
Fey mengamati terus situasi yang terjadi dibawahnya sementara Refald masih berperang dengan Nura. Para pasukan Refald berusaha merusak penghalang yang dibuat Shena dengan menggunakan berbagai macam cara meski belum juga berhasil.
“Shena melawan perintah iblis itu, kau tahu itu artinya, Honey?” terang Refald. Walau dalam keadaan berperang, sempat-sempatnya Refald menyunggingkan senyum tampannya sambil melirik Shena dan Leo.
“Shena ... mulai mencintai, Leo? Secepat itu? Dan kau akan menghapus ingatan mereka?” tebak Fey ikut tersenyum juga digendongan Refald, tapi raut wajahnya berubah sedih kala ingat Refald akan segera menghapus ingatan keduanya disaat cinta mereka mulai bersemi.
“Tepat! Aku memang harus melakukannya. Kau jangan sedih, Honey. Kisah mereka akan dimulai kembali lebih seru dari ini. Saat itu tiba, kita berdua harus pura-pura tidak kenal Shena,” ujar Refald sambil menghalau serangan Nura.
Meski kata-kata Refald sedikit melegakan, tapi tetap saja Fey merasa Shena sangat luar biasa. Cinta keduanya memang benar-benar unik terlihat dari apa yang dilakukan Shena demi Leo begitu juga sebaliknya. Keduanya sama-sama rela mati demi melindungi orang yang mereka cintai.
“Kekuatan cinta yang luar biasa. Pantas saja, sampai detik ini Leo terlihat baik-baik saja, ternyata Shena mati-matian melindungi Leo dari balik tubuhnya sendiri. jika saja Shena tidak melawan, mungkin Leo sudah koap daritadi.” Fey menatap nanar perjuangan Shena. Gadis itu begitu gigih melawan iblis jahat yang merasuki tubuhnya agar Leo tidak terluka. “Daebak, gadis itu keren banget,” gumam Fey lirih.
“Kau juga luar biasa keren, Honey. Aku senang kau bisa bertahan selagi aku tidak ada.” Refald mencoba membuat Fey senang atas apa yang sudah istrinya lakukan sejauh ini. “Baiklah, sudah cukup main-mainnya, aku mulai bosan!”
“Hah? Apa kau bilang?” Fey terkejut sambil menatap Refald. “Jadi daritadi kau hanya main-main?” teriak Fey.
“Kapan lagi aku menggendongmu sambil bertarung seperti ini, Honey.” Refald tersenyum jail sambil mengedipkan salah satu matanya menggoda Fey yang kesal karena dipermainkan Refald.
“Kau?” teriak Fey lagi. “Nura sedang dirasuki setan sekarang, dan kau malah mengajaknya main-main? Kau gila!” omel Fey.
“Aku bercanda Honey, tapi kali ini aku serius. Peganganlah yang erat.” Refald memberikan serangan pamungkas yang jauh lebih kuat dari serangan sebelumnya untuk mengalahkan iblis yang merasuki tubuh Nura.
Serangan Refald tepat mengenai tubuh gadis malang itu hingga ia jatuh ke tanah. Untunglah, mereka melayang tidak terlalu tinggi sehingga Nura tidak mengalami luka serius akibat terjatuh tadi.
Disaat Nura lengah, kesempatan itu Refald gunakan untuk menarik setan yang bersemayam dalam tubuh Nura hingga keluar, lalu Refald memusnahkannya hanya dengan sekali cengkeraman seperti *******-***** sebuah kertas dan mengubahnya jadi abu, sama seperti yang pernah Refald lakukan pada raja iblis Gengishkhan dulu.
Begitu setan itu berhasil dilenyapkan, Nura langsung pingsan dan jatuh tersungkur di tanah. Fey turun dari gendongan Refald dan berlari memeriksa keadaan temannya.
“Nura,” panggil Fey sambil menepuk pelan pipi sahabatnya.
