Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 159 Debat


__ADS_3

Shena terjaga dan mendapati dirinya sudah ada di dalam tenda perkemahan. Awalnya, ia sedikit bingung memikirkan bagaimana bisa ia ada ditempat ini padahal seingatnya, ia ada di dalam hutan bersama dengan Leo dan hampir saja diterkam oleh singa Leopard seandainya saja tidak ada seseorang yang menyelamatkannya tepat waktu saat itu. Sayangnya, sebelum Shena sempat mengetahui siapa seseorang itu, ia keburu pingsan tak sadarkan diri dan tiba-tiba saja sudah ada di sini.


“Shena, kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan?” tanya Laura ketika melihat sahabatnya sudah mulai siuman.


“Di mana Leo?” tanya Shena yang langsung membuat Laura heran.


“Ada apa? Kenapa kau malah mencarinya? Apa kau ...,”


Shena tidak menggubris kata-kata Laura, gadis itu bangun berdiri dan keluar tenda. Ia mengamati sekitar dan mencari-cari keberadaan Leo. Kebetulan, saat ini sedang memasuki waktu istirahat malam sehingga semua peserta ospek boleh istirahat dan bebas melakukan apapun sampai acara selanjutnya. Shena mengeratkan jaket yang ia pakai dan mulai berjalan keliling tenda untuk mencari keberadaan Leo.


“Shena! Kau mau ke mana? Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Laura, tapi teriakannya tidak dihiraukan oleh Shena. Sahabatnya itu terus nyelonong pergi entah ke mana. “Ada apa dengan anak itu?” gumam Laura dan tatapannya teralihkan saat Roy melintas didepannya.


Beberapa tenda yang Shena datangi, tak satupun ada Leo didalamnya. Shena sempat bingung harus mencari Leo di mana. Sampai akhirnya, saat ia melintas didekat api unggun yang menyala, barulah Shena melihat sosok pria yang sudah ia cari daritadi. Pria itu sedang bermain gitar dan menyanyi dikelilingi semua wanita-wanita cantik. Namun, pria yang langsung dijuluki playboy kelas kakap itu terlihat santai dan rileks dengan gitarnya tanpa peduli kalau ada banyak wanita yang memerhatikannya.


Awalnya, Shena ragu untuk mendekati Leo yang sedang sibuk dikelilingi para kaum hawa itu. Namun, rasa penasarannya begitu besar sehingga mengalahkan ego Shena yang tinggi. Perlahan, ia memberanikan diri mendekat ke arah Leo yang sedang bernyanyi dengan merdu.


Pantas saja semua wanita tergila-gila dengannya, permainan gitar dan suaranya lumayan bagus juga, gumam Shena dalam hati.


Shena kembali teringat bahwa tujuannya mendekati Leo bukan untuk mendengar lagu atau suaranya, tapi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi selama mereka di dalam hutan tadi, dan bagaimana ia bisa sampai ke sini dalam keadaan selamat. Shena juga sangat penasaran dengan sosok wanita yang menyelamatkan mereka saat itu.


Leo berhenti bermain gitar begitu melihat Shena berdiri dihadapannya. Semua kaum hawa juga langsung memandang sinis Shena.


“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Shena agak canggung dengan semua tatapan membunuh para kaum hawa yang ada disekeliling Leo.


“Lu mau apa, sih? Pergi, sono! Ganggu orang lagi seneng aja!” tukas cewek berambut panjang yang duduk di sebelah kanan Leo.


Leo sendiri langsung berdiri dan mengajak Shena pergi dari kerumunan sambil menggandeng tangan Shena. Mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian banyak orang.


“Sial si Shena! Bisa juga dia gaet Leo dengan mudah gitu! Gue aja yang dari tadi nungguin dia di sini sama sekali nggak dilirik sama Leo, tapi giliran gadis itu datang, Leo langsung gandeng tangan dia? Pengen gue becek-becek itu cewek!” ujar cewek berambut panjang tadi sambil memukul-mukul tangannya sendiri.


“Iya benar, lagian Leo kenapa mau aja sih sama cewek kampungan itu! Aku kurang apa, coba?” cewek yang ada disebelah gadis berambut panjang melenggak-lenggokkan tubuhnya.


“Lo kurang cantik!” sahut yang lainnya.


“Idih, cantikan gue kali, seksi juga seksian gue! Tajir juga tajiran gue, harusnya gue yang cocok jadi ratunya Leo. Bukannya cewek kampungan itu!” tukas cewek narsis tersebut dengan gaya sok kecentilan.

__ADS_1


Semua wanita mulai bergunjing soal kedekatan Leo dengan Shena dan rata-rata semuanya tidak setuju jika Leo, lebih memilih Shena dibandingkan mereka.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Leo setelah menjauh dari keramaian. Tangannya masih menggenggam erat tangan Shena. “Mau jadi pacarku? Oke! Kita pacaran sekarang!” Leo tertawa bahagia karena mengira Shena mulai menyukainya.


“Hah?” Shena tercengang. “Kau ini gila, ya? Siapa juga yang mau jadi pacar kamu?” Shena melepas paksa tangannya yang digenggam Leo.


“Terus? Kenapa kau ingin bicara padaku? Mau berterimakasih? Itu tidak perlu! Badanmu nggak terlalu berat kok, aku malah senang menggendongmu. Lagian aku punya cara tersendiri untuk mengambil hadiah terimakasihmu.” Leo masih saja bersikap sok narsis dan percaya diri di depan Shena.


