
Refald memarkir mobil sportnya di depan pekarangan rumah nenek Fey. Mereka berdua langsung masuk ke dalam dan menyapa beberapa orang yang tinggal bersama dengan neneknya, termasuk mbok Min.
“Selamat datang, nyonya Refald.” Mbok Min pun menyambut kedatangan Fey dan suaminya.
Sejujurnya, Fey jadi merasa aneh kalau mbok Min memanggilnya seperti itu, tapi kenyataannya memang begitu. Kini ia sudah menjadi nyonya Refald.
“Di mana nenek sekarang, Mbok?” tanya Fey.
“Ada dikamarnya, silahkan masuk saja, nenek anda memang sedang menunggu kedatangan kalian berdua.”
Fey dan Refald langsung masuk ke kamar nenek Fey yang kebetulan sang pemilik kamar sedang santai dikamarnya.
“Aku kira kau sudah melupakanku begitu kau menikah dengan pangeranmu!” sindir nenek Fey saat mereka berdua sudah ada diruangannya. Wanita tua itu duduk dikursi kebesarannya sambil memandangi pemandangan alam yang ada diluar jendelanya.
Fey melepas genggaman tangannya dari tangan Refald dan berjalan pelan mendekati neneknya. Gadis itu jongkok di depan wanita renta itu agar bisa menatap wajah keriput nenek satu-satunya.
“Bagaimana bisa aku melupakan wanita secantik ini. Meski wajahnya sudah tak muda lagi, tapi bagiku dia adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat dibumi ini.” Fey menggenggam erat tangan neneknya.
“Apa si sableng Refald yang mengajarimu ngegombal begitu?” tanya nenek Fey sambil tersenyum simpul.
“Ehm, sepertinya begitu. Aku belajar banyak darinya. Dan ternyata ada manfaatnya juga, Nenek mau tersenyum lagi padaku.” Fey pun membalas senyuman neneknya.
“Apa yang membawamu kemari, pasti ada sesuatu. Katakan padaku, apa yang kau inginkan.”
“Wuah, darimana nenek tahu?”
“Kau cucuku! Tentu saja aku tahu. Ada apa?”
Sebenarnya Fey ragu mengatakannya, tapi ia ingin menyelesaikan masalah pak Po secepatnya. Karena itu ia harus berani menanyakan apa yang ingin ia ketahui dari neneknya ini.
“Ehm ... maaf, Nek. Karena baru bisa menemui Nenek sekarang. Ada banyak hal yang harus kami kerjakan sebelum datang kemari. Aku harap Nenek mengerti dan juga ... terimakasih atas hadiah yang nenek berikan dihari pernikahanku. Hadiah itu sangat berarti bagiku.” Fey memegang kalung dilehernya. Kalung tersebut adalah milik almarhum ibunya yang tidak lain adalah pemberian dari neneknya sendiri.
“Kau menyukainya?” tanya nenek Fey sambil memerhatikan kalung yang dipegang cucunya.
“Tentu saja, Nek. Ini adalah kado paling berharga dalam hidupku. Terimakasih sudah mau memberikannya padaku. Tapi Nek, bagaimana dengan kakakku, Sakura? Sepertinya, kalung ini cuma satu.”
“Dihari pernikahan kakakmu, Sakura sudah mendapatkan kado yang tak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya. Yaitu kedatangan almarhum ibumu. Namun dipernikahanmu, hanya kalung inilah yang bisa ibumu tinggalkan untukmu. Aku yakin, kau sudah tahu apa alasannya.”
Yang dikatakan Nenek Fey benar. Ia dan kakaknya, sama-sama mendapatkan kado istimewa yang paling berharga dalam hidupnya dihari pernikahannya masing-masing.
“Nenek selalu benar. Aku sangat bahagia, Nek ... ehm, sebenarnya ... ada yang ingin aku tanyakan lagi pada Nenek.” Fey menatap tajam mata neneknya yang juga langsung menatapnya. Sedangkan Refald, sejak tadi hanya diam tanpa suara.
“Ada apa? Kau tidak tahu cara buat anak? Apa pangeranmu itu tidak mengajarimu dengan baik?”
“Apa yang nenek katakan? Bukan itu ...” Fey langsung keki neneknya malah membahas hal-hal yang tidak ingin Fey dengar saat ini.
