Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 256 Kasih tak Sampai


__ADS_3

Peringatan!


Part ini adalah murni fantasi, apabila ada kesamaan nama, kejadian dan karakter yang dimainkan para tokoh dalam kisah ini, berarti hanya kebetulan. Dan yang namanya fiksi, pasti tidak masuk akal dan juga tidak ada didunia nyata, kalaupun ada ya berarti kebetulan ... tujuanku nulis kisah ini hanya untuk menghibur saja ... biar nggak penat. Semoga terhibur.


Happy reading!


***


“Kita harus pergi ke toilet Di, ini perintah dari pangeran, berjalanlah ke arah jam 11.00, lurus ke depan dan jangan menoleh kemanapun kerena semua orang sedang memerhatikan kita.” Pak Po memberi petunjuk pada Di untuk melaksanakan apa yang dikatakan Refald.


Dalam pandangan orang biasa, Di memang berjalan sendirian layaknya orang normal. Tidak ada satupun yang menyadari bahwa wanita cantik berwajah bule itu tidak bisa melihat apapun yang ada disini. Padahal kenyataannya, ada pak Po yang berjalan beriringan sambil menggenggam erat tangan istrinya dan menuntunnya berjalan menuju toilet yang dimaksud Refald.


Mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam toilet bersama dan tak lama kemudian, muncullah iblis gumiho penggemar drakor yang tak lain adalah suami dari rekan dedemitnya, yaitu mbak Kun. Iblis yang bernama Arka itu langsung menyapa keduanya.


“Hai,” sapa iblis itu dan pak Po pun membalas sapaan makhluk yang menurutnya aneh itu.


“Hai,”pak Po balas menyapa.


“Aku Arka, sepertinya ini pertama kalinya kita bertemu. Ehm, pangeran Refald sudah menjelaskan semuanya padaku, jadi aku akan mulai sekarang.” Dalam hitungan detik, iblis yang bernama Arka itupun mengubah wujudnya menjadi Di.


Baik Di atau suami mbak Kun, keduanya kini sama persis bagai pinang dibelah dua. Kemampuan iblis penggemar drakor dalam berubah wujud memang tak bisa diragukan lagi, siapapun tidak akan bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.


“Wauww ... kau mirip dengan istriku. Tapi ... kenapa kau mau berubah jadi wanita padahal kau seorang pria. Tidak biasanya pangeran menyuruh pasukan dedemit pria berubah menjadi wanita. Biasanya, mbak Kun atau mbak Sun lah yang diminta pangeran menjadi wanita jika memang terpaksa.”


“Kau tidak tahu? Istrimu sedang jadi incaran manusia-manusia beedebah itu, apa pangeran Refald tidak memberitahumu?” Arka tidak mengerti apa alasan Refald tidak memberitahu pasukan dedemitnya soal ini.


“Tidak, pangeran hanya memintaku membawa Di kemari, apa maksudmu ... ada yang ingin menyakiti istriku? Jika benar begitu, kenapa bukan mbak Kun yang kemari?”


“Awalnya memang mbak Kun yang diminta pangeran Refald menjadi istrimu. Tapi, aku tidak mengizinkannya, jadi akulah yang menggantikannya.”


Pak Po agak terkejut mendengar penjelasan iblis Arka ini, dia jadi semakin penasaran kenapa iblis tersebut bersedia repot-repot menggantikan mbak Kun. Padahal perintah pangeran itu mutlak dan wajib dilakukan. Jika dilanggar, maka semua pasukan dedemit Refald secara otomatis alan mendapat hukuman karena berani menolak perintah rajanya. Yang lebih aneh lagi adalah, kenapa pangerannya menyetujui pertukaran ini?


“Tunggu, kau bilang apa tadi? Pangeranmu? Bukankah kau juga pasukannya yang baru? Lancang sekali kau bicara seperti itu pada pangeran seolah dia bukan rajamu? Sebenarnya, siapa kau? Kenapa juga kau bersedia menggantikan mbak Kun? Pasti ada alasan kuat sehingga pangeran bersedia mengizinkanmu melakukan apa yang harusnya mbak Kun lakukan?” pak Po menatap tajam Arka yang kini sudah berubah wujud menjadi istrinya.