“Jangan ngelantur, deh. Aku datang ke sini bukan untuk itu, aku datang untuk mencari tahu siapa orang yang sudah menolong kita dari terkaman Leopard buas itu? Paling tidak, aku harus mengucapkan terimakasih padanya, karena dialah yang sudah menolong kita.”


“Apa?” Leo menatap Shena tak percaya. “Akulah yang menolongmu? Harusnya kau berterimakasih padaku! Tidak ada siapa-siapa di sana! Kau mungkin sedang bermimpi!” Leo berbohong untuk menutupi identitas kakak dan kakak iparnya dari Shena.


“Aku yakin ada orang lain selain kita di sana, aku masih ingat, Leopard itu ...,"


“Shena, kau pingsan karena kelelahan,” ujar Leo memotong kata-kata Shena. “Kau mungkin sedang berhalusinasi saat itu, tidak ada siapa-siapa di sana?” Leo berusaha meyakinkan Shena kalau hanya ada mereka berdua di dalam hutan. Walau kenyataannya mereka berempat.


“Lalu ... di mana Leopardnya?” tanya Shena mulai menatap tajam mata Leo


“Di sini! Akulah Leopard itu.” Leopun membalas tatapan mata Shena dua kali lebih tajam dari Shena.


“Siapa yang mengajakmu bercanda? Berhentilah bicara yang bukan-bukan. Tidak cukupkah kau beterimakasih saja padaku? Karena aku sudah menyelamatkanmu?” nada suara Leo mulai meninggi.


“Terimakasih!” ujar Shena dengan cepat, tapi tatapannya masih memandang ragu Leo.


“Kau masih tidak menyerah?” Leo heran karena Shena tidak percaya padanya.


“Aku yakin dengan apa yang ada diingatanku, dan itu bukan halusinasi atau mimpi. Aku merasakan sakit ditengkukku, seolah ada yang memukulku dari belakang.” Shena tetap bersikukuh pada apa yang ia ingat.


“Kau terbentur dahan kayu saat itu?” Leo masih saja berkilah mencari alasan untuk menutupi ulah Refald walau dalam hati, Leo merutuki kelakuan kakaknya yang sudah menyebabkan Shena kesakitan.


“Tidak ada pohon dibelakangku!” sanggah Shena.


“Ada!” Lagi-lagi Leo menyangkal.


“Tidak ada!”

__ADS_1


“Ada!”


“Tidak ada! Aku ingat betul tidak ada apapun dibelakangku!”


“Aku bilang ada, ya ada! Kenapa kau ngotot sekali!” bentak Leo sehingga mengagetkan Shena dan semua orang yang ada disekeliling mereka. Ini pertama kalinya Leo bersikap kasar pada Shena. Sebelumnya, ia tidak pernah membentak Shena sampai seperti itu.


“Baik! Kalau kau tidak mau memberitahuku yang sebenarnya, aku bisa mencari tahu sendiri!” Shena berlari pergi meninggalkan Leo yang juga kesal dengan sikap Shena.


Leo tidak tahu harus bagaimana sekarang. Disisi lain, Refald memintanya untuk merahasiakan keberadaan dirinya dan Fey dari Shena demi kebaikan Shena sendiri. Disisi lain, Shena tetap bersikukuh pada pendiriannya dan masih tetap ingin mencari tahu tentang Fey dan juga Refald.


“Sial!” Leo terlihat sangat emosi.


****


Fey masih gelisah memikirkan hal-hal yang membuatnya tak bisa tenang. Saat ini, Refald dan Eric pasti sedang memeriksa tempat yang menjadi pusat bencana. Fey punya firasat kalau bencana itu akan datang lebih cepat dari yang ia duga.


Sepanjang waktu, Fey hanya melamun dan terus saja memikirkan apa yang akan dilakukan Refald sekarang. Mbak Kun melayang-layang di atas Nura yang mengagumi gaun pengantin Fey. Salah satu pasukan Refald itu siap menunggu perintah dari Fey jika ia dibutuhkan.


“Nura, ini sudah malam, kau mau tidur disini atau pulang? Aku harus ke tempat Refald untuk mengambil sesuatu. Jika kau ingin pulang, ayo aku antar sekalian.”Fey melirik mbak Kun yang masih saja melayang kesana kemari tanpa suara.


Nura mulai menguap dan memerhatikan jam tangannya. “Kau benar. Aku mau pulang saja, entah kenapa bulu kudukku selalu merinding jika memasuki kamar ini. Lagi pula, aku juga ingin naik mobil temanku yang kini sudah bisa menyetir.”


Sekali lagi, Fey melirik mbak Kun supaya menjauh dari Nura.“Dari dulu, aku sudah bisa menyetir, b0doh! hanya saja, Refald tak mengizinkanku menyetir sendirian tanpanya. Ayo, aku harus cepat kembali ke rumah sebelum malam semakin larut.”Fey bangun berdiri dan mengambil kunci mobil Volvo silver milik Refald.


BERSAMBUNG


***


Maaf up nya telat ...kasih semangat aku dong ..supaya malam ini bisa up banyak ..soalnya ini lagi seru-serunya ... semoga suka dengan dunia fantasi ku ya. ..setelah ini, fantasiku mulai muncul lagi.




__ADS_1



__ADS_2