
Proses penobatan Refald sebagai raja dedemit penerus kakek Fey berlangsung dengan khidmad dan lancar. Sejujurnya, hingga detik ini baik Refald ataupun Fey masih belum mengerti tentang situasi yang tengah terjadi disini. Fey bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan kakek tercintanya yang ternyata adalah seorang raja dedemit sesungguhnya. Ditambah fakta dibalik kisah cintanya dengan Refald yang ternyata sudah diatur oleh kakeknya sendiri, lalu yang terakhir adalah penobatan suaminya yang begitu mendadak tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya. Semua hal itu membuat Fey tak bisa lagi mengungkapkan betapa lengkap kebahagiaannya di malam bulan supermoon ini.
Semuanya terjadi begitu cepat sehingga Fey sulit untuk memercayainya dan beranggapan bahwa ini hanyalah mimpi. Namun, semua makhluk yang ada di istana ini mengingatkannya akan momen pernikahan ghaibnya bersama dengan Refald yang terjadi beberapa tahu yang lalu.
“Ini, bukan mimpi. Mereka semua nyata,” gumam Fey pada diri sendiri. Tangannya terus digenggam erat oleh Refald yang sejak tadi diam dan memantau keadaan. Fey sangat tahu ada banyak hal yang dipikirkan suaminya meskipun Refald tidak mengatakannya.
Fey sudah tidak bisa shock lagi karena shocknya sudah melebihi kapasitas. Yang bisa Fey lakukan saat ini hanyalah mengikuti acara yang memang disediakan khusus untuk suaminya, karena sebentar lagi Refald akan menjadi raja, bukan pangeran dedemit lagi.
Rangkaian demi rangkaian acara penobatan pun dimulai. Diawali dengan siraman menggunakan bunga tujuh rupa dan dilakukan oleh semua leluhur Refald. Secara bergantian, mereka semua menyiram tubuh Refald dengan menggunakan gayung yang terbuat dari tempurung batok kelapa satu persatu.
Seluruh pakaian Refald jadi basah kuyup akibat proses tersebut. Hingga akhirnya, sampailah giliran Fey yang mengakhiri siraman tersebut. Acara itu langsung dilanjutkan dengan pergantian kostum ala Refald yang harus dipakai seorang raja. Kerena zaman sekarang sudah memasuki era modern, maka kali ini Fey diberi kehormatan untuk memutuskan kostum apa yang akan dikenakan suaminya.
(Refald yang lagi proses penobatan)
“Pakaian apa yang akan kau pilihkan untuk suamimu, Cucuku?” tanya kakek Fey yang berdiri disampingnya.
Untuk sesaat, Fey menatap Refald yang masih memejamkan mata sambil tersenyum. “Tentu saja pakaian yang biasa dikenakan oleh suamiku Kakek,” ujar Fey senang.
Alhasil secara ajaib, Refald langsung berganti kostum memakai pakaian sehari-hari dengan jaket hitam kesukaan Refald dan tetunya sangat jauh berbeda dari desain pakaian seorang raja pada umumnya. Tidak ada yang berani menentang apapun pilihan Fey, sebab ini adalah keputusuan yang diambil Fey selaku ratu dari raja.
Pakaian yang dikenakan Raja adalah cerminan dari kepribadiannya. Semua makhluk astral yang ada disini sangat tahu dan mengerti seperti apa tabiat raja barunya hanya dengan melihat pakaian yang dipilihkan ratunya. Refald adalah raja yang bersahaja, tegas, dan berwibawa serta agak sedikit gila. Wajar jika suami Fey itu lebih cocok tampil apa adanya kerena ia lebih menyukai kebebasan selama masih dijalan yang benar.
Semua makhluk dari penjuru dunia lain berkumpul dan menyaksikan dengan khusuk bagaimana detik-detik terakhir penobatan Refald sebagai raja dedemit. Kini, acara terakhir adalah penyerahan mahkota raja yang akan diserahkan secara langsung pada Refald.
Refald melangkah maju dan bersimpuh dihadapan kakek Fey sambil menundukkan kapala. Sedangkan Fey berdiri disamping Refald dan menyaksikan bagaimaan proses penyerahan mahkota itu dimulai.
“Wahai seluruh penjuru dunia lain yang hadir dalam acara penobatan penerus generasiku. Kalian semua adalah saksi dimana Aku ... raja Ilaisionara ... menyerahkan mahkotaku pada pangeran Mirza Banta sebagai Raja dedemit dunia lain selanjutnya. Dengan begini, raja kalian yang baru adalah Raja Mirza Banta,” seru kakek Fey dan perlahan memakaikan mahkota simbol raja pada Refald yang bersimpuh dihadapannya. Setelah itu, kakek Fey memberikan doa serta berkatnya sebagai restu bahwa Refald telah resmi menjadi raja dedemit menggantikannya.
