
“Kau jangan mengada-ngada!” bentak Martha.
“Sudah kukatakan sejak awal, kalau kau tidak bakal percaya jika aku beritahu. Tapi terserah, aku tidak peduli kau mau percaya atau tidak. Tujuan utamaku datang kesini adalah ... memberimu pelajaran berharga agar tidak lagi berani mengusik kehidupan orang lain. Kau dan teman-temanmu, harus membayar apa yang sudah kalian perbuat. Lakukan mbak Kun!” Fey terus menatap tajam mata Martha yang melayang di udara.
Mbak Kun pun dengan senang hati melakukan apa yang diperintahkan Fey padanya. Sudah lama dia tidak menampakkan diri pada manusia selain Fey dan Refald.
Sambil tertawa ala ciri khas kuntilanak, mbak Kun melesat terbang menghampiri Martha yang berteriak ketakutan melihat sosok makhluk fenomenal yang menyeramkan itu.
“Tidak! Jangan mendekat! Pergi! Fey! Apa yang kau lakukan? Suruh makhluk itu menjauh dariku! Lepaskan aku!” teriak Martha sampai menangis saking takutnya melihat betapa mengerikannya wajah mbak Kun yang dilihat Martha.
Hihihihihihi... wekawekawekaweka ... hihihihi ....
Suara tertawa melengking ciri khas dari sosok mbak Kun ini benar-benar membuat bulu kuduk orang yang mendengarnya merinding ketakukan. Bahkan Martha pun langsung pingsan diudara. Sayangnya suara khas mengerikan itu hanya bisa di dengar oleh orang yang diinginkan mbak Kun. Diluar rumah ini, tidak ada yang bisa mendengar suaranya.
“Dia pingsan, Putri!” ujar mbak Kun pada Fey yang sejak tadi berusaha menahan tawa.
“Bagus malah.” Fey perlahan menurunkan tubuh Martha dan menjatuhkannya di atas tempat tidurnya. “Masuklah ke tubuhnya,” pinta Fey pada mbak Kun.
Fey memejamkan mata dan menyamarkan mobil volvo milik suaminya agar tak terlihat oleh teman-teman Martha yang sebenarnya teman sekelas Fey juga semasa mereka masih sekolah. Hanya saja, dulu Fey tidak begitu akur dengan semua teman-teman sekelasnya kecuali Yua. Sebab, Fey tidak ingin identitasnya diketahui oleh orang lain makanya ia berusaha menjaga jarak dan tidak ingin menimbulkan masalah dengan siapapun. Siapa sangka, setelah sekian lama, teman-temannya ini malah cari gara-gara.
“Baik, Putri.” mbak Kun masuk ke dalam tubuh Martha, dia langsung membuka mata setelah berhasil merasuki tubuh manusia dan bangun dari tempat tidurnya tepat disaat ada orang yang mengetuk pintu rumah Martha.
Tok tot tok!
“Martha! Kau ada di dalam? Buka pintunya!” teriak Evi dan Vike dari luar rumahnya.
“Mereka datang,” ujar Fey senang. “Buka pintunya mbak Kun, aku mau ke toilet dulu, rasanya begah sekali membawa Refald kecil kemana-mana. Aku jadi sangat merindukan ayahnya.”
“Pangeran Refald akan segera kembali setelah 2 hari Putri, bersabarlah! Saya yakin pangeran juga sangat merindukan anda.”
“Ehm, kau benar. Kita selesaikan dulu masalah ini, cari bukti sebanyak-banyaknya sementara aku akan mengalihkan perhatian mereka.”
“Baik, putri.” Mbak Kun yang kini sudah berada di dalam tubuh Martha keluar dari kamar dan membuka kunci supaya teman-teman Martha bisa masuk ke dalam.
“Lama sekali! Ada apa denganmu? Dimana Fey?” tanya Evi dan Vike langsung nyelonong masuk ke dalam tanpa tahu bahwa sosok Martha yang ada dihadapannya ini adalah makhluk astral yang menakutkan.
“Kenapa kau diam saja! Ada apa? Kenapa kau memintaku datang kesini? Dan bagaimana Fey bisa tahu rumahmu?” tanya Evi dengan gaya khas sombongnya. Wajahnya tak kalah menor dengan Martha.
