Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 257 Sidang


__ADS_3

PERHATIAN


Dua episode panjang siapkan camilan biar gak bosan bacanya ya .. soalnya aku sendiri puyeng nulisnya hehe .. tapi nggak apa-apa, mudah-mudahan kalian semua suka.


Happy reading!


***


“Kau kembali, Suamiku?” tanya Fey yang ikut tersenyum menatap suaminya yang tiba-tiba muncul disampingnya.


“Ehm, Honey.” Refald memegang kedua tangan Fey lalu mencium kedua punggung tangan itu. Di depan pak Po, Refald langsung memeluk Fey dengan sangat erat dan tak lupa mengelus lembut perut Fey yang sudah hamil besar.


Yang lebih mengesankan lagi, Refald berlutut di depan Fey sambil mengajak bicara putranya yang ada di dalam perut istrinya. “Ayah merindukanmu, tetaplah baik-baik di dalam sana sampai kau siap keluar. Kami sudah tidak sabar menanti kehadiranmu.” Satu kecupan lembut dari Refald mendarat diperut Fey dan ajaibnya, kecupan Refald tersebut mendapat balasan tendangan kuat dari putranya seakan mengerti apa yang dikatakan ayahnya.


Tentu saja Fey dan Refald saling melempar senyum, keduanya terlihat bahagia. Buah cinta mereka selalu merespons apapun yang mereka katakan dengan menendang kuat perut Fey seolah mengerti semuanya. Pemandangan mengharukan itu tanpa sadar telah membuat pak Po berkaca-kaca. Dari apa yang ia lihat saat ini, ia mulai paham arti penting sebuah keluarga. Pak Po sadar, selama ini ia kurang menghargai pengorbanan istrinya bahkan hatinya sempat goyah kala bertemu dengan mbak Kun yang jelas-jelas sudah memiliki pasangan lain.


“Apakah ini sidang cinta yang anda maksud, Putri? Menyaksikan keharmonisan anda berdua?” tanya pak Po sambil menyeka air matanya.


“Ini belum apa-apa pak Po.” Refald yang menjawab. “Kau dan aku berada di posisi yang sama sekarang. Kau adalah seorang suami sekaligus calon ayah dari anakmu. Sama sepertiku. Tak peduli seberapa besar rasa cintamu terhadap mbak Kun dulu, dia adalah masa lalumu. Meskipun kau bilang kalau kau sangat mencintai istrimu, tapi perasaanmu pada mbak Kun masih ada. Aku tidak menyuruhmu melupakannya dan tidak memintamu beranggapan bahwa apa yang terjadi ini akibat kesalahan. Masa depanmu adalah Divani, dan putrimu nanti akan menjadi bagian dari keluargaku. Aku harap kau bisa memberikan seluruh cinta yang ada untuk keluargamu dan kesampingkan perasaanmu terhadap mbak Kun. Biarkan dia bahagia bersama Arka. Kalian berdua bisa bahagia dengan pasangan kalian masing-masing”


“A-apa maksud anda, Pangeran?” tanya pak Po sedikit terkejut.


“Kalian berdua ... bisa bahagia dengan pasangan kalian masing-masing,” ulang Refald.


“Bukan yang itu, Pangeran. Masksud saya ... putri saya ... akan menjadi bagian dari keluarga anda?” Pak Po masih tidak mengerti dan ingin mendengarnya sekali lagi.


“Haih ... aku keceplosan. Baiklah, kau sudah terlanjur tahu. Putrimu ... akan menjadi menantuku, karena itulah aku harap kau bisa membesarkannya dengan baik, sebab ... dia akan mewarisi kekuatanmu dan menjadi pelindung putraku seperti kau melindungiku. Kelak, kita akan menjadi besan.” Refald tertawa sendiri membayangkan bahwa dirinya dan pak Po akan berbesan.


“Tidak, Pangeran? Itu tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa anda membiarkan keturunan raja menikah dengan keturunan dedemit sepertiku? Strata kami jelas berbeda Pangeran, dan pangeran kecil, jauh lebih pantas bersanding dengan keturunan raja lainnya? Tolong pikirkan baik-baik, Pangeran.” Pak Po masih belum bisa percaya pada apa yang dikatakan Refald soal masa depannya yang kelak akan berbesan dengan rajanya sendiri. Itu merupakan suatu hal yang mustahil terjadi.


