Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 40 Janji Refald


__ADS_3

Begitu rapat selesai, acara penyampaian materipun langsung di mulai. Para pembicara yang terdiri dari beberapa alumni ikut memberikan materi pada peserta. Sementara yang lainnya menyiapkan acara selanjutnya.


Saat semuanya sibuk dengan tugas dan kewajiban mereka masing-masing, aku mencari-cari keberadaan Refald yang tiba-tiba saja menghilang begitu saja bak di telan bumi.


Aku melihat sekeliling tapi tidak bisa menemukannya. Para petugas perhutani yang tadi ku lihat juga sudah tidak ada di sini lagi.


"Ke mana mereka semua pergi?" gumamku sambil mencari-cari mereka.


"Kau sedang apa?" tanya Yua yang tiba-tiba saja sudah berdiri disebelahku.


"Tidak apa-apa? Kau istirahat saja, mumpung yang lain masih mengikuti acara."


"Tidak! Aku bosan, dan juga tidak nyaman."


Aku mengerti maksud Yua, mana bisa dia nyaman satu tenda dengan kekasih orang yang paling dia sukai.


"Nanti malam tidurlah di tendaku dengan yang lainnya."


"Benarkah?" Yua tampak senang. "Apa masih ada tempat ditendamu?"


Aku hanya menatap Yua sambil tersenyum. Sebenarnya, tendanya sudah penuh. Tapi melihat Yua tersiksa seperti itu, aku jadi tidak tega.


"Tentu saja ada. Mia dan Nura juga ada di sana, tapi hati-hati jika tidur dengan Nura. Ia sangat berisik, karena dengkurannya sangat keras."


Yua tersenyum, begitu juga denganku.


"Aku dengar Refald ada di sini? Di mana dia sekarang?"


"Aku tidak tahu, aku juga sedang mencarinya. Padahal tadi dia ada di sini?"


"Berarti gosip itu benar."


"Gosip?" aku menatap Yua. "Apa maksudmu?"


"Kalau suamimu ada di sini." ucap Yua sambil tersenyum. "Awalnya aku tidak mengerti maksud ucapan mereka, aku kira kau baru saja menikah karena yang lain menyebut-nyebut suamimu. Tapi, setelah ku tanyakan pada Mia, suami yang mereka maksud ternyata adalah Refald. Jadi aku mengerti."


"Ini pasti gara-gara para alumni tukang resek itu. Mereka yang menyebarkan gosip yang bukan-bukan."


"Jadi sekarang kalian resmi pacaran? Bukan pura-pura lagi?"


Aku hanya meringis saja melihat Yua.


"Syukurlah... aku turut senang untukmu. Kau dan Refald memang serasi. Sejak awal aku sudah menduga bahwa kalian memang ditakdirkan bersama."


"Terima kasih, Yua ... kau sahabat terbaikku!"


"Selamat berbahagia, Fey ... lalu, apa rencana kalian selanjutnya?"


"Ehmmmm, aku belum memikirkannya," ujarku jujur.


Aku sungguh tidak tahu harus berkata apa lagi. Sebenarnya, aku sangat senang Refald kembali dengan berbagai fakta yang mencengangkan. Ingin rasanya berbagi kebahagiaan dengan Yua, tapi aku tidak bisa mengatakannya saat ini. Waktu dan situasinya sangatlah tidak tepat.


Sangat tidak enak kalau membicarakan kebahagiaanku dengan sahabat yang sedang patah hati akut. Yua diposisi yang tidak begitu menyenangkan saat ini. Aku tidak ingin membuatnya terus-terusan tersiksa dan tersakiti seperti ini.


Aku harus mencari cara untuk memisahkan Epank dengan Via. Tapi, bagaimana caranya? Refald tidak memberikan komentar apapun setelah tahu kebenarannya. Aku jadi bingung apa yang harus aku lakukan selanjutnya.


Aku melihat Yua menatap sesuatu yang sudah bisa kutebak apa yang dia lihat jika dia berekspresi seperti itu. Kebersamaan Epank dan Via pasti membuatnya terluka. Aku yakin Via sengaja bersikap sok romantis di depan semua orang yang ada di sini.


Gadis tengil itu benar-benar menyebalkan! Dasar serigala berbulu kuda! Aku tidak bisa membiarkan ini! Lihat saja nanti!


