Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 73 Salah Paham


__ADS_3

Hari sudah semakin malam dan gelap. Aku dan Refald memasuki halaman posko pengaman penjaga perhutani. Begitu melihat kami datang, beberapa penjaga yang sedang berada di depan posko langsung menegang ketika melihat kami, mereka bahkan terlihat ketakutan dan gemetar. Aku menjadi bingung melihat sikap para penjaga yang ketakutan ketika kami datang mendekat.


“Permisi Pak, apa bisa kami ....” Refald belum sempat menyelesaikan kalimatnya, para penjaga posko itu kompak berlari terbirit-birit sehingga membuat kehebohan.


“Ha ... hantuuuuuuuuu ....” teriakan mereka juga kompak sambil berlari tunggang langgang.


Dari kejauhan aku terkejut melihat bapak-bapak paruh baya itu berlari sekencang mungkin sampai semua benda yang ada didepannya mereka tabrak seenaknya. Bahkan salah satu dari mereka ada yang sampai menabrak tiang listrik yang berdiri tegak ditempat saking takutnya melihat kami. Sedangkan yang lainnya berteriak ke sana ke mari sambil berkata kalau kami yang berdiri di depan posko adalah hantu. Mereka baru berhenti berteriak setelah beberapa dari mereka pingsan tertabrak pohon-pohon yang berdiri menjulang disekitar area parkir.


Sebenarnya aku sangat kaget melihat kehebohan yang dilakukan bapak-bapak paruh baya itu, bisa-bisanya mereka berpikiran kalau aku dan Refald adalah hantu.


“Apa aku tidak salah dengar? Mereka bilang kita ini hantu? Muka cakep begini di bilang hantu? Mereka buta, ya? Mana ada hantu secantik aku?” aku tidak bisa menerima jika diriku ini di bilang hantu. Namun, saat aku melihat kaca yang ada didepanku, aku benar-benar terkejut melihat seperti apa rupaku saat ini. aku kaget melihat betapa buluknya diriku. Rambut acak-acakan, baju kotor semua, muka belepotan karena sudah hampir satu minggu aku tidak mandi. “Omegod? Apa benar ini mukaku?” aku mengusap-ngusap wajahku untuk membersihkan kotoran yang menempel diwajahku. “Pantas saja Bapak-bapak itu lari terbirit-birit seperti itu. Wajahku ini lebih menakutkan daripada wajah Mbak Sun atau Mbak kun?” aku tidak percaya melihat penampilanku sendiri yang lebih mirip dedemit ketimbang manusia.


Refald hanya tertawa mendengar gerutuanku. “Kenapa kau baru sadar, Honey. Harusnya tadi kau mengikuti saranku. Kita mandi bersama di sungai, tapi kau tidak mau. Lihatlah! Gara-gara kau, para penjaga itu ketakutan bahkan ada yang pingsan gara-gara tertabrak tiang listrik karena melihatmu.” Refald tertawa terbahak-bahak.


Aku semakin kesal mendengar olokan Refald, “Kau pikir cuma aku yang mirip hantu, ha? Lihat dirimu sen-di-ri ....” aku tidak bisa melanjutkan kalimatku karena Refald begitu terlihat menawan meski ia berantakan. Berbeda denganku yang lebih mirip dedemit dibandingkan manusia.


Kenapa ini nggak adil sekali. Refald masih saja terlihat keren meski ia sama buluknya denganku. Aduhhhh sial.


Beberapa orang yang berlalu lalang juga ikutan ngeri saat melihatku. Tatapan mata mereka yang tertuju padaku seolah percaya pada teriakan para penjaga yang berlari ketakutan tadi ketika melihat wajahku. Namun, tidak sedikit yang tidak percaya kalau kami ini bukanlah hantu sungguhan jika dilihat dari kakiku yang menapak di tanah.

__ADS_1


Mereka mulai mengelilingi kami untuk memastikan apakah kami ini benar-benar hantu atau bukan. Terutama aku yang memang ku akui sebelas dua belas dengan mbak Sun yang diperankan Suzana di film ‘beranak dalam kubur’ dimana film itu jadi fenomenal.


Setelah memastikan bahwa kami berdua ini benar-benar masih hidup, mereka semua senang menyambut kedatangan kami yang bisa kembali dalam keadaan selamat tanpa luka. Kepala penjaga baru saja datang setelah menerima laporan perihal kedatangan kami. Iapun langsung memberi komando supaya menarik pasukannya kembali yang sempat ia kerahkan ke hutan untuk mencari kami.


