
Tepat tengah malam, Fey dan Refald datang ke sebuah tempat dimana dulu, tempat ini merupakan kampung halaman Ragu. Kini, tempat tersebut telah merubah nama menjadi situs budaya cinta suci Zoya. Siapapun yang datang kemari bersama dengan pasangannya, maka mereka akan bisa bersatu selamanya. Tentu saja dengan catatan, cinta mereka harus tulus tanpa pamrih. Pasangan yang datang kemari akan berpisah bila memang tidak berjodoh. Sebaliknya, mereka akan bersatu jika berjodoh.
Ada banyak perubahan yang terjadi di tempat ini setelah dikelola oleh Refald. Tempat ini jadi jauh leboh terstruktur dan juga lebih tertata rapi dari terakhir Fey datang kemari kala itu. Bahkan tempat ini juga sudah terdaftar dalam situs budaya dunia sebagai warisan budaya setempat. Tak hanya itu, tempat ini juga dianggap sebagai tempat keramat oleh beberapa masyarakat yang tinggal di sekitar area ini terlepas dari kisah masa lalu kelam penjaga desa yang sudah punah ini.
Masih teringat jelas diingatan Fey bagaimana tempat bersejarah ini menjadi saksi bisu tumbuhnya cinta yang terjadi diantara Leo dan Shena serta Eric dan sahabatnya Nura. Sekarang tempat ini juga akan menjadi saksi bisu bersatunya dua makhluk ciptaan Tuhan berbeda dunia.
“Tempat ini sudah banyak berubah, dan jauh lebih indah. Meski malam hari, tetap saja kesan mistis dan eksotis terasa di tempat ini. Pasti kalau siang pemandangannya juga tak kalah menakjubkan dari sekarang,” ujar Fey pada Refald saat keduanya memasuki wilayah bekas banjir yang terjadi beberapa tahun silam.
“Kau tidak takut, Honey?” tanya Refald sambil menggandeng tangan Fey berjalan mengitari tempat sunyi nan sepi ini.
“Fey yang sebelum jadi istri pangeran Refald, mungkin akan bergidik ngeri dan ketakutan kalau berad ditempat seseram ini. Tetapi, Fey yang setelah menjadi istri pangeran Refald, sama sekali tidak takut. Ia hanya sedikit gugup.” Fey menatap wajah tampan Refald yang tersenyum mendengar ucapannya. Suaminya itu langsung merangkul bahunya dan mengajaknya jalan beriringan bersama.
Suara burung hantu yang bertengger dibeberapa pohon menambah kesan horor pada suasana malam yang mencekam. Namun bukannya takut, Fey dan Refald malah menikmati bisingnya suara binatang malam di tempat ini, apalagi para binatang tersebut sedang memerhatikan gerak-gerik mereka. Sungguh jika orang lain, pasti sudah lari terbirit-birit melihat suasana menakutkan di tengah malam begini.
Malam ini, juga akan menjadi malam bersejarah dalam hidup Fey karena untuk pertama kalinya, ia menggunakan kekuatan almarhum kakeknya yang sudah diwariskan padanya sejak ia terlahir kedunia. Kekuatan itu baru terbuka setelah ia menikah dengan Refald tepat disaat keduanya melakukan penyatuan tubuh dalam satu jiwa di malam pertama. Kekuatan Fey setara dengan Refald yang matanya langsung berubah setelah bercinta dengan istrinya.
“Pangeran, Putri,” ujar Pak Po yang tiba-tiba muncul dihadapan Fey dan Refald.
“Ada apa, pak Po,” tanya Refald tanpa menoleh dan tetap memandangi istrinya.
“Kenapa anda berdua malah datang kemari? Bukankah anda bilang akan menghadiri pesta pernikahan tuan Eric dan sahabat tuan Putri?” tanya pak Po bingung.
Sebab, dia pikir bakal diajak mengikuti pesta pernikahan sahabat pangeran dan putrinya, bahkan pak Po bermaksud buat onar disana. Tidak disangka, ternyata dua pasangan fenomenal ini malah datang ketempat angker seperti ini.
“Pesta pernikahan Eric dan Nura akan dilangsungkan besok, pak Po. Sekarang, kami harus menghadiri pernikahan yang lain,” terang Refald dengan santai, kali ini Refald sedang mengamati sekeliling area yang akan ia gunakan untuk melancarkan aksinya.
“Pesta pernikahan lain? Siapa? Kenapa saya tidak tahu kalau ada pernikahan lain disini?”
