Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 65 Kekuatan Refald


__ADS_3

Refald melesat seperti angin ketika ia berlari sambil menggendongku. Aku merasa kalau aku seperti sedang terbang menyapu udara. Sejujurnya aku sangat ketakutan dengan kecepatan yang dimiliki Refald. Aku takut kalau kami berdua akan menabrak pohon atau tersandung batu. Namun faktanya, sejauh ini, aku masih baik-baik saja, aman dan nyaman dalam dekapan Refald, bahkan sehelai daun pun tak bisa menyentuh tubuhku. Refald sangat lihai berkelok-kelok menghindari semak belukar yang malang melintang menghalangi jalan.


Refald juga tak akan segan untuk melompat jika sudah tidak menemukan celah. Lompatan Refald juga terbilang sangat ekstrim. Ia begitu cekatan dan sudah sangat terlatih. Dengan kekuatan yang dimiliki Refald saat ini, membuatku mengerti alasan di balik semua kemisteriusan seorang Refald.


Di usia yang terbilang belia, ia mendapatkan kartu identitas pendaki kelas kakap termuda yang bahkan hanya segelintir orang yang bisa mendapatkannya, itupun juga membutuhkan waktu yang relatif lama. Tapi Refald berbeda, dengan mudah ia bisa menaklukkan banyak gunung dan pegunungan yang sangat sulit untuk didaki. Bahkan Refald lebih memilih mendaki jurang dari pada jalur pendakian.


Refald juga selalu datang tepat waktu saat aku dalam bahaya. Aku jadi teringat saat pertama kali aku bertemu Refald ketika berada di Surabaya dulu. Saat aku terkepung di sebuah perkampungan yang ternyata dihuni oleh banyaknya para kriminal kelas kakap, Refald datang menyelamatkanku dan menghajar mereka habis-habisan hanya dengan tangan kosong. Padahal, mereka semua bersenjata tajam. Selanjutnya, ia bisa memecahkan siapa dalang dibalik jatuhnya Yua yang hampir saja merenggut nyawa sahabatku hanya dalam waktu semalam. Dan yang terakhir, saat aku hampir terjatuh ke dalam jurang yang dalam, Refald pun datang tepat waktu dan menyelamatkanku. Semua itu, karena kekuatan yang dimiliki Refald dan pastinya karena bantuan dari pasukan dedemitnya yang mengerikan.


Kini semua jelas sudah, tapi ... entah mengapa aku merasa ... masih ada satu hal aneh dalam diri Refald, dan aku harus memastikannya sendiri.


“Berhenti!” teriakku pada Refald.


Seketika Refald menghentikan langkahnya tepat di tepi sungai yang kebetulan saja dikelilingi pohon apel.


“Ada apa, Honey?” tanya Refald penasaran, “Apa kau lapar? Kebetulan banyak pohon apel tumbuh di sekitar sini. Lihatlah!”


Aku melihat sekelilingku dan memang benar ada banyak pohon apel tumbuh liar di sini. Bahkan apel-apel itu terlihat sangat menyegarkan membuat perutku semakin keroncongan. Tapi bukan itu maksudku menghentikan laju Refald.


“Tidak, aku memang lapar, tapi bukan untuk itu aku menghentikanmu, turunkan aku dulu!”pintaku pada Refald.


Perlahan sambil menatapku, Refald menurunkan aku. “Ada apa? Apa ada masalah?”


Aku terdiam menatap Refald saat aku berdiri tepat didepannya.

__ADS_1


“Buka jaketmu!” pintaku pada Refald yang langsung di sambut senyuman nakal cowok itu.


“Apa ini? Kau bilang terlalu cepat bagi kita untuk malakukannya? Kenapa tidak tunggu saja kita menikah dulu sekarang? Para pasukanku juga sudah siap sedia kapanpun kau mau.”


“Apa yang kau bicarakan? Jangan melantur kemana-mana? Buka saja jaketmu!”aku langsung dongkol mendengar gurauan Refald.