“Pak Po ... bagiku, kau adalah makhluk paling berharga dibandingkan dengan raja-raja lain sepertiku. Ketulusanmu padaku, tak bisa dibandingkan dengan yang lain. Ini bukan kehedakku, tapi ini adalah takdir putraku. Dia tidak akan punya kekuatan sepertiku sebelum ia benar-benar mencintai putrimu. Itulah garis takdirnya. Awalnya aku juga berpikiran sama sepertimu, tapi akhirnya aku sadar satu hal.


“Kau menjaga Fey lebih dari yang seharusnya, bahkan kau rela kembali menjadi pasukanku setelah berhasil menjadi manusia. Kau mengorbankan kebahagianmu demi keselamatan istriku. Tentu saja satu-satunya wanita yang pantas mendampingi putraku hanyalah putrimu. Menurutku, itu semacam balas budi atas apa yang sudah kau lakukan pada kami. Namun aku tidak mau menyebutnya seperti itu. Bagiku, tidak ada wanita lain yang bisa mengimbangi putraku selain putrimu, karena dia ... istimewa. Jangan pernah bicara strata didepanku atau akan kumusnahkan kau sekarang juga.” Refald merasa tangannya digenggam erat oleh Fey sambil tersenyum menatapnya.


Fey sangat setuju dengan pendapat suaminya. Ia tidak menyangka Refald berhati mulia juga. Untuk kesekian kalinya, Fey merasa bangga menjadi wanita yang paling dicintai oleh raja dedemit Refald.


Sedangkan pak Po, air matanya pecah karena sudah tak kuasa menahannya lagi. Suatu kehormatan baginya bisa menjadi besan dari seorang raja dedemit yang dikaguminya, tak pernah sekalipun terbersit dipikiran pak Po untuk menjadi bagian dari keluarga Refald. Selama ini, pak Po hanya tahu tugasnya adalah melindungi pangerannya sampai akhir walau apapun yang terjadi.


Mungkin yang dikatakan Refald memang benar, ini adalah takdir. Pak Po pun berjanji akan menjadikan keluarganya layak berbesan dengan rajanya meskipun dunia mereka berbeda.


“Pak Po, kau benar-benar menangis?” ledek Fey memerhatikan pak Po.

__ADS_1


“Menurut anda, apa saya harus tertawa, Putri?” isak pak Po.


“Harusnya begitu. Dari sekian hal yang pernah terjadi, kau menangis karena kau akan jadi besanku? Harusnya kau senang putrimu terpilih menjadi menantuku, bukannya menangis seperti itu.”


Mendengar kata-kata Fey, tangis pak Po semakin menjadi-jadi dan Fey jadi bingung sendiri. Ini pertama kalinya dalam hidup Fey, ia membuat pocong menangis sesenggukan begitu. Sedangkan Refald tersenyum geli melihat istrinya kebingungan mencari cara menenangkan pak Po agar tidak menangis lagi, tapi semakin Fey berusaha menenagkannya, tangis pak Po bukannya reda. Fey tidak tahu lagi harus bagaimana. Pocong kalau lagi nangis ternyata sangar juga. Karena usaha Fey menenangkan pak Po tidak berhasil, akhirnya mau tidak mau Refaldpun turun tangan.


“Oey, pak Po. Kalau kau tidak berhenti menangis, kita tentang saja takdir ini. Akan aku bunuh putrimu begitu dia lahir, jadi kau tidak perlu merasa terharu berlebihan seperti ini. Bagaimana? Setuju?” tawar Refald yang langsung sukses menghentikan tangis pak Po.


“Jangan Pangeran! Kenapa anda bisa berkata sekejam itu?” teriak pak Po seketika dan ia berusaha keras agar tidak menangis lagi.


“Mau bagaimana lagi? Kau tidak mau berhenti menangis daritadi. Aku tidak mau istriku stres gara-gara tangisanmu itu!”


“Baiklah, Pangeran. Saya tidak akan menangis lagi,” isak pak Po meski ia masih saja ingin menangis.


“Apa kata Divani jika dia melihatmu menangis seperti bayi,” ledek Fey lagi. “Kau terlalu lebay pak Po.”


“Hedeuh, kau bikin aku malu saja pak Po. Bagaimana bisa dedemit sekuat dirimu menangis melebihi bayi yang baru lahir?” Refald memijat-mijat kening kepalanya.


