Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 188 Serangan tak Terduga


__ADS_3

Fey memarkir mobil volvo silvernya di lapangan terbuka sebelum memasuki kawasan bekas bencana banjir, dimana sebagian wilayahnya sudah terbentuk labirin yang terbuat dari batu-batu besar dan reruntuhan material alami dari sisa bencana saat melanda kawasan ini. Nura hanya melongo menatap tempat ini, ia baru pertama kali melihat ada daerah bekas bencana banjir bukannya terlihat rusak parah, tapi malah terlihat menakjubkan dan bahkan lebih mirip situs budaya seperti candi-candi yang ada di negara ini. Kalau tempat ini dimanfaatkan dan dirawat dengan baik, pasti tempat ini bisa jadi tempat wisata yang tak kalah keren dengan wisata-wisata candi yang lainnya.


“Tempat apa ini?” tanya Nura. Matanya tak berhenti memandang sekeliling.


“Kita keluar dari sini, nanti akan aku jelaskan.” Fey melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobilnya.


Udara diluar begitu segar, siapa yang sangka, tempat yang dulunya dikutuk kini berubah menjadi tempat yang indah dan eksotis. Sangat cocok jika dipakai refreshing di tempat seindah ini. Fey berjalan ke depan sambil mengamati sekelilingnya. Tentu saja dibelakangnya, ada pak Po dan mbak Kun yang siap setia mengawal istri pangerannya seperti apa yang sudah diperintahkan Refald.


“Kenapa sepi sekali? Apa tidak apa-apa jika kita datang kemari?” tanya Nura dan menyusul berjalan di sisi sahabatnya, sifatnya yang penakut membuatnya jadi ragu.


“Tidak akan ada apa-apa, tempat ini ....” belum sempat Fey melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ia mendengar sebuah teriakan keras dari seseorang yang sangat Fey kenal. Gadis itu menoleh pada pak Po dan mbak Kun untuk segera mencari tahu darimana suara itu berasal. “Pak Po ....”


“Siap, Putri.” Pak Po pun menghilang dan ia langsung pergi ke arah sumber suara yang tidak lain berasal dari suara Leo yang sedang diserang oleh Shena.


Shena menyerang Leo dengan membabi buta, ia tak memberi kesempatan pada Leo untuk berbicara ataupun mendekati Shena. Leo sendiri tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi Shena yang lagi-lagi dirasuki makhluk astral.


"Kenapa para dedemit itu suka sekali merasukimu, ha?" gumam Leo disela-sela ia menghalau serangan Shena untuk kesekian kalinya.


Karena yang Leo lawan bukanlah manusia biasa, cowok itu jadi kualahan dan ia sempat mendapat luka cakar di lengan dan punggung Leo akibat menghalau serangan Shena.


Beruntung, disaat Shena hendak menyerang Leo lagi, dengan sigap dan tangkas, pak Po menghalau serangan itu sehingga Shena terpental jauh ke belakang. Namun, gadis itu tetap kembali berdiri tegak dan berusaha menyerang Leo lagi dan lagi. Tentu saja Leo mendapat perlindungan dari pak Po sehingga iblis yang merasuki tubuh Shena kesulitan melancarkan serangannya. Pak Po dan Shena, beradu kekuatan satu sama lain.


“Pak Po, jangan sakiti Shena, dia sedang kerasukan,” seru Leo yang berdiri sambil mengamati pergerakan Shena dari balik sosok makhluk astral pasukan kakaknya, Refald.


“Saya mengerti Tuan muda, jangan khawatir,” jawab pak Po.


“Tetap pada posisimu pak Po, aku akan mendekatinya!” seru Leo lagi dan membuat pak Po terkejut.


“Jangan, Tuan muda! Itu terlalu berbahaya, makhluk itu bisa saja keluar tiba-tiba dan langsung menyerangmu, dia sangat kuat.”


“Makanya, aku minta kau melindungiku, aku harus bisa mencium Shena lagi seperti yang pernah kakakku perintahkan dulu agar ia kembali sadar.”


