengaruh pada kekuatannya. Pak Po akan tidur jika dia menginginkannya saja. Sama sepertiku.” Refald fokus menyetir dan melihat jalan didepannya.


“Ah iya, aku baru ingat, bertahun-tahun kau tidak tidur karena mencariku dan kau tetap terlihat baik-baik saja. Bahkan matamu juga tak terdapat guratan hitam sama sekali, wajahmu malah terlihat fresh setiap saat dan tentu saja membuat semua wanita yang melihatmu terpikat oleh pesonamu. Padahal kau tidak pernah tidur, kalau manusia biasa mereka pasti akan berubah menjadi mata panda dan menakutkan.” Fey mulai mengingat masa lalu mereka.


“Kau tidak terpikat olehku?”


“Yang kau tanyakan itu, dulu atau sekarang?”


“Dulu,” jawab Refald cepat.


“Bukankah kita sudah pernah membahasnya? Jauh sebelum kita menikah.”


“Aku ingin mendengarnya lagi darimu.”


“Tidak, awalnya aku tidak tertarik padamu. Kau itu sombong sekali dan juga kasar, kau suka sekali membentakku. Sangat aneh bagiku kalau aku tertarik pada orang kasar dan sombong sepertimu disaat pertama kali kita bertemu.”


“Kalau sekarang?”


“Aku rasa aku tidak perlu menjawabnya karena kau sendiri sudah tahu jawabannya.” Fey mulai sewot dengan Refald.

__ADS_1


Entah kenapa ia jadi mudah sekali emosi setiap kali berbicara dengan seseorang tak terkcuali Refald sendiri. Refald hanya tersenyum melirik wajah jutek istrinya. Fey terlihat sangat menggemaskan kalau marah.


“Baiklah, itu semua sudah berlalu dan akan menjadi kenangan indah untuk kita berdua. Kita harus bersyukur karena sampai detik ini kita masih bisa bersama Honey. Begitu juga pak Po dan Di, mereka mensyukuri apa yang mereka miliki sekarang. Kisah mereka begitu ironi tapi keduanya tetap bisa enjoy aja.” Refald memerhatikan Di dan pak Po saling berpelukan dan masih tetap tertidur pulas di belakang.


“Astaga, bisa-bisanya mereka tidur disaat aku benar-benar baper karena mereka.” Fey melihat pasangan sejoli beda dunia itu begitu sweet dan romantis. Bahkan Fey merasa kalah jauh dengan keharmonisan keduanya. “Sepertinya, aku memang harus melupakan apa yang sudah berlalu. Sekarang aku punya Refald kecil. Aku akan fokus menjaga dan melindunginya sampai dia lahir kedunia fana ini.” Fey mengelus pelan perutnya yang masih rata. Refaldpun juga ikut-ikutan mengelusnya sambil tersenyum manis.


“Begitu juga aku, akan aku lakukan apapun demi bisa melindungimu dan buah hati kita yang sedang berkembang ini.”


***


Beberapa jam sudah berlalau dan akhirnya mereka semua tiba di lokasi yang mereka tuju. Refald membantu menurunkan barang bawaan Di dan mengantarnya masuk kedalam.


“Jaga Di baik-baik, pak Po. Selama aku tidak memanggilmu, kau jangan datang padaku,” ujar Refald saat mereka semua berada di bandara.


“Tentu saja Pangeran, saya akan selalu menjaga Di dengan baik seperti yang anda perintahkan.” Pak Po menundukkan kepalanya.


“Itu bukan hanya sekedar perintah, pak Po!” Fey menyahut, wajahnya terlihat emosi lagi. “Tanpa diperintahpun harusnya kau memang berkewajiban menjaga dan melindungi istrimu! Masa hal itu saja kau juga tidak tahu? Hedeuhhh! Kalau sampai kau membuat Di menangis atau menyakitinya, akan aku bua kau menyesal seumur kematianmu!” ancam Fey.


“Saya berjanji akan melakukan apa yang Putri katakan, sungguh!” Lagi-lagi pak Po memasang wajah polos yang menjengkelkan.


“Kau!” Fey hendak menyerang pak Po yang bloonnya minta ampun, tapi tubuhnya langsung dipeluk Refald dari belakang sehingga ia tidak bisa bergerak.


“Tenangkan dirimu, Honey. Jangan emosi, lambat laun pak Po pasti akan mengerti dengan sendirinya seperti apa tugas seorang suami pada istrinya. Aku sendiri yang akan mengawasinya. Kau jangan khawatir, oke!”


“Dedemitmu yang satu ini benar-benar kelewatan, Refald? Masa melakukan tugas seorang suami saja harus berdasarkan perintah darimu? Yang benar saja?” Fey mencoba mengambil napas dalam-dalam agar ia kembali tenang.


