
Bila Rey dan Rhea sedang beromantis ria, lain halnya dengan pasangan fenomenal Refald dan Fey. Sejak kemarin, Refald selalu menghilang, datang dan pergi seenaknya. Entah apa yang dia lakukan diluar sana, yang jelas, tidak biasanya Refald bersikap seperti itu. Bahkan tadi pagi, dia juga tidak sempat sarapan bersama dengan keluarganya. Padahal sebelumnya, Refald tidak pernah melewatkan waktu sedetik saja dengan Fey.
Begitu anak dan menantunya berangkat bersama ke sekolah, Fey langsung mencari Refald. Ibu satu anak itu memejamkan matanya untuk merasakan dimana hawa keberadaan suaminya. Ia sendiri jugan ingin tahu apa yang terjadi dengan Refald. Semalam, Fey ingin menanyakan hal ini pada suaminya, tapi berhubung Refald pulang larut malam, jadi Fey tidur duluan.
“Disana,” gumam Fey sambil tersenyum karena ia menemukan dimana suaminya sekarang. Ia langsung memanggil mbak Kun dan memintanya mengantarkannya ke tempat suaminya itu berada.
“Anda memanggil saya, Ratu?” tanya mbak Kun yang tiba-tiba saja sudah berada dihadapan Fey.
“Antarkan aku ke tempat Refald, mbak Kun. Aku akan menunjukkan jalannya padamu.”
“Baik Ratu,” ujar mbak Kun tanpa bertanya lagi. Ia pun menggenggam erat tangan mbak Kun lalu keduanya menghilang begitu saja.
“Turukan aku di atas pohon besar itu?” tunjuk Fey dan mbak Kun melakukan apa yang diperintahkan ratunya.
“Jika tidak ada lagi yang Ratu butuhkan, saya permisi dulu,” pamit mbak Kun setelah ia menurunkan Fey diatas pohon.
“Ehm, terimakasih mbak Kun. Ah satu lagi, tolong awasi Rhea dan Rey. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu, tapi aku tidak tahu apa itu.”
“Baik Ratu.” Mbak Kun pun menghilang tanpa jejak.
Fey kembali menatap suaminya yang berdiri tepat di atas tebing dimana dihadapannya ada sebuah air terjun mengalir deras membasahi tubuh Refald yang diam terpaku menatap nanar dasar air terjun dibawahnya. Entah Refald menyadari keberadaan istrinya atau tidak, sebab Refald sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri, padahal sudah 10 menit Fey mengamati Refald dari atas pohon tanpa suara.
“Turunlah, Honey. Kenapa kau hanya diam disitu? Kemarilah!” pinta Refald sambil melirik Fey.
Bukannya Fey tidak mau turun, tapi sepertinya ia salah meminta mbak Kun menurunkannya di dahan yang salah. Ia baru sadar kalau ketinggian pohon ini hampir mencapai 10 meter dan bisa jadi, pohon ini adalah salah satu pohon tertinggi di negara ini. Wajah Fey langsung pucat pasi saat ia melihat ke bawah. Meski ia adalah mantan anggota pecinta alam, sejak dulu Fey takut ketinggian.
Seakan tahu masalah apa yang dihadapi istrinya, Refald langsung melesat cepat menuju tempat Fey berada. “Kenapa kau tidak turun, Honey. Kau memiliki kekuatanku, harusnya kau sudah tidak takut lagi dan bisa turun dengan mudah.” Refald memeluk pinggang Fey dengan erat.
“Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku merasa takut saja. Ada apa denganku, Refald?” tanya Fey agak sedikit panik.
“Tidak ada apa-apa Honey. Kau baik-baik saja.” Refald membelai lembut pipi istrinya dan membantu menyelipkan rambut indah Fey di balik telinganya karena tertiup angin sepoi-sepoi.