“Saya terlalu terharu Pangeran, sungguh saya tidak pernah menyangka ... bahkan saya tidak bisa percaya ... kalau ....” pak Po tidak bisa meneruskan kata-katanya karena ia terlanjur menangis lagi.


“Oke-oke, stop! Hentikan! Jangan bicara apa-apa lagi. Mulai sekarag kau harus percaya. Aku harap kau menjaga keluargamu dengan baik. Kau tahu bagaimana kondisi Di setelah dia melahirkan nanti. Jangan sampai kau menelantarkan mereka. Aku akan terus mengawasimu, jika kau berani menyakiti keluargamu, akan aku cincang kau jadi debu! Ingat kata-kataku ini dengan baik, pak Po.” Fey langsung berubah jutek pada pak Po.


“Biarkan saja, setidaknya pocong itu tidak menangis lagi, apa kata dunia perdemitan kalau seorang pocong menangis sesenggukan seperti itu. Lagipula, hati pak Po mudah sekali goyah. Dia terlalu bloon untuk menjadi seorang suami dan ayah. Ini caraku agar pak Po tidak meninggalkan keluarganya kelak. Aku serius dengan ucapanku. Aku akan buat perhitungan dengan pak Po kalau sampai dia menyakiti Di dan calon menantuku.”


Refald hanya diam menatap Fey yang sangat antusias dengan takdir yang sudah digariskan ini. Bahkan Refald merasa, istrinya itu menyukai putri pak Po yang masih ada dalam kandungan Di.


“Honey, sebelum jadi ibu ... kau sudah menjadi mertua yang baik. Aku jadi semakin cinta padamu.” Refald menggenggam erat tangan Fey. Istrinya itu hanya tersenyum mendengar ungkapan cinta dari suaminya. Fey terlalu fokus pada pak Po karena pasukan dedemit suaminya itu belum merespons ancamannya tadi.


“Saya berjanji akan menjaga, melindungi dan mencintai keluaga saya, Putri,” ujar pak Po. “Bukan karena perintah dari anda, tapi karena itulah yang harus saya lakukan. Jadi, jangan khawatir lagi.” Entah kenapa, pak Po ikut kembali bersemangat dan untuk beberapa saat, dia lupa akan kisah cinta segitiganya yang tadinya sempat membuatnya galau.


“Baiklah, kita kesampingkan masalah masa depan putra putri kita. Sekarang, kita mulai saja sidangnya,” ujar Refald senang.


“Apa?” pak Po lagi-lagi bingung. “Sidang apalagi, Pangeran?”


“Sidang kisah cinta segitigamulah. Aku anggap kau siap bertemu dengan mereka semua.” Refald menyeringai dan ia pun menjetikkan jarinya.


Seketika mbak Kun muncul bersama dengan Arka, lalu Di yang juga tiba-tiba berada di samping pak Po. Mereka berempat saling berhadap-hadapan dengan Fey dan Refald berada ditengah-tengah Mereka berempat.


Suasana canggung kembali menyelimuti mereka semua. Refald dan Fey memerhatikan wajah mereka satu persatu. Tentu saja, para terdakwa yang teridiri dari pak Po beserta pasangannya Divini, dan mbak Kun serta suaminya, Arka tidak tahu apa alasan Refald mengumpulkan mereka semua di tempat ini.


“Ini adalah sidang terbuka, silahkan curahkan seluruh isi hati kalian semua yang ada disini supaya bisa diambil titik tengahnya.” Refald menatap pak Po dengan tajam. “Dimulai darimu, pak Po. Katakan apa yang ingin kau katakan didepan kami semua dan jangan ada yang ditutup-tutupi. Sedangkan yang lain, jangan menyela sebelum pak Po selesai bicara, kecuali yang mendapat pertanyaan dari pak Po.”

__ADS_1


Divani menatap wajah suaminya yang juga sedang menatap tajam mbak Kun, begitu juga dengan mbak Kun yang sedang memandang ke arah pak Po. Entah kenapa Di merasa jadi orang ketiga diantara mereka berdua.


Sementara Arka, lebih cenderung bersikap tenang karena sebelumnya, Refald sudah menjelaskan duduk perkara yang terjadi antara pak Po dan Mbak Kun sebelum mbak Kun memutuskan menikah dengannya. Syukurlah Arka merupakan iblis yang loyal dan tidak suka terikat dengan aturan sehingga ia bisa cepat mengerti dan mencoba memahami perasaan istrinya. Suami mbak Kun itu juga tidak mempermasalahkan siapakah cinta pertama istrinya. Baginya, masa lalu biarlah berlalu. Yang terpenting adalah masa sekarang dan juga masa depan.


