Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 252 Hilangnya Kekuatan Refald


__ADS_3

Seperti yang sudah diprediksikan Refald, Leo memang sedang menghadapi bahaya besar saat melakukan misi penyelamatan istri dan anak penyelamatnya, yaitu Zian. Ketika memasuki ruang bawah tanah dan mengalahkan beberapa penjaga rumah, Leo tak sengaja terjebak dalam perangkap yang dibuat Alex dirumahnya. Begitu si gengster nggak ada akhlak itu membuka pintu untuk menyelamatkan Rama, sebuah bom waktu waktu sudah terpasang di ruangan itu. Dalam hitungan menit, bom tersebut akan meledak secara otomatis.


“Sial!” umpat Leo dengan kesal menyadari bahwa ada banyak sekali bom peledak didalamnya.


Bom tersebut sengaja ditimer, Leo hanya punya waktu 15 menit untuk menyelamatkan diri dari tempat ini. Dengan cepat, Leo berlari menyelamatkan Rama. Ia melepas semua tali yang melilit ditubuhnya. Waktu terus berjalan dan Leo berusaha mencari jalan keluar. Tak terasa, kini tinggal 5 menit lagi sebelum bom itu meledak.


“Sudah tidak ada waktu lagi,” gumam Leo, ia mengamati sekeliling untuk mencari jalan pintas dan benar saja, di pojok sebelah kanan dinding ruangan ini, ada sebuah pintu kecil.


Tanpa membuang waktu Leo mendobrak pintu tersebut dengan kakinya berkali-kali sampai terdengar bunyi 'brak' yang amat sangat keras.


Brakk! Brak! Brak!


Tendangan terakhir dari Leo sukses menghancurkan pintu tersebut. Pintu kecil itupun terbuka dan ternyata, itu adalah sebuah lorong jalan Rahasia. Kurang 1 menit lagi bom itu akan meledak, Leo menyuruh Rama masuk ke dalam lorong rahasia itu.


“Cepat, masuklah! Kita sudah tidak punya waktu lagi!” teriak Leo pada Rama.


“Tapi ... aku ... tidak bisa berjalan,” ujar Rama lirih.


Leo menatap tubuh Rama yang masih duduk diatas kursinya. Sudah lama pria ini disekap oleh Alex di tempat mengerikan ini. Wajar kalau sekarang orang itu tiak bisa berjalan. Tubuhnya pasti sudah mati rasa. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Leo berjalan cepat dan membungkuk dihadapan Rama.


“Naiklah ke punggungku! Cepat! Kita tidak punya banyak waktu kecuali kalau kau ingin mati disini.”


“Kita memang kehabisan waktu. Lihatlah bom itu!” Rama dan Leo sama-sama memerhatikan waktu yang terus berjalan. Tinggal beberapa detik lagi bom tersebut akan meledak dan Leo hanya menyasikannya dalam diam.


“Tamatlah sudah riwayatku, aku bahkan belum menikah. Hedeuh, padahal aku ingin sekali merasakan seperti apa rasanya melakukan malam pertama,” gumam Leo di detik-detik bom itu akan meledak. Dalam keadaan antara hidup dan mati si gengster itu sempat-sempatnya memikirkan malam pertama. Memang dasar nggak ada akhlak.


“Dasar otak mesum! Bisa-bisanya kau bicara seperti itu padahal maut sudah siap menjemputmu! Bikin malu saja!” ujar seseorang yang tidak lain adalah Refald.


“Kakak! Syukurlah kalau begitu, tadinya aku tidak rela meninggalkan Shena sendirian dan harus mengikhlaskan dia bersama dengan pria lain ... adaowww! Kenapa kau suka sekali menjitak kepalaku?” teriak Leo pada Refald.


“Kau itu berisik sekali. Mengganggu konsentrasiku saja. Cepat pergi dari sini! Biar aku yang menghentikan bom itu.” Refald tiba-tiba saja muncul dihadapan Leo sehingga membuat Leo dan Rama tercengang.