Fey merebahkan kepalanya di dada Refald. Tiba-tiba saja ada yang bergejolak kuat di hati Fey saat ia mendengar detak jantung suaminya. Seketika ia menengadah dan menatap tajam mata Refald.
“Apa yang kau sembunyikan dariku? Katakan?” desak Fey. Bibirnya sampai gemetar karena cemas dan khawair.
“Tidak ada yang aku sembunyikan, Honey. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu.”
“Katakan saja, bukankah kita sudah berjanji tidak ada rahasia apapun diantara kita. Kita pasti bisa melalui semua masalah yang ada. Bukankah selama ini, itu yang kita lakukan?”
Refald kembali memeluk Fey dalam dekapannya. Pelukan Refald kali ini terasa begitu dalam dan juga penuh makna tersembunyi yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata oleh Fey.
“Honey, bila aku tak ada disisimu. Apa kau akan baik-baik saja? Kau masih bisa hidup bahagia bersama dengan Rey kita, kan?” tanya Refald tiba-tiba dan sukses membuat Fey sangat terkejut. Kalau Refald sudah berkata seperti itu, pasti sesuatu yang besar akan terjadi.
“Apa maksudmu? Memangnya kau mau pergi kemana?” tanya Fey semakin panik.
Saking paniknya, keseimbangan tubuh Fey jadi oleng hingga kakinya tergelincir dahan pohon yang menajdi pijakannya. Dalam hitungan detik, tubuh Fey terlepas dari cengkaraman Refald dan melesat cepat jatuh ke bawah. Dengan sigap, Refaldpun melompat turun mengejar hempasan tubuh Fey, sama seperti saat ia menolong istrinya yang dulu jatuh ke dasar jurang. Bedanya kali ini, Refald tidak perlu menggunakan tali karmenter lagi. Sebab ia bisa langsung merengkuh tubuh Fey kedalam pelukannya dan keduanya jatuh bersama ke bawah.
“Aku menangkapmu, Honey.” Refald mengedipkan salah satu matanya saat ia mendapatkan tubuh Fey dalam dekapannya.
Perlahan, Refald mendaratkan kakinya sambil terus menatap Fey tanpa henti. Ia mencium mesra bibir Fey yang gemetar karena shock dirinya tiba-tiba saja terjatuh dari atas ketinggian. Fey tidak tahu apakah Refald mengetahui atau tidak bahwa ia bisa melihat sedikit gambaran tentang apa yang terjadi di masa depan dalam pikiran Refald.
Melihat hal itu, air mata Fey terjatuh dan ia menangis sejadi-jadinya di dekapan Refald. Bagaimana tidak, gambaran yang ia lihat benar-benar menyedihkan dan tak pernah terbayangkan dalam benaknya. Tangisan Fey kali ini terdengar pilu dan menyakitkan. Ia bahkan memegangi dadanya karena tak kuasa mengetahui apa yang bakal menimpa keluarganya. Fey terus saja menangis dan menangis di dada suaminya.
Tak ada yang bisa Refald lakukan selain menunggui istrinya meluapkan semua amarah dan kesedihannya. Sebab, ia tahu takdir ini tak bisa dihindari lagi. Meski ia bisa menemukan solusinya. Konseuensi yang Refald dan Fey ambil sangatlah berat. Ia juga harus mempersiapkan banyak hal agar dirinya dan Fey serta seluruh keluarganya bisa bersatu kembali seperti sedia kala. Konsekuensi terbesar itu adalah perpisahan, bukan sehari atau dua hari, tapi bertahun-tahun. Itupun juga tidak mudah dan harus melalui serangkain ritual yang harus dilakukan.
__ADS_1
“Kau sudah tenang, Honey? Apa ... kau mau aku menciummu?” tanya Refald. Ia sengaja sedikit mengajak Fey bercanda agar istrinya ini tidak menangis lagi.
“Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi, Refald? Apa jadinya aku tanpamu disisiku?” Fey masih sesenggukan.