“Mbak Kun, apa benar kau mencintaiku?” tanya pak Po langsung tanpa basa basi. Semua mata menatap tajam kearah pak Po dan mbak Kun secara bergantian untuk memastikan apakah perasaan yang mereka miliki itu masih ada atau tidak.


“Itu dulu, tapi sekarang sudah tidak lagi,” jawab mbak Kun tanpa ragu. Keduanya masih saling menatap satu sama lain. “Bagaimana denganmu? Kau juga mencintaiku?” giliran mbak Kun yang bertanya.


“Aku terlambat menyadari kalau itu adalah cinta. Setelah aku mengerti, aku sudah punya Divani. Jadi, sekarang aku hanya mencintainya saja. Apalagi sebentar lagi kami mau punya anak.” Pak Po menatap Divani, ia mencoba meniru apa yang dilakukan Refald tadi. Yaitu menggenggam kedua tangan istrinya lalu mencium punggung tangan itu. “Maafkan aku Di, aku tidak bermaksud menyakitimu. Pangeran Refald dan Putri Fey sudah menyadarkanku betapa pentingnya dirimu dihatiku. Maafkan aku. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi, akan aku lakukan apapun supaya kita bisa bahagia selamanya.” Pak Po langsung mendapat hadiah ciuman lembut dari istrinya.


“Tidak apa-apa. Bisa bersamamu saja, itu sudah lebih dari cukup untukku. Apa ciumanku meleset?” tanya Di dengan polosnya sambil meraba-raba wajah suaminya.


Pak Po tertawa, “Tidak, ciumanmu tepat mengenai sasaran meski aku tidak memberikan instruksi padamu.” ganti pak Po yang memberikan ciuman manis untuk istrinya. Keduanya saling tertawa bahagia.


Fey yang melihat adegan pak Po dan Di, tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Refald. “Hadeuhh, mereka romantis sekali, aku jadi iri ... so sweet,” gemas Fey.


“Bersabarlah Honey, nanti juga giliran kita. Satunya masih belum beres.” Refald dan Fey menatap mbak Kun.


Sepertinya sekarang mbak Kun sudah tidak cemburu lagi melihat kemesraan pak Po dan istrinya. Dia malah terlihat senang mengetahui rekan dedemitnya kini bahagia dengan wanita yang dicintainya. Sudah tidak ada lagi yang mengganjal karena mbak Kun sendiri punya kehidupan baru bersama Arka.


“Kau cemburu?” bisik Arka di telinga mbak Kun.


“Tidak,” jawab mbak Kun cepat. “Ada kau disisiku, tidak ada alasan bagiku untuk cemburu. Meskipun kita baru saja saling mengenal satu sama lain, aku sudah nyaman bersamamu. Seperti halnya pak Po yang menemukan cinta sejatinya. Akupun juga menemukan cinta sejatiku. Yaitu, kau Suamiku Arka.” Mbak Kun tersenyum pada suaminya.


Berbeda dengan pak Po yang harus belajar dulu dari Refald untuk bisa jadi romantis, Arka ternyata jauh lebih agresif. Dia menciumi mbak Kun di depan semua orang tanpa henti bahkan ia juga tidak peduli dengan tatapan tajam mata Refald dan Fey. Yang ada dipikirannya hanyalah ia ingin selamanya bersama dengan mbak Kun.


Tanpa sadar, Fey menggigit bibir manisnya menyaksikan betapa gilanya aksi mbak Kun dan Arka bercumbu mesra seperti itu. Tepat didepan matanya, benar-benar tidak sopan.


Dasar iblis! Umpat Fey dalam hati dan Refald hanya tersenyum melihat ekspresi geram istrinya saat melihat aksi mbak Kun dan Suaminya.


“Sudah! Hentikan aksi cumbu-mencumbu kalian ini. Lanjutkan nanti di tempat lain. Sidang belum selesai!” ujar Fey sewot.


Kedua pasangan yang sedang kasmaran itupun kembali ke posisis mereka semula dan menunggu interupsi selanjutnya dari Fey dan Refald.


BERSAMBUNG


***


Komentar dong ...menurut kalian seru nggak sih? hehhehe ...


Masih ada episode lagi,baca ya ... love you all ...

__ADS_1


__ADS_2