Kalau Leo sih sudah tidak keget lagi dengan hadirnya Refald yang mirip dengan jelangkung itu, tapi tidak dengan Rama. Ia masih belum bisa mengerti dengan apa yang ia lihat. Seorang manusia, bisa menghentikan bom waktu entah bagaiman caranya? Harusnya sekarang bom itu sudah meledak. Tapi sampi detik ini, bom itu malah berhenti berdetak. Itu sungguh tidak mungkin dan pastinya sangat sulit dipercaya.


“Ba-bagaimana ... bi-sa ... itu terjadi?” tanya Rama agak sedikit gugup. Ia terus menatap Refald dengan pandangan yang sangat sulit dipahami.


“Leo, pastikan orang itu tidak memberitahu siapapun soal ini. Cepatlah pergi dari sini! Aku tidak bisa menahannya lama-lama,” ujar Refald sambil terus menatap bom waktu yang berhasil ia hentikan agar tidak meledak. Seketika timer bom yang tadinya berjalan, mendadak berhenti tak berdetak lagi.


“Baik, aku mengerti.” Leo meminta Rama cepat naik ke punggungnya. Leo sangat tahu, sudah tidak ada waktu lagi.


Walau masih dalam keadaan shock, Rama tetap berusaha naik ke atas punggung Leo dan keduanya langsung bergegas masuk ke dalam pintu rahasia yang tadi di dobrak Leo.


“Tunggu! Bagaimana dengan kakakmu?” tanya Rama saat berada dalam gendongan Leo.


“Dia tidak akan mati! Kau tenang saja.” Leo berlari secepat mungkin dan akhirnya ia sampai disebuah tangga besi yang terhubung keatas.


Leo menaiki tangga itu dan membuka paksa pintu kecil yang berbetuk lingkaran dengan kekuatan tangannya. Syukurlah pintu itu bisa terbuka dan mereka berdua berhasil keluar dari pintu yang ternyata merupakan lubang tempat saluran air. Lebih beruntung lagi lubang pintu tersebut muat untuk Leo dan Rama yang memang memiliki postur tubuh ramping. Mereka baru sadar kalau jalan rahasia tadi terhubung dengan jalan utama. Keduanya langsung terduduk lemah di pinggir jalan aspal setelah melalui adegan menegangkan tadi. Dan tiba-tiba ...


Duaaaarrrr!


Terdengar suara ledakan dahsyat diikuti api yang berkobar hebat. Bahkan dari tempat Leo berada, getarannnya sangat kuat terasa. Leo dan Rama hanya tertegun menyaksikan ledakan itu. Siappaun yang ada didalamnya, pasti tidak akan bisa selamat.


“Bagaimana dengan kakakmu? Dia ... masih ada disana?” ujar Rama mulai panik, meski ia tidak tahu siapa Leo dan orang yang mengorbankan nyawanya tadi, tetap saja Rama jadi merasa berhutang budi.


Sementara Leo sendiri hanya diam terpaku menyaksikan ledakan bom itu. Leo tahu, tindakan Refald bisa beresiko berat untuknya. Kakaknya itu sudah menentang takdir yang artinya, Refald sudah kehilangan kekuatannya dan menjadi manusia biasa.


“Terimakasih Kakak,” gumam Leo lirih dan ia pun langsng menghentikan taksi yang lewat disekitarnya. “Kita harusa bergegas keruang sidang,” seru Leo tanpa menjawab apapun yang dikatakan Rama terutama soal Refald.

__ADS_1


“Kau tidak peduli pada kakakmu?” tanya Rama tidak percaya bahwa Leo bisa bersikap setenang itu apalagi setelah tahu apa yang dilakukan kakak Leo demi menyelamatkan mereka berdua.


Leo memejamkan mata dan berusaha bersikap tenang. “Dengarkan aku baik-baik, kalau kau tidak tahu apapun soal kami, sebaiknya kau diam dan tutup mulut saja. Jika sampai ada orang lain tahu apa yang terjadi disini, maka kau aksn mati. Kakakku, bukan orang sembarangan seperti yang kau pikirkan, ia langsung tahu kalau sampai kau buka suara.”