“Ini ujian cinta kita, Honey. 3 tahun, kita hanya akan terpisah selama 3 tahun saja. Setelah itu, jika menantu kita berhasil menuntaskan semua ritual, maka kau dan aku ... akan kembali bersama. Begitu juga dengan Rey, ia akan hidup bahagia bersama dengan Rhea, selamanya.” Refald mencium mesra kening istrinya.
“3 tahun adalah waktu yang lama Refald. Sehari tidak bertemu denganmu, rasanya seperti setahun. Bagaimana bisa aku melalui hari-hariku tanpamu? Sedangkan aku sudah terbiasa bersamamu.” Air mata Fey kembali mengalir mengingat bahwa Refald akan meninggalkannya.
“Kau pasti bisa melaluinya, Honey. kita pernah terpisah lebih lama dari 3 tahun, dan kita masih bisa bertemu kembali hingga saat ini. Kau harus tetap tegar dan semangat menjalani hidup meski tidak ada aku disisimu, demi aku dan putra semata wayang kita. Dia membutuhkanmu, kau harus menguatkan Rey. Ia juga harus menebus segalanya dan menjalani kehidupan yang lumayan berat. Bagaimanapun caranya, Rey harus bisa membuat Rhea berhasil melakukan ritual seperti yang pernah kau lakukan. Percayalah pada kekuatan cinta kita berdua. Tak akan ada yang bisa benar-benar memisahkan kita. Anggap saja aku sedang dinas ke luar kota, setelah urusun selesai, baru aku kembali.”
“Dinas apanya? Kau bukan pegawai. Kau hanya seorang manusia super dengan banyak profesi.”
Refald tertawa mendengar ucapan istrinya. Ia semakin mendekap erat ubuh Fey seolah enggan melepas pelukannya. “Jangan menangis lagi, Honey. Meski cobaan ini berat bagi kita, tapi percayalah, bahwa akan indah pada waktunya. Kau ... tidak melihat apa yang akan terjadi setelah kita berkumpul bersama lagi, kan?”
“Tidak, aku tidak lihat apa-apa selain kematian dan perpisahan. Memangnya apa yang akan terjadi setelah kita kembali bersama?” tanya Fey antara sedih dan juga penasaran.
“Sesuatu yang membahagiakan, dan memalukan untuk usia kita berdua, tapi aku akan dengan sangat senang hati menerimanya. Begitu juga denganmu, nanti kau juga harus menerimanya, Honey.” Refald mencium lagi bibir ranum Fey yang masih bingung dengan makna perkataan suaminya. “Ayo kita pergi,” ajak Refald setelah ia selesai mencium Fey.
“Kemana?”
“Ke tempat kita bisa melakukan ritual maju mundur cantik sepuasnya. Setelah itu, kita harus menemui leluhur kita dan menunggu kedatangan Rey dan Rhea disana.”
“Hah? Apakah ... sudah waktunya?”
“Ehm, sudah waktunya.” Refald menggendong tubuh istrinya dan dalam sekejap, mereka menghilang dari tebing.
***
Sementara di sekolah, Rey terus memerhatikan Rhea yang mengusap pelan keringat diwajahnya dengan saputangan milik Rhea. Cowok itu teringat akan kenangan saat pertama kali Rey bertemu dengan Rhea sewaktu ia ada di hutan beberapa waktu yang lalu. Hanya saja, ekspresi Rhea tak seceria dulu. Raut wajah kekasihnya ini cenderung terlihat sendu, tidak ada senyuman di bibir indahnya.
“Ada apa dengan wajah cantikmu itu,” tanya Rey sambil memegang tangan Rhea yang menempel di pipinya.
“Kita kembali bersama-sama.” Rey menggandeng tangan Rhea pergi beriringan meninggalkan lapangan basket diiakuti tatapan mata semua orang yang ada di lapangan.
“Huh, mereka berdua selalu terlihat mesra.” Teman-teman Rey mulai berkomentar.
