
Fey membuka matanya di pagi hari dan mendapati Refald sudah berdiri di depan jendela sambil menikmati pemandangan alam sekitarnya. Refald tersenyum pada istrinya setelah tahu Fey mulai terjaga.
“Morning, Honey. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” tanya Refald sambil berjalan mendekati istrinya yang masih tergolek diatas kasur.
“Kenapa kau tidak membangunkanku kalau kau sudah bangun duluan?” tanya Fey sambil mencoba bangun.
“Kau terlalu cantik saat tidur, aku tidak tega membangunkanmu. Cepat bersihkan dirimu dan ayo kita sarapan bersama, ada banyak hal yang harus kita lakukan hari ini.”
Bukannya melakukan apa yang dikatakan Refald, Fey malah balik tidur lagi sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
“Honey, ini sudah terlalu siang. Ayo bangun!” pinta Refald dengan lembut.
“Kau pergi saja dulu, nanti aku menyusul,” ujar Fey dari balik selimut.
Fey menunggu Refald pergi keluar kamarnya dan bermaksud menemui Eric sendirian, lalu memarahinya habis-habisan. Karena itulah, Fey pura-pura tidur lagi. Kalau ada Refald, Fey tidak bisa bebas mengeluarkan semua umpatannya yang akan ia tujukan pada Eric karena telah berani merahasiakan apa yang terjadi padanya.
“Baiklah, aku hitung sampai 3, kalau kau masih tidak mau bangun, jangan salahkan aku jika aku memaksamu mandi berdua denganku, dan aku tidak peduli apa yang terjadi saat kita mandi bersama-sama.” Refald masih menatap Fey sambil tersenyum. Ancaman Refald langsung sukses membuat gadis itu bangun lagi.
“Kenapa kau selalu mengancamku?” protes Fey dengan wajah manyun.
Refald mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah kekasihnya. “Karena aku selalu tahu apa yang akan kau lakukan tanpaku. Aku akan menemanimu mengomeli Eric nanti, setelah itu kita antar dia ke bandara dan bertemu dengan semua teman-temanmu.” Refald tersenyum lagi pada Fey yang masih cemberut akut. “Cepat mandi, sana! Apa perlu aku gendong?”
“Tidak!” jawab Fey cepat dan ia langsung berlari ke kamar mandi lalu menutup pintunya dengan keras. “Hufh, punya kekasih dengan kekuatan super ternyata bisa membuat kesal juga?” gumam Fey yang otomatis bisa didengar Refald dari luar.
“Aku mendengarmu, Honey!” teriak Refald dari luar dan Fey langsung berdecak kesal.
Sesuai janji Refald, ia menemani Fey bertemu dengan Eric dan gadis itu langsung memarahi Eric habis-habisan. “Ada apa denganmu? Kau menyembunyikan statusmu dan tidak bilang padaku? Kau bahkan meminta Refald agar tidak mengatakannya padaku? Kau tidak menganggapku sebagai temanmu, juga? Sampai kapan kau mau menyembunyikan kesedihanmu, dariku, ha? Kau pikir kau siapa? Kau sudah hebat?” teriak Fey di depan Eric. Refald hanya diam menatap keduanya.
__ADS_1
“Nyatanya si sableng itu bilang juga padamu!” jawab Eric santai menghadapi kemarahan Fey.
“Itu karena aku memintanya menjodohkanmu dengan, Nura! Coba kalau aku tidak bilang begitu. Mana mungkin aku tahu kalau sekarang kau sudah menjadi ...,” Fey tidak bisa melanjutkan kata-katanya mengingat istri yang baru dinikahi Eric telah tiada tepat dihari pernikahan mereka. “Kau jahat, Eric! Kau benar-benar, jahat! Bagaimana bisa kau menjadikanku sahabat yang tidak punya hati? Kalau seandainya aku tahu lebih awal, aku tidak akan menjodohkanmu dengan Nura? Apa kau tahu? Nura ... mulai jatuh cinta padamu!” Fey mulai berkaca-kaca. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Nura saat tahu fakta tentang Eric yang sebenarnya. Fey juga merasa bersalah pada mendiang istri Eric karena telah sembarangan menjodohkan suaminya dengan wanita lain.
