Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 77 Kenangan Lalu


__ADS_3

Ingin rasanya aku menanyakan lagi alasan kenapa Sakura tiba-tiba menikah tanpa memberitahuku, dan apakah calon suami kakakku masih sama dengan kekasihnya yang ada di Hongkong dulu atau orang lain. Namun, sepertinya ayah tidak ingin membicarakan hal ini sekarang, itulah kenapa ayah tadi mengatakan ingin bicara banyak hal padaku.


Mungkin salah satunya adalah ini. Entah kenapa tetap saja aku merasa tak dianggap adik oleh Sakura, apalagi kami sudah terpisah cukup lama. Suasana hatiku tiba-tiba saja menjadi sangat buruk.


“Ayo, ada yang ingin aku bicarakan juga.” Refald menggenggam erat tanganku dan membawaku masuk ke dalam kamar tanpa peduli bagaimana perasaanku sekarang. Ia mendudukkanku tepat di depan laptopku.


Sejujurnya, aku merasa aneh berada di dalam kamar hanya berduaan saja dengan Refald. Tapi keluargaku dan keluarganya sudah memberikan lampu hijau pada kami berdua, tidak ada gunanya berdebat dengan mereka kalau situasinya sudah seperti ini.


“Honey, kau dengar aku bicara?” Refald memelukku dari belakang kursi.


Aduhh gawat, aku sama sekali tidak mengerti apa yang Refald katakan. Aku tidak bisa fokus pada kata-katanya karena lagi badmood akut.


“Ah ... iya, maaf aku hanya ... tidak bisa fokus, ini terlalu membingungkan buatku.” Aku mencoba menjelaskan apa yang aku rasakan pada Refald. “Aku senang kita bisa ke luar dari hutan hidup-hidup meski aku masih merasa ada yang ganjal di sana, terlepas dari semua hal misterius yang aku alami selama bersamamu. Aku senang karena untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengalami petualangan hidup supranatural yang menegangkan, untuk sesaat, aku mulai terbiasa sampai Ayah dan Nenekku datang.


"Melihat mereka membuatku sadar bahwa kini aku tidak lagi ada diduniamu, tetapi di dunia nyata dan aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Terutama saat aku memikirkan Sakura, entah mengapa aku ingin sekali tahu alasan mengapa kakakku memutuskan menikah? Dan siapa calon suaminya? Aku tidak rela jika dia tidak menikah dengan Sauran. Aku pasti akan merasa sangat bersalah seumur hidupku,” ujarku panjang lebar. Tanpa sadar, aku malah curhat pada Refald padahal dia nggak minta.


“Honey, Sakura memutuskan hal itu karena mungkin ia ingin mengarungi bahtera rumah tangga dengan Sauran secepatnya tanpa harus menunggu lama. Kita tahu betul seperti apa hubungan mereka,” Refald memelukku sangat erat.


“Apa?" seruku terkejut mendengar ucapan Refald. "Benarkah Sakura akan menikah dengan Sauran?” aku sangat senang bahwa calon kakak iparku adalah orang yang aku suka. “Tunggu,” tiba-tiba aku menyadari sesuatu, “Kau juga tahu siapa kekasih Sakura? Kau mengenal Sauran? Sejak kapan?” aku heran sekaligus penasaran, bagaimana Refald tahu tentang Sakura dan Sauran.


Refad mencium pipiku mesra dan langsung membuat wajahku jadi memerah karena malu. “Kau ini benar-benar amnesia selama berada di sini, ya? Kau sungguh melupakan segala kenanganmu yang ada di Jepang, bahkan tata bahasamu juga sudah tak terlihat seperti orang Jepang lagi, pantas saja awal kita bertemu aku tidak bisa langsung mengenalimu, karena logatmu sudah seperti asli warga negara ini. Kau bahkan lebih terlihat seperti orang jawa daripada orang Jepang.” Refald tidak menjawab pertanyaanku tapi malah mengomentari logat bahasaku.