Aku menutup mata Yua dengan tanganku saat air matanya hampir saja jatuh. Ia menoleh padaku dan aku menggenggam erat tangannya lalu mengajaknya pergi dari sini. Hanya ini yang bisa kulakukan pada Yua. Aku akan selalu memberinya dukungan agar rasa sakitnya melihat orang yang di cintainya beradu kasih dengan musuhnya itu berkurang. Ah ... bukan, bagaimanapun juga, Via adalah teman sekelas kami. Yua harus tetap kuat.


Aku membantu Yua untuk pindah tenda dan langsung menyuruhnya istirahat ditendaku. Sementara itu, aku harus mengurus beberapa hal untuk kegiatan yang akan dilakukan besok.


****


Malampun akhirnya tiba. Aku masih belum juga melihat Refald lagi. Pergi ke mana dia? Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa ia suka sekali membuatku khawatir.


"Fey! Kau tidak tidur?" tanya Mia.


"Kau tidurlah dulu, nanti aku akan menyusul. Aku akan memeriksa beberapa tempat dulu.


"Baiklah, aku duluan!" Mia meninggalkan aku dan masuk ke dalam tenda.


Akhirnya semua kegiatan hari ini selesai juga. Semua teman-temanku sepertinya kelelahan. Jadi, mereka langsung pergi tidur di tenda masing-masing setelah acara makan malam selesai. Begitu juga dengan para peserta PA lainnya. Mereka juga langsung dihimbau untuk segera beristirahat karena besok kegiatannya akan jauh lebih berat dari hari ini.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alex. ia berdiri di sampingku yang juga ikut memerhatikan tenda yang ada di sekeliling kami.


"Aku hanya memastikan mereka semua beristirahat tanpa menimbulkan kegaduhan."


"Istirahatlah, biar kami saja yang patroli. Itu sudah jadi tugas kami di sini," ucapnya seraya pergi meninggalkan aku sendiri.


Kak Alex memang orang yang baik dan sangat disiplin serta bertanggungjawab dengan apa yang dia kerjakan. Tidak heran jika dia dijuluki pangeran Pecinta Alam yang terkenal ramah dan bijaksana. Bawaannya yang tenang, menambah kesan kharismatik pada dirinya.


"Kak Alex!" aku mencoba memanggil Alex kembali. Ia menoleh kearahku yang mulai beranjak menghampirinya. "Apa kakak melihat Refald?" tanyaku setelah berada didepannya.


"Istri macam apa kau ini? Suami sendiri tidak tahu ada di mana?"

__ADS_1


"Dia bukan suamiku, Kak! berhentilah memanggil seperti itu, kami juga belum menikah!" aku jadi dongkol karena terus-terusan dijuluki istri Refald.


"Tapi kalian sudah bertunangan, cepat atau lambat kalian akan menjadi suami istri. Apa bedanya!"


"Itu sangat berbeda, Kak!"


"Bagiku itu sama saja!"


"Ya sudah kalau Kakak tidak tahu!" aku berlalu pergi meninggalkan Alex dengan wajah super duper kesal.


"Aku tahu!" teriak Alex. Aku berbalik menghadapnya lagi.


"Di mana?"


"Di belakangmu"


Aku langsung tertawa. "Kakak jangan membodohiku dengan lelucon seperti itu."


"Ya sudah kalau tidak percaya!" Alex mengucapkan itu sambil pergi meninggalkanku.


Saat ia melewatiku dan aku berbalik arah mengikutinya, Aku melihat Refald sudah berdiri di sana. Tepat di belakangku.


Alex berjalan semakin dekat ke arah Refald. "Dia tidak percaya kalau kau ada di sini dari tadi." ucapnya pada Refald. "Kau suka sekali membuat istrimu khawatir." ia menepuk pundak Refald yang berdiri menatapku, lalu pergi meninggalkan kami.


Aku pun menatap Refald dengan perasaan lega. Syukurlah kalau dia tidak apa-apa. Aku sungguh mencemaskannya.


Refald menghampiriku. Ia meraih tanganku dan menuntunku untuk duduk di dekat api unggun. Aku tahu tujuan Refald adalah supaya aku tidak kedinginan, karena semakin malam, udara di sini semakin dingin. Bahkan aku bisa melihat sendiri udara yang keluar dari hembusan nafasku.