“Biarkan saja dia Honey, akan lebih baik kalau Nura tetap pingsan sampai aku selesai membereskan semuanya. Tetaplah di sini bersama mbak Kun, aku akan mengurus iblis yang satunya lagi.” Refald menatap wajah Fey dengan lembut sebelum ia balik badan untuk memusnahkan iblis yang merasuki Shena.
Fey mengangguk tanda mengerti, ia mengamati wajah pucat Nura. Namun, tanpa sengaja, Fey melihat dari kejauhan, ada sosok makhluk hitam bermata merah menyala sedang bersiap menyerang Refald dengan panah api yang asap dan apinya bukan berwarna kuning kemerahan atau putih abu-abu, melainkan berwarna hitam legam sama seperti sosoknya. Fey tahu kemana arah anak panah itu akan diajukan.
Tanpa pikir panjang, Fey berlari kearah Refald setelah meminta mbak Kun menggantikan posisinya menopang kepala Nura dan berlari secepat kilat melindungi Refald dari serangan anak panah yang sedang mengarah padanya. Refald yang menyadari bahaya itu, memutar balik tubuhnya dan memeluk Fey sehingga posisi Refaldlah yang akan terkena panah itu, bukan Fey lagi, tapi dengan cepat pula, Fey memutar tubuh Refald kembali dan mereka berdua bertukar posisi sehingga Feylah yang akhirnya terkena anak panah itu.
Jleb!
Anak panah tersebut tepat mengenai punggung Fey dan gadis itu langsung tergolek lemah tak berdaya dipelukan Refald.
Kejadian tersebut terjadi begitu cepat sampai semua pasukan Refald tak bisa menyadarinya. Mereka semua yang ada di sini juga langsung shock berat melihat apa yang menimpa istri pangerannya.
“Tidak! Honey!” teriak Refald seketika sambil menopang tubuh istrinya.
Di detik-detik Fey kehilangan kesadarannya, ia berkata pada Refald, “Ka-kau bukan ... Raghu ... i-ingat itu.” Feypun menutup matanya dalam dekapan Refald yang shock dan tertegun melihat Fey tak sadarkan diri.
“Tidak, Fey!” seru Refald. “Kau tidak bisa berakhir seperti ini. Bangun! Kau harus tetap sadar,” teriak Refald lagi, dan sebuah anak panah hitam datang lagi kearahnya. Kali ini, pasukan Refald lebih sigap, mereka langsung menghalau serangan itu dan melindungi Refald.
__ADS_1
“Pangeran, kami akan menjaga tuan Putri, cepat musnahkan dia!’ pinta pak Po berusaha menguatkan Refald agar tidak terlarut dalam emosi yang bisa menghilangkan kekuatannya. “Kalau sampai kekuatan anda hilang, maka tamatlah riwayat semua orang yang ada di sini termasuk adik anda, tuan muda Leo.”
Kata-kata pak Po membuat Refald cepat paham dan mengerti apa yang harus dilakukannya. Secepat kilat, Ia langsung berpindah tempat ketempat sosok hitam yang sudah menyebabkan wanita yang dicintai Refald terluka. Refald langsung mencekik sosok hitam tersebut dengan kuat.
“Beraninya, kau!” teriak Refald menggelegar hingga burung-burung dan binatang-binatang yang lain beterbangan dan berlari menjauhi lokasi Refald berada saat ini.
Bukannya takut dengan kemarahan Refald, sosok hitam itu malah tertawa terbahak-bahak melihat amarah Refald yang berjalan lancar sesuai dengan keinginannya. “Bagus! Marahlah! Keluarkan seluruh emosimu! Jangan ditahan lagi! Dendamlah padaku ... dengan begitu, kau akan menjadi Raghu yang kedua. Ayo bunuh aku!” teriak sosok hitam itu sehingga membuat kemarahan Refald langsung mereda seketika.
Sekilas, Refald teringat kata-kata Fey sebelum istrinya itu kehilangan kesadaran. Tanpa suara, Refald melepas cengkeramannya pada iblis tersebut dan membuat penghalang sama seperti yang pernah dibuat oleh penyamun saat mengurung Refald waktu itu. Dengan begitu, sosok hitam tersebut tidak akan bisa keluar dan membuat ulah lagi.