“Kenapa kau ingin sekali membuka jaketku? Apa kau ingin memperkosaku? Kita lakukan sama-sama oke! Tak perlu kau paksapun aku mau melakukannya dengan sukarela, Honey. Tapi apa harus di sini? Tempat ini terlalu terbuka. Bagaimana kalau ada yang melihat kita? Aku tidak mau ada yang mengganggu saat aku sedang asyik bersamamu.” Refald mau meraihku tapi aku langsung mendorongnya sehingga dia terhentak ke belakang.


“Apa maksudmu? Apa kau sudah gila?”pekikku.


“Bukankah itu yang kau inginkan sekarang?”


Aku benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Ingin sekali aku menjelaskannya tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. “Kau diam dulu, oke! Biarkan aku memeriksamu.”


“Apa yang ingin kau pastikan? Aku masih perjaka, sungguh!”semakin lama, Refald benar-benar menjengkelkan.


Refald tertawa menggodaku. Ia melepaskan jaketnya sambil terus melangkah maju mendekatiku. “Kalau begitu cepat jelaskan! Apa yang ingin kau periksa dariku?”


Aku mulai gugup karena Refald mulai melangkah mendekatiku. “Ehm ... itu .. anu ....” aku jadi semakin gugup dan panik saat Refald menatapku dengan wajah seriusnya.


Ini yang paling tidak kusuka darinya, selalu saja berubah-ubah. Sebentar hangat, sebentar menakutkan! Apa ini yang namanya pangeran? Apa semua pangeran punya kepribadian ganda seperti Refald?


“Katakan, Honey? Apa yang ingin kau pastikan?” Refald semakin mendekat padaku.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil melangkah mundur karena Refald terus saja mendekatiku. “Jangan mendekat! Aku hanya minta kau diam dan melepaskan jaketmu!” ujarku dengan gugup.


“Oh iya? Kalau aku tidak mau, apa kau akan memaksaku membukanya?”


“Iya, eh ... tidak, mana mungkin aku memaksamu, aku tidak akan macam-amacam. Aku hanya ... aduh, bagaimana mengatakannya, ya.” Aku terlalu panik untuk merangkai kata-kata. “Tidak bisakah kau menurutiku, saja?”


Refald tidak menjawab, ia hanya terus maju menatapku sambil melepaskan kancing kemejanya satu persatu.


“Tunggu!” aku mulai panik saat Refald mulai membuka bajunya. Dada bidangnya yang putih mulus bersih bersinar itu terlihat menggiurkan. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuka kemejamu juga?” aku semakin mundur dan terus mundur sampai aku tidak tahu kalau punggungku sudah menabrak pohon berukuran sedang yang berdiri kokoh dibelakangku.


Refald menanggalkan kemeja putihnya dan terlihatlah seluruh otot-otot Refald yang sangat kekar. Perut rata sixpack nya benar-benar luar biasa. Pantas saja cewek-cewek yang melihat Refald langsung klepek-klepek. Meski masih SMA, tubuh dan kekuatannya seperti orang dewasa.


“Pakai bajumu lagi! Aku mohon? Apa kau tidak kedinginan, ha?” aku memalingkan wajahku supaya tidak melihat Refald yang sudah setengah telanjang.


“Kita bisa saling menghangatkan, Honey!” Refald semakin dekat dengan wajahku yang sudah tidak bisa bergerak lagi.


Aku hampir saja berlari untuk bersembunyi di balik pohon, tapi tangan Refald sudah menghalangi langkahku.


Gawat! Aku terkunci dalam rentangan kedua lengan Refald.


“Kau yang memulai Honey,” bisik Refald ditelingaku.


Aku memerhatikan lengan kanan Refald yang masih terbalut perban. Luka inilah yang membuatku menjadi semakin bersalah pada Refald. Dan luka ini pula yang menghubungkan kami berdua.

__ADS_1


Jika benar Refald memiliki kekuatan yang luar biasa seperti itu, berarti luka yang dialami Refald ini seharusnya tidak masalah baginya, tapi kenapa waktu itu ia mengintimidasiku supaya mau merawatnya sampai lukanya sembuh? Apa benar separah itu lukanya? Dan sampai detik ini pun aku tidak pernah tahu seperti apa luka yang diderita Refald. Ini sungguh mencurigakan. Seandainya apa yang aku pikirkan ini benar maka, berarti selama ini Refald telah ... membohongiku?


*****


__ADS_2