“Kau benar, jiwa jombloku jadi meronta-ronta. Apalah daya di sekolah ini nggak ada yang mau sama aku,” ujar Malco sok nyesek.
“Kau baru saja mutusin pacarmu kemarin, masih berani bilang nggak laku? Dasar buaya nggak tahu diuntung!” ledek Kevin.
“Diam kau, bawel!” balas Malco.
Semua orang mulai bergunjing ria melihat betapa romantisnya Rey dan Rhea. Apalagi saat keduanya berjalan bersama-sama, siapapun yang melihat keserasian Rey dan Rhea, sudah dipastikan iri tingkat dewa. Kalau soal Irene, jangan ditanya lagi. Dia langsung pergi meninggalkan sekolah tanpa izin alias bolos sekolah. Hatinya benar-benar marah, dongkol dan juga kesal. Semuanya bercampur aduk jadi satu. Namun sialnya, ternyata Irene sudah mengetahui kelemahan Rey dan ia akan gunakan kelemahan itu untuk menjatuhkan Rhea di waktu yang tepat.
“Awas saja kalian berdua!” gumam Irene sambil berjalan menjauh meninggalkan sekolah.
Sepulang sekolah, ternyata Rey tidak langsung membawa Rhea pulang ke rumah. Ia malah membawa kekasihnya masuk ke dalam sebuah hutan. Cuaca sedang mendung sekarang, sepertinya sebentar lagi, akan segera turun hujan. Namun Rey tidak peduli, hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Rhea tanpa mau diganggu oleh siapapun.
“Kenapa kita kemari?” tanya Rhea tidak mengerti. Ia mengamati hutan yang ada disekelilingnya.
“Karena tempat ini adalah tempat dimana pertama kali kita bertemu.” Rey menghentikan mobilnya tepat di depan jalan setapak.
Rey keluar dari mobil dan berjalan cepat ke sisi Rhea lalu membantu membukakan pintu mobil untuknya. Rhea keluar dan berdiri tepat di depan suaminya yang ssejak tadi terus menatapnya tanpa henti.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Rhea jadi sedikit malu ditatap Rey terus-terusan.
__ADS_1
“Karena aku suamimu,” jawab Rey cepat. Ia pun langsung menggendong tubuh Rhea dan melompat tinggi pergi masuk ke dalam hutan yang lebat.
Rey berlari sekencang mungkin melesat bagai angin menerobos rimbunan pohon yang bertebaran disekelilingnya. Ia terus menatap lurus ke depan menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui Rhea. Rhea sendiri tidak tahu apa alasan suami ghaibnya ini membawanya kemari.
Dalam gendongan Rey, Rhea hanya menatap wajah tampan suaminya dengan segudang rasa didalamnya. Gadis itu sungguh cinta pria ini, dan Rey sendiri juga mencintainya. Namun, entah mengapa, hatinya terus saja merasa gelisah. Rhea tidak tahu apa yang akan terjadi pada hubungan mereka berdua. Ia hanya berharap semoga tidak terjadi hal yang buruk.
Setelah beberapa detik berlari melebihi kecepatan cahaya, akhirnya keduanya sampai di tempat sama seperti tempat Refald dan Fey dulu melaksanakan bulan madu mereka setelah melangsungkan pernikahan ghaibnya. Tempat ini tidak bisa dilihat oleh orang lain kecuali orang-orang tertentu. Jika Rey bisa menjangkau tempat ini, artinya kekuatan putra Refald itu kini sudah semakin bertambah.
“Tempat apalagi ini?” tanya Rhea sedikit bingung. Padahal beberapa detik yang lalu, keduanya masih berada di dalam hutan, tapi kini ia sudah berada di sebuah ruangan gelap.