Sementara Di yang asli, hanya diam saja menyimak obrolan keduanya meski ia merasakan ada sedikit nada kecemburuan dalam suara pak Po. Namun, Di tidak mau berasumsi yang bukan-bukan tentang suaminya jika ia tidak punya bukti. Sebab yang Di ketahui, pak Po hanya mencintai dirinya.


“Pertanyaanmu itu banyak sekali, aku tidak punya waktu untuk menjelaskan semuanya padamu. Orang-orang yang ingin mencelakai istrimu sedang berada diluar. Sebentar lagi, mereka berdua akan melancarkan aksinya menculikku dengan cara membiusku. Begitu mereka membawaku pergi dari sini, kau dan istrimu juga harus pergi dari dalam toilet ini menuju tempat putri Fey menunggu istrimu di dalam mobil pangeran Refald. Aku pergi dulu ....”


“Tunggu! Setidaknya beritahu aku, siapa kau dan apa ... hubunganmu dengan mbak Kun?” mata pak Po menatap tajam mata iblis gumiho itu.

__ADS_1


“Aku ... adalah suami mbak Kun, dan aku ... bukan pasukan pangeran Refald.” Tanpa menunggu reaksi dari Pak Po, iblis Arka pun keluar dari dalam toilet sebagai Divani palsu dan berjalan pelan agar tidak menimbulkan kecurigaan bahwa wanita yang barusan keluar dari dalam toilet bukanlah manusia, melainkan makhluk astral yang sedang menyamar.


Sedangkan pak Po tertegun mendengar apa yang baru saja dikatakan makhluk yang mengaku sebagai suami rekan dedemitnya. “Tidak mungkin, bagaimana bisa ... aku tidak tahu kalau mbak Kun sudah menikah.” Hati pak Po bergejolak antara marah dan juga shock dengan kabar mengejutkan ini. Dia sungguh tidak tahu apakah harus percaya atau tidak karena pangeran Refald dan putri Fey, sama sekali tidak memberitahunya soal ini. “Pasti ada yang salah, aku yakin ini salah,” gumam pak Po lagi tanpa memikirkan bagaimana perasaan wanita yang ada disebelahnya.


“Ezi ...,” panggil Divani dengan suara lembutnya. Sepertinya, ia sudah tidak bisa diam lagi dan ingin memastikan sesuatu pada suaminya. “Apa ... kau cemburu?” tanya Divani. Ada sedikit rasa sakit dihatinya saat ini, tapi wanita cantik itu berusaha menyembunyikannya dan lebih memilih tersenyum.


“Aku? Cemburu? Apa kau pikir aku sudah tidak waras? Kenapa aku harus cemburu? Huh, kau ini ada-ada saja. Jangan bicara yang bukan-bukan. Mana mgkin aku cemburu. Aku hanya terkejut.” Pak Po jadi salah tingkah, untungnya Di tidak bisa melihat seperti apa ekspresi pak Po saat ini. Sebisa mungkin pak Po harus mengalihkan perhatian, agar Di tidak salah paham. “Bersiaplah, kita harus keluar dari sini begitu suami mbak Kun itu dibawa pergi dari sini,” kilah pak Po. Dia mencoba bersikap wajar.


Sebenarnya, Di sudah tahu segalanya, meski matanya buta tapi hatinya tidak. Di sangat sangat sangat sangat tahu seperti apa perasaan pak Po saat ini hanya dengan mendengar nada suaranya. Namun Di tidak ingin bersikap egois, sebelum semuanya jelas, Di juga tidak ingin bertindak gegabah.


Sementara di luar toilet, apa yang sudah diprediksikan sebelumnya benar-benar terjadi. Begitu Divani palsu alias iblis Arka keluar dari toilet yang kebetulan sedang sepi, tiba-tiba muncul seseorang dengan membawa sapu tangan putih yang sudah ditaburi obat bius lansung menempelkan sapu tangan tersebut ke hidung Divani dari belakang. Arka, yang sudah tahu kalau hal itu bakal terjadi pura-pura berontak dan tentunya ia juga pura-pura pingsan.