“Itu karena almarhum ibuku lebih sering mengajakku berbicara menggunakan bahasa Jawa-Indo daripada bahasa Jepang saat kami masih kecil Refald, bahkan kami berdua dulu sering berghibah soal kakak dan ayah dengan menggunakan bahasa jawa yang tidak bisa dimengerti oleh mereka. Sakura sangat lemah dalam kosakata jawa-indo, sebaliknya ia mewarisi logat bahasa ayahku. Sedangkan aku sebaliknya. Makanya aku sangat terkejut saat ayah bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan lancar sekarang.” Aku merasa lucu saat mengenang masa-masa bahagia kami sebelum ibuku meninggal. Seketika aku menjadi sedih bila mengingat semua kenangan tentang ibuku.


“Honey, ibu sudah bahagia di sana. Jangan bersedih lagi, oke. Masih ada aku, dan juga keluargamu yang menyayangimu. Jangan tinggalkan mereka lagi hanya karena kesedihanmu itu.” Refald menatapku lembut dan penuh dengan rasa cinta.


Aku mengangguk mendengar kata-kata Refald. Aku pun membalas mencium pipi Refald yang bersandar di pundakku. “Terima kasih, Sayang. Aku bersyukur memiliki tunangan sepertimu, meskipun kau sedikit mesum juga.” Aku tertawa.

__ADS_1


“Itu karena kau selalu saja membuatku tergoda untuk memancing emosimu. Ekspresimu saat panik membuatku gemas dan ingin sekali memakanmu.” Refald pun ikut tertawa. Kami berdua saling tertawa satu sama lain. “Mengenai Sakura, dia terpisah dengan Sauran begitu lama, sama seperti kita. Sauran di minta ibunya kembali ke Hongkong. Saat aku datang menemui mereka waktu itu, Sakura sedang galau karena Sauran tak lagi datang berkunjung ke Jepang. Banyak sekali cowok-cowok yang mengejar-ngejar Sakura, tapi ia hanya menunggu satu orang saja, dia adalah Sauran. Sebenarnya aku tidak tahu seperti apa kisah lengkap mereka, tapi aku senang Sauran datang saat aku meminta ayahmu datang untuk menemuimu. Dia datang melamar Sakura dan aku pun terkejut, karena itulah aku ingin mempercepat pernikahan kita juga. Aku tidak mau kalah dengan calon kakak iparmu itu.” ada sedikit nada menggoda di kalimat Refald.


“Tapi bagaimana bisa kau mengenal Sauran?” tanyaku penasaran.


“Kami bertetangga Honey, apartemen Sauran bersebelahan dengan apartemen tempatku tinggal, kau lupa?” Refald mengusap-usap rambutku, sedangkan aku masih saja tidak ingat kalau Refald adalah tetangga Sauran, teman sekelas Sakura, kakakku.


“Aku masih belum bisa mengingatnya, aku saja tidak ingat kalau kau itu tunanganku apalagi tempat tinggalmu. Lagipula, aku tidak mau menikah muda. Kalau mereka ingin menikah ya silahkan, tapi aku tidak mau! Apalagi kalau dalam waktu dekat,” ujarku.


“Aku tahu Honey, kita akan membicarakan pernikahan kita jika memang waktunya sudah tiba. Sekarang lupakan soal Sakura dan yang lainnya oke. Sekarang ayo istirahat.” Refald menuntunku untuk berbaring di ranjang. Ia juga berbaring disisiku sambil mengusap- usap kepalaku.


“Tidurlah, aku akan menjagamu.” Refald mengecup keningku dengan lembut.


“Lalu, kau tidak tidur?” aku menatap Refald yang terus menatap langit-langit. Ia memanjangkan satu lengannya sebagai bantal kepalaku dan menyelimuti seluruh tubuhku.


“Aku akan tidur setelah kau tertidur, Honey. Aku janji tidak akan macam-macam. Kau tahu apa konsekuensinya jika kita melakukan hal yang tidak pantas dilakukan sebelum waktunya, bukan?”


“Dilagara,” tandas Refald.


“Benar!” aku pun senang Refald langsung mengingatkanku. “Tapi, kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat nama Refald?”