"Dari mana saja kau? Kenapa tadi menghilang?" tanyaku saat kami duduk bersama.


"Apa maksudmu?"


"Aku melihatmu tadi. Berdiri di dekat pintu masuk. Apa yang kau lakukan di sana? Dan apa yang membuatmu sewaspada itu melihat petugas perhutani?" tanpa sadar aku sudah menginterogasi Refald.


"Pertanyaanmu banyak sekali! Kau sudah makan?" sepertinya Refald berupaya mengalihkan pembicaraan.


"Sudah! Bagaimana denganmu?"


"Aku juga sudah! Jangan khawatirkan aku."


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Darimana kau beberapa jam terakhir ini?" Refald hanya diam dan menatapku penuh makna yang sama sekali tidak ku mengerti. "Ada apa? Apa lukamu baik-baik saja?" aku mencoba menebak.


Refald menggeleng. "Semoga baik-baik saja?"


"Kau tidak jadi membuka perbannya? Ada apa sebenarnya?"


"Apa? Tapi ... kenapa?"


"Karena ... aku merasakan ada sesuatu yang buruk. Aku tidak bisa meninggalkanmu. Aku sudah janji padamu. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi."


"Tapi ...."


"Itu sudah keputusanku. Suka atau tidak suka, aku akan berada di sisimu." Refald menyelaku sebelum aku menyelesaikan kalimatku.


Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Refald saat ini. Ia terlihat mewaspadai sesuatu yang tidak bisa kumengerti. Sebenarnya aku ingin bertanya padanya, tapi, entah kenapa aku tidak bisa mengutarakan apa yang ingin kuketahui darinya saat ini.


"Sebenarnya ... kau tadi darimana? Kenapa aku baru melihatmu sekarang?" aku terus mendesaknya.


"Aku tidak kemana-mana. Kau sedang sibuk jadi aku tidak ingin mengganggumu."


"Tapi kenapa aku tidak melihatmu dimanapun?"


"Kenapa? Kau merindukan aku?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan!"


"Dari sungai," jawab Refald cepat.


"Sungai? Apa yang kau lakukan di sana? Cari wangsit?"


"Memancing!"


"Apa aku tidak salah dengar? Aku tidak menyangka ternyata kau suka memancing juga! Di mana ikannya?"


"Lepas ... aku tidak berniat menangkapnya. Aku hanya mengamati ikan-ikan itu."


"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Mana ada orang yang memancing hanya mengamati ikannya tanpa di pancing! Dasar aneh!" entah mengapa aku merasa ada makna tersembunyi dari ucapan Refald.


"Sudahlah, ini sudah larut! Tidurlah, besok masih ada kegiatan lain, kan?"


Refald berdiri sambil mengulurkan tangannya padaku. Ia berniat mengantarku ke tenda. Tapi, aku masih belum mau berdiri, karena itu aku tidak menyambut uluran tangannya.


"Ada apa? Kau mau tidur di sini?"


"Sebenarnya, tendaku sudah penuh. Aku menyuruh Yua tidur ditendaku karena ia tidak nyaman satu tenda dengan Via."


"Apa?" Refald kembali duduk disisiku karena terkejut. "Lalu, kau tidur di mana?"

__ADS_1


"Aku akan menemani kalian berjaga!"


"Tidak bisa!"


"Kenapa?"


"Kau pikir jaga malam itu enak? Kau bisa sakit nanti!"


"Kau juga belum tidur dari semalam? Bagaimana kalau kau sakit juga?"


"Aku memang tidak pernah tidur, Fey! Tidak sedetikpun sebelum aku bisa menemukanmu dan kau tetap aman berada di sini."


"Penjelasanmu ambigu sekali. Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari semua yang kau katakan padaku. Tapi yah sudahlah, kau memang seperti itu."


"Pakai ini!" Refald memberikan tas ransel besar yang ternyata isinya adalah sleeping bag.


"Darimana kau dapatkan ini? Punya siapa ini?" aku memerhatikan sleeping bag yang tebal ini. Sepertinya akan sangat hangat bila tidur di dalamnya.


"Itu punyaku!"


"Aku tidak liat kau membawanya kemari?"


"Aku menyuruh pak No mengambilnya untukku."


