
“Apa?” aku terkejut mendengar ucapan Yua. “Bagaimana mungkin bisa ....”
Yua memberikan kode untuk menjelaskannya nanti kalau Mia dan Nura sudah tidak ada. Disaat yang bersamaan, Nura kebelet ingin ke kamar mandi dan meminta Mia mengantarnya karena ia takut pergi sendiri.
Aku menawarkan diri untuk menemani Yua selagi mereka pergi. Kesempatan ini kugunakan untuk meminta penjelasan dari Yua atas perkataannya barusan.
“Jelaskan padaku Yua?" tanyaku pada Yua setelah Nura dan Mia pergi keluar. "Apa yang terjadi? Kenapa Epank ikut juga? Bukankah Via pasti melarangnya ikut?”
“Sebenarnya aku juga kesal padamu, Fey. Kenapa kau tidak bilang kalau Via habis marah-marah padamu? Tapi, ada hikmahnya juga, sih ... Epank jadi datang kemari dimalam saat kau pulang dari sini. Ia datang untuk meminta maaf padamu dan juga berterima kasih padaku. Awalnya aku tidak mengerti kenapa Epank harus minta maaf padamu. Sedangkan kau sudah pulang dari tadi. Jadi, ia hanya menitipkan pesan maafnya padaku supaya bisa kusampaikan padamu jika kau kemari lagi.”
“Tapi ... kenapa?”
Yua memulai ceritanya saat Epank datang ke kamarnya yang berawal dari tadi malam.
“Apa maksudmu, Epank? Kenapa kau harus minta maaf pada, Fey? Katakan? Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Yua agak penasaran. Tiba-tiba saja Epank datang ke kamar inapnya, malam-malam pula.
“Sebenarnya bukan aku. Tapi Via yang berbuat salah pada temanmu. Dia melabrak Fey tanpa alasan, Via menyalahkan Fey atas apa yang menimpaku. Aku jadi tidak enak padanya, dan juga pada dirimu. Sejujurnya aku sangat berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkanku. Tapi Via malah menyalahkan Fey. Maafkan dia, dia tidak tahu apa-apa. Mungkin dia hanya khawatir padaku. Makanya dia seperti itu.”
“Via melabrak Fey? Kapan?”Yua sangat terkejut.
“Tadi, sewaktu mereka masih di ruang tunggu saat menungguimu. Aku juga baru tahu kalau bukan Refald yang memberitahuku.
“Refald?” tanya Yua. Ia semakin terkejut.
Epank mengangguk. "Refald datang kekamarku dan bertanya padaku ....”Epank menceritakan sedikit apa yang terjadi saat Refald datang ke kamar inapnya.
“Apa kau tidak terima dengan kejadian yang menimpamu saat ini, Epank?” tanya Refald saat ia datang ke kamar Epank setelah ia bertengkar dengan Fey. Ia menatap tajam Via yang duduk disebelah Epank.
“Apa maksudmu?” tanya Epank yang saat itu tidak mengerti maksud pertanyaan Refald.
“Pacarmu ... baru saja melabrak pacarku. Ia tidak terima dengan kondisimu saat ini. Apa kau juga sama sepertinya?” Refald menunjuk Via dengan dagunya. Gadis itu hanya diam saja.
Epank menatap marah wajah pacarnya yang memerah. “Tidak Refald, aku sendiri yang salah karena tidak berhati-hati tadi, semua ini bukan salah siapapun, dan aku juga tidak menyalahkan siapapun. Justru aku sangat bersyukur karena masih bisa selamat dari bisa ular beracun itu jika saja Yua tidak langsung menghisapnya. Aku pikir Via tadi pergi ke kamar Yua untuk mengucapkan terima kasih padanya. Aku tidak tahu kalau dia malah bersikap sebaliknya. Maafkan aku, Refald!”
__ADS_1
“Jangan minta maaf padaku! Minta maaflah langsung pada orang yang kau sakiti hatinya. Maaf sudah menganggu waktumu. Aku permisi dulu!”setelah berkata seperti itu, Refald pergi begitu saja dan menghilang dari balik pintu.