“Tetap saja itu terlalu berbahaya! Pangeran Refald akan datang, tunggulah sebentar lagi.” Pak Po mencoba menghalangi niat Leo.


“Aku tidak akan membiarkan iblis itu menyiksa kekasihku lebih lama lagi pak Po, apapun akan aku lakukan untuk menyelamatkan Shena.” Leo tetap bersikukuh membulatkan tekadnya menuju kearah Shena agar bisa menciumnya. “Lindungi aku! Apapun yang terjadi, jangan pernah sakiti Shena.” Leo melangkah maju ke depan dan hendak meraih tubuh Shena, tapi mata gadis itu semakin tajam menatap Leo yang mulai mendekat padanya sambil tersenyum licik.


Pak Po mulai kualahan menahan serangan Shena sembari mengamati pergerakan Leo. Diluar dugaan, Shena menyerang pak Po sehingga ia sempat terpental ke atas lalu dengan cepat melayang ke arah Leo dan langsung mencekik leher cowok itu dengan kuat sampai tubuh Leo terdorong jauh kebelakang. Leo pun membentur batang pohon besar. Ia mengerang kesakitan, tapi tetap mencoba bertahan. Leo tidak ingin menyerah begitu saja. Sekuat tenaga, ia berusaha melepas cengkeraman Shena yang sedang kesetanan itu.


“Shena, sadarlah! Ini aku, Leo!” teriak Leo.


Pak Po berusaha membantu, tapi Shena yang kerasukan iblis itu sudah terlanjur membuat penghalang sehingga sosok makhluk astral itu tidak bisa lagi masuk ke dalam dimana hanya ada Leo dan Shena saja.

__ADS_1


“Gawat!” gumam pak Po dengan ekspresi khawatir yang amat sangat.


***


Di tempat terpisah, Fey terlihat cemas karena pak Po tak jua datang kembali. Ia juga tidak tahu harus menjawab apa saat Nura bertanya tentang situasi yang terjadi saat ini. Sejauh ini, teman-teman Fey memang tidak tahu menahu soal kehidupan Fey dan dunia yang dimiliki Refald. Tidak mungkin juga Fey memberitahu Nura kalau ada sosok hantu fenomenal yang paling ditakutinya ada didepannya. Bisa-bisa Nura langsung pingsan seketika.


Untungnya, Nura lebih tertarik menikmati pemandangan alam disekitarnya daripada memerhatikan gerak gerik Fey yang sejak tadi berdiskusi dengan mbak Kun. Lebih beruntung lagi, Nura tidak bisa mendengar suara teriakan tadi karena tersamar oleh suara burung jalak yang beterbangan dimana-mana. Jadi hanya Fey dan pasukan Refald saja yang bisa mendengarnya.


“Mbak Kun, ceritakan apa yang terjadi, kenapa pak Po masih saja belum kembali, benarkah tadi itu suara, Leo?” nada suara Fey gemetar saking paniknya membayangkan adik iparnya pasti sedang mengalami kesulitan.


Mbak Kun pun membenarkan dugaan Fey dan mulai menceritakan apa yang sedang pak Po lakukan semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun termasuk kondisi Leo yang saat ini sedang terpojok.


Fey mengepalkan tangannya dan berusaha mencari cara agar bisa membantu menyelamatkan adik iparnya itu.


“Sial, kenapa aku tidak bisa menghafal semua nama pasukan Refald,” gumam Fey kesal. Ia melirik mbak Kun yang berdiri disampingnya sambil menunggu perintahnya. “Mbak Kun,” panggil Fey.


“Iya Putri,” jawab mbak Kun.


“Beritahu aku siapa saja nama pasukan Refald, cepat!” Fey langsung memejamkan mata begitu mbak Kun menyebutkan satu persatu nama-nama rekan-rekannya.


Nura yang sejak tadi berdiri dibelakang sahabatnya, semakin bergidik ngeri melihat Fey berbicara sendiri sambil membelakanginya.