Aku agak sedikit bingung, sudah bukan rahasia lagi kalau Refald bisa melakukan segalanya dengan mudah, termasuk mendapatkan sleeping bag ini. Entah bagaimana caranya benda hangat itu sudah ada di sini. Bagaimanapun juga, sleeping bag ini sangat bermanfaat untukku.


"Lalu ... kau tidur di mana?"


"Tentu saja di situ!"


"Apa?" senyumku yang tadinya mengembang kini mendadak hilang. "Maksudmu ... kau akan tidur di sini bersamaku? Di dalam sleeping bag ini? Berdua?"


"Heemm." Refald menyeringai nakal.


"Tidak! aku tidak mau satu sleeping bag denganmu! Lebih baik aku tidur di tempat lain daripada bersamamu. Aku tahu inilah yang kau inginkan, tapi maaf aku tidak bisa membuat mimpimu itu jadi kenyataan!"


Aku melemparkan kembali tas ransel itu di depan Refald yang langsung di tangkap oleh pemiliknya.


"Kenapa? Sleeping bag ini muat untuk kita berdua, dan tentunya, tubuh kita akan jadi jauh lebih hangat," ujar Refald tanpa dosa.


"Dasar mesum! Aku tidak mau!" sengalku.


Aku pergi meninggalkan Refald tapi ia langsung memelukku dari belakang dan membuatku terkejut.


Spontan aku langsung melepaskan pelukannya. "Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau ada yang melihat kita?"


"Mereka sudah tahu semua, bahkan jika kita menikah di sini, mereka akan mendukung dan turut bahagia untuk kita."


Aku jadi semakin khawatir pada Refald. Jangan-jangan dia sedang kerasukan setelah dari sungai tadi. Dengan ragu aku mendekatinya untuk mengukur suhu tubuhnya menggunakan punggung tanganku yang kutempelkan didahinya.


"Refald menggenggam tanganku. "Apa yang kau lakukan?"


"Suhu badanmu normal! Kenapa kau bertingkah aneh seperti ini?"


Tidak kusangka Refald langsung menarik tubuhku hingga menempel ke tubuhnya. Ia membekapku erat-erat. Tidak ada sekat lagi diantara kami.


"Apa kau mengira aku sudah gila?" tanyanya dengan tajam. Tatapannya membuatku jadi gugup.


"Iya ... eh, tidak! Kau tidak gila ... sungguh, lepaskan aku! Nanti ada yang melihat, kau tahu itu akan merusak citraku di sini."


"Aku tidak peduli!"


"Tapi aku peduli! Kumohon Refald, lepaskan aku!" aku mencoba pasang ekspresi memelas dan seimut mungkin supaya Refald mau melepaskanku.


Ternyata berhasil. Akhirnya ia melepaskanku juga, tapi ia tidak mau melepaskan genggaman tangannya dariku.


Kami duduk kembali di dekat api unggun. Refald membuka sleeping bagnya dan merapikan benda itu supaya bisa kutempati.


"Masuk dan tidurlah di sini. Aku akan menemanimu!"


Aku ragu, bahwa ia tidak akan menyerangku lagi seperti tadi.


"Tadi itu aku hanya bercanda! Aku tidak akan melakukan apapun di luar batas hubungan kita. Meskipun aku berhak. Tapi aku akan melakukannya nanti jika kita berdua sudah resmi ...."


Aku langsung berlari memeluknya sebelum Refald menyelesaikan kalimatnya. Tentu saja ia terkejut dengan pelukanku yang secara tiba-tiba itu.


"Kau suka sekali membuatku kesal!" perlahan aku melepaskan pelukanku dan masuk ke dalam sleeping bag lalu menutupnya dengan rapat.


Sebenarnya aku malu dengan diriku, aku sendiri tidak tahu kenapa aku langsung spontan memeluk Refald seperti itu.


"Jangan lupa untuk membuka sedikit resletingnya supaya kau tidak kehabisan napas!"


"Aku tahu!" teriakku. Entah seperti apa wajahku sekarang.


Sebenarnya, aku tidak bisa tidur. Apalagi ada Refald di sampingku. Tapi aku akan pura-pura tidur supaya Refald tidak mencemaskanku sampai akhirnya secara tidak sengaja aku mendengar Refald mengatakan sesuatu yang membuatku tercengang.


****

__ADS_1


__ADS_2