Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 197 Terjebak


__ADS_3

Bila Refald dan Fey disibukkan dengan ritual dan hari pernikahannya, maka Leo sibuk menyiapkan rencana pernyataan cintanya pada Shena yang akan ia laksanakan malam ini, tepat disaat festival kampus yang diadakan setiap setahun sekali dikampusnya.


Hari ini, Shena juga disibukkan dengan teman-temannya yang akan mengikuti festival kampus malam ini. Meski tidak ikut berpartisipasi, Shena tetap membantu teman-temannya dibalik layar dan mendukung mereka semua supaya berhasil memenangkan kompetisi menyanyi dan menari yang diadakan disetiap jurusan dan fakultas masing-masing.


Hadiah yang diberikan lumayan wah dan menggiurkan jika bisa memenangkan kompetisi ini. Karena itulah, semua teman-teman Shena bekerja keras agar bisa memenangkan kompetisi dalam festival tahunan kali ini. Shena sendiri membantu menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan teman-temannya agar penampilan mereka sempurna. Gadis itu rela berlari kesana-kemari demi bisa memenuhi apa yang dibutuhkan para peserta lomba.


Di sela-sela kesibukannya, Shena sempat berpapasan dengan Leo, tapi gadis itu selalu menghindar agar tidak sampai bertatap muka dengan Leo. Sayangnya, takdir tak bisa dihindari lagi. Ketua panitia acara festival tahunan ini adalah Leo, dan Shena harus mengurus pendaftaran ulang teman-temannya yang mengikuti kompetisi malam nanti untuk pendataan dan pengambilan nomer peserta. Jadi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, Shena harus bertemu muka dengan Leo untuk menandatangani berkasnya yang berisi daftar nama-nama teman Shena yang ikut lomba.


Tentu saja untuk menemui Leo, Shena mengajak Laura. Ia tidak berani bertemu Leo sendirian. Awalnya, Laura menolak ajakan Shena, tapi sahabatnya itu terus saja memaksa dan membujuknya agar mau menemaninya.


“Siapa tahu nanti di sana ada Roy, Ra. Kamu bisa cuci mata sama dia,” ujar Shena yang berusaha membujuk sahabatnya agar menuruti permintaannya.


Mendengar kata ‘Roy', Laura tak bisa lagi menolak, ia benar-benar bucin banget dengan cowok yang bernama Roy itu. Sejak awal bertemu, Laura memang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Kerena itu, ia berusaha caper dan tebar pesona terus dimanapun Roy berada.


Shena dan Laura, memberanikan diri masuk ke gedung teknik dimana penghuninya adalah kaum adam semua. Untung saja ini di siang hari dan keadaan sangat sepi karena semua mahasiswanya sedang pada kuliah. Jadi, kedatangan dua wanita langka di dalam gedung ini tak banyak mengundang perhatian orang.


“Kira-kira Leo ada di mana, ya?” tanya Laura pada Shena.


“Apa maksudmu ada di mana? Tunggu! Kau tidak tahu di mana kelas Leo atau Roy sekarang?” pekik Shena, ia tidak percaya Laura ternyata juga tidak tahu keberadaan kelas Leo. Selama ini, Shena pikir Laura tahu posisi kelasnya Roy yang otomatis jadi kelas Leo juga karena jurusan mereka sama. Namun ternyata, dugaannya salah.


“Aku kan nggak punya nomernya, jadi aku nggak tahu, kalau aku tahu pasti tiap hari aku bakal datang kemari nyamperin dia.” Laura menjelaskan alasannya kenapa


tidak tahu dimana kelas Roy.


“Astaga! Kau tahu nggak, sih Ra? Ini tempat apa? Ini sarang monster tahu! Matilah aku, sebaiknya kita segera keluar dari tempat ini sebelum ada yang melihat kita. Kalau tidak, kita tidak akan keluar dari sini hidup-hidup.” Tanpa pikir panjang, Shena langsung menggamit lengan Laura dan memaksanya pergi dari gedung yang terkenal dengan sarang monster ini.


“Tapi ....” Laura masih enggan meninggalkan gedung ini sebelum ia bertemu dengan Roy.


“Nggak ada tapi-tapian! Dasar kau ini! Aku kira kau tahu ada dimana kelasnya Roy, tahu gitu mending aku minta tolong sama yang lain saja kalau kau tidak tahu! Jadi, kita nggak perlu repot-repot datang kemari untuk mencari Leo!” gerutu Shena.

__ADS_1


“Lalu berkasnya, kan acaranya nanti malam?”


“Aku akan cari cara lain nanti, yang penting kita harus keluar dari sini!” ujar Shena sambil berjalan cepat meninggalkan gedung. Namun sepertinya, keduanya sedang apes, tepat sebelum mereka menginjak pintu keluar, segerombolan mahasiswa laki-laki tiba-tiba saja datang dari luar gedung dan hendak masuk ke dalam.