Fey baru sadar nama lain pemberian neneknya diambil dari nama kakeknya. Lafeysionara adalah nama yang diberikan nenek Fey selama dirinya tinggal disini dalam pelariannya dulu. Ternyata nama itu, hampir sama dengan nama kakeknya sendiri yaitu Ilaisionara.
Tepuk tangan, sorak sorai dan hingar bingar para makhluk astral yang ada diruangan ini menggema jadi satu memenuhi semua ruang istana. Mereka semua turut berbahagia atas penobatan Refald sebagai raja dedemit.
“Hidup raja, Refald!” teriak para pasukan Refald meramaikan suasana.
“Hidup ratu, Fey!” teriak yang lainnya. Semua menjadi heboh dan sangat antusias menyambut raja dan ratu mereka yang baru.
Sebenarnya, ada yang berbeda dari mahkota yang dikenakan Refald kali ini. Bila semua raja pada umumnya menggunakan mahkota yang terbuat dari emas dengan desain mahkota yang indah dan elegan, lain halnya dengan mahkota yang dikenakan oleh Refald.
Mahkota Refald terbuat dari bunga langka berwarna keunguan dimana hanya para raja dedemitlah yang bisa memakai mahkota tersebut. Makhluk apapun tidak akan pernah bisa memakainya kecuali atas izin raja. Selain itu, makota Refald hanya bisa dilihat oleh makhluk astral saja.
Rangkaian bunga yang dibentuk menjadi mahkota, merupakan simbol bersatunya raja dengan seluruh alam yang ada di dunia ini. Orang biasa, tidak akan bisa melihat mahkota bunga yang dikenakan oleh Refald. Dan uniknya lagi, mahkota itu tak bisa dilepas begitu saja. Yang bisa melepaskan mahkota dikepala Refald hanyalah wanita yang dicintai oleh Refald. Siapa lagi kalau bukan Fey, istrinya sendiri.
“Mahkota yang kau kenakan ini adalah bagian dan perwakilan dari alam yang sudah menyatu dengan jiwa dan ragamu,” terang kakek Fey pada Refald. “Aku yakin kau juga bisa merasakannya. Makhkota tersebut tidak akan hilang dari kepalamu kecuali jika kau sendiri yang meninginkannya, dan akan kembali jika kau ingin memakainya. Kau juga bisa mengubah bentuk mahkotamu sesuai dengan apa yang kau inginkan. Tapi wujud asli makhota ini adalah rangkaian bunga langka yang hanya tumbuh 1000 tahun sekali dan akan terbentuk secara alami begitu raja dedemit selanjutnya lahir kedunia.”
“Terimakasih atas segalanya yang mulia, hamba berjanji akan menjaga simbol mahkota ini dengan baik,” ujar Refald masih terus bersimpuh dihadapan kakek Fey.
__ADS_1
“Bangunlah, dan sapa semua pasukanmu karena kau adalah Raja baru mereka.” Kakek Fey membantu Refald bangun berdiri tegak.
(tolong, visualnya jangan diketawain ya, hehehe)
Dengan wajah sumringah, Refad menyapa semuanya sambil melambaikan salah satu tangannya pada seluruh makhluk astral yang hadir di istana ini. Setelah itu, Refald juga membungkuk sebagai ungkapan rasa terimakasih atas dukungan yang diberikan untuknya. Tentu saja hal itu membuat heboh seisi ruangan.
“Hidup raja Refald!” seru mereka semua bersamaan layaknya orang yang sedang melakukan kor alias paduan suara.
“Refald,” seru kakek Fey lagi. “Ada satu hal yang harus kau ketahui.”
“Apa itu, Yang mulia?” tanya Redald, karena cuma kakek Feylah satu-satunya orang yang pikirannya tak bisa ditebak oleh Refald. Yaiyalah, kan Kakek Ilai ini raja dedemit sebelumnya, mana bisa pikirannya dibaca oleh orang lain meskipun orang itu adalah raja penerusnya.
“Kekuatan yang kau miliki, sudah tidak terikat aturan lagi dengan leluhurmu. Kau bisa menggunakan kekuatanmu sesuai dengan apa yang kau inginkan. Karena sekarang kau adalah raja. Aturan-aturan yang ditetapkan selama kau menjadi pangeran, memiliki tujuan mengontrol kekuatan dan kepribadianmu untuk mengetahui apakah kau layak sebagai penerusku atau tidak. Rupanya kau berhasil mengusai kekuatanmu dengan baik, bahkan semakin lama, kekuatanmu bukannya berkurang, malah semakin bertambah.
