
Sementara di tempat lain, Fey datang menemui Refald yang sedang berdiri di depan kaca jendela rumahnya. Gadis itu memeluk punggung calon suaminya dari belakang. Refald sendiri tersenyum dan memegang lembut kedua tangan calon istrinya yang melingkar erat dipinggangnya.
“Kau sudah bertemu Leo?” tanya Fey pada Refald.
“Sudah.” Refald membimbing tangan Fey supaya berdiri didepannya. Keduanya kini saling berhadapan. “Bagaimana persiapan ritualmu? Apa kau takut, Honey?” tanya Refald sambil membelai lembut rambutnya.
“Jawab dulu pertanyaanku? Apa yang sedang kau pikirkan, sepertinya kau tidak sedang memikirkan pernikahan kita. Apa akan terjadi sesuatu?” tanya Fey yang mulai peka dengan apa yang dirasakan Refald.
“Kau bisa merasakannya?” Refald malah balik bertanya.
“Aku punya firasat yang tidak baik, dan firasatku tidak pernah salah.”
“Kau jangan khawatir, Honey. Selama ada aku, semuanya akan baik-baik saja. Kampus Leo akan mengadakan Ospek di sini, kita mungkin akan menikmati pertunjukan Leo dan gadis yang dicarinya. Kisah mereka baru saja dimulai. Kau sudah menunggu lama kisah mereka.”Refald tersenyum dan senyumannya itu membuat Fey selalu terbuai dengan pesona Refald yang tak pernah pudar.
“Aku tahu, mbak Kun dan pak Po sudah menceritakan semuanya padaku.” Fey balas tersenyum menatap Refald.
“Oh iya? Apa yang mereka katakan?”Refald jadi kepo juga. Padahal ia sendiri bisa membaca pikiran calon istrinya.
“Kau membuat beberapa orang berpasang-pasangan terlambat mengikuti pembukaan Ospek dihari pertama. Kau juga menghilangkan papan tulisan pemberitahuan tentang lokasi ospek diadakan. Kau sengaja membuat Leo dan gadis yang disukainya sedikit lebih lama bersama. Kau juga yang membuat geng motor itu ketakutan dan tidak jadi menuntut Leo. Semua itu adalah permainanmu. Kenapa kau tidak buka biro jodoh saja?” ironi yang pas dan cocok untuk seorang Refald.
“Sepertinya pasukanku lebih suka mengadu padamu dari pada mengadu padaku. Mereka tidak pernah bicara apa-apa padaku. Mereka juga tidak pernah melaporkan apa saja yang kau lakukan selama aku tidak ada jika bukan aku yang memaksa mereka bicara. Sepertinya, mereka harus berganti gelar menjadi pasukan Fey, bukan pasukan Refald lagi.” Refald tersenyum melihat Fey semakin mengeratkan pelukannya dipinggangnya. Tidak biasanya calon istrinya ini bersikap manja padanya.
“Jika mereka mengadu padamu, pasti kau akan melenyapkan mereka. Sedangkan aku, tidak bisa melakukan itu kecuali mendengarkan apa yang mereka curahkan padaku. Jadi, jangan salahkan mereka. Kau memang menakutkan dibandingkan mereka semua. Aku rasa kau sudah tahu itu.”
“Baiklah, tapi jika mereka mengusikmu. Katakan saja padaku, aku akan memberi mereka pelajaran.” Refald menempelkan dahinya di dahi Fey.
__ADS_1
“Mereka tidak pernah mengusikku, aku malah senang bisa berbincang-bincang dengan mereka. Sekarang aku sudah tidak takut lagi, aku senang bisa dekat dengan para pasukan suamiku.” Fey melepaskan pelukan Refald. “Aku pergi dulu, aku harus latihan untuk persiapan ritual terakhirku.”
“Kau mau aku bantu? Aku masih merindukanmu, semenit tidak bertemu ... rasanya seperti setahun.” Refald masih menggenggam erat tangan Fey.
“Kau mau membantuku? Kau yakin tidak akan tergoda?” Fey menatap Refald.
