Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 120 Tegang


__ADS_3

“Kita masih punya waktu 30 menit untuk memberikan surat ini pada suster Sista, tapi ada banyak sekali hantu yang memerhatikan kita saat ini.” Refald mengamati sekeliling dengan penuh waspada sementara aku baru saja mendapat ide briliant agar surat ini sampai ke tangan penerimanya tapa diketahui oleh hantu manapun.


“Ikut aku.” Aku menggandeng tangan Refald dan mengajaknya ke toko buku. Setelah mendapatkan buku yang aku inginkan, akupun menunggu suster yang bekerja di rumah sakit tempat Refald di rawat itu keluar dari pintu gerbang rumah sakit, sedangkan Refald bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang ada di seberang jalan untuk melindungiku dan berjaga-jaga jika ada sesuatu yang buruk menimpaku.


Refald memberitahuku kalau setiap pukul 17.30, suster itu pulang sambil naik taksi. Hari ini dokter yang biasa mengikutinya tidak bisa mengantarnya karena ia ada tugas jaga malam, jadi inilah kesempatanku untuk menyerahkan surat pesan dari ibunya yang sudah ku letakkan dalam buku novel yang baru saja aku beli.


“Suster,” panggilku kepada suster itu sebelum ia keluar dari pintu gerbang.


“Iya, ada Miss?” tanyanya.


Aku membuka tasku dan menyerahkan novel berisi surat pada suster itu.


“Apa ini, Miss?” tanya suster itu lagi.


“Ini hadiah dariku, Suster. Terimakasih sudah membantu merawat suamiku. Tapi, aku minta baca saja di rumah, jangan di sini. Aku yakin suster akan senang membaca buku ini.” Aku memberikan sebuah buku novel yang berjudul ‘Pesan dari Ibu’ pada suster yang masih terlihat bingung.


Meski tidak tahu apa tujuanku, ia pun menerima novel itu. “Terimakasih banyak, Miss. Sebenarnya, anda tidak perlu bersikap sejauh ini. Sudah tugas dan kewajiban saya membantu semua pasien yang ada di rumah sakit ini.”


“Tidak apa-apa, Sus. Saya senang jika anda mau menerima pemberian saya. Kalau begitu, saya permisi, jangan lupa untuk membacanya ya, Sus. Sampai jumpa besok.” Aku pun pamit undur diri masuk ke halaman rumah sakit dan langsung menuju ruang inap Refald.


Aku terkejut karena Refald tiba-tiba saja sudah ada di ruangannya sambil rebahan di ranjangnya.


“Cepat sekali kau ada di sini? Kau pamer kekuatanmu lagi?” sindirku.

__ADS_1


“Apa gunanya punya kekuatan kalau tidak dipakai, Honey.” Refald menyeringai padaku dan berjalan cepat mendekatiku. Dia menggendongku dan meletakkanku di atas tempat tidurnya dan ia pun berbaring disampingku. “Kau sangat cerdik, Honey. Tidak ada yang tahu kalau novel itu berisi pesan dari ibunya. Sekarang, kita hanya berharap dia mau membaca isi pesannya.”


“Ehm, mudah-mudahan saja, dia mau membaca isi pesan dari almarhum ibunya,” ucapku. Aku memikirkan masalah apa yang terjadi dan apa isi pesan itu. Aku ragu, Refald akan menjawabku jika aku bertanya langsung padanya.


“Sebaiknya, kau tidak perlu tahu, Honey. Sebab, jika kau tahu apa isi pesan itu, maka kau akan menangis dan juga marah,” ujar Refald. Tentu saja dia tahu jawaban apa yang aku inginkan. Sebab, Ia bisa membaca pikiranku, salah satu kekuatan Refald yang paling aku benci. Membaca pikiran!


Apa yang dikatakan Refald mungkin benar, sebaiknya aku tidak perlu tahu sehingga aku tidak harus ikut campur urusan para makhluk tak kasat mata itu, yang penting tugasku selesai dan mbak Sun tak lagi menggangguku.


Kini, waktu sudah mulai memasuki rembang petang dimana, saat seperti ini adalah waktu yang tepat bagi para makhluk astral keluar dari sarangnya dan bergentayangan dimana-mana.


