Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 106 Ritual Pertama


__ADS_3

Raja yang disebut kakek oleh Refald itu terus menatap kami secara bergantian dengan senyum mengembang. Pancaran kebahagiaan terukir jelas di wajah wibawanya yang sama sekali tak bisa kumengerti. “Lafeysionara.” begitulah kakek Refald memanggil nama lengkapku. Aku yakin, kakek Refald juga tahu segala hal yang berkaitan denganku meski aku tidak memberitahu. “Kau adalah mempelai pengantin wanita cucu kesayanganku, siapkah kau dengan pernikahan ini? Aku harap jawabanmu adalah ‘iya’!”.


Deg!


Ini jelas pemaksaan, tidak ada pilihan lain untukku selain menjawab kata ‘iya’. Aku melirik Refald yang terus memandang kakeknya tanpa ekspresi. Aku tahu, Refald pasti menyerahkan semua keputusan ditanganku. Hidup dan mati kami, juga tergantung pada jawaban apa yang akan aku berikan.


Sejujurnya, aku sangat gugup sekali, untuk gadis belia sepertiku, ditanya apakah bersedia menikah atau tidak, tentu saja sulit mengatakan ‘iya’. Tapi sekali lagi, ini adalah resiko dari keputusan yang harus aku ambil. Jika mati saja aku bersedia, maka untuk menikah juga tidak jadi masalah. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan melakukan apa saja asal bisa terus bersama dengan Refald. Dan aku percaya, apa yang Refald lakukan ini, juga agar bisa terus bersamaku.


“Iya, aku bersedia.” Akhirnya aku menjawab dengan mantap pertanyaan yang diajukan kakek Refald.


Meski aku sudah memberikan jawaban yang diminta, entah kenapa Refald masih saja belum mau melihatku. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Apakah dia bahagia atau tidak, aku sungguh ingin tahu. Ingin rasanya bergeser kehadapan Refald untuk mengetahui ekspresinya tapi niat itu aku urungkan karena kakek Refald terus saja menatapku sambil tersenyum puas mendengar jawaban dariku.


“Baiklah,” ucap kakek Refald kemudian, dan kamipun bersiap mendengarkannya dengan khidmad. “Akan aku jelaskan dulu sedikit tentang pernikahan ghaib yang akan kalian lakukan. Terutama Ritual apa saja yang harus dijalani sampai kalian resmi menjadi pasangan suami istri.


Pernikahan ini, bukanlah pernikahan biasa seperti yang terjadi pada manusia biasa pada umumnya. Kalian harus melakukan pernikahan ghaib sesuai dengan perjanjian yang sudah Refald janjikan sebagai ganti nyawa kalian berdua agar tetap bisa hidup.”


“Yang mulia ...,” ujarku tiba-tiba karena aku sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


“Panggil aku kakek saja, kau juga akan segera menjadi cucuku. Katakan ada apa?” kakek Refald menyela ucapanku karena tidak setuju jika aku memanggilnya dengan sebutan ‘yang mulia’.


“Maafkan aku jika aku lancang, Kek. Tapi ... aku masih belum mengerti maksud dari perjanjian yang kakek bicarakan tadi? Bolehkah aku tahu? Karena Refald tidak memberitahuku. Dan jujur saja, aku sama sekali tidak mengerti, apa hubungannya perjanjian itu dengan nyawa kami atau pernikahan ini?”


Kakek Refald hanya tersenyum setelah menatap Refald yang masih saja diam tanpa suara. Aku sendiri bahkan ragu, apakah pria yang ada disebelahku ini masih bernapas atau tidak. Sebab, daritadi Refald sama sekali tidak bergerak setelah kakeknya menyuruhnya berdiri.

__ADS_1


“Dia akan memberitahumu begitu kalian sudah selesai melakukan ritual keseluruhan pernikahan ghaib ini. Untuk sementara, ikuti saja apa yang aku instruksikan. Kau sudah menyetujui pernikahan ini, jadi aku minta kau juga harus melakukan semua ritualnya sampai selesai dulu, baru kau akan mendapatkan penjelasan yang kau minta. Waktu kita tidak banyak, jadi akan aku jelaskan ritual pertama yang harus kalian lakukan. Apa kau mengerti, Fey?”


Meski berat hati karena tidak mendapatkan langsung jawaban yang aku inginkan, aku tetap mengiyakan apa yang dibilang kakek Refald.


“Ritual pertama yang akan kalian lakukan adalah, siraman dari bunga 7 rupa yang sudah aku siapkan. Setelah ritual pertama selesai, maka aku akan menjelaskan ritual selanjutnya. Sekarang, kalian berdua ikutlah denganku.” Kakek Refald berbalik arah dan menuntun kami menuju arah luar istananya.