“Aku sudah mengajarinya dengan sangat baik, Nek. Nenek jangan khawatir, sebentar lagi Nenek akan punya buyut.” Refald semakin memperkeruh suasana.
“Oh, iya?” entah kenapa neneknya yang tadinya terlihat murung tiba-tiba saja menjadi bersemangat setelah mendengar gurauan Refald. “Kau yakin aku akan punya buyut?” tanya nenek Fey untuk memastikan.
“Kita hanya tinggal menunggu, Nek. Karena itu ... Nenek harus tetap sehat sampai saat itu tiba!” kata-kata Refald semakin terdengar meyakinkan.
__ADS_1
Fey hanya menganga melihat mereka berdua membicarakan hal-hal yang belum tentu juga terjadi. Wuah, hebat si Refald. Bukan cuma jago diranjang, tapi ternyata ia jago juga berakting, batin Fey.
“Kapan?” tanya nenek antusias. Wajahnya yang tadinya sendu, kini terlihat lebih bersemangat penuh tenaga.
“Kita tunggu 2 minggu lagi dari sekarang, Nek. Itu prediksiku. Selama proses menunggu, aku akan berusaha memberi Nenek seorang buyut yang lucu dan menggemaskan.” Refald tertawa sendiri memikirkan bahwa iya akan menjadi seorang ayah.
Tangan Fey mengepal kuat melihat Refald terus saja mengompori neneknya sampai ia sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Selama 2 hari pernikahannya dengan Refald, suaminya itu memang mensuplaynya habis-habisan tanpa ampun untuk menciptakan Refald kecil.
“Nenek, jangan dengarkan dia ... aku benar-benar ingin bertanya sesuatu yang lebih penting. Ini tentang pernikahan ghaib beda dunia yang dulu pernah dilakukan almarhum kakek saat beliau menikahkan mbak Sun dengan seorang manusia biasa.”
Deg!
Seketika, nenek Fey langsung terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut cucunya, begitu juga dengan Refald. Senyum yang tadinya mengembang di wajah keduanya langsung menghilang dan berubah menjadi tatapan tajam yang menakutkan.
“Bagaimana kau bisa tahu soal itu? Siapa yang memberitahumu?” tanya nenek Fey masih dengan ekspresi shock. Ia tidak menyangka, rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat akhirnya diketahui juga oleh cucunya sendiri. Padahal, selain dirinya dan suaminya, tidak ada yang tahu ritual itu.
“Entahlah Nek. Tiba-tiba saja aku bisa melihat masa lalu almarhum kakekku, dan apa saja yang dulu pernah kakek lakukan semasa beliau hidup. Kakek, juga sama dengan Refald. Beliau, bukan manusia biasa seperti yang lainnya. Kakek adalah orang istimewa, seperti suamiku.” Fey sendiri juga tidak tahu, tiba-tiba saja ia terbayang sekelebat kejadian yang dilakukan almarhum kakeknya dimasa lalu saat ia berbicara dengan Di tadi.
Awalnya Fey tidak tahu siapa orang yang ada dalam penglihatannya, tapi melihat cara bicaranya yang sama persis seperti almarhum ibu Fey, gadis itu langsung tahu bahwa sosok yang ada dalam pikirannya adalah kakeknya sendiri.
Tak bisa dilukiskan betapa terkejutnya 2 orang yang ada di depan Fey saat ini. Mereka sama-sama shock untuk alasan yang berbeda. Nenek Fey, terkejut karena ternyata cucunya mengetahui rahasia besar almarhum suaminya. Sedangkan Refald shock karena ternyata almarhum kakek Fey adalah orang istimewa sama seperti dirinya.
Ini adalah takdir luar biasa, dari sejuta alasan yang ada, kini Refald semakin paham kenapa Fey terpilih menjadi pasangannya. Ternyata, dalam diri gadis itu, mengalir darah orang yang sama istimewanya seperti dirinya. Dan Refald semakin yakin, kekuatan yang kini dimiliki Fey, bukan hanya berasal dari dirinya saja, tapi karena Fey adalah keturunan dari orang yang istimewa. Mereka berdua, Fey dan Refald memang ditakdirkan berjodoh bahkan sebelum keduanya dilahirkan.
“Sudah cukup shocknya, sekarang jelaskan padaku. Bagaimana kakek melakukannya.” Fey menatap tajam mata Refald dan juga neneknya secara bergantian.
“Siapa yang ingin kau nikahkan?” akhirnya nenek Fey bisa menguasai dirinya.