“Itulah yang dikatakan Refald sebelum ia pergi." Epank mengakhiri cerita saat ia bertemu dengan Refald sebelum ia pergi. "Aku sendiri juga tidak tahu kalau Via bisa sekasar itu. Aku sudah menyuruhnya untuk minta maaf pada Fey, tapi ia tidak mau dan balik marah padaku. Ia malah pulang dan tidak mau kembali ke sini lagi, karena itulah aku datang kemari. Maafkan aku Yua, dan terima kasih banyak atas pertolonganmu padaku. Tolong sampaikan juga maafku pada Fey, dan bilang padanya kalau aku dan beberapa anggota PMR yang lainnya akan tetap ikut membantu acaranya nanti.”
“Itulah yang dikatakan Epank!” Yua mengakhiri ceritanya tentang apa yang ia bicarakan dengan Epank samalam.
Aku tertegun tak percaya mendengar cerita Yua.
Jadi, Refald menemui Epank? Apa ia melakukan ini untuk membuktikan padaku bahwa aku tidak bersalah? Ia ingin agar aku tidak terus menerus menyalahkan diri sendiri. Kenapa aku bodoh sekali?
Selama ini, aku merasa Refald selalu kejam padaku. Ternyata aku salah, justru akulah yang kejam padanya. Selama ini ia juga selalu membuatku bangkit dan berdiri lagi setiap kali aku jatuh. Tapi aku malah bersikap jahat padanya. Ia begitu peduli padaku, tapi aku tidak pernah peduli padanya.
Refald ... kau sungguh ....
Aku tidak tahu kata-kata apa yang paling tepat untuk Refald setelah aku tahu apa yang sudah ia lakukan untukku.
“Kau tahu, Fey. Aku senang sekali waktu Epank datang kemari. Selama ini aku hanya mengenal Epank sebagai cowok yang humoris. Ini pertama kalinya aku melihat dia bersikap serius seperti ini. Aku hampir saja pingsan melihat wajahnya yang tampan. Aku benar-benar semakin terpesona padanya. Sayang dia sudah punya Via, tapi Fey, Entah kenapa aku memiliki firasat bahwa aku punya peluang dihatinya. Menurutmu, apa aku harus maju? Ataukah harus tetap seperti ini?” Yua menoleh kearahku yang melamun.
Aku sendiri masih berada dalam duniaku sendiri, aku tidak bisa mencerna apa yang dikatakan Yua padaku. Pikiranku saat ini hanya dipenuhi oleh Refald. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku ingin menyatakan perasaanku padanya. Aku ingin dia juga tahu kalau aku sungguh mencintainya.
“Maafkan aku Yua. Aku harus pergi kesuatu tempat. Sampaikan maafku pada Mia dan Nura karena tidak bisa pulang bersama. Aku pergi dulu.” aku langsung berlari membuka pintu kamar tepat disaat Nura dan Mia kembali dari kamar mandi.
“Tapi ... Fey! Kau mau ke mana?” Teriak Yua. Begitu juga dengan Nura dan Mia yang terkejut melihatku berlari tanpa memerhatikan panggilan mereka.
Aku berlari dan terus berlari tanpa peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang disekitarku, sampai aku sadar kini aku berada di pinggir jalan raya. Aku menghentikan taksi yang lewat didekatku dan masuk ke dalamnya menuju rumah Refald.
Sesampainya di depan vila Refald aku membunyikan bel supaya pak penjaga yang tidak kuingat namanya membuka gerbangnya. Begitu gerbang itu terbuka aku langsung menanyakan keberadaan Refald pada pak penjaga itu.
“Maaf, Non! Tuan muda Refald sudah tidak ada di sini lagi!”
“Apa? Apa maksud Bapak sudah tidak ada di sini? Kemana dia?”
“Saya juga tidak tahu, Non. Semalam beliau pergi dengan tuan Eric sambil membawa koper besar.”