“Hari ini, kami harus menikahkan seseorang, pak Po,” tambah Fey yang sejak tadi mengamati ekspresi pasukan dedemit suaminya. Rasanya ingin sekali gadis itu tertawa melihat wajah bingung dan bloon pak Po.
“Apa? Apa rekanku ada yang menikah? Siapa? Mbak Kun? Mas Gen atau mas Ger?” pak Po semakin penasaran. Ia heran kenapa cuma dirinya yang tidak tahu kalau akan ada pernikahan disini.
“Kau!” jawab Refald singkat dan dengan kekuatannya, pak Po langsung diikat dengan sebuah tali ghaib berwarna terang keemasan yang tidak bisa dilepas oleh pak Po.
“Apa yang anda lakukan, Pangeran? Apa maksudnya semua ini? Saya? Apakah saya akan menikah? Dengan siapa?” teriak pak Po memberontak. Dedemit itu tak bisa melepas ikatan tali yang membelit diseluruh tubuhnya.
“Dengan wanita yang akan kami pilihkan untukmu!” ujar Fey sambil tersenyum menang. “Aku kesal denganmu. Kau terus saja menggangguku dan juga selalu jadi orang ketiga diantara kami berdua? Jadi, kami memutuskan untuk menikahkanmu dengan wanita pilihan kami, ah ... lebih tepatnya ... wanita pilihanku sendiri. Aku yakin kau akan jatuh cinta lagi setelah melihatnya. Dia sangat cantik sekali, loh.” Fey tersenyum manis semanis madu sehingga membuat pak Po jadi semakin keki dan juga kesal melihat gaya centil istri pangerannya.
“Tidak Putri, saya tidak ingin menikah. Pangeran, tolong lepaskan saya! Saya mohon, jangan nikahkan saya sekarang? Saya tidak mau menikah dengan siapapun selain dengan Di,” rengek pak Po pada Refald.
“Tapi Di tidak mau menikah denganmu? Kalian berbeda dunia?” sahut Fey langsung. Sementara Refald hanya diam sambil melipat kedua tangan didadanya.
“Saya akan menantinya sampai ia tiada, Putri. Saya akan menikahinya setelah kita sama-sama menjadi arwah. Saya janji, tidak akan mengganggu siapapun lagi, Putri. Tapi tolong, jangan nikahkan saya dengan wanita yang tidak saya cintai.”
“Ehm ... gimana ya, pak Po ... pernikahan ini tidak bisa dibatalkan. Kau harus menikah dengan wanita pilihan kami, jika tidak, kau akan menyesal seumur hidup karena telah melewatkan malam langka ini. Sebab, malam seperti ini hanya terjadi setahun sekali. Lagipula ... cinta bisa dipupuk pak Po, percayalah padaku, kau akan mencintai wanita yang sudah kupilihkan untukmu. Sungguh aku tidak bohong. Kutuk aku jadi semakin cantik bila aku berbohong.” Fey menatap tajam pak Po yang mulai berhenti memberontak.
Refald hanya tersenyum mendengar ucapan narsis istrinya ini. Seandainya mereka sedang tidak dalam misi, mungkin Refald akan mencium Fey karena sudah bersikap menggemaskan.
“Tanpa dikutuk pun anda sudah semakin cantik, Putri. Jika anda jelek, Pangeran tidak bakal mau dengan anda!” cetus pak Po seenaknya dan langsung mendapat lirikan tajam dari Refald.
__ADS_1
Dasar dedemit! Awas saja kau, batin Fey dalam hati.
Fey memilih tidak menggubris omelan pak Po, ia malah melirik Refald dan suaminya itu tahu arti lirikan mata indah dari istrinya itu. Secepat kilat, Refald mendudukkan pak Po disebuah kursi singgasana mirip kursi kuade ala pengantin yang mengadakan sebuah resepsi pernikahan. Pak Po masih terus berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari ikatan yang dibuat Refald. Sayangnya, usaha yang dilakukannya itu hanya sia-sia. Sekuat apapun pak Po, dia tetap tidak bisa melepaskan diri.
Dari kejauhan, pak Po melihat ada sesosok wanita anggun berbalut kebaya hitam ala pakaian adat jawa datang perlahan menghampiri pak Po diiringi para dayang-dayang yang tidak lain adalah rekan-rekannya sendiri.
Dilihat dari pakaian yang dikenakan wanita itu, dialah yang akan menjadi pengantin pak Po malam ini. Wanita tersebut hanya terus menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya sehingga pak Po tidak tahu siapa wanita yang akan dinikahkan pangerannya dengannya.
“Lenyapkan saja aku, Pangeran! Aku tidak ingin menikah!” teriak pak Po seketika sehingga membuat siapapun yang mendengarnya langsung terkejut setengah mati.
