
Refald menyuruh pak Po dan mbak Kun pergi meninggalkan dirinya dan Fey berdua saja di air terjun. Pasukan Refald itu pun langsung pamit undur diri dan menghilang begitu saja. Sementara Fey tidak berani menatap Refald. Sebisa mungkin ia tidak memikirkan apapun agar Refald tidak bisa mendengar pikirannya. Fey juga berusaha menekan kuat perasaannya atas apa yang dirasakan Refald saat ini.
Selama beberapa menit berlalu, Refald terus menatap istrinya dengan tatapan sendu, dan juga rasa bersalah yang begitu besar, sebab menjelang hari pernikahan mereka harusnya keduanya bahagia, tapi setelah Refald mengetahui bakal ada sesuatu yang terjadi menimpa wilayah ini, Refald tak bisa mengesampingkan semua itu. Berbagai cara juga sudah ia lakukan tapi tetap tidak bisa mengubah keadaan.
“Kau menangis dibelakangku, Honey? Kau berusaha menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Refald membuka pembicaraan setelah keduanya larut dalam perasaan masing-masing.
“Aku ... hanya tidak bisa melihatmu seperti ini, Sayang. Istri macam apa aku yang bahagia sendiri sementara suamiku lagi dirundung kesedihan. Kita sudah menikah diduniamu, apa yang kau rasakan juga bisa kurasakan. Kita berdua harus bisa melaluinya bersama. Aku tidak mau kau semakin sedih jika aku menangis didepanmu. Seandainya ada yang bisa kulakukan untukmu, pasti akan aku lakukan walaupun aku harus mengorbankan nyawaku demi bisa membantumu.”
Refald menempelkan jari telunjuknya di bibir Fey. “Jangan pernah sekalipun kau bicara seperti itu, Honey. Hidupku bakal lebih hancur tanpamu. Saat ini, hanya kaulah penyemangatku, hanya kaulah yang membuatku bisa bernapas hingga detik ini, hanya kaulah yang bisa membuatku serasa hidup kembali. Kau segalanya bagiku, dan aku akan melakukan apa saja untuk tetap bisa membuatmu bahagia, karena aku sudah berjanji pada almarhum ibu untuk tidak lagi membuatmu menangis. Jangan buat aku melanggar janjiku, Honey. tetaplah bahagia bersamaku dalam keadaan apapun. Kau tidak perlu melakukan apa-apa, cukup berada disisiku saja, itu sudah lebih dari cukup untukku.”
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang. Tidak lagi, selamanya ... aku akan selalu berada disisimu tak peduli apapun yang terjadi.”
Fey mencium mesra bibir suaminya dan Refaldpun membalas ciuman istrinya, mereka berdua saling mencurahkan hati masing-masing sambil melayang terbang diudara. Refald membawa Fey terbang dan bertengger di sebuah pohon besar untuk menikmati keindahan alam sekitar.
“Naiklah ke punggungku, kita harus menyambut kedatangan seseorang.” Refald membungkukkan badannya supaya Fey bisa dengan mudah naik ke punggung Refald. Feypun melakukan apa yang diminta Refald dan segera naik ke punggung suaminya. “Kau siap, Honey?” tanya Refald lagi setelah memastikan Fey naik ke punggungnya.
“Aku siap!” ujar Fey sambil mengeratkan pelukannya di leher Refald. Hal inilah yang paling disukai Fey dari Refald, diajak meloncat kesan kemari ala Edward-Bella seperti yang ada di dalam film Twilight.
***
Sementara bus yang ditumpangi Leo dan Shena beserta rombongannya, sudah sampai diperkampungan yang wilayahnya dekat dengan tempat tinggal Fey dan Refald saat ini. Perkampungan ini agak berbeda dengan perkampungan lainnya. Biasanya rumah-rumah di kampung itu kebanyakan bangunannya biasa saja, bahkan ada yang hanya terbuat dari kayu, tetapi berbeda dengan bangunan di sini. Kampung ini lebih pantas disebut perumahan elit daripada perkampungan, karena bangunan rumahnya sangat indah dan megah melebihi kawasan perumahan elit lainnya.
Anehnya, kampung ini dikenal dengan sebutan kampung setan. Padahal, lokasinya sih sangat indah, sejuk dan menyegarkan karena berada di lereng gunung dan perbukitan. Hanya saja, auranya sedikit berbeda dan lebih terkesan menyeramkan. Mayoritas penduduk di sini bermatapencaharian sebagai peternak sapi atau kambing dan ternak-ternak lainnya, tapi mereka memiliki kekayaan yang luar biasa melebihi pengusaha sukses di kota.
Semua MaBa dianjurkan turun dari bus mereka masing-masing saat berada di area lapangan terbuka. Mereka harus berjalan kaki masuk ke dalam perkampungan menuju perkemahan mereka yang terletak di dekat bukit pojokan kampung ini.