Rey tidak menjawab pertanyaan Rhea, ia malah masuk ke dalam sebuah ruang dimensi lain sambil terus menggendomg istrinya. Sama seperti Refald dulu, setiap langkah kaki Rey, tiba-tiba dinding ruangan menyala dengan sendirinya. Dari sini, mulai terlihatlah sebuah lorong yang membawa mereka berdua ke suatu tempat.
“Paaa ....” Rhea hendak bicara tapi Rey langsung meliriknya tajam.
“Berani memanggilku pangeran, akan aku cium kau disini. Dan jangan salahkan aku jika ... aku ingin bercocok tanam denganmu.”
“Hah? Bercocok tanam apaan?” tanya Rhea tidak mengerti maksud ucapan Rey.
“Kau sungguh ingin tahu? Mau coba?” Rey menyeringai saat menggoda Rhea.
“Tidak terimakasih, meski aku tidak tahu apa itu, tapi aku yakin itu bukanlah hal yang baik untukku.”
“Tapi sangat baik untukku.” Lagi-lagi Rey tersenyum.
“Untukmu, tapi tidak untukku.”
“Siapa bilang, tentu saja baik untuk kita berdua. Aku yakin ayah dan ibuku tidak keberatan kalau kita memberikan cucu untuk mereka.”
“Apa?” teriak Rhea. Rey hampir berjingkat karena terkejut mendengar suara teriakan Rhea.
“Kenapa kau berteriak, Sayang. Telingaku sakit sekali.”
“Lagian apa yang yang kau katakan? Terlalu dini bagi kita untuk memberi ra ... maksudku ayah dan ibu ... cucu. Kita bahkan belum lulus sekolah.” Wajah Rhea jadi merah merona. Aneh rasanya membicarakan masalah anak dengan Rey diusianya yang baru saja menginjak 17 tahun.
“Kalau begitu, kita bercocok tanam saja, masalah hasilnya ... kita pikirkan nanti setelah kita benar-benar menikah.”
“Bercocok tanam apanya, sih? Memangnya, apa yang kau tanam? Dan kau mau menanam dimana? Apa kau bercita-cita menjadi seorang petani?” tanya Rhea sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
Rey langsung tertawa keras mendengar semua pertanyaan polos istrinya ini. “Nanti kalau sudah waktunya aku akan mempraktekkannya dengamu. Sekarang, kita temui dulu leluhurku.”
“Hah? Leluhur? Maksudnya?” Rhea mengernyitkan alisnya. Dan anehnya, Rey sama sekali tidak mengizinkan Rhea turun dari gendongannya.
“Pernikahan ghaib kita terjadi begitu tiba-tiba sehingga kita belum sempat menyapa leluhurku. Ayah memintaku menyapa mereka jika aku sudah siap sekaligus melaksanakan apa yang kemarin sempat tertunda.”
Rhea mulai berpikir sejenak untuk mencerna setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. “Melakukan apa?” Rhea benar-benar tidak mengerti.
Kali ini Rey sudah berhenti di depan sebuah pintu masuk. Ia menurunkan pelan, Rhea dan menatap lurus pintu itu. “Melakukan ritual penyatuan jiwa kita yang tertunda.”
Rhea langsung tertegun dan langsung menelan salivanya. Ia pernah mendengar istilah ini dari ayahnya, meski sangat bingung tapi Rhea tiba-tiba menjadi sangat gugup. Mendadak tangannya gemetar dan berkeringat dingin.
“Tanganmu dingin sekali, Sayang. Jangan gugup, kata ayah ... ini momen yang sangat menyenangkan. Dan di setiap bulan baru, kita bisa melakukan panyatuan jiwa ini. Aku sudah tidak sabar seperti apa rasanya.”
“Kau mesum sekali?” protes Rhea dan langsung disambut tawa kecil Rey disaat pintu ruangan terbuka.
****
__ADS_1
5 episode menuju akhir ... siapin tisyu apa nggak, ya? Hehehe ... maaf kalau upmya Refald dan Leo telat.