“Karena waktu itu kau sangat tidak menyukaiku.”


Aku mengakui apa yang dikatakan Refald. Awalnya aku memang tidak begitu suka melihat Refald karena menurutku dia itu adalah anak yang sangat menjengkelkan dan suka sekali menjahili orang.


“Maaf! Aku bukannya tidak menyukaimu Sayang, aku hanya tidak suka dengan cara orang tua kita menjodohkan kita disaat usia kita yang masih anak-anak hanya karena urusan bisnis mereka. Menurutku itu sangat konyol sekali.”


“Itu bukan hanya sekedar pertunangan bisnis saja, Honey.” Refald tidak setuju dengan pendapatku. Sepertinya ia mengetahui alasan dibalik perjodohan kami. “Ayahku memang meminta Ayahmu menjodohkanku denganmu karena itu adalah pesan dari mendiang kakekku sebelum beliau meninggal.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?” aku agak sedikit terkejut setelah tahu ternyata perjodohan kami adalah sebuah wasiat.


“Sebelum kakekku meninggal, ia berpesan pada Ayah supaya menikahkanku denganmu. Putri dari keturunan jawa. Apa alasannya, ayahku tidak mau memberitahuku secara detail. Ayah hanya bilang suatu saat, aku akan mengerti sendiri. Jadi, mau tidak mau aku harus menuruti permintaan mereka meski aku tidak tahu seperti apa kau ini.”


“Apa maksudmu dengan seperti apa aku? Kau pikir aku apa, ha?”ujarku. Refald mulai menjengkelkan.


“Jangan marah dulu, dengarkan penjelasanku. Aku memang tidak tahu siapa gadis kecil seusiaku yang akan dijodohkan denganku. Aku sendiri sangat penasaran seistimewa apa dirimu sehingga kakekku memilihmu. Saat pertemuan pertama dipesta ulang tahun pernikahan orang tuaku, mereka mengundang seluruh keluargamu dan kau memberikan mereka sebuah kejutan dengan memainkan piano yang sangat keren dan luar biasa. Semua orang terkesima dengan penampilanmu yang jago bermain piano di usiamu yang masih anak-anak. Sejak saat itu, aku mulai menyukaimu dan tertarik padamu. Karena itu aku langsung setuju ketika dihari ulang tahunmu, kita bertunangan.”


Aku senang mendengar Refald sudah menyukaiku sejak kami pertama bertemu saat masih kecil dulu, tapi aku lah yang tidak menyukainya.


“Sayangnya Aku dulu tidak menyukaimu karena aku sangat kesal padamu. Kau meniup semua kue ulang tahunku yang harusnya akulah yang meniupnya terlebih dulu.” Bibirku manyun mengingat masa-masa menjengkelkan yang kurasakan terhadap Refald sewaktu kami masih kecil dulu.


Tanpa diduga Refald langsung mencium bibir manyunku dengan lembut lalu melepasnya lagi sebelum kami terhanyut oleh suasana.


“Sekarang tidurlah, sebenarnya aku ingin memberitahumu banyak hal soal flashdisk itu, tapi sepertinya kau sangat lelah. Jadi, besok saja kita akan membahas ini, oke.” Refald tersenyum padaku.


“Ada apa dengan flashdisk itu, Sayang?”


“Flashdisk itu berisi tentang hal yang sangat mengerikan, aku mencium bahwa ada hal besar yang akan menimpa kita, tapi kau jangan khawatir. Semua pasti akan baik-baik saja.” Refald semakin mengeratkan pelukannya.


Aku agak sedikit bingung dengan semua yang dikatakan Refald, namun aku mencoba memercayainya.


“Kau yakin tidak apa-apa?” aku masih saja kepikiran.


Refald mengangguk pelan, “Tidak akan ada apa-apa, Honey. Percayalah padaku. Sekarang tidurlah, jangan lupa mimpikan aku.”Refald memejamkan mata di atas kepalaku. Akupun tertidur dalam dekapannya.


Semoga apa yang dikatakan Refald itu memang benar. Tidak akan terjadi apa-apa.

__ADS_1


****


__ADS_2