Sedangkan Vike lebih sedikit feminim, tapi tetap saja ia juga terlihat sangat angkuh. Hal itu dapat diketahui dari cara pandangnya mengamati rumah Martha yang sangat sederhana dan jauh dari kesan glamor seperti yang biasa mereka pamerkan di grub chat mereka.
“Aku juga tidak tahu bagaimana pu ... ehm, maksudku ... Fey bisa tahu rumahku.” Mbak Kun hampir saja keceplosan. Untung saja dua wanita angkuh ini tidak sadar.
“Lalu ... dimana dia sekarang?” tanya Vike.
“Disini!” seru Fey yang muncul dari balik lorong.
Kedua temannya terkejut melihat Fey benar-benar ada di rumah ini. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, kondisi Fey yang sedang hamil besar.
__ADS_1
“Fey? Kau kah, itu? Kau ... sedang hamil?” tanya Vike dan Evi hampir bersamaan.
Mereka berdua saling pandang menatap Fey yang jauh terlihat seksi saat ia hamil. Penampilan Fey yang sekarang juga lebih kece dari saat ia masih SMA dulu.
“Ehm,” ujar Fey senang. “Ini kehamilan pertamaku. Bagaimana dengan kalian? Sudah berapa anak yang kalian punya?”
“Ehem,” Vike berdeham dan Evi jadi salting sendiri. Pasalnya, mereka berdua sudah lama menikah tapi belum juga dikaruniai anak. “Kami belum punya anak,” jawab Vike bangga.
“Oh iya? Sayang sekali. Padahal yang aku dengar kalian semua sudah lama menikah dibandingkan aku. Ku kira kalian sudah punya 2 atau 5 anak.”
“Aku tidak mau merusak tubuh indahku dengan hamil, Fey. Lihat dirimu, kau terlihat aneh,” ejek Evi.
“Masa sih? Tapi Refald bilang, aku sangat seksi. Sayang saja dia tidak ada disini. Kalau sampai dia mendengar kalian bicara begitu padaku, aku yakin dia tidak akan terima.” Fey menatap santai wajah-wajah angkuh didepannya.
Fey memerintahkan mbak Kun untuk segera melakukan apa yang tadi ia minta. Tentu saja tanpa sepengetahuan dua wanita yang ada dihadapan Fey ini.
Evi dan Vike tertawa terbahak-bahak karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan Fey barusan. “Sudahlah Fey, jangan tutupi lagi apa yang terjadi pada rumah tanggamu dengan Refald. Semua teman-teman kita sudah pada tahu kalau hubunganmu dengan suami kecemu itu sedang tidak baik. Bilang saja kalau kau mau cerai darinya. Aku yakin dia tidak peduli lagi padamu, suami mana yang membiarkan istrinya kelayapan kemana-mana sendirian. Sudah jelas sekali kalau kau dan Refald tidak seperti yang ada dalam gosip itu, harusnya ia sudah ada disini.”
Lagi-lagi, Vike tertawa begitu juga dengan Evi. Sementara Martha yang tidak lain adalah mbak Kun hendak menyerang dua wanita angkuh itu karena telah berani mengolok-ngolok dan menuduh Refald yang bukan-bukan, tapi Fey memelototinya dan menyuruhnya ikut tertawa juga.
Cepat tertawa! pinta Fey pada mbak Kun dalam pikirannya.
Tapi putri, mereka sudah keleweatan. Biarkan saya mncekiknya sampai mati, batin mbak Kun yang tentu saja bisa didengar oleh Fey.
Refald akan memusnahkanmu kalau kau sampai berani mebunuh manusia. Sudah biarkan saja mereka berkata apapun yang mereka suka. Aku pastikan, mereka akan menanggung akibat dari perbuatan mereka. Fey melakukan telekomunkasi dengan mbak Kun melalui pikiran dan hati mereka masing-masing.
Mbak Kun pun mengikuti apapun yang diperintahkan Fey dan terpaksa ikutan tertawa seperti Vike dan Evi, tapi tawanya menjadi aneh karena suaranya mirip lengkingan suara kuntilanak. Vike dan Evi pun langsung kaget dan berhenti tertawa seketika. Mereka berdua menatap ngeri Martha yang sejak tadi berada dibelakangnya.
