
Pak Po sedikit bingung dengan apa yang akan dilakukan Refald padanya, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menuruti apapun yang dikatakan pengerannya termasuk saat disuruh membuka resleting celana pak Po.
“Buka resleting celanamu!” suruh Refald saat keduanya sudah ada di dalam sebuah ruangan dan Refald sengaja menguncinya dari dalam agar tidak ada yang nyelonong masuk mengingat apa yang akan dikatakan Refald agak intim dan ekstrim.
“Hah?” Pak Po terkejut. “Apa yang akan Pangeran lakukan pada saya?”
“Sudah jelaskan? Mengajarimu membuat anak!” jawab Refald blak-blakan.
“Tapi kenapa harus buka resleting celana segala?”
Refald menghela napas panjang karena ia harus bersabar menghadapai kepolosan pak Po yang sudah melebihi kapasitas itu.
“Kau bilang kau tidak tahu apa senjata ampuh yang dimiliki oleh seorang laki-laki? Dibalik resleting celanamu itulah senjata yang kau dan aku punya. Kalau Leo, biasa menyebutnya sebagai pedang etalibun. Pedangmu itu, bisa kau gunakan untuk menanam benih kecebongmu kedalam rahim Di agar kalian berdua bisa memiliki anak.”
“Dimana saya harus mencari kecebong itu, Pangeran?”
“Siapa yang menyuruhmu mencari kecebong, ha?”
“Barusan pangeran bilang, saya harus menanam kecebong dirahim Di. Karena saya tidak punya kecebong maka saya harus mencarinya, kan?”
Refald hanya bisa memukul jidatnya dengan telapak tangannya sendiri. “Fey benar, aku bisa gila kalau lama-lama dekat dengan pak Po," gumam Refald.
Refald memutuskan untuk membuka video mantap-mantap dihadapan pak Po. “Perhatikan gerak gerik pria itu baik-baik, pak Po. itu bukan video penyiksaan. Si pria itu sedang memasukkan pedang etalibunnya ke dalam lubang sumur pasangannya. Setelah mereka mengalami puncak kenikmatan, maka secara otomatis kecebong yang sudah ada dalam pedangmu itu akan masuk ke dalam rahim Di seperti yang dilakukan pria dan wanita yang ada dalam video itu. Kau paham maksudku?” Refald mengamati pak Po yang sedang melihat dengan pandangan ngeri video dari Refald.
“Bagaimana dengan anda, Pangeran?” tanya pak Po kemudian.
“Apanya?”
“Apa sebutan Pangeran untuk senjata anda?”akhirnya, pak Po sepertinya mulai sedikit mengerti penjelasan Refald.
“Kau mulai paham maksudku?”
“Paham, Pangeran. Karena pedang etalibun yang anda tunjukkan pada saya ini mulai berdiri. Saya tidak tahu kenapa bisa seperti ini."
__ADS_1
“Apa?” teriak Refald seketika. "Kalau begitu, cepatlah masuk ke dalam kamarmu dan lakukan seperti yang dilakukan pria itu pada wanitanya. "Jangan keluar kamar sebelum kau berhasil mengeluarkan kecebongmu di dalam lubang sumur itu, oke!”
Entah pak Po itu paham atau tidak, ia langsung berlari keluar dan bergegas masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sebenarnya, Refald sedikit khawatir tapi ia hanya bisa menunggu hasilnya. “Besok saja aku aku menginterogasi pak Po apakah malam ini ia berhasil atau tidak. Sekarang aku harus menyelesaikan urusanku dengan Fey diatas sana,” gumam Refald dan ia langsung berjalan cepat menuju kamarnya.
Sayangnya, Fey mengunci rapat pintu kamarnya sehingga Refald tidak bisa masuk ke dalam. Namun, bukan Refald namanya kalau sampai ia menyerah begitu saja. "Huh, kau mau bermain-main denganku, Honey. Oke, kita akan bermain-main."
Refald berjalan menuju balkon dan terkejut saat melihat Riska dan Aditya masih berada disana. "Kalian masih disini? Ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kalian istirahat?"
"Kami baru mau turun Tuan," ujar Aditya. Ia menggandeng tangan Riska dan hendak masuk ke dalam.
"Ehm, tunggu bisa bantu aku?" ucap Refald saat pasangan sejoli itu melewati Refald.
