
Saat sampai di lokasi kegiatan, aku langsung menghampiri dan menyapa semua teman-temanku yang sudah terlebih dulu berada di lokasi. Mereka semua adalah alumni dan beberapa senior yang membantu mengikuti dan mengawasi setiap acara yang berlangsung besok. Mereka semua bakal ikut andil dalam kegiatan ini, karena tanpa bantuan dari mereka, aku tidak bisa melakukan semua ini sendiri. Dalam organisasi ini, kekompakan dan kerjasama itu sangat penting. Mereka juga menerapkan kode etik pecinta alam.
Mereka melindungi dan menjaga semua anggotanya. Tidak peduli dia cewek ataupun cowok, semua anggota pecinta alam adalah saudara. Jadi, tidak ada kekhawatiran diantara kami meski bermalam berhari-hari dan berkumpul bersama. Dan sebagai sesama saudara, kami saling menjaga dan melindungi satu sama lain serta membantu anggota lain yang sedang kesulitan. Aku bersyukur tergabung dalam organisasi ini, selain mereka menyetarakan gender, mereka juga bisa saling bekerjasama dalam berbagai hal. Termasuk membantu semua kegiatan pecinta alam tanpa pamrih.
Selain itu, ada hal yang menarik dalam organisasi kami. Berkat kekompakan dan kerja sama antar anggota baik senior maupun alumni, semua kegiatan yang pernah dilakukan bersama selalu berjalan dengan lancar.
Termasuk saat mendaki gunung. Kami selalu saling menjaga dan melindungi satu sama lain, sehingga tidak heran kalau benih benih cinta diantara sesama anggota mulai timbul. Salah satu yang paling kami dukung adalah Ana dan Joni. Mereka berdua adalah seniorku yang dijuluki couple pecinta alam karena kisah cinta mereka yang bersemi diorganisasi ini. Selain itu, masih ada banyak lagi couple-couple yang lainnya dengan berbagai kisah cinta mereka masing-masing.
Apalagi, saat seperti ini adalah saat yang dinantikan bagi mereka-mereka yang fall in love untuk bisa mengikuti kegiatan sambil beromantis ria. Anehnya, aku sangat senang melihat mereka. Gaya pacaran mereka sangat unik dan sehat, bahkan aku pernah mendengar ada yang sampai kejenjang pernikahan.
Seperti pasangan yang ada didepanku saat ini, kak Ana dan kak Joni, couple paling hits tahun ini. Kami semua duduk di depan api unggun bersama dengan anggota yang lainnya. Kak Joni bermain gitar dan menyanyikan lagu romantis untuk kekasihnya, kak Ana. Dan kami semua mengelilingi mereka sambil ikut bernyanyi sesekali menggoda keromantisan mereka.
“Kau sudah datang! Sapa seniorku yang bernama Yoshi. Dia adalah salah satu alumni yang baru lulus tahun kemarin.
“Baru saja, kak! Maaf agak sedikit terlambat!” kak Yoshi duduk disebelahku dan menatap dua sejoli yang ada di depan kami.
“Ahhh ... mereka sungguh membuatku iri! Apa kau juga iri melihat mereka?”
Aku tersenyum sambil menggeleng, dan menatap mereka berdua yang masih asyik dengan dunia mereka sendiri. “Kenapa kakak tidak mengikuti jejak mereka? Mengajak pacar kakak untuk ikut kegiatan ini? Para alumni yang lain mengajak pasangan mereka untuk ikut berpartisipasi? Sekaligus berkencan!”
“Bagaimana bisa aku mengajak pacarku kalau aku sendiri tidak punya pacar?”
“Orang seperti kakak tidak punya pacar? Aku tidak percaya.”
“Aku sungguh-sungguh tidak punya, kecuali kalau kau mau daftar, aku akan langsung menerimanya!”
Aku tersenyum tipis. “Maaf Kak, tapi aku tidak mau. Terima kasih!” aku tahu kalau Yoshi hanya bercanda mengatakan itu. Karena dia sangat terkenal dengan sifat humorisnya.
__ADS_1
“Kenapa? Kau sudah punya pacar?”
“Bukan hanya sekedar pacar, tapi lebih dari itu!”jawabku jujur.
“Kau sudah menikah?” tanyanya pura-pura terkejut.
“Kakak jangan bercanda? Mana mungkin aku menikah sementara statusku masih seorang pelajar? Aku bisa di DO!”
Kami berdua sama-sama tersenyum. Yoshi menatapku dengan wajah yang tidak bisa kumengerti, ia memerhatikanku dan melihat tas ranselku. “Kau belum masuk ketendamu? Kami sudah membuatkan tenda untukmu disebelah sana!” Yoshi menunjukkan tenda kecil yang berwarna biru.
“Itu adalah tendaku?” tanyaku untuk memastikan.
“Tentu saja. Kau bilang kau akan ikut menginap dengan kami malam ini. Maka dari itu kami menyiapkan satu tenda untukmu. Kau tidak suka? Apa kau ingin tidur bersama kami?” godanya.
Aku menggeleng lagi sambil tersenyum. “Tidak, terima kasih.”
Aku menuruti ucapan Yoshi. “Terima kasih, Kak.”