Mbka Kun yang memang sedang merasuki tubuh Martha langsung terdiam, dia memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat agar ia tidak ketahuan. “Tidak, aku hanya terlalu senang, apa tertawaku aneh?” tanyanya pura-pura tidak mengerti.
“Aneh, kau itu seperti sedang kesurupan kuntilanak,” jawab Evi dengan ketus.
Tanpa ia tahu tangan Martha yang tidak lain adalah mbak Kun sedang menahan geram pada Evi. Kalau saja Fey tidak melarangnya, mbak Kun pasti sudah keluar dari tubuh Martha dan menakut-nakuti wanita sombong itu sampai pingsan.
Awas kau! Batin mbak Kun penuh dendam.
Fey tersenyum karena tebakan Evi memang benar. Marta sahabatnya, sedang kerasukan Kuntilanak sungguhan.
“Wuah, kau membuat kesalahan besar dengan menyebut hantu fenomenal itu, Vi. Sebaiknya ... kau tidak sendirian jika malam tiba.” Fey mulai menakut-nakuti Evi. Selain itu, ucapan Fey seolah perintah bagi mbak Kun untuk membuat perhitungan dengan dua wanita sombong ini.
“Kenapa?” bentak Evi ketus.
“Bisa saja ... hantu yang kau sebutkan tadi datang menemuimu dan menghantuimu karena kau sudah berani menyebut nama bekennya.” Nada bicara Fey terdengar menakutkan sampai bulu kuduk Evi dan Vike berdiri. Mereka berdua mulai bergidik ngeri.
“Kau jangan menakut-nakutiku!” bentak Evi langsung. “Aku bukan anak kecil lagi, kau pikir aku percaya padamu?”
“Ya sudah, aku hanya mengingatkan,” ujar Fey masih terlihat santai dan itu membuat Vike semakin geram.
__ADS_1
“Sebenarnya, apa tujuanmu datang kesini? Apa kau sedang mencari suamimu? Siapa tahu dia juga selingkuh dengan Martha?” Vike mulai menyerang Fey lagi agar ia sakit hati.
“Tidak, aku datang karena aku merindukan Martha. Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu. Aku kemari karena aku yakin bisa menemukan Martha disini. Dan benar saja, ternyata dia ada disini. Tapi ... apa kau tidak merasa aneh? Seorang Martha yang biasanya tampil glamor di grub chat, rumahnya ternyata sederhana sekali, ya? Pasti dia sedang berhemat agar bisa berfoya-foya dengan kalian.” Fey tersenyum setelah mengucapkan sindiran sarkasme yang menusuk jantung dua wanita angkuh itu.
Mereka menatap tajam Fey yang seolah tahu semua rahasia mereka bertiga, termasuk kelemahan Martha. Dua wanita songong itu khawatir Fey juga mengetahui rahasia keduanya yang sudah mereka tutupi rapat-rapat. Namun, selama Fey tidak menyinggung masalah yang berhubungan dengan mereka berdua, Vike dan Evi menganggap Fey masih belum tahu rahasia mereka.
Sedangkan Fey sendiri sama sekali tidak terpengaruh dengan olok-olokan yang dituduhkan mereka tentang dirinya dan Refald, Fey justru terlihat sangat tenang. Tidak ada kemarahan sama sekali diwajahnya. Kalau orang lain, pasti sudah kalap dan mengamuk seperti orang gila karena sudah dituduh yang bukan-bukan, tapi Fey berbeda. Ia malah bersikap biasa saja seolah tak pernah terjadi apa-apa.
“Baiklah, karena aku sudah bertemu dengan Martha dan kalian semua, aku permisi dulu. Sampai jumpa diacara reruni lusa nanti. Bye! Ah ... dan ingat kata-kataku tadi, usahakan kalau malam ... kalian jangan sendiri, mengerti!” Fey menyeringai mencurigakan. Ia berjalan pelan meninggalkan rumah Martha.