“Apa yang kau lakukan?” teriak sosok hitam itu. “Harusnya kau marah dan membunuhku?”
Refald hanya menatap tajam sosok hitam tersebut sambil berkata,“Kau tidak bisa membuatku menjadi Raghu hanya dengan menyakiti wanita yang aku cintai. Kau juga tidak akan bisa lagi menciptakan Raghu-Raghu yang lain karena kau tidak akan pernah bisa keluar dari penghalang ini. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa membukanya bahkan aku sekalipun. Huh, aku berterima kasih pada penyamun itu karena sudah memberitahuku bagaimana cara membuat penghalang seperti ini. Tidak kusangka, penghalang ini sangat berguna untuk mengurung setan jahat sepertimu. Akan aku beritahu satu hal padamu. Jika kau sampai menyentuh dinding penghalang itu, maka jiwamu akan lenyap dan berubah menjadi abu. Coba saja kalau kau tidak percaya.” Refald tersenyum puas melihat ekspresi sosok hitam mengerikan itu.
“Kurang ajar, kau! Harusnya tidak seperti ini! Harusnya kau kalap dan berubah menjadi sepertiku! Aku tidak bisa terima ini!” teriak sosok hitam itu dengan penuh emosi. Sekarang yang kalap malah sosok hitam itu sendiri. Rencana jahatnya yang menginginkan Refald berubah jadi jahat, sudah gagal total.
Refald sendiri lebih memilih tidak menggubris teriakan makhluk hitam itu dan pergi begitu saja mendekati Fey untuk menyelamatkannya selagi bisa.
Sementara Leo, masih tertegun melihat kakak iparnya terkapar tak berdaya saat melindungi Refald. Entah kenapa, Leopun juga merasakan hal yang sama, sedang terjadi pada Shena. Tangan Shena tetap berada di depan lehernya. Leo juga menggenggam erat tangan mungil itu. Ia tahu pasti, saat ini Shena sedang berjuang melawan makhluk yang merasuki tubuhnya hingga Leo tidak terluka.
“Shena,” panggil Leo lirih.
Tubuh Shena langsung bereaksi mendengar Leo memanggil namanya. Gadis itu terus saja melawan perintah iblis yang merasukinya agar tidak menyakiti Leo. Shena berusaha menguasai kembali diri Shena kembali. Rasa cinta Shena yang mulai tumbuh untuk Leo membuat tekadnya semakin kuat dan akhirnya berhasil mengalahkan iblis itu.
Melihat reaksi Shena yang sepertinya bisa mengendalikan dirinya sendiri, Leo melepaskan genggaman tangannya dari tangan Shena dan menyentuh dagu Shena yang sejak tadi menunduk lalu mendongakkan wajah cantik itu supaya dekat dengan wajah Leo.
“Aku ... mencintaimu, Shena.” Leo mencium Shena dengan segenap hati dan jiwanya di depan semua para pasukan dedemit Refald yang sibuk membuka penghalang dari luar.
“Kau yakin kau bisa menyelamatkan istrimu dari panah hitamku, tadi?” teriak sosok hitam tersebut dari kejauhan. Ia masih mengamati Refald yang terlihat sedih karena istrinya terluka. “Hatinya mungkin sudah ternodai oleh panah hitamku!” teriaknya lagi sambil tertawa puas. “Tidak masalah jika aku selamanya terkurung di sini, tapi aku puas istrimu tak bersih lagi! Hahahaha.” iblis itu semakin kencang tertawa.
Refald tidak menggubris ocehan sosok hitam tersebut, ia tetap fokus pada penyembuhan Fey dan membersihkan kembali jiwa Fey yang terluka. Refald menanggalkan jaketnya untuk menutupi tubuh istrinya agar tidak kedinginan.