Nada bicaranya juga mulai kurang enak didengar. Bahkan burung-burung dan binatang lainnya langsung beterbangan dan lari menjauh dari lokasi pernikahan pak Po.
“Kau ... tidak ingin menikah ... denganku?” tanya wanita yang menjadi pengantin pak Po. Wanita anggun itu juga sangat terkejut mendengar pak Po yang secara terang-terangan menolak menikahinya.
Tentu saja pak Po langsung tertegun mendengar suara pengantinnya yang tidak lain adalah kekasihnya sendiri, yaitu Rosalinda Divani. Spontan pak Po menatap wajah pengantin yang berdiri disampingnya dengan seksama. Dan pak Po benar-benar terkejut menyadari bahwa wanita itu ... wanita yang dipilih Fey menjadi pengantinnya malam ini, ternyata memang benar-benar Rosalinda Divani.
Hampir saja pak Po tidak mengenali wajah cantik kekasihnya apalagi ia dalam balutan busana khas adat Jawa. Pak Po benar-benar terkesima karena wajah kekasihnya dirias sedemikian rupa layaknya pengantin jawa pada umumnya. Benar-benar sangat cantik luar biasa.
“Di!” seru pak Po seketika. Makhluk astral itu hendak memeluk calon istrinya, tapi tentu saja Refald tidak akan membiarkan pak Po mendekati pengantinnya setelah apa yang baru saja dilakukannya. “Pangeran, biarkan aku memeluk calon istriku!” pinta pak Po karena dia tidak bisa bergerak.
“Kau bilang apa, tadi?” tanya Refald dengan kilatan mata api penuh kekesalan. Ia maju sedikit demi sedikit ke arah pak Po sehingga membuat hantu itu bergidik ngeri. “Kalau tidak salah dengar ... kau minta dilenyapkan? Baiklah, akan aku kabulkan permintaanmu!” tandas Refald tegas. Ekspresi Refald kali ini terlihat benar-benar menakutkan dan lebih menyeramkan dibandingkan hantu-hantu lain yang ada disini.
“Ah, tidak Pangeran, anda salah dengar. Tadi, saya hanya bercanda?” Pak Po mulai gugup karena pangerannya terlihat sedang marah.
“Bercanda? Huh!” Refald tertawa sinis. “Tapi kau berani berteriak padaku dan juga pada istriku? Kau pikir kau siapa, ha?” bentak Refald sehingga pak Po jadi semakin merasa bersalah.
“Ampun, Pangeran!” Pak Po memasang wajah semelas mungkin. “Saya kira, anda benar-benar memisahkan saya dengan Di. Saya sangat mencintainya, jika anda di posisi saya, pasti juga akan melakukan hal yang sama, maafkan saya Pangeran.” Pak Po pun menunduk dan bersimpuh di depan Refald.
“Hamba tidak akan bangun sebelum anda memaafkan saya!” Pak Po masih menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya. Dia akui, dirinya telah berbuat kesalahan besar karena berani membentak pangeran dan putrinya sendiri.
“Huh, terserah kalau begitu, jika malam ini terlewat, maka kau baru bisa menikah dengan kekasihmu tahun depan.”
“Apa?” seketika pak Po pun bangun berdiri, tapi dia tetap tidak berani menatap Refald lagi.
“Duduk di kursimu! Lalu kembalilah kemari,” suruh Refald dengan lantang.
Tanpa bersuara, pak Po melakukan apapun yang diperintahkan Refald.
“Tersenyum!” perintah Refald lagi setelah pak Po kembali berdiri di depannya.
“Hah?” pak Po pun jadi bingung. Untuk apa dia disuruh tersenyum.
“Cepat lakukan!” bentak Refald.
“Ah, baik Pangeran. Hiiii ....” Pak Po pun berusaha tersenyum memamerkan giginya yang putih bersih dan tertata rapi, tapi senyumnya jadi aneh karena terlalu dipaksakan.
Fey sudah tidak bisa menahan tawa lagi, ia berbalik badan dan bergeser kebelakang punggung suaminya untuk meringis tanpa suara. Hanya tubuhnya saja yang bergetar naik turun karena tak kuasa untuk tidak tertawa.
“Menangis!” suruh Refald sambil menatap tajam pak Po.
__ADS_1
“Apa?” dahi pak Po mulai keriting mendengar perintah pangerannya.
“Cepat lakukan!” bentak Refald lagi.
“Baik, Pangeran. Huaaaaa ... hiks ... hiks ... sebentar Pangeran, kenapa saya harus menangis? Saya tidak bisa menangis tanpa alasan.” pak Po sungguh tidak mengerti kenapa pangerannya itu menyuruhnya tersenyum lalu menangis tiba-tiba.
