Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 131 Pengorbanan Refald


__ADS_3

Semua orang terkejut melihat Refald tiba-tiba saja tergeletak di lantai. Ia benar-benar tak sadarkan diri. Beberapa orang langung bertindak cepat membawanya masuk ke dalam kamarku dan membaringkannya di tempat tidur. Aku sendiri masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Ini pertama kalinya aku melihat Refald lemah tak berdaya karena kehabisan tenaga demi bisa mewujudkan hadiah pernikahan yang kuminta dengan sangat sempurna.


Masih dalam keadaan shock tak terkira, aku berjalan menuju kamarku sambil mencemaskan keadaan Refald. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa sangat bersalah padanya. Aku sama sekali tidak pernah menyangka bahwa permintaanku akan beresiko tinggi bagi Refald. Namun, ia sama sekali tidak memberitahuku resiko dari permintaan hadiah pernikahanku. Refald bahkan memenuhi semua keinginanku tanpa syarat apapun meski ia tahu, itu bakal membahayakan nyawanya sendiri. Refald melakukan semua apapun yang aku mau tanpa peduli kalau nyawanya bisa dalam bahaya. Dan sekarang, akulah penyebab Refald jadi seperti ini.


“Bagaimana keadaan Refald, Mrs. Dilagara? Apa yang terjadi padanya? Kenapa Refald bisa tiba-tiba pingsan?” tanya Sauran yang ikut cemas melihat kondisi Refald.


Sebab, Sauran juga tahu kalau Refald adalah orang istimewa. Sangat aneh baginya jika tiba-tiba saja seorang Refald terkapar tak berdaya seperti ini gara-gara memenuhi permintaanku.


“Aku rasa, ia hanya kehilangan banyak tenaga dan butuh istirahat yang cukup untuk kembali memulihkan staminanya. Kalian semua tidak perlu khawatir, sebaiknya kita keluar dari sini dan biarkan Refald beristirahat,” terang ibu mertuaku.


Sejujurnya, aku tidak yakin dengan apa yang dikatakan ibu Refald. Sampai detik ini, Refald masih belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera sadar. Tubuh Refald sangat lemah tak berdaya, dan hal itu membuatku jadi semakin bersalah padanya, bahkan aku tidak berani mendekatinya. Yang bisa kulakukan saat ini hanya berdiri bersandar di dinding kamarku dan mengamati Refald dari kejauhan.


Hellena, ibu mertuaku, mengajak semua orang keluar dari kamarku. Aku pun juga ikut beranjak keluar tapi lenganku dihalau oleh ayah mertuaku.


“Tetaplah di sini, Fey. Orang pertama yang ingin Refald lihat saat ia sadar nanti, pasti adalah kau. Temani dia sampai ia sadar. Apa kau keberatan?” tanya Ayah mertuaku padaku.


“Baik ayah,” jawabku lirih meski aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan sekarang. “Aku akan menemaninya.” Entah kenapa aku ingin menangis sekarang. Karena akulah Refald jadi seperti ini. Sungguh, aku tak berani menatap wajah mertuaku yang sudah menyebabkan putra kesayangan mereka pingsan tak sadarkan diri seperti ini.


“Terimakasih, jika ada apa-apa, panggil saja kami.” Ayah mertuaku menepuk pelan bahuku setelah aku menganggukkan kepalaku, lalu beliau pergi dan menutup pelan pintu kamarku.


Kini lagi-lagi, hanya kami berdua saja di ruangan ini. Bahkan pak Po dan mbak Kun juga sudah tidak ada. Aku tidak tahu ada dimana mereka sekarang. Aku masih belum berani memanggil mereka, sebab aku masih saja takut jika mereka muncul tiba-tiba.

__ADS_1


Aku hanya berdiri menatap Refald yang masih menutup matanya dan terbaring lemah. Aku tidak tahu apakah aku pantas mendampingi orang yang sudah kubuat tak berdaya seperti ini. Perlahan, aku duduk disampingnya dan menggenggam erat tangan Refald.


Tanpa kusadari, bulir air mata mulai mengalir membasahi tangan suamiku yang kutempelkan dipipiku. “Maafkan aku, Refald ... aku ... sungguh tidak tahu kalau hadiah pernikahanku yang aku minta, bisa membuatmu jadi begini. Seandainya aku tahu, aku tidak akan meminta apapun darimu. Aku ... aku sungguh minta maaf, semua ini salahku.


"Kau sudah banyak berkorban untukku, tapi aku tidak bisa melakukan apapun untukmu. Aku ... tidak tahu apakah aku masih pantas menjadi istrimu, aku hanya bisa menyusahkanmu saja ... maafkan aku, aku sungguh-sungguh minta maaf, Refald. Aku tidak akan meminta apapun lagi darimu. Bisa bersamamu saja, itu sudah lebih dari cukup untukku.” Aku menangis sesenggukan di tangan Refald, tapi suamiku itu masih saja tidak mau membuka matanya.