Sebagai penggila drakor, berakting sebagai wanita lemah tak berdaya bukanlah hal sulit lagi baginya. Bahkan, iblis itu malah terlalu mendramatisir kedaaan sehingga para pria-pria yang berbuat jahat padanya itu tidak curiga kalau wanita yang ia bius itu bukanlah manusia.


Begitu tubuh Divani palsu itu lemas tak berdaya, beberapa orang yang sudah standby di tempat masing-masing bergegas lari dan membantu membopong tubuh Di palsu dan memasukannya ke dalam mobil van hitam yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Tidak ada saksi mata saat kejadian itu terjadi karena Refald memang sengaja memasang papan pengumuman palsu yang berisi bahwa toilet tempat Di masuk bersama pak Po tadi telah ditutup karena sedang dalam perbaikan.


Barulah ketika para pria hidung belang itu terperangkap dalam jebakan Refald dan membawa Divani palsu pergi, papan pengumuman itupun dibuka kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Orang-orang yang berlalu lalang disekitar area tersebut pun juga tidak menaruh curiga sedikitpun kalau ditempat itu, baru saja terjadi penculikan.


Van hitam itupun melesat pergi masuk kedalam hutan rimba dimana tidak akan ada seorangpun tahu tentang tindak kejahatan yang sedang mereka lakukan. Tak menuntut kemungkinan tindak kriminal selanjutnya setelah penculikan itu adalah pemaksaan, pelecehan dan pastinya pembunuhan tanpa meninggalkan jejak. Semuanya dapat diketahui, dilihat dari lokasi yang mereka tuju saat ini.


Itulah serangkaian kejadian yang sudah direncanakan oleh para bedeebah-bedeebah itu. Tentu saja Refald dan Fey yang bisa membaca pikiran kotor mereka semua, tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi sesuai rencana mereka. Orang-orang jahat itu, akan mendapatkan ganjaran yang tidak akan pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tidak hanya sehari, tapi selamanya.


“Baik, Pangeran.” Mbak Kun pun menundukkan kepalanya sampai Refald menghilang dari pandangan.


Tak berselang lama setelah kepergian Refald, pak Po muncul bersama dengan istrinya, Divani. Dialah wanita bule cantik yang kini sedang jadi incaran para penjahat kelamin sehingga membuat Refald dan Arka harus melakukan sesuatu pada mereka semua.


“Dia cantik sekali, pantas saja para pria hidung belang itu terobsesi padanya. Di tempat ini, mana ada wanita cantik seperti dia,” gumam mbak Kun setelah melihat Divani dalam genggaman tangan pak Po. Ini pertama kalinya mbak Kun bertemu pak Po lagi setelah sekian lama.


Pak Po pun juga tertegun saat melihat mbak Ku lagi. Tanpa dia sadari langkahnya terhenti. Di sendiri langsung tahu apa alasan suaminya itu berhenti bergerak. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam.


Mbak Kun dan pak Po saling menatap satu sama lain hingga suasana menjadi sedikit canggung. Ada aroma cinta segitiga sedang menyelimuti mereka saat ini. Fey yang merasakan ada yang tidak beres disini jadi kikuk sendiri. Sebab, Fey sangat tahu bagaimana perasaan mbak Kun saat pak Po menikahi Divani. Dan sekarang, ganti perasan Di yang bergejolak karena ia bertemu dengan wanita yang dulu pernah mencintai suaminya.


“Haish, bengek kau Refald! Kau sengaja pergi meninggalkanku sendiri dalam menghadapi situasi rumit seperti ini? Awas saja kau nanti!” geram Fey kesal dan baru sadar kalau ternyata suaminya itu sengaja menghindar dari situasi yang jlimet bin ribet ini.


Untuk beberapa saat, tiba-tiba suasana menjadi hening dan sunyi, bahkan burung dan serangga malampun tak berani bersuara melihat betapa anehnya pandangan mata pak Po dan mbak Kun saat keduanya saling berhadapan. Hanya ada suara angin yang berhembus sepoi-sepoi mengitari mereka semua yang ada di tempat ini. Fey hanya bisa menghela napas panjang saat mendegar bagaimana perasaan mereka masing-masing.