“Emh, aku sedang menghafal nama ilmuwan yang akan meneliti tempat ini. Refald yang memintaku, ia tidak ingin aku salah sebut nama jika mereka datang kemari nanti,” terang Fey yang langsung disambut tawa mbak Kun. Tentu saja tanpa sepengetahuan Fey.


“Tapi aneh, aku baru tahu ada nama ilmuwan yang bernama Sutejo, Suparno, Darmen, Paimen dan nama-nama aneh lainnya. Memangnya mereka itu ilmuwan apa dan berasal dari mana? Kok aku baru dengar? Bukannya ilmuwan tuh namanya seperti Albert Einstein, Isac Newton, Phytagoras dan nama beken lainnya. Lah, ini namanya orang kampung semua, mereka ilmuwan baru atau apa?” tanya Nura dengan polosnya.


Fey hanya tertegun karena baru menyadari kalau nama-nama yang ia sebutkan tadi memang aneh bila digunakan untuk nama seorang ilmuwan.


Nah loh, bagaimana ini? mereka itu cocoknya ilmuwan apa? Aduh, mati aku! Batin Fey, ia bingung harus menjawab apa. Gadis itu melirik mbak Kun yang sudah membelakanginya untuk menyembunyikan tawanya.


“Ehm, mereka ilmuwan lokal yang ditugaskan polisi setempat untuk meneliti banjir yang terjadi di sini. Kau tidak akan mengerti," kilah Fey. "Sebaiknya, jangan ganggu aku sebentar, oke. Nanti akan aku jelaskan setelah kita keluar dari sini.” Fey pun langsung berbalik badan membelakangi Nura lagi dan melanjutkan aksinya memanggil pasukan Refald untuk datang kemari supaya membantu pak Po melindungi Leo. “Lanjutkan mbak Kun,” pinta Fey.


“Fey, kau yakin kau tidak apa-apa? Apa kau sedang kerasukan? Siapa yang kau ajak bicara? Ada apa ini? Apa yang terjadi? Fey, kau dengar aku?” tanya Nura mulai merasa aneh karena bulu kuduknya tiba-tiba saja berdiri semua.


Gadis itu tidak berani mendekati sahabatnya yang berdiri mematung didepannya. Ia merasa seolah ada sesuatu yang mengawasinya tapi Nura tidak tahu apa.


Tentu saja Fey tidak menyahut pertanyaan yang diajukan sahabatnya, ia lebih memilih berkosentrasi memanggil para pasukan Refald yang sudah mulai berdatangan dan langsung menyuruh mereka semua menuju tempat pak Po dan Leo. Tak lupa, Fey juga memanggil Refald supaya suaminya itu cepat datang kemari untuk membantunya.


Refald! Cepatlah datang! Panggil Fey dalam hati.


“Maafkan aku Nura, nanti akan aku jelaskan apa yang terjadi, untuk sementara aku harap kau diam saja dulu, oke.” Fey mencoba menenangkan Nura tetapi sudah tidak ada sahutan lagi dari sahabatnya itu.

__ADS_1


Fey menoleh ke arah belakang dan ia sangat terkejut karena Nura juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami Shena. Mata Nura berubah jadi merah menyala sambil tertawa senang menatapnya. Dalam hitungan detik, Nura yang sedang kerasukan langsung menyerang Fey dengan cepat. Mbak Kun, yang mengetahui Fey dalam bahaya, mencoba menghalau serangan itu, tapi dia kalah kuat dengan iblis yang merasuki tubuh Nura sehingga serangan itu tepat mengenai tubuh Fey tanpa bisa dihindari lagi.


Serangan dadakan itu membuat Fey terpental jauh ke belakang dan melayang di udara. Gadis itu menabrak semak-semak belukar yang dilewatinya. Lima meter dari tempat Fey melayang ada sebuah pohon besar yang siap menerima hantaman keras dari tubuhnya. Dengan kecepatan seperti ini, sudah bisa dipastikan apa yang terjadi jika sampai Fey menabrak pohon besar tersebut.