Tentu saja Shena dan Laura terpaku melihat kedatangan segerombolan para monster-monster yang terkenal ganas kalau ada wanita yang datang ke tempat ini. Bagi mereka, wanita yang datang kemari adalah makhluk langka dan merupakan hiburan tersendiri bagi penghuni gedung ini. Sebab itulah tidak ada satu wanitapun yang berani datang kemari apalagi sendirian.


“Gawat, kita terlambat!” gumam Laura sambil menatap para gerombolan para lelaki itu.


“Lebih gawat lagi, mereka semua sudah melihat kita. Matilah kita,” tambah Shena. Keduanya sama-sama tegang dan mulai berjalan mundur selangkah demi selangkah saat para gerombolan para kaum adam itu datang mendekat ke arahnya.


“Wah, ada awewe,” ujar salah satu cowok yang ada dalam gerombolan itu.”


“Wauuuw, sasaran empuk nih, bening-bening pula. Gimana nih? Sikat aja kali ya? Mereka cuma berdua! Cantik-cantik pula.”


“Aku mau yang rambutnya lurus, dia harus jadi cewekku!” ujar cowok yang satunya.


“Nggak bisa! Dia buat aku!” yang lainnya pun tak mau kalah.


“Enak aja! Aku dululah!”


“Aku!”


“Aku! Mau cari mati lu, ha?”


“Lu tuh yang cari mati! Dasar bengek lu!” dua orang somplak saling dorong mendorong satu sama lain memperebutkan hal yang tidak penting.


“Hei kalian! Berhenti bikin keributan! Lihat wajah mereka berdua jadi pucat pasi seperti itu! Jangan buat wanita-wanita cantik itu ketakutan? Jadi nggak seru lagi nanti!” seringai menyeramkan terpancar diseluruh wajah gerombolan kaum adam itu.


Mereka semua terus mendekati Shena dan Laura yang berjalan mundur kebelakang. Kedua gadis itu benar-benar gemetar dan juga panik. Tatapan para laki-laki itu bikin bulu kuduk mereka berdua merinding. Para monster-monster itu jauh lebih menakutkan daripada hantu beneran penunggu gedung ini.

__ADS_1


“Ma-mau ap-apa kalian? Pergi sana?” bentak Shena memberanikan diri. Tanpa sadar keduanya sudah dikepung para monster-monster ini.


“Nggak mau apa-apa, cuma pengen main-main sama kalian saja, ya nggak gaes!” goda laki-laki yang berdiri di depan Shena diikuti gelak tawa yang lainnya.


Shena tidak percaya begitu saja, pasti mereka semua punya niat buruk padanya. Gadis itu sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk melawan mereka semua jika sampai berani menyentuhnya ataupun menyentuh Laura. Shena memikirkan seribu macam cara untuk bisa keluar dari sini secepatnya. Sayangnya, rasa paniknya lebih besar sehingga otaknya, tidak bisa berpikir jernih lagi.


“Ada apa ini?” teriak seseorang yang tidak lain adalah Leo, disampingnya juga ada Roy yang menatap tajam semua teman-temannya.


“Nggak ada apa-apa, aku cuma mau godain mereka aja, lihat tuh mukanya, pucat kayak mayat!” ujar salah satu pria itu sambil tertawa. Tapi Leo langsung menatap tajam pria itu sehingga tawanya berhenti seketika.


Leo memeriksa kondisi Shena yang lemas dan juga panik. Ia mendekat kearah Shena untuk memastikan apakah gadis yang dicintainya itu baik-baik saja atau tidak. Sementara Roy langsung mengajak Laura pergi dari situ entah kemana. Sedangkan yang lainnya, tanpa menunggu diperintah Leo, langsung membubarkan diri karena dosen mereka sudah datang.


“Oey Leo! Ada dosen killer tuh, cepet masuk daripada nilai lu dapat D!” seru temannya lalu menghilang dari balik pintu.


Leo tidak bisa membiarkan Shena berada diluar sendirian apalagi ini bukanlah tempat untuk wanita seperti Shena. Alhasil, ia pun menarik tangan Shena masuk ke dalam kelas dan bersembunyi di balik bangku mahasiswa agar tidak ketahuan dosen killernya.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawaku kemari?” protes Shena. Semua mata yang ada dalam ruangan ini juga menatap tajam kearahnya.


“Diam di sini dan perhatikan saja! Kau tidak boleh jauh-jauh dariku. Kalau kau ketahuan maka habislah kita berdua!”


“Tapi semua teman-temanmu memerhatikan kita? Mustahil jika tidak ketahuan.” Shena hampir menjerit saking shocknya. Ia sama sekali tidak menyangka bakal terjebak di dalam sini bersama dengan Leo.


BERSAMBUNG


****



__ADS_1


__ADS_2