Aku masih betah berada di ranjang Refald dan memeluknya karena ada banyak sekali hantu-hantu berseliweran kesana kemari. Tiba-tiba saja rumah sakit yang tadinya sepi mendadak ramai layaknya pasar akibat munculnya semua makhluk tak kasat mata yang entah darimana mereka berasal.


Lagi-lagi, Refald benar. Rumah sakit ini memang sarangnya para hantu. Pantas saja ayah-ayah kami menginginkanku terus berada di sisi Refald. Ternyata ini alasannya.


***


Refald menepati ucapannya, tepat tengah malam dia membangunkanku dan mulai mengajakku berkeliling rumah sakit ini. Suasana horor yang mencekam membuat bulu kudukku berdiri, tempat yang tadinya ramai dipenuhi oleh banyaknya hantu yang berseliweran, kini mendadak sepi.


Agar aku tidak gugup, Refald terus menggandeng tanganku dengan erat. Semua penghuni rumah sakit sedang tertidur lelap, hanya beberapa penjaga yang berpatroli sekali-sekali mengelilingi seluruh rumah sakit dengan menggunakan senternya. Sepertinya para penjaga itu sudah terbiasa dengan suasana yang mencekam di rumah sakit ini. Bahkan mungkin para penjaga itu malah berteman dengan hantu di sini.


“Kau lulus tahap pertama,” ujar Refald ketika kami sampai di ujung lorong rumah sakit yang ada di gedung paling belakang.


“Aku tidak melihat banyak hantu di tempat ini, apa mereka sembunyi karena melihatmu? Atau mereka sedang tidur?” tanyaku pada Refald.

__ADS_1


“Ehm, mereka pergi ke tempat yang mereka suka. Ayo ikut aku untuk ujian tahap keduamu.”


“Kenapa aku merasa kau sedang menguji nyaliku. Bilang saja kalau ini adalah uji nyali!” gerutuku.


“Beda, Honey. Jika ini uji nyali, aku sudah meninggalkanmu sendirian di sini dan baru akan kembali jika kau sudah tidak kuat berada di tempat ini sendirian. Nyatanya, aku selalu menemanimu.”


Tiba-tiba saja terdengar suara derap langkah orang yang sedang berlari. Secepat kilat Refald menarikku ke sebuah ruangan gelap dan langsung menutup pintunya. Aku terkejut dan hendak berteriak saat menyadari ada dimana aku dan Refald sekarang, tapi dia membekap mulutku dengan telapak tangannya sehingga aku tidak jadi berteriak, tapi ganti mataku yang terbelalak.


Bagaimana tidak? Ruang ini adalah ruang mayat dan ada banyak sekali jenazah yang terbujur kaku diruangan ini. Ingin rasanya aku berlari keluar dari tempat ini, tapi tangan Refald mencekalku dan memelukku dengan erat supaya aku lebih tenang.


“Honey, tenangkan dirimu. Ada aku, kau akan baik-baik saja selama kau bersamaku, percayalah. Diam dan dengarkan saja apa yang terjadi di luar sana. Aku pun mulai sedikit tenang saat melihat tatapan Refald yang menyejukkan hatiku. Aku mengatur napasku dan bersikap rileks seolah aku ada di ruang sauna.


Samar-samar dari luar, aku mendengar suara teriakan perdebatan dua orang. Refald membuka sedikit daun pintu ruang ini dan kami pun mengintip serta menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.


Betapa terkejutnya diriku sampai mengatupkan kedua tanganku didepan mulutku yang menganga. “Bukankah itu ... adalah suster Sista dan dokter Raska? Sedang apa mereka?”


Aku melihat pemandangan mencengangkan. Dokter Raska ada di bawah lantai sedang menahan tangan suster Sista yang hendak menyerangnya dengan sebilah pisau.


Tidak salah lagi! Suster itu memang hendak membunuh dokter Raska, tapi dokter itu berusaha menahan pisau tersebut agar tidak mengenai tubuhnya. Mereka berdua saling menyerang dan bertahan satu sama lain.


“Ada apa ini Refald? Apa kita hanya akan diam saja di sini?” tanyaku dengan was was. Rasa takut, panik dan juga tegang menyerangku seketika, tapi Refald tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya menatap tajam situasi mengejutkan itu seolah sedang memikirkan sesuatu.


****

__ADS_1



__ADS_2