Leo menatap tajam mata Rama untuk meyakinkan bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya. Cowok itu membuka pintu taksi dan membantu Rama masuk kedalamnya. Merekapun lansgung pergi kepengadilan dalam diam untuk menyelamatkan Zian.


“Terimaksih, sudah menyelamatkanku,” ujar Rama membuka kesunyian saat keduanya berada di dalam taksi. “Dan sampaikan maafku pada kakakmu jika dia masih hidup. Aku akan menjaga rahasia ini sampai mati.”


“Ehm, akan aku sampaikan nanti kalau aku bertemu dengannya.” Leo menatap lurus jalan yang ada didepannya. Kali ini, ia memikirkan Shena. Semoga kekasihnya itu baik-baik saja.


***


Kembali ke masa tegang Refald. Setelah memastikan Leo sudah berada ditempat yang aman, Refald memanggil pak Po untuk segera membawanya pulang kembali kerumah pamannya alias rumah Leo sendiri dimana sudah ada Fey disana.


Begitu Refald melepaskan kekuatannya, pak Po langsung berteleportasi membawa Rafald pergi dari tempat itu bersaaman dengan meledaknya bom tersebut. Suara dentuman keras terdengar menggelegar ditelinga dan tentunya mengakibatkan kepanikan dimana-mana. Dalam sekejap, suasana berubah mencekam dan menakutkan. Refald bahkan sempat mendengar suara jeritan Shena yang salah paham dengan keselamatan Leo. Namun, tidak ada yang bisa Refald lakukan selain membiarkan Shena salah paham sementara. Setidaknya, untuk saat ini, Leo selamat dari kematian.


Dalam sekejap, Refald sudah berada di tempat tidur sebagai manusia biasa seperti yang sudah ia perdiksikan sebelumnya. Refald telah kehilangan kekuatannya kerena mengubah takdir Leo dari kematian.


“Pergilah pak Po, aku baik-baik saja.” Refald berbaring di tempat tidur dalam keadaan lemah tak berdaya.


Tak berselang lama, Feypun datang dan membuka pintu kamar. Ekspresinya langsung tegang begitu melihat suaminya sudah terbaring lemah di atas tempat tidur. Begitu melihat Fey masuk, pak Po pamit undur diri dan kembali menemani Di yang masih berada di Swiss.


“Kau tidak apa-apa suamiku?” tanya Fey dengan cemas.


“Cepat lakukan apa yang aku katakan kemarin Honey,” pinta Refald lirih.


“Ehm, baiklah. Buka bajumu, ataa aku sendiri yang buka?” Fey masih ragu-ragu. Masa iya mereka berdua harus melakukannya sekarang.


“Apa?” tanya Refald tidak mengerti kenapa istrinya itu memintanya membuka baju.


“Bukankah kau butuh nutrisi setelah kehilangan kekuatan?” tanya Fey untuk memastikan.


“Kalau begitu, ayo cepat kita lakukan supaya kau bisa kembali kuat.” Tanpa malu lagi, Fey membuka pakaiannya satu persatu dihadapan Refald dan membuat suaminya itu malah semakin bingung.


“Apa yang kau lakukan, Honey?” tanya Refald. “Kenapa kau melepas semua pakaianmu?”


“Apanya yang apa? Sudah jelas, kan? Aku akan memberimu nutrisi seperti yang biasa kau minta.” Fey menatap heran wajah suaminya yang bingung seperti orang linglung.


Refald langsung menghela napas panjang. Sudah ia duga, istrinya ini telah salah paham padanya. “Honey, nutrisi yang kumaksud adalah nutrisi dari makanan yang aku makan. Aku manusia biasa sekarang, aku tidak punya kekuatan apapun. Yang kubutuhkan saat ini adalah makanan kerena tenagaku sudah terkuras habis. Tubuhku sangat lemah, aku tidak punya tenaga untuk bercinta denganmu. Bangun saja aku tidak kuat dan aku sangat lapar sekarang.” Refald menjelaskan dengan nada suara lirih. Napasnya juga mulai tersengal-sengal.