“Sebab itulah, momen pada bulan supermoon ini adalah waktu yang tepat untuk menobatkanmu menjadi raja. Aku percaya, apa yang kau miliki saat ini bisa kau gunakan dengan baik. Kau adalah raja, sebagai raja yang dikagumi oleh seluruh pasukan dedemitmu, kau pasti bsia membedakan mana yang baik dan yang tidak. Mana yang harus kau lakukan dan mana yang tidak boleh dilakuan. Apa kau mengerti?” tanya kakek Fey setelah memberi sekilas wejangannya.
“Mengerti Yang mulia, hamba akan selalu melakukan yang terbaik.” Refald menundukkan kepalnya lagi.
“Selamat untukmu Raja baru dari para dedemit. Raja ... Mirza Banta.” Kakek Fey memeluk Refald yang merupakan cucu menantu dengan bangga.
“Hidup raja Refald! Hidup raja Ilai! Hidup ratu Fey!” (Maaf iklan sebentar, author boleh ngakak nggak, sih?)
Sekali lagi, sorak sorai dan tepuk tangan menghiasi seluruh ruangan. Namun, ditengah-tengah suasana membahagiakan itu, tiba-tiba saja Fey merasakan sakit perut yang luar biasa sehingga tubuhnya refleks menunduk menahan rasa sakit yang amat sangat.
“Honey, apa kau tidak apa-apa?” tanya Refald sambil menyangga tubuh istrinya dengan ekspresi khawatir yang berlebihan.
“Sudah waktunya cicitku lahir, hari juga sudah mulai berganti. Cepat bawa dia kerumah sakit, Raja!” perintah kakek Fey. Semuanya ikut panik, senang sekaligus was-was melihat Fey yang akan segera melahirkan keturunan raja.
“Baik, Yang mulia.” Dengan pelan, Refald menggendong tubuh Fey yang terus merintih menahan sakit. Refald menghilang dalam satu kedipan mata dan langsung tiba di rumah sakit Keluarga besar Refald.
Dokter keluarga Refald bergegas datang untuk memriksa kondisi Fey. Ternyata Fey baru mengalami pembukaan 3. Semua perawat dan asisten dokter spesialis kandungan keluarga Refald mulai bersiap siaga. Begitu juga Refald yang tak pernah pergi dari sisi Fey saat isrinya berjuang antar hidup dan mati menahan rasa sakit menuju proses persalinan putra pertama mereka.
“Honey, kau jangan takut. Aku akan selalu ada bersamamu, aku tidak akan melepaskan genggaman tangan ini. Kau harus kuat. Aku sangat mencintaimu. Gigitlah lenganku setiap kali kau kesakitan, Honey.” Refald mengatakan kalimat itu dengan sungguh-sungguh.
Kalau saja ada cara untuk menggantikan rasa sakit yang dialami istrinya, Refald pasti akan melakukannya. Sayannya hal itu tidak mungkin terjadi. Fey melalukan apayang dikatakan suaminya. Ia menggigit lenganRefald setiap kali ia measakan sakit luarbiasa selama mengalami prises tahapan pembukaan.
“Hiiiiiishhhttttttt,” Fey menggigit lengan Refald sekuat-kuatnya ketika Fey mulai merasa sakit. Ia pun juga mencoba mengatur napasnya dalam-dalam agar bisa mencapai pembukaan 10.
Refald sendiri hanya bisa meringis menahan betapa sakitnya gigitan istrinya ini, dengan begitu ia juga merasakan seperti apa sakitnya mengalami pembukaan saat hendak melahirkan. Apalagi Fey harus mengalami 7 pembukaan lagi.
Tepat saat siang menjelang sore, Fey sudah mencapai pembukaan 9, semua dokter dan perawat mulai bersiap-siap. Mereka semua langsung bertindak cepat dan mempersiapkan segalanya untuk membantu proses persalinan istri Refald itu.
Suasana tegang menyelimuti semua orang yang ada di ruang persalinan. Tak terkecuali Refald sendiri. Sedetikpun, ia tak pernah beranjak disisi istrinya. Tanganya terus menggenggam erat tangan Fey. Keringat dingin mulai mebasahi seluruh tubuh Fey yang sudah mulai bersiap-siap melahirkan.
“Ayo, Nyonya ... ambil napas dalam-dalam lalu keluarkan saat mendorong, 1, 2, langsung dorong!” seru dokter yang berdiri di depan Fey memeberitahukan aba-aba. Sementara Refald terus menatap istrinya yang sedang berjuang melahirkan putra pertamanya.
__ADS_1
Fey mulai mengambil napas dan bersiap-siap.
“1 ... 2 ... Dorong!” seru dokter tersebut setelah mengamati Fey mengambil napas sesuai aba-abanya sambil menunggu sang jabang bayi keluar.