Penjelasan Refald berhasil membuat Fey sedikit tenang. Ia pun memahami apa yang terjadi dengan semua pasukan Refald. “Baiklah, maaf kalau aku sudah bersikap berlebihan.” Fey melepaskan diri dari pelukan Refald dan mendekati Di. “Sampai ketemu lagi Di, jaga dirimu baik-baik. Kalau sampai pak Po menyakitimu, kau bilang saja padaku. Kau tahu cara menghubungiku, kan?” Fey menggenggam tangan indah Di.


“Saya mengerti Putri, saya hafal nomer ponsel anda. Terimakasih banyak atas semua yang putri lakukan pada kami. Putri jangan khawatir, Ezi tidak akan menyakiti saya, karena dia sangat menghormati anda berdua.” Di memeluk Fey sebagai salam perpisahan sambil tersenyum. Fey pun membalas pelukan itu.


Sedangkan Refald meminta pak Po untuk mengawal istrinya yang tunanetra itu agar tidak salah jalan. Ada untungnya pak Po tidak terlihat, jadi dia bisa menjadi penujuk jalan Di. Hampir semua orang yang ada di bandara ini tidak tahu bahwa sebenarnya, Di tidak bisa melihat. Sebab, pak Po selalu memberitahunya segala hal yang ada disekitarnya seolah Di bisa melihat semuanya dengan jelas.


“Apa aku bisa bertemu Di lagi, Refald?” tanya Fey sambil mengamati kepersian Di yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.


“Lebih dari itu Honey, akan aku beritahu satu hal padamu. Kau dan Di ... akan menjadi besan suatu hari nanti.” Refald menatap tajam mata Fey begitu juga sebaliknya.


“Apa?” Fey langsung menganga melihat Refald. “Maksudmu? Di dan pak Po akan memiliki buah hati juga? Dan ....” Fey tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena bayangan bahwa ia dan Di akan menjadi besan benar-benar sulit dipercaya.


Refald hanya tersenyum melihat ekspresi terkejut istrinya itu. Ia membantu mengatupkan mulutnya sambil berkata, “Mereka sudah menikah, Honey. Sudah sewajarnya mereka bakal punya anak nanti. Tapi aku tidak tahu kapan itu terjadi. Masa depan itu relatif. Untuk saat ini, cuma itulah gambaran sekilas yang aku lihat saat kau memeluk Di tadi.” Refald menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya pergi dari bandara. “Ayo, kita temui nenek dulu, beliau sudah sangat merindukanmu, lalu teman-temanmu yang lainnya juga. Setelah itu, kau harus ikut aku ke suatu tempat yang sudah kusiapkan untukmu sebelum kita terbang ke Swiss. Oh satu lagi, Leo sudah bertunangan dengan Shena. Dan si cecunguk gila itu akan menikahi Shena dalam waktu dekat.”


“Hah? Secepat itukah?” seru Fey langsung mendengar kabar tentang Leo dan Shena.


“Ehm, Leo benar-benar membuat seluruh keluarga jadi pusing tujuh keliling. Tapi paman Byon tidak akan semudah itu menikahkan mereka. Kau tahu sendiri, Shena masih belum mencintai Leo. Leo lah yang memaksa Shena supaya mau bertunangan dengannya.”


“Dasar kampret si Leo, kelakuannya semakin gila aja.” Fey memukul-mukul sendiri kepalan tangannya.


“Honey, kau terlau cantik untuk mengumpat.” Refald langsung mencium istrinya tepat setelah keduanya masuk ke dalam mobil canvas Refald. “Jangan mengumpat lagi, oke!” Refald mengusap lembut pipi istrinya dan menyalakan mesin lalu melesat pergi dari bandara menuju kerumah nenek Fey. Entah Fey mendengar peringatan Refald atau tidak, yang jelas pikirannya sedang kemana-mana.

__ADS_1


“Refald,” panggil Fey.


“Ehm, kau mencintaiku? Aku sudah tahu.” Refald mulai menggoda Fey lagi.


“Bukan itu, aku hanya penasaran apa yang akan dilakukan paman Byon pada Leo? Benarkah paman akan menikahkan keduanya?”


“Tidak segampang itu, Honey. Paman harus menguji ketulusan cinta keduanya. Kita tunggu saja sampai Shena benar-benar mencintai Leo. Kita akan jadi tamu spesial di hari pernikahan mereka nanti.”


Fey hanya diam sambil melihat sekeliling jalan. Ada banyak hal yang Fey pikirkan saat ini. Pernikahan Riska dan Nouval, perpisahannya dengan Di serta kabar terbaru dari Leo dan Shena. Semua terjadi begitu saja tanpa ada rencana. Semua orang punya kisah sendiri-sendiri.


