Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 102 Sebuah Misi


__ADS_3

Kami berada di sebuah tenda pasukan khusus yang dikomando ayah Refald alias ayah mertuaku sendiri. Tidak kusangka pekerjaan ayah mertuaku adalah seorang anggota agen khusus luar negeri. Bahkan dari pembicaraannya dengan anak buahnya, sudah terlihat jelas bahwa ayah mertuaku ini adalah pemimpin pasukan ini.


“Fey, masuklah ke dalam tendamu dan istirahatlah dulu di sana.” Ayahku menunjuk sebuah tenda berwarna hijau tua berukuran sedang. “Aku harus mengadakan rapat dulu, karena ini sangat urgent. Begitu selesai rapat, aku janji akan menjelaskan semuanya padamu.” Ayah mertuaku yang masih belum ku tahu siapa namanya ini menepuk pelan pundakku dan berlalu pergi meninggalkanku menuju tenda besar, sepertinya itu khusus digunakan sebagai ruang rapat.


Akupun menuruti perintah ayah mertuaku tanpa berani membantahnya. Aku masuk ke dalam tenda yang sudah disediakan khusus untukku dan mencoba berbaring di atas matras berukuran satu orang.


Sebisa mungkin aku berusaha merilekskan pikiranku. Namun, bayangan Refald selalu saja menghantuiku. Sampai saat ini, aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Apakah dia berhasil kabur atau tidak. Ada di mana dia sekarang, dan apakah dia baik-baik saja. Ditambah lagi, ayahnya sendiri malah bilang kalau Refald tidak akan datang menemuiku. Hal itu benar-benar membuatku kalut tak menentu.


Semua misteri dan teka-teki ini membuatku bingung sehingga membuat mataku sulit terpejam. Aku sangat mencemaskan tunanganku. Meski tidak dapat dipungkiri ada sedikit kelegaan di hatiku karena ayah Refald yang ternyata bukan orang sembarangan sudah datang kemari, dan aku yakin beliau bakal melakukan apa saja untuk menyelamatkan putranya seandainya saja, Refald sedang dalam bahaya.


Tiga jam sudah berlalu dan matahari sudah terbit tinggi di ufuk timur. Suara kicauan burung terdengar merdu di telingaku yang masih saja terjaga memikirkan Refald. Padahal, aku ngantuk sekali, tapi mata ini tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya aku putuskan keluar tenda dan menikmati suasana pagi di dalam hutan, kali ini tentu saja tanpa Refald.


Tanpanya, pagiku hilang entah kemana. Aku selalu merindukan Refald. Sedetik ia tidak bersamaku, berasa seperti setahun. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menunggu dan berharap ayah Refald bisa membawa Refald kembali dalam keadaan selamat.


Aku masih menunggu penjelasan dari ayah mertuaku mengenai situasi yang rumit ini, tapi sepertinya beliau sedang sibuk merencanakan sesuatu yang tidak aku tahu apa itu. Mereka langsung berembug sesuatu begitu lama setelah aku menyerahkan flashdisk yang dititipkan Refald untukku melalui mbak Kun. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada ayah mertuaku. Sebab, jika dilihat dari pembicaraan mereka yang tak kunjung keluar tenda rapat, pasti ada sesuatu hal yang sangat genting sedang terjadi.


Apa Refald sedang dalam bahaya? Batinku dan mengamati tenda rapat mertuaku.


Beberapa anak buah ayah Refald datang menghampiriku dan membawakanku makanan. “Makanlah ini,” suruh salah satu anak buah ayah mertuaku yang bernama Akbar, terlihat dari nama terang yang tertempel rapi diseragamnya. Jadi, aku bisa tahu namanya.

__ADS_1


“Terimakasih,” jawabku sambil tersenyum simpul menatap potongan daging panggang yang kelihatannya sangat enak. “Apa ini, Sir?”


“Itu rusa panggang, partner Aril yang menangkapnya semalam. Dagingnya empuk dan sangat enak, cobalah!” Akbar berdiri didepanku sambil berkacak pinggang dan mengamati sekitar.


“Ehm, baunya enak. Terimakasih, Sir.” Aku mulai mencicipi daging rusa panggang yang memang empuk sekali saat dimakan. Selain itu, rasanya juga memang benar enak. Para anggota khusus ini sepertinya memang terlatih untuk bisa survive (bertahan hidup) di dalam hutan rimba seperti ini.


“Sir,” ujarku sebelum anggota pasukan ayah mertuaku itu pergi meninggalkanku.


“Iya! Ada yang bisa aku bantu?” Akbar berbalik badan dan menghadapku.


“Kenapa, mereka lama sekali di dalam? Apaaa ... ada sesuatu hal genting yang terjadi?” tanyaku penasaran.


Pria tegap dan tinggi menjulang itu hanya diam menatapku seolah bingung apakah harus memberitahuku atau tidak. Aku juga tidak perlu menjelaskan siapa aku karena aku yakin, mereka semua yang ada di sini sudah tahu siapa aku dan apa hubunganku dengan pemimpin mereka.