Fey sangat bersyukur memiliki sebagian kecil kekuatan Refald. Volvo silver yang tadi ia parkir di depan rumah Martha, dengan mudah ia pindahkan kepinggir jalan utama yang tak terlihat dari rumah Martha. Hal itu Fey lakukan untuk mengecoh Vike dan Evi tentang kehidupan Fey selama ini.
Di grub chat, Fey tak pernah pamer kekayaan atau barang-barang mewah lainnya seperti teman-teman sombongnya itu walau Fey memiliki segalanya karena Refald benar-benar memanjakannya. Bahkan ia tak pernah mengirimkan fotonya dimanapun ia berada baik saat ia diluar negeri atau saat masih di dalam negeri seperti yang lainnya. Fey hanya sesekali nimbrung jika ada temannya saja, diluar itu ia cukup menyimak obrolan mereka. Alhasil, tidak ada yang tahu seperti apa kehidupan Refald dan Fey sebenarnya setelah mereka lulus kecuali sahabat dekat Fey.
***
Setelah Fey pergi, tiba-tiba saja Martha pingsan. Hal itu karena mbak Kun sudah keluar dari tubuh Martha setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Mbak Kun bergegas menemui Fey yang sedang menunggunya di dalam mobil volvo milik Refald.
“Martha! Kau abik-baik saja?” seru Evi menepuk-nepuk kasar pipi temanya sampai Martha tersadar dari pingsannya. Begitu Martha sadar, ia langsung bergidik ngeri ketakutan.
“Dimana kuntilanak itu?” tanya Martha panik bercampur takut. Ia menggamit lengan Vike yang berada disampingnya.
“Kau ini kenapa, ha? Ada apa denganmu?” tanya Vike sambil menepis kasar tangan Martha.
“Wah, jangan-jangan kau memang benar-benar kerasukan,” ujar Evi.
“Dimana Fey? Apa dia sudah pergi? Sebaiknya jangan ganggu dia lagi, dia bukan manusia. Aku yakin dia manusia jadi-jadian. Aku harus memberitahu Refald supaya menjauhi si ratu setan Fey. Kalian harus bantu aku agar bisa bertemu dengan Refald secara langsung,” ujar Martha. Kedua temannya itu bingung dan menganggap Martha sedang ngigau.
“Kau jangan bicara sembarangan? Apa maksudmu? Kau ini aneh sekali, segitu tergila-gilakah kau pada Refald sampai jadi ngelantur gitu? Aku kasihan padamu. Jelas-jelas Refald tidak akan pernah mau melirikmu tapi kau tetap saja mengharapkannya.”
“Tapi aku tidak bohong! Sungguh! Fey bukan manusia!” pekik Martha berusaha meyakinkan teman-temannya.
“Sudahlah, kami tidak punya waktu untuk mengurusi mimpi konyolmu itu. Kami pergi dulu!” ujar Vike dan Evi hendak bersiap pergi.
“Bawa aku bersama kalian, aku tidak ingin tinggal disini lagi!” pinta Martha.
“Nggak! Ini kan memang rumahmu? Kenapa kau ingin tinggal dengan kami? Aku nggak mau tinggal sama kamu! Enak, saja!” cetus Vike begitu juga dengan Evi.
“Ayolah, kalian kan temanku. Masa sama teman sendiri kalian tega meniggalkan aku disini sendiri?”
“Kau punya rumah, ngapain tinggal dengan kami, ini rumahmu! Kalau kau tidak betah disini, jual saja rumah ini dan belilah yang baru! Gampang, kan? Dasar aneh!” Evi pergi diikuti oleh Vike.
“Masalahnya aku tidak punya surat-surat tanahnya. Kalau punya sudah aku jual dari dulu.”
“Itu urusanmu! Bukan urusanku, awas saja kalau kau meneleponku dan menyuruhku kemari lagi hanya untuk mengurusi masalahmu, akan aku cincang kau! Ayo pergi Vik,” ajak Evi.
Dengan gaya sombongnya, keduanya meninggalkan Martha sendirian di rumahnya. Entah apa yang ada dipikiran Martha sehingga mau saja berteman dengan wanita-wanita angkuh yang tidak bisa menghargai orang lain.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***