“Dia baru mulai, tidak sulit baginya untuk melupakan perasaannya padaku. Tolong sampaikan maafku padanya karena aku tidak mengatakan yang sebenarnya soal statusku, kalau aku sudah menjadi duda dan masih dalam keadaan berduka. Oh iya, kalian tidak perlu mengantarku, aku bisa pergi sendiri.” Sambil menunduk Eric pergi meninggalkan Fey dan Refald begitu saja.
Saat ia berbalik badan, laki-laki itu langsung tertegun melihat siapa orang yang berdiri didepannya saat ini. Fey dan Refald juga terkejut karena tiba-tiba saja, Nura sudah ada di depan Eric dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Apa ... a-apa yang kau katakan barusan?” tanya Nura memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Gadis itu menatap wajah Eric, Fey dan Refald secara bergantian.
“Maaf, Nura. Maafkan aku ... aku pergi dulu! Sampai jumpa! Jaga dirimu baik-baik, senang bisa bertemu denganmu.” Eric pun beranjak pergi begitu saja tanpa menjelaskan apa-apa, tapi Nura langsung berlari menghadang kepergian Eric.
“Tunggu!” seru Nura sambil merentangkan kedua tangannya di depan Eric.
Fey ingin ikut menghampiri keduanya tapi ia langsung dipeluk Refald dari belakang sambil berbisik di telinga kekasihnya. “Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, kau dan aku diam saja di sini.” Kecupan lembut mendarat dipipi Fey sehingga membuat Fey jadi keki sendiri. Disaat seperti ini, sempat-sempatnya Refald mencium dan memeluknya seperti ini.
“Maaf Nura, sangat tidak pantas bagiku menjadi pendamping hidupmu sementara aku masih berduka atas meninggalnya istriku. Aku sendiri juga tidak tahu, apakah aku bisa melupakannya atau tidak? Yang jelas saat ini, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisinya dihatiku. Kau wanita luar biasa dan kau juga baik, pasti kau bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Jangan paksakan dirimu mencintaiku. Dan juga ... lupakan aku!” Eric pergi lagi meninggalkan Nura yang berdiri mematung sambil berlinang air mata.
Fey langsung melepaskan diri dari pelukan Refald dan berlari memeluk Nura untuk menenangkannya. Sahabatnya itu langsung menangis sejadi-jadinya dipelukan Fey karena Nura, sudah ditolak mentah-mentah oleh Eric. Sementara Refald sendiri, berusaha mengejar Eric untuk berbicara dengannya.
Fey tidak tahu apa yang harus ia katakan, yang bisa Fey lakukan saat ini adalah memberikan pundaknya sebagai tempat bersandar Nura agar tidak bersedih lagi. Fey benar-benar merasa bersalah pada sahabatnya, tapi ia juga turut berduka atas meninggalnya istri Eric yang baru saja dinikahinya. Untuk saat ini, Fey memang sangat mengerti, tidak mungkin bagi Eric menjalin hubungan dengan siapapun sementara ia masih dalam keadaan berduka.
“Kita sama-sama patah hati Nura, kau gagal mendapatkan cintamu, dan aku gagal menjadi istri suamiku, Refald. Untuk kesekian kalinya ... aku juga gagal menjadi nyonya Refald. Nasib kita sama, bukan?” ujar Fey sehingga sukses membuat Nura terkejut dan berhenti menangis.
“A-apa ... maksudmu? Kalian berdua ....”
“Kami batal menikah,” sela Fey sebelum Nura menyelesaikan kalimatnya. “Tepatnya ... untuk saat ini, aku dan Refald tidak bisa melangsungkan pernikahan.”