Sedangkan Leo, langsung meraih tubuh Shena yang lemah setelah keduanya selesai berciuman. Leo terus mencium kening Shena untuk menenangkan tubuh wanita yang ia cintai agar tidak terus-terusan gemetar disaksikan seluruh pasukan Refald sambil menatap bengong dua sejoli yang sedang asyik memadu kasih.
“Sepertinya, mereka sudah tidak butuh kita lagi. Penghalangnya juga sudah hilang sendiri. Ayo, kita ke Pangeran saja, dialah yang lebih membutuhkan kita,” ajak pak Po yang jadi salting sendiri melihat betapa mesranya Leo dan Shena sehingga sempat membuat jiwa jomblo dirinya dan rekan-rekannya meronta-ronta.
“Kau benar pak Po, entah kenapa aku nyesek melihat mereka. Kenapa dulu aku mati muda sebelum menikah? Paling tidak punya pacarlah, jadinya kan nggak nyesel-nyesel amat sekarang. Sampai jadi hantu begini, aku masih saja belum tahu bagaimana rasanya jatuh cinta,” ujar rekan pak Po diikuti anggukan kepala rekan-rekannya yang lain karena memiliki nasib yang sama, tak terkecuali pak Po sendiri.
Akhirnya, mereka semua pergi meninggalkan Leo dan Shena berdua saja saat keduanya sedang berpelukan mesra. Mereka semua berdiri di sisi pangerannya yang sedang sedih kerena berusaha menyelamatkan istrinya.
“Apa yang harus kami lakukan, Pangeran?” tanya pak Po, dia berdiri tepat di belakang Refald.
“Siapkan tempat untuk kami, pak Po. Aku akan membawa Fey pergi ke dunia lain.” Refald terus berkonsentrasi menyembuhkan Fey.
“Baik, Pangeran!” tukas pak Po siap sedia.
“Itu tidak perlu, pak Po,” seru Fey mulai sadarkan diri. Lagi-lagi, ia sukses membuat kaget semua orang yang ada disitu, termasuk juga mbak Kun yang mendapat tugas menjaga Nura.
__ADS_1
Tadinya, mbak Kun sedih dan menangis ketika melihat istri pangerannya terkapar lemah tak berdaya. Dia bahkan tidak berani mendekati Fey karena merasa bersalah tak bisa melindungi istri pangerannya dengan baik. Namun, begitu mendengar suara Fey, mbak Kun langsung melayang ke arah istri pangerannya dan betapa senangnya dia karena Fey sudah bisa membuka kembali matanya.
“Honey, kau baik-baik saja? Apa yang kau rasakan?” tanya Refald tak kalah senang dengan yang lainnya.
“Apa anda baik-baik saja, Putri?” tanya mbak Kun juga.
Dalam kondisi lemas dan masih dalam dekapan Refald, Fey meraih sesuatu yang ada dipunggungnya, dan menunjukkannya pada Refald serta yang lainnya.
“Selendang, itu?” mata Refald terbelalak melihat selendang pelangi milik Fey tiba-tiba ada dibelakangnya.
“Hadiah luar biasa yang diberikan leluhurku padaku. Selendang inilah yang melindungiku. Aku tidak apa-apa. Ah, satu lagi ....” Fey tidak melanjutkan kalimatnya dan mencoba duduk agar bisa melihat ekspresi sosok hitam yang sudah gagal membuat Fey terluka. “Jiwaku masih suci dan murni. Aku sama sekali tidak terluka dengan anak panah hitam kotor yang kau layangkan padaku.” Fey tersenyum sinis menatap sosok hitam merah menyala itu.
Mendengar kata-kata istrinya, Refald sangat bahagia. Tadinya ia akan membawa Fey masuk ke dalam dunia lain untuk mensucikan lagi jiwa istrinya yang tentunya pasti akan memakan waktu lama. Namun, sepertinya rencana itu tidak perlu lagi dilakukan. Fey masih tetap miliknya dan ia langsung memeluk erat istrinya itu. Sembari dipeluk Refald, Fey juga menatap Leo dan Shena yang sedang berpelukan lebih mesra dibandingkan dirinya dan Refald.