Apa yang dikatakan Refald semuanya benar, terutama kisah mereka berdua yang akan segera tergantikan oleh kisah anak-anak mereka nanti. Fey sendiri tidak pernah menyangka bahwa ia akan segera menjadi seorang ibu. Sebuah status baru yang selalu diidam-idamkan semua wanita yang sudah menikah selain sebagai istri. Yaitu ... dipanggil ‘Ibu’.


***


Tanpa terasa, mataharipun sudah mulai terbenam di ufuk barat. Fey dan Refald sampai dikediaman neneknya di kampung halaman almarhum ibu Fey dilahirkan. Suatu saat nanti, Fey juga ingin melahirkan ditempat ini. Baginya, rumah ini menyimpan berbagai kenangan terutama kenangan antara dirinya dan Refald saat mereka berdua masih duduk dibangku sekolah.


Fey langsung memeluk neneknya dengan erat yang terlihat semakin renta karena termakan usia. Beruntungnya, Fey masih bisa menghabiskan waktu bersama neneknya yang ternyata diberkahi umur panjang.


“Bagaimana kabar, Nenek? Semakin lama, Nenek terlihat semakin cantik saja,” tanya Fey setelah melepas pelukannya.


“Seperti yang kau lihat, nenek baik-baik saja, Cucuku. Tentu saja aku sangatlah cantik, kalau tidak mana mungkin kau mewarisi kecantikanku.” Nenek tersenyum dan beralih menatap Refald yang berdiri di samping Fey. Tangan keriputnya terulur berganti memeluk Refald. “Kau semakin tampan saja, Refald. Apa Fey menyusahkanmu? Kau pasti kualahan menghadapinya.”


Refald hanya tersenyum simpul sambil membalas pelukan nenek Fey yang memang sangat menyayanginya bahkan sejak Refald masih remaja. Neneklah yang berperan penting dalam membatu usahanya mendekati Fey kala itu.


“Tidak, Nek. Anda tahu sendiri seberapa besar dan dalam cintaku pada cucu kesayangan Nenek ini. Tidak ada alat ukur apapun yang bisa mengukur luasnya cinta yang kumiliki, Nek. Aku adalah orang yang paling bahagia karena telah menjadi suami wanita yang amat sangat aku cintai. Fey tidak pernah menyusahkanku, sebaliknya dia memberiku kebahagiaan tak terkira.”


“Ehm, aku tahu. Kau bahkan memohon padaku dan berlutut di hadapan semua teman-teman arisanku agar kau diizinkan pacaran dengan cucuku yang jutek ini.” Nenek mulai membuka rahasia yang selama ini sudah Refald simpan dalam-dalam.


“Apa?” pekik Fey langsung. Ia menatap Refald dan nenek secara bergantian. “A-apa maksudnya itu, Nek?”


Refald jadi salah tingkah karena sang nenek mulai membuka rahasianya. Ia hanya menutupi wajahnya dengan satu tangan agar Fey tak menatapnya dengan tajam.


“Suamimu ini meminta nenek merestui hubungan kalian karena dia takut kejadian ayah dan ibumu bakal terulang. Sebelum ia mendekatimu, Refald lebih dulu mendekati nenek supaya mau menerimanya menjadi pasangan hidupmu, dan usahanya itu berhasil. Nenek sangat menyukai Refald. Dialah satu-satunya pria yang paling cocok menjadi pasangan hidupmu.”


“Apa?” Fey mulai mengingat-ingat masa dimana Refald tiba-tiba saja datang ke sekolahnya dan menjadi siswa baru disana.


Secara kebetulan, Refald juga tinggal di vila cahaya yang lokasinya tidak jauh dari rumah neneknya ini. Selain itu, Refald sangat mudah diterima oleh neneknya yang terkenal jutek pada laki-laki manapun termasuk ayah Fey sendiri, tapi perlakuannya berbeda pada Refald. Refald adalah satu-satunya pria asing yang disambut baik oleh nenek. Ternyata, ini alasannya. Sejak awal, Refald memang sudah tahu siapa Fey sebenarnya tapi suaminya itu berpura-pura tidak tahu apa-apa.


BERSAMBUNG


***


Sementara ini, episodenya panjang-panjang ya ... semoga saja tidak bosan baca ceritanya. Leo nanti aku up sore dan malam. Dobel episode ... mohon sabar menunggu ya ...


Terimakasih sudah mau mendukung semua karya-karyaku. Jangan lupa, vote, like dan kmentarnya ... love you all...


__ADS_1


__ADS_2