__ADS_1
“Hah?” wajah Nura terlihat lebih shock dari sebelumnya. “Apa kalian sedang bercanda? Kalian pikir pernikahan kalian itu permainan, apa?” entah kenapa Nura jadi terdengar emosi.
“Kami tidak main-main Nura, sama halnya dengan dirimu yang sekarang sedang sedih, kami berdua juga terpaksa mengambil keputusan yang sangat berat ini. Kau tahu sendiri betapa Refald ingin sekali menjadikanku istri sahnya. Tetapi, lagi-lagi takdir belum memperbolehkan kami bersatu. Sangat tidak berperikemanusiaan jika kami tetap melangsungkan pernikahan sementara banyak orang sedang berduka atas bencana yang melanda kawasan ini. Mana bisa kami bahagia diatas kepedihan orang lain?” Fey menatap Nura yang diam terpaku.
Apa yang dikatakan Fey memang benar, Nura tidak berpikir sampai kesitu, tapi Fey bisa memikirkannya karena sahabat dekat Nura itu memang sangat luar biasa. Karena itulah Nura merasa bahwa hanya Feylah yang pantas menjadi pendamping Refald. Tidak akan ada wanita manapun yang cocok menjadi pasangan Refald kecuali Fey.
“Bagaimana dengan yang lainnya? Apa mereka, tahu?” kali ini, Nura berubah jadi cemas. Padahal sebelumnya, ia terlihat emosi.
“Seluruh keluarga sudah tahu dan mereka menghargai keputusan kami, sedangkan Mia mungkin juga sudah tahu dari Rio. Dan untuk Yua, aku akan memberitahunya setelah ini. Nura ... dengarkan aku, entah kau percaya atau tidak, tapi aku harap kau bersedia menuggu Eric dan memberinya waktu untuk bisa mencintaimu, walaupun tidak harus sekarang. Namun, aku yakin suatu saat nanti, Eric pasti membalas cintamu.”
Nura hanya diam seribu bahasa. Perasaannya kini sedang bercampur aduk. Baginya mencintai seseorang itu tidak mudah, tetapi melupakannya begitu saja juga jauh lebih sulit. Nura berjalan pelan dengan tatapan mata kosong meninggalkan Fey.
“Fey,” ujar Nura sebelum gadis itu sampai di daun pintu. “Aku turut sedih atas batalnya pernikahanmu dengan Refald, kali ini tolong biarkan aku sendiri. Dan jangan khawatirkan aku, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diriku sebelum aku kembali menjadi Nura yang dulu.” setelah berkata seperti itu, Nura pergi meninggalkan Fey tepat setelah Refald datang kembali. Sama halnya seperti Fey, Refaldpun tak bisa mengatakan apa-apa saat berpapasan dengan Nura.
Perlahan, Refald mendekati Fey yang menatapnya penuh harap. Namun, melihat ekspresi Refald, Fey tahu kalau Eric tidak bisa mengubah keputusannya. Fey tidak tahu kenapa semuanya harus berakhir dengan kesedihan. Bahkan Fey sendiri tidak tahu seperti apa ending dari kisah ini.
Refald meraih tangan istrinya dan mencium mesra punggung tangan itu. “Ayo, ikut denganku, Honey,” ajak Refald masih dengan menatap sendu wajah istrinya.
“Ke mana?” tanya Fey tidak bersemangat.
“Melihat sesuatu yang mengharukan dan menyenangkan,” jawab Refald langsung meraih tubuh Fey dengan cepat kedalam gendongannya dan berlari kencang menembus kerumunan hutan lebat yang ada disekeliling kediaman mereka.
BERSAMBUNG
***
masih ada 1 episode lagi ditunggu ya ... jangan lupa kasih hadiah hati untuk Refald .. hehe
__ADS_1