
Air mataku tak bisa berhenti menatap Refald yang sampai detik ini belum juga sadarkan diri. Matanya terpejam dan diam tak bergerak. Dokter sudah memeriksanya kembali, tetapi tetap saja tidak ada tanda-tanda Refald akan sadar malam ini.
Dokter memutuskan jika sampai besok Refald belum juga sadar, maka dia harus segera di bawa ke Singapura untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hal itu sungguh membuatku tak bisa berpikir jernih, bagaimana bisa Refald mengalami koma, sementara aku tidak apa-apa.
Aku terus saja menatap Refald berharap ia segera membuka matanya kembali demi aku.
"Refald, kau dengar aku? Jika kau mendengarku, bukalah matamu." Aku menggenggam tangan dingin Refald dan menempelkannya dipipiku. "Kau tahu, meski untuk sesaat, aku bahagia menyandang status sebagai istrimu walau itu hanya di dunia lain. Saat kembali kemaripun, perasaan bahagia itu juga masih menyelimutiku. Tapi sekarang, melihatmu seperti ini, hatiku terasa sungguh sedih, lebih baik kita kembali ke dunia lain dan hidup selamanya di sana daripada melihatmu begini. Bangunlah Refald, Apa kau tidak merindukanku?" Buliran alir mataku jatuh membasahi telapak tangan Refald.
Aku terus menangis menatap tunanganku ini. Aku mencari-cari sosok pak Po dan juga mbak Kun tapi tak satupun dari mereka datang menampakkan diri. Mungkin ini masih siang makanya mereka tidak bisa datang kemari. Aku memejamkan mata dan mencoba memanggil nama leluhurku supaya mereka semua bisa membantu menyembuhkan Refaldku.
"Jangan panggil, mereka Honey, aku baik-baik saja. Aku tidak suka kau menangis. Tentu saja aku Merindukanmu." Terdengar suara yang sangat ingin aku dengar dan saat aku membuka mataku, Refald sudah membuka matanya dan menatapku.
"Refald! Kau sudah sadar?" Teriakku kegirangan. "Tunggu! Bagaimana kau tahu kalau aku akan memanggil leluhurku, kau membaca pikiranku. Itu artinya kau tidak koma?" Tanyaku bingung.
Refald melepas selang infusnya dan mulai menatapku lekat-lekat.
"Honey. Lihat aku, wajahku babak belur, tubuhku penuh memar akibat pukulan dan hantaman keras saat kita berdua terjatuh dan kugunakan tubuhku untuk melindungimu. Sangat tidak wajar jika aku juga terbangun sepertimu dan langsung berlari kesana-kemari. Dunia medis tidak akan memercayai hal semacam ini. Makanya aku harus sedikit berakting supaya apa yang terjadi padaku saat ini terlihat masuk akal. Aku tidak suka kau menangis. Aku bisa gila jika kau bersedih seperti itu."
Aku langsung memeluk Refald. "Maafkan aku, aku tidak tahu. Aku kira kau benar-benar sedang sekarat." Aku semakin mengeratkan pelukanku dan Refald membalasnya. Dia juga langsung menciumku.
"Sekarang aku harus melanjutkan aktingku. Kau boleh bersedih, tapi jangan menangis, oke. Sebentar lagi ayahku dan ayahmu datang." Refald memasang kembali selang infusnya dan berpura-pura sekarat.
Sebenarnya aku tidak percaya ini, tapi yang dikatakan Refald memang benar. Tidak masuk akal jika orang yang habis dihajar habis-habisan dan jatuh dari jurang bisa langsung baik-baik saja setelah siuman.
Rupanya Refald cerdik juga, akupun juga terkecoh dibuatnya. "Aku rasa, kau cocok jadi aktor Sayang. Aku yakin kau bakal cepat terkenal." Sindiran yang tajam untuk Refald dan ia hanya mengedipkan salah satu matanya. "Dasar mesum!" gumamku.
__ADS_1
****
"Bagaimana keadaanmu, Fey?" tanya ayah mertuaku saat ia melihatku di ruangan Refald.
"Aku baik-baik saja, Ayah." aku tersenyum menatap ayah Refald yang sedang memandangi putranya. Aku tidak tahu apakah Ayah Refald tahu kalau Refald saat ini hanya pura-pura. "Refald pasti akan baik-baik saja, Ayah. Aku yakin sebentar lagi dia juga akan sadar."