“Lakukan saja apa yang aku perintahkan? Kau ingin aku membuat alasan untukmu agar kau menangis menjerit-jerit?” ancam Refald.
“Ahhh, tidak Pangeran!” pak Po pun berakting menangis meski dia terlihat jauh lebih aneh dari sebelumnya. Lebih baik menuruti Refald sekarang daripada pangerannya itu harus melakukan hal-hal diluar nalar untuk membuatnya menangis sungguhan.
“Tertawa!” suruh Refald lagi dan lagi.
“Hahahahhahaha ....” suara tawa pak Po kali ini terdengar kencang.
Jidatnya sudah tidak lagi keriting, tapi kribo. Namun, dia tetap saja melakukan apapun yang diperintahkan Refald padanya. Fey benar-benar sudah tidak bisa sembunyi lagi. Ia pun ikut tertawa dibalik punggung suaminya.
“Kau mengerjai pak Po habis-habisan suamiku, Sayang? Kapan giliranku?” protes Fey disela-sela tawanya.
“Setelah ini giliranmu, Honey. Bersiaplah! Kapan lagi kita bisa mengerjai dedemit laknaat ini!” bisik Refald sambil tersenyum tapi wajahnya berubah seram saat menatap pak Po.
“Sampai kapan saya harus tertawa, Pangeran!” tanya pak Po sambil terus tertawa.
Untung aku sudah mati, jadi rahangku tak bisa kaku lagi, batin pak Po.
“Berhenti!” seru Refald. “Duduklah dipelaminanmu bersama Di.”
Akhirnya .... batin pak Po lagi. Dia tak bisa menghela napas karena sudah mati. Tapi Di, kekasihnya, masih hidup sehingga ia yang menggantikan pak Po bernapas lega karena hukuman suaminya sudah usai diterima.
Pak Po dan calon istrinya berjalan pelan menuju pelaminan. Keduanya duduk berdampingan sambil terus saling mencuri pandang. Pak Po tak henti-hentinya memandangi wajah pengantinnya yang memang terlihat sangat cantik bak bidadari surga. Mata pak Po sampai tak bisa berkedip saking terpesonanya melihat wajah cantik istrinya.
Refald berjalan pelan mendekat ke arah pak Po dan istrinya. Ia berdiri tepat diantara keduanya. Suami Fey itu langsung menyiramkan air dari guci kecil yang ia bawa di tangan kirinya. Air dalam guci tersebut berisi bunga 7 rupa yang sudah ia siapkan sebelumnya. Pelan-pelan Refald menyiramkan air itu pada kedua mempelai secara bergantian sampai isi air dalam guci itu habis.
Setelah proses pertama selesai, kini memasuki proses kedua. Refald memberikan bunga mawar merah kepada kedua mempelai dan meminta Pak Po serta Di memakan masing-masing satu kelopak bunga tersebut.
Ritual selanjutnya adalah meminum air yang Refald siapkan dalam dua gelas kecil. Air itu berasal dari mata air yang tiba-tiba muncul dari dalam makam almarhum Zoya. Kini mata air tersebut terlapisi dengan banyaknya bunga marigold dimana bunga tersebut adalah pemberian dari pengantin wanita pak Po sendiri.
Pak Po dan Rosalinda Di diminta Refald meminum mata air tersebut sebagai simbol bahwa keduanya sudah resmi menjadi sepasang sumi istri.
“Hari ini adalah malam satu sura, malam dimana pernikahan beda dunia bisa dilaksanakan menurut kepercayaan leluhur istriku, Fey. Kalian sudah sah menjadi suami istri. Selamat untuk kalian berdua. Ah ... satu lagi, kau beruntung pak Po, karena istriku ini merupakan keturunan dari Raja yang luar biasa. Fey akan memberikan hadiah spesial untuk kalian berdua.”
Pak po dan Di benar-benar bahagia, mereka saling melempar senyum satu sama lain. Bahkan tangan mereka juga saling bertautan seolah enggan dilepaskan. Hanya Di saja yang menyentuh pak Po meski keduanya berasal dari alam yang berbeda.
“Ehemm,” Fey pura-pura berdeham.
Mendengar suara istri pangerannya, pak Po pun langsung melepas genggamannya karena Fey sudah berdiri tepat dihadapannya sambil membawa paku berukuran sepanjang 7 cm. Seketika mata pak Po terbelalak memandang paku yang ada digenggaman Fey.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1
Horornya habis ini siap-siap. hehehehe ...