“Salah satu pasukan suamiku, pak Po, dengan wanita cantik tunanetra berasal dari Norwegia,” jawab Fey tandas tanpa ragu.
***
Selama satu jam Fey dan Refald berada di dalam kamar Neneknya dan akhirnya, keduanyapun keluar dengan berbagai macam perasaan masing-masing setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari nenek Fey mengenai pertanyaan yang diajukan istri Refald.
“Honey, kau yakin kita akan melakukan semua ini?” tanya Refald setelah keduanya berada di dalam kamar Fey yang berada di lantai dua. Kamar itu adalah kamar yang sama dimana dulu Fey tinggal sebelum ia menikah dengan Refald.
“Lalu, kau ingin Di mengakhiri hidupnya supaya bisa bersama dengan pak Po? Padahal jelas-jelas umur wanita itu masih panjang.”
“Pak Po masih bisa menunggu sampai kekasihnya itu tutup usia!”
“Rosalinda Di tidak akan mau, ia sudah tahu segalanya tentang pak Po. Ia ingin bersama dengan sosok yang dicintainya tak peduli siapapun pak Po. Jika kita disisi mereka, apa kau akan menungguku sampai aku mati dulu? Tidakkah kau kasihan padaku? Aku akan mati dalam keadaan tua baru bisa hidup bersamamu? Aku yakin bukan itu yang diinginkan Di begitu juga denganku jika aku ada diposisi mereka.” Fey menatap tajam wajah Refald. “Haishh, kenapa kisah pak Po dan Di jadi mirip twilight lagi, sih? Bella juga rela mati agar bisa hidup dengan Edward.”
“Kenapa kau malah menghubungkan kisah mereka dengan idolamu!”
“Ya ... memang karena mirip, bedanya kita punya solusi untuk mereka,” sergah Fey. “Katakan padaku, apa kau tidak mau melakukannya untuk pak Po?”
“Bukan begitu, Honey. Aku hanya tidak yakin aku bisa melakukannya.”
“Kau pasti bisa Pangeranku, karena kau punya kekuatan melebihi almarhum kakekku. Meski aku tidak pernah tahu seperti apa kakekku itu, aku masih bisa merasakannya melalui dirimu. Mbok Min pernah memberitahuku, bahwa almarhum kakek adalah orang tersabar yang pernah ada di dunia ini. Sekalipun, ia tidak pernah marah meski banyak orang menyakitinya. Beliau selalu bersikap tenang dan juga lebih banyak diam.
“Tak peduli seberapa orang yang menghujatnya, membencinya, memarahinya, dan melakukan hal-hal yang membuat kakekku menderita, sekalipun beliau tak pernah marah, benci, dendam ataupun kesal. Satu-satunya yang kakekku lakukan hanyalah tersenyum.” Tiba-tiba saja, Fey jadi merasa bangga pada kakeknya sendiri padahal ia belum pernah bertemu langsung. “Ah tidak, entah kenapa aku jadi merindukan sosok kakekku sekarang? Sial!” Fey berdiri di depan jendela sambil memegangi kepalanya. Bayangan-bayangan tentang almarhum kakeknya semasa masih hidup mendadak terlintas begitu saja di pikirannya.
__ADS_1
Refald langsung memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipinya dengan mesra. “Tenangkan dirimu, Honey. Sekarang aku baru tahu. Kekuatan yang diberikan kakekmu itu muncul setelah kau menikah denganku. Jiwa dan raga kita sudah bersatu dan itu membuat kekuatan yang diturunkan dari kakekmu telah terbuka. Ibarat sebuah kotak harta karun yang sudah menemukan kuncinya. Begitu kunci kotak harta karun itu ditemukan, kau bisa membukanya dan menikmati isi dalam kotak tersebut. Aku adalah kunci kekuatanmu yang tersembunyi. Dan sekarang, kau punya kekuatan sama seperti yang dimiliki kakekmu. Aku sangat senang, Honey. Aku bangga padamu. Ternyata istriku, sama istimewanya sepertiku.”
“Jadi ... kau mau melakukannya?” tanya Fey senang.