__ADS_1
Roy dan Laura turun bersama dan tak terpisahkan, keduanya sedang asyik mengobrol hingga lupa daratan. Bahkan Laura tak ingat kalau sahabatnya Shena, masih terkurung bersama Leo di dalam bus.
Shena tak bisa bergerak karena Leo tertidur di bahunya dengan pulas, padahal semua orang sudah turun dari bus dan hanya tinggal mereka berdua saja.
“Oey Leo, bangun! Semua orang sudah turun dan cuma kita saja yang belum.” Shena memberanikan diri membangunkan singa yang sedang tidur.
Leo mulai bergerak dan memicingkan matanya menatap Shena. Begitu Kepala Leo beranjak dari bahunya, Shena langsung bangun berdiri dan melompat keluar bus. Sepertinya semua teman-temannya sudah berjalan jauh di depan. Shena hendak berlari tapi lengan Shena langsung dicekal oleh Leo.
“Kau mau lari ke mana?” tanya Leo.
“Menyusul yang lainnya lah, kemana lagi?”
“Bukan lewat situ, tapi lewat sini!” Leo menarik tangan Shena dan berjalan ke arah yang menyimpang dari teman-teman Shena tadi.
“Kau tidak lihat papan petunjuk itu?” Leo menunjuk sebuah papan pengumuman yang bertuliskan ‘Tempat ospek mahasiswa universitas E’.
Shenapun terdiam dan membiarkan tangannya ditarik oleh Leo meski dalam hatinya ia yakin semua teman-teman Shena tadi berjalan ke sisi yang lain.
Sebenarnya yang salah itu papan pengumumannya atau jalanannya, sih? Batin Shena. Shena tidak bisa melawan cengkeraman Leo, jadi gadis itu memutuskan bersikap kooperatif paling tidak sampai keduanya tiba di lokasi.
Selama 15 menit mereka berdua berjalan, tak satupun orang yang ditemui Shena dan Leo. Bahkan penduduk di kampung ini juga tak terlihat berseliweran. Yang membuat Shena merasa aneh, sepanjang perjalanan yang mereka lewati tak ada satupun anak kecil di kampung ini. Padahal, sekolah untuk tingkatan SD hingga SMA, masih dalam masa liburan kenaikan kelas. Namun, perkampungan ini sangat sepi seperti tak berpenghuni.
“Ini kampung apa kuburan, ya? Sepi sekali?” gumam Shena yang berjalan di belakang Leo. “Kau yakin kita tidak tersesat? Kau kan buta arah, sama sepertiku,” tanya Shena pada Leo.
“Aku hanya buta arah kalau bersamamu!” ujar Leo sambil mengamati sekeliling. Kini keduanya tiba dipersimpangan jalan pinggiran hutan.
__ADS_1
“Nah loh, sekarang lewat mana? Kiri? Atau kanan?” tanya Shena bingung. “Tapi tunggu! Apa kau yakin ini lokasi ospek kita? Kenapa masuk ke dalam hutan?” Shena mulai meragukan tempat ini, sebab dari pengarahan yang ia terima kemarin, lokasi mereka hanya berada di pinggiran hutan saja, tidak sampai masuk ke dalam hutan. Hanya saja, mungkin kegiatannya yang dilakukan di dalam hutan.
“Apa kau melihat ada tanda-tanda kehidupan?” tanya Leo pada Shena.
“Sejak tadi aku bersamamu, kalau kau tidak lihat berarti aku juga tidak lihat!” cetus Shena. Pertanyaan Leo benar-benar konyol.
“Ayo!” Leo kembali menarik tangan Shena masuk ke dalam hutan.
“Kau yakin ini jalan yang benar? Bagaimana kalau kita tersesat?” tanya Shena ragu.
Leo berbalik badan dan mendekat ke arah Shena. “Kalau kita tersesat, berarti kau harus siap-siap menjadi ratu, istri dari raja hutan Leopard Bay Pyordova. Aku berencana akan menjadi tarzan di hutan ini kalau memang kita tidak bisa keluar dari sini.” Leo tersenyum puas menikmati ekspresi shock Shena yang ditujukan padanya.
Dasar sinting! Umpat Shena dalam hati. Ia benar-benar kesal sekarang. Bagaimana bisa Shena mau saja berjalan bersama dengan Leo di tempat seperti ini. “Sial banget sih, aku!” gumam Shena.
BERSAMBUNG
***
Kalau likenya dapat 150 aku up lagi ... terus dukung akuh ya ... kisahnya udah mulai masuk seru dan fantasinya mulai muncul. Yang nggak suka fantasi, boleh langsung di skip ya ... love yuo all ...
Leo yang turun dari bus hehe...
__ADS_1