
“Bagaimana kau bisa tahu soal lubang hitam itu?” tanya Refald penuh heran.
“Sudah ku bilang, aku melihat hal-hal aneh sewaktu aku pingsan tadi. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana caramu keluar dari lubang hitam itu? Dan juga ... siapa yang membantumu?”
Refald tersenyum getir, tapi tangannya masih menggenggam erat tanganku seolah enggan melepaskannya. “Entah seberapa banyak yang sudah kau lihat, tapi sepertinya kau tidak tahu apa yang terjadi saat kita berdua tersedot ke dalam lubang hitam itu.”
“Ehm, aku tidak tahu, karena aku hanya bisa melihatmu dan diriku yang satunya masuk ke lubang hitam dan keluar lagi berkat bantuan seseorang. Itu hanya asumsiku, karena aku tidak bisa melihat siapa orang yang membantumu."
“Apa maksudmu dengan diriku yang satunya?”
Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana menjelaskan pada Refald mengenai diriku yang tiba-tiba saja ada dua. “Entahlah, sampai saat ini aku juga masih belum bisa mengerti bagaimana aku bisa menjadi dua, yang bisa ku katakan hanyalah aku bisa melihat sisi lain dari kejadian semalam. Itu pun hanya saat aku berada di luar pagar pembatas. Selebihnya aku tidak ingat apa-apa. Yang aku tahu, apa yang aku lihat semalam adalah sebagian dari ingatanku.”
Refald hanya diam tanpa berkomentar mendengar penjelasanku, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
“Kau masih belum menjawab pertanyaanku.” Tanyaku mendesaknya.
“Apa?”
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Refald memegang kedua pundakku. “Fey, aku tidak bisa menjelaskan semua pertanyaanmu di sini. Jika aku melakukannya, maka bukan hanya kita yang dalam bahaya, tapi semua orang yang ada di sini juga ikut dalam bahaya. Aku juga sedang mencari tahu apa yang terjadi, tapi aku tidak bisa menjelaskan padamu secara rinci. Aku akan memberitahu semuanya begitu kita semua keluar dari hutan ini.”
Aku terkejut Refald bicara seperti itu. Meski aku masih belum mengerti maksudnya, tapi aku berusaha mencoba memahaminya.
“Apakah, aku dan yang lainnya ... dalam bahaya?”
“Tidak, selama ada aku di sini, kau dan yang lainnya aman. Tidak akan ada yang berani mengganggumu baik itu manusia atau bukan, karena aku ... akan selalu melindungimu. Kau jangan khawatir. Oke!”
“Kau sudah sering mengatakan itu, tapi tetap saja aku tidak bisa menghilangkan rasa cemas ini. Hari pertama datang, Nura melihat hal-hal aneh yang membuatku parno sendiri. Lalu aku juga bermimpi buruk tentangmu, dan sekarang Yua ....” aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku.
Refald langsung memelukku karena air mataku yang mulai keluar membasahi pipi. Ia menenangkanku sambil membelai lembut kepalaku.
“Sudah kubilang aku ada di sini, untuk melindungi dan menjagamu. Sejauh ini, semua masih baik-baik saja. Baik kau dan teman-temanmu tidak ada yang terluka. Jadi jangan khawatir lagi, jika kau terus seperti ini, semua orang yang ada di luar sana juga akan ikut cemas. Saat ini, mereka sedang merapatkan apakah acara ini berlanjut atau tidak. Semua tergantung padamu, mereka masih menunggu keputusan darimu. Tapi, sebelum kau memutuskan, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”
Aku agak heran mendengar kata-kata Refald, tapi juga penasaran tentang apa yang ia inginkan dariku.
“Apa itu?” aku melepaskan pelukan Refald dan menatapnya.
****
Aku keluar dari tenda menuju tenda Yua dirawat. Semua orang langsung menyongsongku begitu melihatku kembali sehat dan bisa berjalan lagi walaupun beberapa saat yang lalu aku sempat pingsan tanpa alasan.
“Fey! Kau sudah sadar?”
“Apa kau baik-baik saja?”
“Apa yang terjadi?”
“Bagaimana kau bisa pingsan?”
“Kau mau ke mana? Hei ... Fey!” teriak seseorang.
Aku terlalu fokus berjalan secepat mungkin ke tenda Yua untuk memastikan bagaimana keadaannya sehingga aku tidak begitu memedulikan semua pertanyaan yang ditujukan teman-teman dan seniorku.
Dari kejauhan, aku melihat Nura dan Mia berdiri di depan tenda PMR. Di situlah Yua berada saat ini. Mereka berdua terkejut setelah melihatku datang.