“Akan aku coba, tapi besok kita harus ke Swiss terlebih dulu untuk mengantar ayah. Dan juga ... benih yang kutanam diperut indahmu ini ... sepertinya juga sudah mulai proses. Aku bisa merasakannya.” Refald memegang perut rata Fey dan mencium mesra bibir istrinya. “Lupakan masalah pak Po dan sebagainya. Aku ingin menagih janjimu padaku, tadi.” Tangan Refald mulai jail dan bergerak kesegala arah menggerayangi tubuh istrinya.
Perlahan, Refald melepas pakaian istrinya dan juga pakaiannya sendiri. Keduanya pun mulai melakukan adegan maju mundur cantik dengan penuh gairah yang membara. Mereka sama-sama menyalurkan hasrat birahi masing-masing. Kali ini, Refald bermain secara halus dan tidak terburu-buru seperti biasanya. Ia menikmati setiap inci tubuh istrinya yang juga sedang terhanyut dalam lautan cinta Refald. Suasana romantis ala sepasang pengantin baru, menyelimuti keduanya.
Terlepas dari semua masalah yang ada, Refald ingin membuat Fey melayang di atas awan bersamanya. Hentakan-hentakan lembut terus ia pacu untuk menciptakan suasana syahdu diantara keduanya. Fey pun sekarang juga sudah mulai mengerti bagaimana cara menikmati hubungan intim suami istri ini sehingga kadang dialah yang memimpin ritual maju mudur cantiknya.
Tentu saja hal itu membuat Refald senang. Keduanya bertukar posisi, Fey berada di atas dan Refald berada dibawah. Kali ini, bukan main adegan maju mudur cantik lagi, tetapi main kuda-kudaan dimana Fey melakukan gerakan seolah sedang menunggang kuda. Fey melakukan gerakan naik turun yes dengan baik sehingga giliran Refald yang dibuat mabuk kepayang oleh gerakan sensasional istrinya saat berada diatas tubuhnya.
Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya keduanya sama-sama mengalami pelepasan bersama. Refald merebahkan tubuh istrinya dan menindihnya dengan tubuhnya, ia menikmati proses transfer kecebong sambil merebahkan kepalanya di dada indah Fey.
Setelah selesai, Refald kembali menatap wajah istrinya dan mencium kening Fey dengan mesra. “Darimana kau belajar gerakan tadi, Honey,” tanya Refald dengan menatap tajam manik mata indah Fey.
“Kenapa? Kau tidak suka?”
“Justru aku sangat menikmatinya, tapi aku penasaran, bagaimana bisa kau melakukannya?”
“Aku tidak tahu, itu refleks karena kau terus saja membuatku terangsang,” jawab Fey apa adanya.
“Kita lakukan sekali lagi,” pinta Refald dengan kilatan matanya yang menggoda.
“Hah? Lagi?”
“Aku tidak mau melakukan ritual pak Po jika kau tidak mau menuruti keinginanku.” Refald mengancam istrinya dengan sebuah ancaman yang nikmat.
“Oke-oke! Tapi kau harus janji lakukan ritualnya dengan baik, jangan sampai terjadi kesalahan,” pinta Fey.
“Refald tidak pernah mengingkari janji. Kau tahu sendiri seperti apa aku. Lakukan gerakan naik turun yes seperti tadi!” Refald mulai menyeringai nakal.
Mau tidak mau, Fey memang harus menuruti dan memenuhi keinginan suaminya. Entah berapa ronde yang sudah mereka mainkan, bahkan sampai larut malam, keduanya tak juga keluar kamar. Dasar pasangan pengantin baru gak ada akhlak! Bikin iri yang baca saja. Leo dan Shena jadi kalah.
“Terimakasih, Honey. Kau membuat hidupku semakin sempurna. Aku sangat mencintaimu,” ujar Refald setelah keduanya selesai melaksanakan ritual naik turun yes dan maju mundur cantik sambil memberikan kecupan manis pada Fey.
“Aku sangat bahagia, karena yang menjadi suamiku, adalah dirimu.” Feypun menenggelamkan wajahnya di dada bidang Refald dan mulai tertidur lelap tanpa mimpi.
BERSAMBUNG
***
hadeuhh maaf otakku lagi kongslet .. setelah ini masuk Leo Shena Roy Laura dulu ya. . kali aja kongsletku hilang. Hehe ...
Pernikahan pak Po dan mbak Di pasti udah bisa nebak seperti apa .. ditunggu ya .. love you all ...
Terimakasih yang udah mau komen dan likenya ... juga yang udah ngasih koin dan poinnya .. love you forever pokoknya.
__ADS_1