Sial, kenapa mereka mesra sekali? Batin Fey kesal saat melihat adik dan calon adik iparnya.
Refald, yang bisa mendengar suara hati istrinya, hanya tersenyum simpul. “Aku tidak bisa memelukmu seperti Leo memeluk Shena karena ada banyak pasukan dedemitku di sini,” bisik Refald lirih dan Feypun mengerti.
Sosok hitam yang menyaksikan Fey masih hidup dan tidak terpengaruh dengan senjata hitamnya, jadi terkejut dan tidak percaya. Saking shocknya, ia tidak menyadari kalau tangannya menyentuh dinding penghalang yang dibuat Refald sehingga sosok tersebut seketika berubah menjadi abu.
“Aku tidak percaya ini!” teriaknya sebelum jiwanya benar-benar menghilang diudara.
Refald dan Fey hanya diam memandang sosok hitam itu sirna dengan sendirinya akibat kesalahannya sendiri. Keduanyapun saling berpelukan kembali karena lagi-lagi telah bisa mengatasi masalah ini dengan baik.
“Sepertinya, kita juga tidak dibutuhkan lagi di sini. Tuan Putri ternyata baik-baik saja. Bagaimana kalau kita pergi saja daripada mata kita ternodai oleh mereka,” terang pak Po dengan ekspresi dongkol akut pada dua orang laki-laki tersomplak yang pernah ia temui di dunia ini. Lagi-lagi, semua rekan-rekannya yang kebetulan terdiri dari kaum adam semua setuju dengan usulan Pak Po.
“Aku belum mengizinkan kalian pergi,” goda Refald pada seluruh pasukannya sehingga membuat pak Po dan yang lainnya semakin dongkol dua kali lipat. Apalagi Refald mengatakan kata-kata itu sambil terus memeluk istrinya. Benar-benar raja tega!
“Anda ingin kami semua jadi obat nyamuk di sini, Pangeran? Dan hanya gigit jari saja melihat kemesraan kalian berempat? Pangeran tahu sendiri, demi anda ... kami semua rela menjomblo!” protes pak Po.
“Aku tahu, bertahanlah 3 tahun lagi, begitu aku menikah dengan Fey, kalian juga boleh mencari pasangan kalian masing-masing. Tapi sekarang, lupakan status kalian sebagai jomblo ngenez itu. Bereskan semua kekacauan yang ada di tempat ini! Kembalikan semuanya seperti sedia kala, dan jangan sampai ada yang curiga,” perintah Refald pada anak buahnya yang langsung disambut tatapan sinis dari mereka. Namun, tidak ada jalan lain lagi selain menuruti semua perintah Refald tanpa syarat.
“Baik, pangeran!” ujar semuanya dengan kompak, tapi tidak dengan pak Po yang ngedumel sendiri di depan Refald.
“Aku menyesal kenapa dulu aku tidak menjadi manusia lebih lama, setidaknya sampai aku menikah dan punya anak,” gumam pak Po yang langsung disambut senyum simpul dari Refald.
“Salah sendiri, siapa yang menyuruhmu mati muda!” ujar Refald menggoda pak Po dan ia langsung mendapat tatapan menyebalkan dari Pak Po.
Menyaksikan wajah manyun pak Po membuat Fey kembali tersenyum. Ia mengamati Leo dan Shena kini yang patut berbahagia karena keduanya memiliki ikatan cinta yang kuat. Namun, senyumnya memudar saat melihat Nura. Fey tidak tahu harus bagaimana, yang bisa Fey lakukan untuk saat ini hanyalah berdoa untuk kebahagiaan sahabatnya.
"Semoga Eric lekas membalas cinta Nura sama seperti Shena yang mulai jatuh cinta pada Leo," gumam Fey dipelukan Refald.
BERSAMBUNG
****
Wiuuuuh, ini panjang banget episodenya ... nantikan kisah mereka selanjutnya, haluku omegot ... ada nggak sih yang lebih gila dari aku, mudah-mudahan ada .... hehehe. Love you all.
__ADS_1