“Aku tidak yakin, sih ... tapi aku tidak bisa membiarkanmu terus-terusan latihan sendiri tanpaku. Selama Leo tidak membuat ulah, aku bisa tenang di sini.”
“Jangan terlalu keras padanya, dia masih sangat labil. Aku yakin Leo pasti punya alasan kenapa ia selalu bikin ulah. Jangan khawatirkan dia, dia sudah dewasa sekarang. Dia bukan lagi anak-anak dan sekarang ia jauh lebih kuat.”
“Kau benar, Honey. Aku selalu melihat Leo seperti anak-anak, aku tidak sadar kalau sekarang dia sudah dewasa. Sepertinya aku memang harus memberi sedikit ruang baginya untuk menata jalan hidupnya sendiri.”
“Ya sudah, ehm ... kau boleh membantuku, kau juga boleh pergi kalau kau merasa tidak bisa menahannya.” Fey mencoba menggoda Refald.
“Salah siapa sampai hari ini, kau masih belum juga menjadi istriku yang sah.” Refald menggendong tubuh Fey dan keduanya menghilang begitu saja.
Refald menurunkan Fey dengan pelan. “Kau mau latihan di sini?” tanya Refald sambil terus menatap Fey yang sedang memeriksa lokasi tempatnya berada saat ini.
“Ehm.” Fey mengangguk pelan. “Periksa sekitar, apa ada orang?” pintanya pada Refald.
Refald memejamkan matanya sebentar. “Tidak ada, kosong. Bahkan binatang pun juga tidak ada. Kenapa kau tidak latihan di kolam renang saja, Honey?”
“Tidak, di sini aku lebih bisa menyatu dengan alam. Aku tidak bisa merasakan apa-apa jika latihan di kolam renang.”
Fey mendekat ke arah air danau, mengambil sebagian airnya dan mengusapkan air tersebut diwajahnya. “Airnya segar sekali, aku akan mulai sekarang. Awasi aku, oke!” ujar Fey pada Refald yang berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
Fey akan membuka pakaiannya tetapi dicegah oleh Refald. “Honey! Apa yang kau lakukan?” tanya Refald seketika.
“Melepas pakaianlah, apalagi?” Fey balas bertanya dan mengurungkan niatnya.
“Kau melakukannya jika aku tidak ada?” Refald terkejut dan wajahnya terlihat sangat shock ketika calon istrinya ingin membuka baju dihadapannya.
Dari segala hal luar biasa yang terjadi diantara mereka berdua, Refald paling terkejut ketika tahu Fey membuka pakaiannya di tempat terbuka seperti yang akan ia lakukan sekarang.
“Tidak Sayang ... aku hanya melakukannya didepanmu saja, sebelumnya aku selalu memakai pakaian lengkap ketika latihan ditemani pasukanmu. Berhubung sekarang hanya ada kau yang ada di sini, maka aku akan melepas pakaianku agar aku bisa lebih leluasa di dalam air. Itulah kenapa aku tadi minta kau memeriksa lokasi ini, jika tidak ada siapa-siapa, berarti di sini aman, kerena cuma ada kita berdua saja, kan?”
“Tunggu!” Refald kembali memejamkan mata. “Kalian semua, pergi dari sini dalam radius 5 mil. Jangan biarkan siapapun atau apapun mendekati lokasi ini tanpa seizinku. Jika ada yang melanggar, singkirkan saja mereka semua. Kalian mengerti?” perintah Refald pada seluruh pasukannya.
Fey hanya menganga menatap Refald bersikap terlalu posesif. Tapi itulah Refald, sekali ia berucap, maka tidak akan bisa diubah. Ucapannya adalah keputusannya. Refald membuka matanya kembali setelah semua pasukannya pergi meninggalkan tempat ini. Keduanya kini saling pandang satu sama lain.
"Kau membuat peraturan nyeleneh lagi," gumam Fey.
"Siapa suruh kau mau buka baju di sini? Tidak ada yang boleh melihat tubuh indahmu selain aku," cetus Refald antara kesal dan juga senang.
"Dasar mesum!" komentar Fey.
BERSAMBUNG
****
masih ada satu episode lagi ...
__ADS_1
dukung like dan komentanya ya ...