Tangisanku semakin menjadi karena Refald masih juga belum sadarkan diri. Aku benar-benar mengkhawatirkan keadaan Refald. Sebelumnya, Refald sangatlah kuat dan tak terkalahkan. Namun, entah kenapa, sampai detik ini Refald masih belum juga membuka matanya.


Ditengah-tengah kecemasanku, aku mencoba menutup mataku dan memanggil nama leluhurku. Berharap mereka bisa membantu Refald mengembalikan kekuatannya seperti sedia kala.


“Raja Inu Kartapati, Ratu Candra Kirana ... datanglah,” gumamku dalam hati dan hanya dalam hitungan detik, keduanya sudah ada dihadapanku.


Begitu menyadari kehadiran para leluhurku, aku pun bersimpuh untuk memberi hormat pada keduanya sambil menangis. “Maafkan atas kelancangan hamba karena sudah berani memanggil yang mulia datang kemari. Hamba tidak bermaksud mengganggu ketenangan yang mulia di dunia sana. Tetapi, hamba sangat membutuhkan bantuan yang mulia,” isakku sambil terus menunduk.


Raja Inu meletakkan telapak tangannya tepat di atas kening Refald sambil terus memejamkan mata dan mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa jawa yang tak dapat kumengerti artinya dengan cepat. Entah apa yang diucapkan leluhurku ini, yang jelas setelah selesai berkomat kamit. Refald mulai sedikit menggerakkan tangannya dan bagian tubuhnya yang lain meski ia masih belum bisa membuka matanya.


“Refald!” seruku.


“Refald baik-baik saja. Suamimu terlalu memaksakan diri menggunakan seluruh kekuatannya, padahal usianya masih belum cukup matang untuk menggunakan kekuatan sebesar itu. Refald benar-benar tangguh cucuku. Ia akan jadi orang terhebat yang pernah ada di dunia ini. Tetaplah berada disisinya, sebab kaulah sumber kekuatannya.” Raja Inu berdiri dan kembali ke posisinya semula.


“Yang mulia, kenapa Refald mengambil resiko memenuhi permintaanku yang begitu berat baginya? Dan kenapa kalian tidak memberitahuku sebelumnya? Kalau pemintaanku itu, akan beresiko besar bagi Refald?” tanyaku untuk mencari tahu kebenaran dibalik semua yang terjadi akibat ulahku.

__ADS_1


“Refald melarang kami semua untuk memberitahumu apa akibatnya jika ia memenuhi permintaanmu. Harusnya kau bangga pada suamimu, cucuku. Ia rela melakukan apa saja untukmu. Bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun. Itu menandakan betapa besar dan dalam cinta Refald untukmu.


"Kakek buyutnya juga memberinya kekuatan menghentikan waktu sebagai bonus pernikahan kalian yang bisa Refald gunakan untuk memenuhi apa yang kau inginkan. Sebenarnya, ia masih belum cukup usia menerima kekuatan itu, tetapi Refald bisa menguasai kekuatannya dalam kurun waktu yang sangat cepat. Tidakkah kau bangga padanya?” tanya leluhurku.


Tidak ada yang bisa aku katakan sekarang, aku hanya menangis melihat Refald yang masih terbaring lemah demi memenuhi hadiah pernikahan yang aku minta. Ingin rasanya aku memeluknya, tapi aku tidak mungkin melakukannya dihadapan para leluhurku. Namun, seakan tahu apa isi hatiku, mereka berduapun pergi menghilang begitu saja dan meninggalkan kami berdua.


Dan sekarang, tinggallah aku dan Refald saja di dalam kamarku sendiri. Aku kembali duduk di samping ranjang Refald dan menggenggam erat tangannya. “Kau rela melakukan segalanya untukku? Aku pun juga akan melakukan hal yang sama untukmu, karena aku juga mencintaimu sama seperti kau mencintaiku,” gumamku lirih dan aku pun tertidur di samping Refald sambil menggenggam erat tangannya dalam pelukanku.


BERSAMBUNG


***


Maaf, baru bisa up ... terus ikuti kisah Refald dan Fey ya ....



Fey tidak tahu saat ia tertidur lelap, Refald mulai membuka matanya dan ia tersenyum licik pada tunangannya yang sedang tertidur pulas disampingnya.


Apa yang dilakukan Refald? tunggu episode selanjutnya ya ... he-he-he...


mampir juga di kisah Sanha dan Zariya ya ... jangan lupa dukung like, vote dan komentarnya. Maaf juga lalu tidak sempat membalas semua komentarnya ...

__ADS_1


yang jelas aku sayang kalian ...love you all ...



__ADS_2