Refald bejalan mendahuiku dan mengekor di belakang kakeknya tanpa menoleh padaku lagi. Sementara aku, juga ikut berjalan di belakang Refald. Aku menatap punggung calon suamiku dengan sejuta pertanyaan, salah satunya adalah kenapa Refald tidak mau menatapku lagi. Apa dia tidak menyukai pernikahan ini? Apa ada konsekuensi lain yang harus kami terima jika pernikahan yang dikatakan ghaib ini terjadi?


Semua pertanyaanku itu cukup membuatku frustasi karena tak kunjung juga menemukan jawabannya. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku merasa sedih. Padahal harusnya, aku senang riang gembira karena sebentar lagi, aku akan menjadi istri Refald meski hanya secara ghaib saja. Walaupun sejujurnya, bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan.


Apakah Refald juga memikirkan hal yang sama denganku? Entahlah, aku juga tidak tahu karena Refald masih belum mau melihatku.


Akhirnya, kami sampai di sebuah taman indah yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga-bunga bermekaran. Aroma semerbak bunga itu menusuk tajam hidungku sehingga aku merasa sedikit rileks ketika melihat dan mencium semua wangi bunga warna warni yang bermekaran di taman ini.


Tanpa protes ataupun perlawanan, Refald masuk ke dalam kolam dan berdiri menghadap kakeknya. Dia langsung menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada sambil memejamkan mata. Mau tidak mau, akupun mengikuti langkah Refald dan melakukan hal yang sama seperti yang Refald lakukan sambil memejamkan mataku.


Aku bisa merasakan hangatnya air kolam ini dan sepertinya ada seseorang yang menyiram kepalaku dengan air yang bercampur dengan kelopak bunga-bunga. Aku menebak, yang menyiramkan air itu adalah Kakek Refald sendiri.


“Bukalah mata kalian,” perintah Kakek Refald lagi begitu ritual siraman selesai dilakukan.


Perlahan, aku pun membuka mataku dan betapa terkejutnya aku saat melihat ada seorang wanita cantik berdiri didepanku. Tanpa peringatan, air mataku langsung keluar dan mengalir deras membasahi pipiku begitu tahu, siapa sosok wanita itu.


Wanita itu adalah wanita yang selama ini sangat aku rindukan. Aku bahkan tidak bisa berkata-kata sekaligus tidak percaya karena entah bagaimana caranya, aku bisa kembali bertemu dengan wanita yang paling berarti dalam hidupku. Sosok wanita, yang jadi alasan keberadaanku di negara ini. Wanita itu ... adalah ibuku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan seperti apa wajah wanita yang sudah melahirkanku. Tidak salah lagi, dan aku yakin ini bukan mimpi. Kini, aku bisa melihat ibuku. Ibuku ada di depanku.

__ADS_1


“I-ibu ...,” isakku sambil menahan air mataku ketika memanggil kata ‘Ibu’. Kata yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi aku sebut.


“Fey!” ibuku langsung memelukku penuh haru. Kali ini, aku sudah tidak bisa menahan lagi. Dengan sendirinya, air mataku mengalir deras dan langsung tumpah ruah.


“Ibu, apa ini benar, Ibu?” tanyaku untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa apa yang aku alami ini nyata dan bukan mimpi.


“Iya, Sayang, aku ibumu. Maafkan aku, anakku. Maafkan ibumu ini, karena harus meninggalkanmu dan membuatmu sengsara, tapi saat ini aku senang sekali bisa menemuimu secara langsung. Kau sudah besar sekarang, dan kau ... kau akan menikah dengan Refald.” Ibuku memberikan kecupan kasih Sayangnya padaku.


“Nadeshiko, kau bisa bicara dengan putrimu lagi, nanti. Kita harus melanjutkan ritual berikutnya. Cepatlah, bawa putrimu masuk ke dalam. Dan kau Refald, ikutlah bersamaku.” Kakek Refald berbalik badan dan berjalan menuju sebuah ruangan yang berbeda dari ruangan yang pertama kali kami datangi tadi.


Tak dapat dilukiskan betapa bahagianya diriku bisa bertemu lagi dengan ibuku. Lebih bahagianya lagi adalah, ibuku sendiri yang mendampingiku di momen penting dalam hidupku. Sejenak, aku jadi bersyukur menjalani ritual pernikahan ghaib ini. Sebab, berkat pernikahan ghaib ini, aku bisa melihat ibuku kembali meskipun kami sudah berbeda dunia.


****


Maaf jiwa haluku terlalu tinggi ... Dan semua hal yang aku ceritakan di kisah ini sama sekali tidak ada hubungannya atau sangkut pautnya dengan dunia nyata. kisah ini murni aku ciptakan hanya dikisah Refald dan Fey. Sama halnya seperti kisah Edward-Bella di film twilight.


Yang tidak suka fantasi gak masalah, karena selera setiap orang itu berbeda-beda.


terima kasih atas dukungannya ..


love you all


__ADS_1



__ADS_2