“Sama-sama!”
Aku bangkit dari tempat dudukku dan menuju tenda biru yang sudah disiapkan Yoshi untukku. Pria jakung yang juga digilai banyak cewek diorganisasi kami. Selama ini aku tidak begitu mengenal para seniorku apalagi yang sudah jadi alumni. Itu karena kami jarang sekali bertemu kecuali kalau ada kegiatan seperti ini.
Tapi, semenjak aku menjadi ketua pelaksana kegiatan ini, aku mulai dekat dengan mereka. Karena merekalah yang membantuku menyiapkan semuanya. Kami juga jadi lebih sering berinteraksi sehingga saling mengenal satu sama lain.
Aku masuk kedalam tenda yang berukuran tiga kali empat meter. Untuk sementara ini mungkin aku tidur sendiri, karena sebagian anggota yang lain masih belum datang. Mereka semua baru datang besok bersama dengan calon anggota pecinta alam yang lain. Jadi, tenda ini baru penuh besok malam.
Para seniorku membuat tenda ini dengan sempurna, banyak sekali tenda yang berdiri. Ada tenda yang khusus untuk para alumni cowok dan alumni cewek, ada tenda untuk senior cewek dan senior cowok. Tenda untuk panitia cewek dan cowok juga dipisah. Begitu juga dengan tenda untuk peserta calon anggota cowok dan cewek. Semua tenda cewek dan cowok dipisah sesuai dengan strata masing masing agar lebih mudah melaksanakan kegiatan ini dengan baik supaya tidak bercampur aduk.
__ADS_1
Aku menurunkan ranselku lalu membukanya untuk mengeluarkan beberapa peralatan yang kubutuhkan seperti selimut dan sarung tangan. Karena semakin malam, hawa di sini semakin dingin. Aku juga menyiapkan pakaian yang hangat agar tidak kedinginan.
Saat menata perlengkapanku, tiba-tiba aku teringat perkataan Refald sebelum aku pergi meninggalkannya tadi.
"Fey, aku tahu saat ini kau sangat membenciku. Aku juga tahu kau pasti merasa dibohongi selama ini, tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin kau mengenalku bukan sebagai tunanganmu, tetapi sebagai Refald, orang yang kau sukai.”
“Bagaimana kau tahu kalau aku menyukaimu?”
“Insting!”
“Kau PD sekali. Memangnya kau dukun yang tahu apa isi pikiran dan hati orang lain hanya dengan melalui insting?”
“Aku memang tidak tahu, tapi aku bisa merasakannya. Kau bisa menerima kehadiranku. Kau ingat? Aku pernah memintamu mencintaiku, itu karena aku ingin kau menghilangkan rasa benci pada tunanganmu dan menggantinya dengan rasa cinta. Jika kau mencintaiku, maka kau tidak akan membenciku lagi meski kau tahu aku adalah tunanganmu. Dan jika statusku sebagai tunanganmu masih saja tidak bisa menghilangkan rasa sakit dan kebencianmu, maka lupakan aku.
"Lupakan bahwa aku adalah tunanganmu, aku ingin kau tetap menganggapku sebagai Refald yang selalu mengerjai dan mengganggumu. Aku adalah Refald yang akan selalu menjaga, melindungi dan selalu bersamamu disetiap langkahmu. Takdir telah mengakhiri perjanjian pertunangan kita, tapi sekali lagi, takdir juga mempertemukan kita dengan kisah yang baru, dan aku ingin kita memulai lagi dari awal sebagaimana takdir mempertemukan kita kembali setelah sekian lama kita terpisah.”
“Bagaimana kau begitu yakin bahwa pertemuan kita ini sudah ditakdirkan? Kau bukanlah dewa yang tahu segalanya!”
“Awalnya aku sendiri tidak percaya, tapi aku yakin kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama. Tak peduli berapa lamapun kita terpisah, pada akhirnya, kita tetap bisa bertemu lagi. Kau bilang pertemuan pertama kita adalah di rumah Mia, saat Eric menanyakan alamat padamu. Kau melihatku untuk pertama kalinya, tapi itu ... bukanlah pertemuan pertama kita.” Refald memberikan sebuah foto padaku. Wajah seseorang yang ada dalam selembar foto berukuran empat kali enam itu seperti tidak asing lagi bagiku.
Dengan ragu, aku menerima foto itu dan memerhatikannya. Dan betapa terkejutnya diriku setelah tahu siapa orang yang ada dalam foto itu. Orang itu adalah ....
Aku menatap Refald yang juga menatapku.
“Itu adalah foto gadis yang selama ini aku cari. Awalnya aku mencarinya karena ingin berterima kasih padanya. Sebab, ia sudah menolongku waktu itu. Aku kira aku telah jatuh cinta padanya, tapi sungguh aku tidak menyangka, gadis yang menolongku itu ... adalah tunanganku sendiri, dia adalah kau, Shiyuri Kinomoto!”
Itulah kata-kata Refald yang ia ucapkan sebelum aku pergi meninggalkannya tadi. Kata-katanya cukup sukses mengejutkanku dan aku sama sekali tidak menyangka bahwa akulah wanita yang dicintai Refald.
__ADS_1
****