“Fey! Kau datang? Apa kau tidak apa-apa?” tanya Mia yang tampak cemas.
“Aku baik-baik saja.” Aku menggenggam tangan Mia agar ia tidak khawatir lagi.
“Maaf kami tidak menungguimu, kami pikir sudah ada Refald di sana. Jadi, kami memutuskan untuk menunggui Yua di sini.” Ucap Nura.
__ADS_1
Aku menggenggam tangan Nura juga. “Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kalian berdua jangan khawatir, semua baik-baik saja, oke!” aku berlalu masuk ke dalam. Sedangkan Nura dan Mia tetap menunggu di luar tenda.
Aku melihat Yua yang sudah sadar dan masih dalam keadaan berbaring karena masih lemas. Kejadian tadi pasti membuatnya syok sehingga energinya terkuras habis.
“Fey! Kaukah itu?” tanya Yua.
Perlahan aku mendekatinya dan duduk disampingnya. Aku juga menggenggam tangan Yua. “Iya, ini aku. Apa kau tidak apa-apa?”
“Iya, aku baik-baik saja,”ucapnya lirih.
“Apa ada yang terluka?”
Yua menggeleng. “Aku tidak terluka sedikitpun, aku hanya syok dan terkejut saja. Istirahat sebentar, pasti akan pulih sepertimu. Aku dengar, kau juga pingsan saat melihatku jatuh. Maaf, sudah membuatmu khawatir.”
“Apa yang kau katakan? Akulah yang harusnya minta maaf, tidak seharusnya aku menempatkanmu dalam posisi ini. Semua ini salahku. Maafkan aku, Yua ... aku sungguh minta maaf.”
“Apa ini? Kau menangis?”
Aku tidak sadar kalau air mataku mulai bercucuran. Aku mengusap air mataku. “Aku takut sekali, aku takut terjadi hal buruk padamu.”
“Aku tidak apa-apa. Aku sangat berterima kasih pada orang yang menyelamatkanku. Apa kau tahu siapa orang itu? Aku dengar, dia yang menangkap tubuhku saat aku terjatuh, dan kami berdua pingsan seketika. Jika bukan karena dia, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.”
“Kau tidak tahu siapa yang menyelamatkanmu? Apa tidak ada orang yang memberitahumu?” aku agak bingung karena sampai saat ini Yua belum tahu siapa yang menyelamatkannya.
“Aku sudah bertanya, tapi teman-temanmu tidak ada yang mengenalinya. Mereka bilang tidak tahu namanya. Bahkan Nura dan Mia juga tidak tahu.”
Aku tersenyum geli. “Tentu saja mereka tidak tahu, karena orang yang menyelamatkanmu bukan anggota organisasi kami. Dia anggota organisasimu, hanya anggotamu yang tahu.”
“Salah satu anggota PMR menyelamatkanku? Siapa?”
“Tebaklah siapa?”
“Bukan!” ucapku tandas. “Bukan Bayu yang menyelamatkanmu.”
“Apa?”
“Tapi Epank ... dia yang menyelamatkamu.”
Untuk sesaat Yua tertegun, tapi kemudian ia langsung tertawa. “Apa kau sedang mengajakku bercanda? Bagaimana mungkin Epank menyelamatkanku?”
“Kau tidak percaya?”
“Kau ingin aku memercayainya? Bagaimana mungkin seorang Epank menyelamatkan wanita lain sementara ada kekasihnya di sini? Itu sungguh tidak masuk akal.”
“Kenyataannya memang Epank yang menyelamatkanmu. Awalnya aku sendiri juga tidak percaya, tapi saat ini Epank juga masih terbaring lemah ditendanya. Anggota PMR sudah memeriksanya, ia mengalami memar di punggungnya akibat benturan yang keras. Kau jatuh dari ketinggian empat meter dengan kecepatan tak terhingga lalu menghantam tubuh Epank tanpa ampun. Tentu saja pasti rasanya seperti kejatuhan batu besar ukuran satu ton dari langit.”
“Aku rasa kau terlalu berlebihan! Aku tidak seberat itu. Beratku hanya 45 kg. Sama seperti beratmu.”
“Terserah apa katamu, sekarang kau percaya? Harusnya kau senang mendengar orang yang kau cintai sepenuh hati rela mengorbankan nyawanya untukmu. Aku baru tahu orang seperti Epank bisa juga jadi pahlawan kesiangan. So sweet ....”
Yua tampak sedih. Ia berusaha bangun dari tidurnya dan duduk disampingku. “Lalu, Via? Bagaimana dengannya? Apa dia marah?”