Misi? Misi apalagi? Tanyaku dalam hati.


Tak berselang lama, keluarlah ayah mertuaku dari tenda dan mencari-cari keberadaanku. Begitu melihatku, ia langsung datang menghampiriku.


“Kau baik-baik saja?” tanyanya dan langsung duduk disebelahku. Kami berdua duduk di atas sebuah batu besar menghadap hamparan hutan yang luas bagai samudera. Entah ada di mana aku sekarang, rasanya seperti berada di dalam hutan amazon saja. Padahal, aku yakin sekali kalau kami masih berada di Indonesia.

__ADS_1


“Aku baik, Ayah. Sekarang, Ayah harus melunasi hutang penjelasan yang sudah Ayah janjikan padaku. Di mana Refald? Apa yang terjadi dengannya? Sir Akbar bilang, kita akan melakukan misi sebentar lagi, misi apa?” tanpa sadar aku sudah memberondong banyak sekali pertanyaan pada mertuaku. Aku yakin dia juga bingung harus menjawabku dari mana dulu.


“Kau selalu to the point, sama seperti dulu, tapi itulah alasan kenapa aku suka denganmu dan memilihmu sebagai menantuku. Bukannya Sakura, kakakmu.” Bukannya menjawab pertanyaanku, ayah Refald malah membuka kenangan masa lalu. “Yah, baiklah, karena kau sebentar lagi akan menjadi menantuku secara resmi, maka kau pun berhak tahu apa yang terjadi dengan calon suamimu.”


Aku mendengarkan dengan khidmad setiap kata yang keluar dari mulut ayah mertuaku. Bahkan, wajahku kini menghadap persis ayah Refald yang kini bisa ku baca siapa nama yang tertulis di seragam khusunya.


Dilagara, jadi itulah nama mertuaku. Ah benar juga, nama Refald adalah Andi Refald Dilagara, berarti nama ayahnya ini adalah Andi Dilagara Karaeng Somba. Aku ingat sekarang! Batinku.


“Apa kau sudah ingat aku?” tanya ayah mertuaku kerena melihatku menatap namanya diseragamnya.


“Aku ingat sekarang, Ayah. Refald pernah memberitahuku nama lengkap, Ayah. Maaf jika selama ini aku tidak bersikap baik pada Ayah dan cenderung membuat Ayah kecewa. Maafkan aku. Maaf juga karena tidak menyambut kedatangan Ayah dengan baik.” Aku mengucapkan permintaan maafku dengan tulus dari lubuk hatiku yang terdalam sambil menundukkan kepalaku karena malu menatap wajah ayah mertuaku.


Tentu saja mertuaku hanya tersenyum simpul sambil membelai lembut rambutku. Aku bisa merasakan kasih sayang sorang ayah yang begitu besar pada putrinya. Beruntungnya aku memiliki ayah mertua yang lemah lembut seperti ayah Refald ini. Kini, aku punya dua ayah yang benar-benar menyayangiku. Entah kenapa aku ingin menangis sekarang, tapi aku berusaha menahan agar air mataku tidak tumpah keluar.


“Semua yang terjadi, bukanlah salahmu, Fey. Kau gadis luar biasa yang sangat kuat. Kami memintamu dari ayahmu, tapi kami tidak bisa menjagamu dengan baik. Dalam kasusmu, kamilah yang bersalah. Kamilah yang harusnya minta maaf padamu. Sebagai ayah mertuamu, aku tidak becus melindungi menantuku. Tapi syukurlah kini sepertinya, semua baik-baik saja. Kita akan membicarakan masalah pertunangan kalian begitu keluar dari hutan ini. Saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan Refald.”


Aku terkejut mendengar kalimat terakhir ayah mertuaku. Spontan aku langsung berdiri dengan kecemasan tingkat dewa. “Apa yang terjadi dengan Refald?” tanyaku dengan nada gemetar.


“Tenanglah Fey, Refald baik-baik saja. Dia hanya dijadikan sandera oleh musuh, dan kami harus menukarnya dengan flashdisk yang kau bawa. Jika tidak, maka mereka akan melenyapkannya. Tapi kau tidak perlu khawatir, kami semua yang ada di sini pasti bisa menangkap penjahat itu dan membebaskan Refald dalam keadaan hidup-hidup. Percayalah padaku. Tapi ... sepertinya aku terpaksa harus melibatkan dirimu. Maukah kau melakukan satu hal untukku?” tanya ayah Refald padaku yang masih shock mendengar kabar bahwa Refald saat ini sedang disandera.

__ADS_1


Apapun pasti akan aku lakukan demi bisa menyelamatkan Refald sekalipun harus mengorbankan nyawaku. Batinku bergejolak menatap tajam manik mata mertuaku sebagai tanda bahwa aku siap melakukan apapun demi Refald.


***


__ADS_2