Gawat, aku tidak bisa mengontrol tubuhku sendiri, tulangku bakal remuk kalau sampai aku menabrak pohon itu, batin Fey.


Di detik-detik terakhir, hampir saja Fey mengalami luka parah akibat benturan keras kalau saja tidak ada seseorang yang langsung menghalau tubuh gadis itu dari belakang dan menghentikan kecepatan laju tubuhnya. Seseorang itu memeluk Fey dengan erat dan menurunkannya pelan sampai kaki keduanya berdiri di atas tanah. Gadis itu tahu siapa orang yang memeluknya dari belakang dilihat dari cincin pertunangan yang tersemat dijari manis tangan kanan milik seseorang tersebut.


“Refald!” seru Fey senang karena orang yang sudah ia tunggu-tunggu telah datang dan selalu disaat yang tepat. Ia berbalik badan dan tebakannya memang benar. Suaminya ini sudah ada di depan matanya.


“Kau tidak apa-apa, Honey.” Refald menatap mata istrinya dengan sejuta kecemasan.


“Ehm, aku tidak apa-apa berkat kau. Entah apa yang akan terjadi jika tubuhku membentur batang pohon itu, dan bukan membentur tubuhmu.” Fey tersenyum senang karena kini suaminya ada di sini, tapi matanya terbelalak begitu sadar kalau Leo masih dalam bahaya. “Ah, tidak! Leo!” teriak Fey sambil menatap Refald.


Refald yang sudah mengetahui situasi apa yang terjadi di sini mulai bersikap serius kembali, ia menatap tajam Nura sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Jangan sakiti Nura Refald, aku mohon,” pinta Fey yang berdiri di samping Refald.


“Kau tenang saja, Honey. Serahkan semuanya padaku. Aku akan memancingnya ke tempat Leo berada agar aku bisa mengalahkan mereka berdua sekaligus tanpa harus membuang-buang waktu. Naiklah kepunggungku!” Refald berjongkok di depan Fey.


Tanpa berkomentar lagi, Fey pun melakukan apa yang dikatakan Refald dan langsung naik kepunggung suaminya sambil berpegangan erat. Setelah memastikan bahwa Fey aman digendongannya, Refald menyerang Nura secara bertubi-tubi sampai gadis itu melayang mudur kebelakang. Refald sama sekali tidak memberi peluang Nura untuk bisa balik menyerangnya.


Tentu saja Refald jauh lebih unggul, ia bahkan tidak benar-benar menggunakan kekuatannya untuk melawan Nura agar gadis itu tidak terluka saat ia sadar nanti. Refald hanya membuat Nura bertahan dari serangannya dan tanpa Nura sadari, kini posisi mereka sudah berada diatas Leo dan Shena.


“Itu mereka!” bisik Fey pelan ditelinga Refald sementara suaminya itu sibuk meladeni Nura.


Ada pemandangan berbeda bila dilihat dari atas. Tangan Shena, tak benar-benar mencekik Leo. Kedua tangan itu hanya berhenti tepat di depan leher Leo. Shena seolah sedang berusaha keras menahan agar iblis yang merasuki tubuhnya, tak lagi menyakiti Leo.


“Refald, apa yang terjadi?” Fey mulai merasakan ada sesuatu yang terjadi dalam diri Shena.


BERSAMBUNG


***


Masih ada 1 episode panjang lagi supaya bisa menemani malam minggu kalian dengan kehaluanku yang sudah melebihi kapasitas. Ada yang lebih gila dari aku nggak ya? Mudah-mudahan ada.


Selamat menikmati dunia fantasiku.


Terimakasih untuk semua yang selama ini setia mendukungku, dan sekali lagi maaf kalau tidak bisa membalas komentar kalian satu persatu. Maaf juga jika upnya telat dan jarang nimbrung di grub chat, itu karena aktivitas di dunia nyata bikin kepalaku puyeng hehehe ... pokoknya love you all ...


__ADS_1


__ADS_2