“Apaaa?” pekik Fey langsung. Mendengar penjelasan Refald barusan membuat wajah Fey berubah merah padam antara malu dan juga kesal. Ia merasa jadi orang bodoh di depan Refald. “Kenapa kau tidak bilang padaku, ha?” teriak Fey, sungguh ia tidak tahu harus bagaiamana sekarang. Buru-buru Fey memakai kembali pakaiannya dengan gugup dan enggan menatap suaminya lagi.


“Kau bilang kau sudah tahu, ya sudah aku pikir kau memang benar-benar tahu!” Refald membela diri.


“Haishh, kau ini menyebalkan sekali!” Fey memakai pakaiannya dengan cepat supaya bisa melarikan diri dari seyuman Refald.


“Kalau saja aku punya tenaga sedikit saja, aku pasti sudah menubrukmu, Honey. Sayang saja aku tidak punya, bahkan untuk tertawa saja susah.”


“Kau menydihkan sekali! Aku kesal padamu!” bentak Fey dan ia pun bergegas keluar dengan cepat.


“Honey, kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku sendirian disini,” pekik Refald tapi ia tidak punya tenaga untuk berteriak.


“Kau bilang kau lapar? Akan aku ambilkan makanan untukmu!” Fey benar-benar Sewot dengan Refald.


“Tapi ...” belum sempat Refald melanjutkan kata-katanya, istrinya sudah menghilang dari balik pintu dan menutup daun pintu tersebut dengan sangat keras sehingga terdengar bunyi ‘braak’.


“Hadeuhh ... dia kan bisa meminta pelayan yang ada di rumah ini untuk mengambilkannya untukku. Dan juga ... harusnya dia memberikan satu ciuman saja.” Refald memejamkan mata merasakan tubuhnya yang baru menjadi manusia biasa. Rasanya sangat lelah dan semua ototnya berasa kaku. “Huh, aku jadi manusia lagi.”

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu terbuka dan Refald mengira itu adalah Fey. “Honey,” panggil Refald seketika tapi ia langsung kecewa karena yang datang bukanlah istrinya. Melainkan pamannya, Byon Pyordova.


“Istrimu sedang menyiapkan banyak makanan kesukaanmu. Aku sudah minta dia agar pelayan saja yang mengerjakan, tapi istrimu itu tetap bersi keras ingin menyiapkannya sendiri. Kau sangat berutung memiliki istri luar biasa seperti Fey,” ujar Byon yang duduk di samping Refald.


“Paman benar. Aku akan sangat menyesal seumur hidupku jika waktu itu tidak mendengarkan saran paman agar aku mengejar cintaku kembali. Bagiku, Fey adalah segalanya. Sama seperti bibi Biyanca bagi Paman, dan Shena bagi Leo. Huh, kita semua punya kisah cinta yang unik.” Refald berusaha memaksakan diri tersenyum disaat ia sudah tidak punya tenaga lagi.


“Itulah keunikan keluarga kita, setiap anggota keluarga punya kisah cinta masing-masing. Dan semuanya kisahnya sangat menarik. Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Byon penuh perhatian. Ia juga sudah menganggap Refald seperti putranya sendiri.


“Aku baik-baik saja Paman, ini bukan pertama kalinya aku kehilangan kekuatanku. Dalam waktu 2 bulan, kekutanku akan kembali. Paman jangan khawatir.”


“Terimaksih sudah mau menjaga Leo dan rela melakukan apa saja untuk melindunginya, Refald. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya saja kau tidak ada.”


Refald memerhatikan ada raut kesedihan di wajah seorang mantan mafia yang paling ditakuti ini. Diluar, ayah Leo memang terlihat sangar dan menakutkan, tapi sebenarnya ia dalah sosok pria yang berhati lembut. Segarang apapaun dia di dunia mafia, Byon Pyordova tetaplah seorang suami dan ayah yang baik.