“Kau ini! Sudah seperti ini kenapa kau malah mencemaskan gadis tengil itu? Bodo amat sama dia! Siapa yang peduli?”
“Ini pasti masalah. Bagaimana kalau Via marah dan mereka bertengkar gara-gara aku.”
“Hadeuhhh, kau ini terlalu baik, Yua ... “
Aku tidak tahu, apakah Epank pantas untukmu atau tidak ... aku merasa, kau bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari Epank seandainya kau mau membuka hatimu untuk orang lain. Kenyataannya adalah, hatimu sudah terisi penuh oleh Epank sehingga tidak ada ruang lagi untuk yang lain.
Aku keluar dari tenda setelah menyuruh Yua beristirahat agar tenaganya bisa kembali pulih sehingga bisa mengikuti aktivitas lagi. Tak lupa, aku juga langsung mengadakan rapat darurat untuk membahas apakah kegiatan ini dilanjutkan atau tidak, tapi sebelum rapat itu dimulai, aku memeriksa sesuatu terlebih dahulu.
__ADS_1
****
“Kau di sini juga rupanya ... Kak Yoshi, Kak Alex? Apa yang kalian berdua lakukan di sini?”
“Sama seperti yang kau lakukan,” ucap Alex sambil mengamati tali karmenter yang berserakan di tanah.
“Di mana suamimu?” tanya Yoshi.
Hadeuhhh ... sepertinya aku harus terbiasa dengan panggilan Refald sebagai suamiku meski kami belum resmi menikah.
“Dia pergi karena ada urusan mendadak.” ucapku santai sambil mengamati sekeliling lokasi repling prusik yang kami lakukan tadi. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun sekarang. Terserah mereka mau memanggilku dengan sebutan apa. “Kenapa Kak Yoshi mencarinya?”
“Dia yang menyuruh kami datang ke sini dan memeriksa kembali lokasi ini. Kami sedang menunggunya, ternyata ia malah kabur.”
“Dia yang menyuruh kalian kemari?” tanyaku terkejut, karena aku mengira hanya aku yang disuruh Refald kemari.
“Iya.” Alex menceritakan kembali apa yang mereka bicarakan dengan Refald sewaktu aku pingsan.
“Apa maksudmu Refald?” tanya Alex. Saat mereka ada di dalam tenda Alex.
“Ada hal ganjil dengan apa yang menimpa Yua.”
“Kenapa kau bisa berkata begitu?”
“Itu hanya firasatku, karena aku yang terakhir turun dari tali itu dengan Fey. Saat kami berdua turun, aku tidak merasakan ada yang aneh dengan talinya. Beban kami juga jauh lebih berat dibandingkan dengan Yua. Jika memang tali itu bermasalah, harusnya kami berdualah yang terjatuh jika dilihat dari beban kami, bukannya Yua.”
“Maksudmu, ada seseorang yang sengaja menjatuhkan Yua?”
“Aku tidak bisa bilang seperti itu sekarang, ada baiknya kalau kalian memeriksa kembali lokasi kejadian tadi.” Refald beranjak pergi.
“Kau mau ke mana?” tanya Yoshi.
“Aku mau melihat istriku. Aku ingin ketika ia sadar, orang yang pertama kali dilihatnya adalah aku.”
“Chhhh ... dia sok romantis sekali.” Gerutu Yoshi sambil menyaksikan Refald pergi.
“Bilang saja kalau kau iri.” Komentar Alex.
“Aku tidak iri. Kenapa aku harus iri padanya? Jika aku mau aku bisa mendapatkan pacar manapun yang aku suka.”
“Kenyataannya sampai sekarang kau masih saja tidak punya pacar setelah putus dari pacar terakhirmu setahun yang lalu.”
“Itu karena ....“
“Kau mengira Fey belum punya pacar dan berencana menembaknya? Huhhh ....” Alex tersenyum meledek Yoshi.
“Apa ... kau juga berpikiran sama sepertiku?”
Alex tidak menjawab. Ia pergi begitu saja meninggalkan Yoshi.
“Hei! Kau belum jawab pertanyaanku! Jawab dulu ... kau mau ke mana?”
“Kita harus memeriksa lokasi seperti yang dikatakan Refald!”
“Bukan itu pertanyaanku, yang satunya?”
Alex tidak menghiraukan Yoshi lagi. Ia terus berjalan sampai kemari dan mulai memeriksa lokasi sama seperti yang akan kulakukan.
Itulah sedikit percakapan yang dilakukan mereka saat aku pingsan. Aku pun juga teringat pada ucapan Refald sebelum ia pergi.
****
__ADS_1