Dari pembicaraan kami, aku menyimpulkan bahwa mereka heran sekaligus bingung karena kami bisa kembali hidup-hidup, padahal menurut laporan dari Yua, kami berdua terjatuh dari jurang lumayan dalam. Mereka bahkan berpikir kami berdua sudah meninggal, karena itulah mereka berupaya untuk mencari jenazah kami di hutan selama dua hari terakhir.


Tim SAR dan para penduduk desa mengira jenazah yang mereka temukan tadi adalah jenazah kami, tapi nyatanya bukan, itu adalah jenazah dua sejoli yang kami temui di dalam hutan tadi. Pantas saja para penjaga perhutani sempat terkejut saat pertama kali melihat kami datang ke posko. Mereka sempat mengira kami adalah arwah gentayangan yang mendatangi mereka. Untung saja kakiku pincang saat berjalan jadi mereka yakin kalau kami bukanlah arwah, melainkan manusia sungguhan.


Kepala perhutani langsung membawaku ke ruangannya, sedangkan Refald memilih untuk berbicara pada salah satu petugas penjaga posko perhutani diruangan sebelah.


“Bagaimana dengan keadaan teman saya, Pak?” tanyaku kepada kepala perhutani saat kami duduk saling berhadapan. “Saat itu, mereka berada di tepi jurang tempat saya terjatuh, salah satu teman saya juga sedang pingsan waktu itu. Apa Bapak tahu bagaimana kondisi mereka saat ini?” aku tidak sabar ingin tahu keadaan Yua dan Epank.


“Lalu bagaimana dengan teman-teman saya yang lainnya, Pak?” aku masih saja mencemaskan kondisi teman-teman dan seluruh anggota pecinta alam lainnya, termasuk Nura dan Mia. Apakah mereka semua juga baik-baik saja atau tidak.


“Untunglah bencana itu hanya melanda aliran sungai, tidak sampai merembet kemana-mana, jadi semua selamat kecuali kalian berdua. Sudah 2 hari kalian menghilang, tapi syukurlah kalian bisa kembali lagi hidup-hidup,” terang kepala perhutani. “Saya akan mengisi berkas-berkasnya setelah itu kalian berdua boleh pulang. Apa ada yang terluka?”


“Tidak, Pak.” Aku berbohong, padahal kakiku yang terkilir terasa agak sedikit sakit.


Aku senang karena semuanya baik-baik saja. Sambil menunggu, mataku beralih melihat Refald sedang berbicara serius dengan seseorang diruangan berkaca yang berada di sisi lain dari tempatku saat ini. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi melihat gerak tubuh dan ekspresi mereka, sepertinya ada sesuatu yang serius sedang mereka perdebatkan.

__ADS_1


Setelah aku amati baik-baik, orang yang bicara dengan Refald adalah salah satu petugas perhutani yang waktu itu mengawal kami saat berkemah. “Sedang apa mereka?” aku bertanya pada diriku sendiri.”


“Apa?” kepala petugas perhutani itu menyahut mendengar pertanyaanku. Padahal aku hanya bertanya pada diriku sendiri.


Bapak ini memiliki pendengaran yang baik juga.


“Maaf, Pak. Apa yang mereka lakukan? Mereka seperti sedang bertengkar?” aku menunjuk Refald dan anak buah Bapak ini yang sedang berdebat dengan Refald.


Pak Shaleh, itu nama yang tertera di seragam dinas kepala perhutani didepanku saat ini.


Pak Shaleh melihat orang yang aku tunjuk dan ia pun juga terkejut sama sepertiku. “Oh, mari kita cari tahu,” ajaknya sambil berdiri. Aku pun mengikuti langkahnya dari belakang. Kami pun masuk ke dalam ruangan di mana Refald dan petugas perhutani sedang beradu pendapat.


“Ada apa ini?” tanya Pak Shaleh.


***


Sudah mulai memasuki genre misteri lagi, tapi penulis usahakan untuk selalu membuat cerita yang sweet dan romantis. Sekian dulu dan besok baru up lagi. Jangan lupa like dan komennya ya ...


Baca “Playboy Jatuh Cinta (The King in Love)” sudah up juga.

__ADS_1


Salam manis dari penulis.😆😆😆


__ADS_2