“Paman tidak perlu berterimakasih, sudah tugasku melindungi semua keluarga kita. Itulah kenapa aku diberkati kekuatan yang tidak dimiliki oleh anggota keluarga lainnya. Dan dibalik kekuatan yang besar, tersimpan tanggung jawab yang besar pula. Paman jangan merasa bersalah ataupun bersedih karena hal semacam ini. Pikirkan bahwa sebentar lagi, Paman akan mempunyai cucu jika si sableng itu jadi menikah hari ini.”


Byon tertawa kecil mendengar ucapan Refald. “Kau benar, sebentar lagi aku bisa membayar hutang budiku pada sahabat terbaikku dengan menjadikan putrinya sebagai menantuku. Kau tahu betapa bahagianya aku saat ini. Cepatlah pulihkan tenagamu dan bantu aku mengurus si cecunguk gila itu. Aku sangat bangga padamu Refald. aku rasa, kau yangsekarang sudah melebihi kami semua. Aku yakin, kakak ipar juga bangga padamu. Aku pergi dulu,” ujar Byon sambil mengusap lembut kepala Refald.


Byon sangat menyayangi Refald sejak anak itu masih kecil. Dan Refald sendiri, lebih nyaman bertukar pikiran dengan Byon daripada dengan ayahnya sendiri yang selalu sibuk dengan para kriminal. Sebaliknya, Leo malah lebih dekat dengan ayah Refald karena setiap kali pamannya itu mengunjungi Leo, ia selalu membawakan senjata mainan kesukaan Leo. Bahkan Leo juga pernah belajar menembak dari ayah Refald.


Alasan kenapa Leo menjadi penembak jitu tak terkalahkan, karena ia dilatih oleh 3 orang besar dengan keterampilan mereka masing-masing. Teknik menembak Leo adalah gabungan dari ketiganya, yaitu Refald, Byon dan ayah Refald atau yang dikenal kolonel Dilagara.


Byon keluar dari kamar Refad bertepatan dengan Fey yang datang membawa banyak makanan untuk suaminya. Tentu saja dibantu oleh para pelayan Byon.


“Paman mau pergi?” sapa Fey.


“Aku harus bersiap-siap menghadapi adik iparmu. Dia pasti bakal bikin ulah.” Byon tersenyum dan menepuk pelan bahu Fey lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Fey berjalan palan dan meletakkan makannan untuk Refald diatas meja. Gadis itu membantu suaminya bersandar disandaran kasur. Dengan telaten, ia menyuapi suaminya pelan-pelan.


“Makanlah yang banyak. Kalau masih kurang, aku bisa membuatkan lagi untukmu,” ujar Fey sambil tersenyum manis pada suaminya.


“I love yuo, Honey.” tiba-tiba saja Refald bersikap romantis pada istrinya.


“I love you too,” balas Fey sambil tersenyum.


“Kenapa kau terlihat cantik sekali?”


“Huh, kau mulai merayuku?” Fey masih menyuapi suaminya.


“Tidak, kau memang terlihat sangat cantik. Setiap hari, kau bertambah semankin cantik.”


“Hentikan gombalanmu, Refald. Aku jadi merasa aneh kalau kau berkata begitu.”


“Kenapa? Harusnya kau senang, Honey. Aku memujimu.”


“Sudah kubilang, rasanya aneh saja. Jangan banyak bicara lagi! Habiskan dulu makanannya dan istirahatlah supaya tenagamu cepat pulih kembali.”


Refald hanya menatap wajah istrinya, tanpa Fey duga, Refal memeluk Fey dengan sangat erat sambil berkata, “Terimakasih sudah hadir dihidupku, Honey.”


BERSAMBUNG


***


Ini adalah detail kejadian yang terjadi di kisah playboy jatuh cinta. Yang masih ingat kisah Leo pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Episode berikutnya tidak aku ceritakan kembali karena di Leo sudah ada. Setelah pesta resepsi pernikahan Leo, Refald kembali ke Swiss bersama Fey dan mulai masuk adegan fantasi lagi. Karena partnya panjang semoga tidak akan bosan ya ... terimakasih buat semua yang sudah mendukung semua karyaku. Love you all ...


__ADS_1


wajah bingung Refald saat Fey memintanya melepas baju wkwkwkwk..


__ADS_2