__ADS_1
Aku terkejut mendengarnya. Aku baru sadar kalau ponselku masih ada di rumah. Jadi, aku tidak bisa menghubunginya. “Apa Refald tidak meninggalkan pesan apa-apa, Pak?”
Lelaki paruh baya itu menggeleng. “Tidak ada, Non, Tuan cuma bilang kalau mau pergi, itu saja."
“Apa dia bilang kapan akan kembali, Pak?”
“Tidak, Non, Tuan tidak mengatakan apapun selain kalau mau pergi bersama tuan Eric.”
Bagai tersambar petir aku tidak bisa percaya bahwa Refald pergi meninggalkanku begitu saja disaat aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Tanpa pamit dan tanpa mengatakan apa-apa, ia menghilang begitu saja dari kehidupanku.
Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi? Apakah ia merasa aku memang tidak pantas untuknya? Apakah ia sudah menjatuhkan pilihannya? Lalu kenapa ia melakukan semua ini padaku? Kenapa ia menyakitiku sedalam ini? Kenapa ia selalu memberikan harapan palsu padaku? Apa alasannya? Kenapa?
Terlalu banyak pertanyaan yang ingin kutujukan padanya. Tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Ia menghilang begitu saja bak ditelan bumi, tanpa kabar, tanpa kata-kata perpisahan. Aku tidak menyangka ini bisa terjadi. Aku bahkan tidak tahu ini nyata atau hanya mimpi.
Aku mengamati vila Refald yang tampak kosong. Sempat terbayang dibenakku ia masih berdiri di teras rumahnya untuk menungguku menyuapinya makan. Tapi bayangan itu mendadak hilang. Kini, aku kembali sendiri lagi, tanpa adanya Refald disisiku.
Dia ... benar-benar telah pergi.
Aku kembali berbalik arah dan berjalan menuju ke rumah nenekku. Aku serasa lemas tanpa semangat dan tanpa gairah hidup.
Hujan deras tiba-tiba turun membasahi tubuhku. Dengan gontai, aku melanjutkan langkahku. Air mataku menyatu dengan derasnya aliran air hujan yang membasahiku, seolah-olah ikut sedih melihat keadaanku saat ini.
Aku teringat saat Refald memelukku dari belakang. Tepat di sini, dimana aku berdiri saat ini. Andai saja waktu itu bisa kuulang kembali, aku ingin memeluknya sekali lagi, meskipun itu hanya untuk yang terakhir kali.
Kini, aku tidak bisa melihat Refald lagi. Dia pergi disaat aku benar-benar jatuh cinta padanya.
Tidak bisa lagi melihat mata yang selalu menatapku dengan tatapan sendu dan menghangatkan. Tidak bisa lagi mendengarkan kata-kata yang menjengkelkan tapi menyenangkan. Tidak bisa merasakan kembali sikapnya yang kasar tapi penuh dengan perlindungan. Aku sudah tidak akan pernah bisa melihat Refald lagi.
Aku sudah kehilangan dia ... sekali lagi aku kehilangan orang yang aku cintai tepat disaat aku baru menyadarinya. Refald sudah mengambil keputusan dalam hidupnya. Mungkin inilah jawaban yang ia berikan padaku, bahwa ia lebih memilih orang yang dicarinya, daripada aku yang hanya bisa membuatnya kesal.
Entah apakah aku harus sedih atau bahagia untuk Refald. Rasanya hatiku benar-benar sakit. Secepat ini Refald mengambil keputusan tanpa mau memberiku kesempatan. Aku tidak akan pernah bisa melupakannya, apalagi aku ... sudah mulai jatuh cinta padanya. Sekali lagi aku merasa hancur. Seolah-olah setelah terbang sangat tinggi, tiba-tiba saja terjatuh kembali. Rasanya sangat sakit, lebih menyakitkan daripada rasa saat kehilangan ibuku waktu itu.
Bagaimana bisa aku hidup tanpamu Refald? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Berkat dirimu aku bisa bangkit kembali dari keterpurukanku karena kepergian ibuku, dan kini ... berkat kau pula, aku kembali masuk ke dalam lubang kesedihan bahkan lebih menyakitkan.
__ADS_1
*****