"Aku tahu. Sebaiknya, kau juga istirahat. Kau terlihat lelah."
"Aku tidak apa-apa, Ayah. Sungguh! Aku akan menjaga Refald di sini karena akulah penyebab dia jadi seperti ini. Aku ingin menemaninya sampai ia terbangun nanti. Sebaiknya, Ayah juga istirahat."
"Kalau begitu, akan aku suruh suster untuk menyatukan ruangan kalian berdua supaya kau juga bisa istirahat sambil menemani Refald. Aku harus segera kembali ke lokasi untuk memeriksa apakah ada tanda-tanda dari buronan yang menyebabkan kalian seperti ini."
"Ah, tidak usah, Ayah. Tidak perlu menyatukan ruangan kami. Saat malam tiba, aku akan ... kembali ke kamarku." Sungguh aku terkejut Ayah mertuaku punya pemikiran seperti itu.
Masalahnya, Refald tidak benar-benar sekarat. Dia bisa memakanku hidup-hidup jika sampa kami sekamar. Aku memerhatikan Refald dan dia menyeringai.
"Tidak, Fey. Kau harus satu ruangan dengan Refald. Percayalah, itu akan memudahkan segalanya. Kau tidak perlu lagi bolak-balik kesana-kemari untuk memeriksa kondisi Refald. Tunggu di sini, aku akan segera kembali." Ayah Refald tetap ingin kami satu ruangan. Dia pergi keluar tanpa memedulikan aksi protesku.
Saat ayah Refald keluar, ganti ayahku yang masuk ke dalam dan sempat mendengar ocehanku. Aku kira sebagai seorang ayah yang punya seorang putri lajang dan belum menikah di dunia nyata ini, ayah akan membelaku, tapi nyatanya tidak. Ayah malah menyetujui pemikiran besannya.
"Ayah rasa, apa yang dikatakan ayah mertuamu itu benar, Shiyuri. Akan lebih baik jika kalian berdua satu ruangan. Meski saat ini, Refald belum juga sadar, paling tidak, ada yang menemanimu di sini ketika kami tidak ada. Selain itu, kamu juga bisa istirahat total."
"Tapi, kami tidak harus satu ruangan, Ayah. Lagipula, aku bisa istirahat diruanganku sendiri karena ada ayah yang menemaniku."
"Sepertinya, ayah tidak bisa menemanimu malam ini, Sayang. Ayah harus kembali ke Jepang untuk memeriksa dan menyelesaikan banyak hal. 2 Minggu lagi adalah hari pernikahan kakakmu. Aku harap nanti kalian berdua bisa datang. Ayah akan kembali lagi kemari secepatnya setelah urusan ayah di sana selesai. Itulah kenapa kalian sebaiknya satu ruangan. Kecuali kalau kau berani tidur sendirian di malam hari." Ayah menatapku dan Refald bergantian.
__ADS_1
Entah kenapa aku merasa ada makna tersembunyi di balik apa yang ayah bicarakan denganku.
"Kapan Ayah akan pulang ke Jepang?" tanyaku kemudian.
"Malam ini."
"Secepat itu?" tanyaku terkejut.
"Ehm, Ini sangat mendesak dan tidak bisa lagi di tunda."
Aku mengamati Ayahku dan sepertinya ada banyak hal yang memang sedang mengganggu pikirannya.
Tak berselang lama, tiba-tiba saja, saja suster masuk sambil membawakan ranjang tambahan dan segala perlengkapan yang dibutuhkan di ruangan Refald selama aku ada di sini. Ayah mertuaku benar-benar serius dengan ucapannya dan sangat pengertian pada putranya. Pasti Refald yang sudah merencanakan semua ini, begitu juga dengan Ayahku supaya aku dan Refald bisa berduaan.
Namun bukan itu yang sekarang menjadi pusat perhatianku, aku sudah tidak peduli dengan apa tujuan para ayah ayah itu. Saat ini, yang aku pikirkan adalah soal pernikahan kakakku, Sakura.
2 Minggu lagi, dan itu artinya, hadiah pernikahanku yang kuminta dari Refald sudah semakin dekat dan aku tidak sabar menunggu momen itu.
BERSAMBUNG
****
Terimakasih atas dukungan semuanya .. aku benar-benar terhuraaaa ... love you all
__ADS_1
Refald yang terlihat babak belur.