"Tentu, Tuan. Apa yang bisa kami bantu."
****
Sementara di dalam kamar, Fey ternyata sedang tertidur pulas sehingga tidak mendengar suara ketukan pintu Refald. Namun, tiba-tiba ia terjaga dan baru sadar kalau ini sudah tengah malam.
"Apa Refald masih ada dibawah? Apa yang mereka lakukan di bawah sana?" gumam Fey. Baru ia mau berjalan keluar, tiba-tiba saja ada seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa?" tanya Fey.
"Saya Nona," ujar Riska dari luar.
Feypun langsung membuka pintunya. "Iya Riska, ada apa?"
"Ehm, apa anda butuh sesuatu? Saya bisa ambilkan di bawah sana," jawab Riska berharap kebohongannya tidak mencurigakan.
"Tidak, kalau aku butuh sesuatu aku bisa ambil sendiri. Terimakasih atas tawaranmu. Sekarang istirahatlah dikamarmu. Ini sudah malam."
"Baik, Nona Refald. Permisi!" Riska pun pamit undur diri dan Fey kembali menutup pintu kamarnya.
Saat ia berbalik badan, betapa terkejutnya Fey saat melihat Refald sudah ada ditempat tidur tanpa memakai baju sehingga dada bidang dan perut kotak-kotanya terlihat jelas.
__ADS_1
"Kau mengagetkanku saja? Bagaimana bisa kau tiba-tiba saja sudah ada disitu? Bukannya tadi kau ...." Fey mulai paham. Rupanya ia meminta Riska mengalihkan perhatiannya supaya Refald bisa masuk ke dalam tanpa sepengetahuan Fey.
Tetu saja Refald belum bisa menggunakan kekuatannya, jadi terpaksa ia menggunakan kemampuannya dengan cara merangkak di dinding sampai ia tiba di jendela kamarnya sendiri. Begitu Fey membukakan pintu untuk Riska, Refaldpun membuka jendela dan langsung tidur diatas kasur setelah sempat menanggalkan pakaiannya.
"Ayo kita mulai, Honey? Kau dulu? Atau aku?" tanya Refald langsung tanpa basa basi.
"Hah? Mulai apa?"
Refald bangun dari tempat tidur dan berjalan cepat mendekat kearah istrinya. Dengan cepat pula, Refald menggendong tubuh Fey sambil berkata, "Bikin anak." Refald menyeringai nakal pada Fey. Ia pun pasrah saja dan tidak bisa melawan keinginan Refald.
Perlahan Refald meletakkan tubuh istrinya diatas kasur dan mulai menindih tubuh gadis itu. Keduanya bergumul dengan mesra diatasnya sampai keduanya bisa menyalurkan hasrat birahi mereka masing-masing.
Refald bermain dengan penuh gairah sampai Fey kualahan melayaninya. Tapi semakin sering mereka bercinta, semakin cepat pula kekuatan Refald kembali. Karena itulah Fey menurut saja apa yang dilakukan suaminya padanya.
Tanpa terasa, matahari sudah mulai terbit dan Refald baru berhenti melakukan ritual maju mundur cantiknya. Entah sudah berapa ronde yang ia mainkan sepanjang malam, yang jelas kali ini, Refald lebih bertenaga dari sebelumnya.
"Kau mau lanjut tidur, atau mandi bersamaku, Honey?" tanya Refald sambil mencium mesra bibir istrinya.
"Kau kuat sekali," protes Fey.
"Kau baru tahu? Itu karena kau sendiri yang minta bermain-main denganku. Siapa suruh kau mengunci pintu kamar? Ini adalah hukuman karena sudah tidak mau membukakan pintu untukku tapi membukakan pintu untuk Riska."
"Refald, semalam aku ketiduran. Aku tidak dengar kalau kau mengetuk pintu, tadinya aku memang mau mengerjaimu, tapi ternyata aku malah ketiduran beneran." Fey mencoba menjelaskan.
"Baiklah, lain kali jangan begitu lagi atau aku akan mengurungmu dalam pelukanku selama seminggu."
"Hah?" mulut Fey menganga lebar mendengar ancaman Refald.
Sambil tersenyum senang, Refaldpun menggendong tubuh Fey masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual penutup sebelum mereka berdua keluar dari kamar.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1
maaf up-nya telat