“Aaaaaggghhh!” teriak Fey berusaha keras mendorong putranya agar keluar dari rahimnya. Sayangnya usaha pertama gagal, sang jabang bayi masih betah di dalam.
“Lagi Nyonya! Ayo, jangan menyerah! Ambil napas lagi!” seru dokter tersebut dengan semangat api yang membara. Beberapa suster yang ada di samping dokter jadi bingung melihat dokternya heboh sendiri. “Suster,” seru dokter itu lagi.”
“Iya Dok,” jawab perawat dengan kompak.
“Bantu Nyonya Feymendorong dari atas,” perintah dokter itu.
“Siap Dok,” jawab perawat itu lagi.
Dua orang suster berdiri di samping kanan dan kiri Fey. Mereka bersiap-siap membantu mendorong putra Refald agar bisa keluar begitu Fey mulai mengejan.
Namun di detik-detik proses persalinan Fey yang menegangkan ini, tiba-tiba saja tubuh Refald menegang. Tatapan matanya menajam penuh kekhawatiran. Fey yang juga bisa membaca pikiran suaminya langsung tahu kesulitan yang tengah dihadapi Refald saat ini.
Sambil ngos-ngosan Fey mencoba bersuara keras berbicara dengan Refald. “Pergilah suamiku ... selamatkan adikmu! Cepat!” teriak Fey lagi-lagi dengan napas tersengal-sengal.
“Bagaimana denganmu, Honey?” seru Refald gusar antara harus pergi atau tidak. Refald tidak ingin meninggalkan Fey sendirian dalam keadaan seperti ini sementara Leo, juga sedang dalam bahaya besar.
“Ada banyak orang yang membantu dan menemaniku disini. Kau jangan khawatir, cepat ... pergi selamatkan Leo! Cepat pergi!” usir Fey sambil mencoba mengejan lagi dengan kuat. “Aaaaaaggghhhh!” teriaknya dengan kencang.
“Masih belum Nyonya! Sedikit lagi, ayo semangat Nyonya!” Seru dokter itu dan lebih memilih fokus pada jabang bayi yang hendak keluar itu daripada mendengar perdebatan Fey dan Refald
“Aku akan meminta pasukan dedemitku menyelamatkan Leo.”
“Tidak akan sempat!” teriak Fey sambil ngos-ngosan dan mengatur napasnya kembali. “Kau lebih cepat dari mereka semua! Jika kau menyuruh pak Po atau yang lainnya, mereka akan terlambat! Hanya kau saja yang bisa menyelamatkan Leo! Cepat pergi!” teriak Fey lebih kencang dari sebelumnya. Kali ini ia pun berusaha mengejan lagi dengan mengeluarkan seluruh tenaga yang ia punya.
Air mata Refald pun mengalir melihat perjuangan panjang istrinya. Perlahan, genggaman tangannya telepas dari tangan Fey. Fey terus memaksa Refald supaya lekas pergi menyelamatkan Leo sebelum semuanya telambat. Ini adalah momen terberat yang harus Refald alami setelah ia mendapat gelar sebagai seorang raja dedemit yang memiliki kekuatan luar biasa.
Refald harus dihadapkan sebuah pilihan tersulit dalam hidupnya, yaitu tetap menemani istrinya melahirkan putra pertamanya atau pergi begitu saja meninggalkan Fey berjuang sendiri antara hidup dan mati sementara ia pergi menyelamatkan adik sepupunya yang nyawanya juga sedang terancam.
Apa yang terjadi selanjutnya? Yang baca Leo season 2 pasti sudah tahu. Hehehe ....
BERSAMBUNG
***
NB: kisah ini hanya fiksi, apa yang dikisahkan dalam episode ini, murni dari dunia haluku. Semoaga suka ya ... dan terhibur ketika membaca kisah Refald dan Fey dengan genre fantasinya.
Kalau ada waktu, aku bakal revisi tulisanku di awal-awal kisah Refald dan Fey. Maklumlah, karya pertama pasti berantakan banget. Karena itulah sampai sekarang aku gak berani promoin novel ini karena aku sadar penulisannya yang diawal jauh dari kata bagus. Jelek benget dan membosankan malah. Ditambah lagi banyak yang nggak terlalu suka cerita fantasi. Tapi aku sangat suka bikin kisah fantasi, jadi aku bakal terus nulis entah itu ada yang suka atau tidak dengan dunia halu yang aku ciptakan. Weeehhh ... edisi curhat hehehe ...
Terima kasih atas semua dukungan yang kalian berikan selama ini. Dan jangan khawatir karena aku bakal terus nulis di NT. Jadi, dukung semua karyaku ya .. love you all
__ADS_1