‘Kasih tak Sampai’ itulah judul yang tepat untuk kisah cinta mereka berdua karena keegoisan yang mereka miliki satu sama lain. Seandainya mereka membuang rasa egois itu dan mau mengakui perasaan mereka waktu itu, mungkin pertemuan seperti ini tidak akan terjadi.


Hal pertama yang Fey perhatikan adalah Divani dan juga isi perasaannya. Fey benar-benar salut pada kebesaran hati istri pak Po yang legowo dan santai saja saat suaminya bertemu dengan sosok yang pernah singgah dihati pak Po itu. Walau jantung Di berdetak dengan cepat, ia tidak merasa marah berada dalam situasi canggung seperti ini. Sebaliknya, Di menunggu apa yang akan dilakukan suaminya pada rekan sejawatnya itu.

__ADS_1


Kalau yang berada diposisi Divani itu aku, pasti aku bakal kalap dan tidak akan pernah mau besama dengan pak Po lagi, batin Fey dan tentu saja Refald bisa mendengar suara hati istrinya. Kau dengar itu, Refald? Awas saja kalau sampai kau seperti itu, batin Fey lagi karena ia tahu suaminya itu sedang mendengar pikirannya.


Aku mendengarmu, Honey. Kau tahu cuma kaulah satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia ini. Kau juga tahu seberapa populernya aku dikalangan kaum hawa, tapi yang bisa aku lihat hanyalah dirimu seorang. Kau masih perlu bukti? Tanya Refald dalam pikirannya yang bisa di dengar Fey juga.


Pasangan suami istri itu sedang berkomunikasi melalui pikiran mereka. Dan tentunya hanya Refald dan Fey saja yang bisa melakukannya. Apa yang dikatakan suaminya itu memang benar, Fey tidak butuh bukti cinta dari Refald. Tidak ada alasan bagi Fey untuk meragukan cinta suaminya. Karena Refald hanya mencintainaya seorang, tidak ada dan tidak akan pernah ada wanita lain dalam hidup Refald selain dirinya.


Hal itu juga bisa Fey lihat dari pikiran Divani, meski tadi ia sempat sedih dan merasa tersakiti akan kisah asmara pak Po dan mbak Kun yang tak terwujud, tidak jadi masalah lagi buatnya. Kini, wanita bule itu sudah bertekad memercayai pak Po yang sebentar lagi akan menjadi ayah dari anaknya. Di tidak akan menyerah dan tetap akan mempertahankan pak Po disisinya walau apapun yang terjadi.


Sekarang tinggal pak Po. Perasaan dedemit kesayangan Refald itu masih campur aduk tak karuan. Fey bisa memahaminya karena dimana-mana, cinta pertama itu memang sulit dilupakan dan kebanyakan, cinta pertama itu jarang bisa diwujudkan. Rata-rata pasangan yang langgeng bukanlah pada cinta pertama mereka, melainkan pada cinta kedua, ketiga dan seterusnya, meski hal semacam itu tidak berlaku bagi Fey dan Refald, atau mungkin beberapa pasangan yang lain juga seperti Leo dan Shena, serta Sanha dan Zaya. Bahkan Byon dan Biyanca juga sama-sama cinta pertama. Tak menuntut kemungkinan, anak-anak Refald dan Leo pun juga hanya memiliki cinta pertama. Sebab, cinta pertama itu sangat sulit dilupakan.


“Hai pak Po, lama tidak bertemu,” sapa mbak Kun memecah kesunyian setelah mereka sempat terhanyut dalam perasaan masing-masing.


“Hai, juga mbak Kun,” Pak Po pun balik menyapa. “Aku dengar, kau sudah menikah dan ... suamimu saat ini sedang menyamar sebagai istriku untuk membasmi orang-orang yang berniat jahat padanya. Terimakasih, harusnya akulah yang menjaga Di, tapi aku malah merepotkan kalian semua.” diluar dugaan, nada suara pak Po menjadi sedih. Dia bahkan langsung to the poin.


Sikap pak Po, membuat Fey jadi semakin merasa bersalah pada karena ia memang tidak memberitahu apapun pada pak Po soal apa yang menimpa Divani. Selain itu, Fey juga belum sempat memberitahu pak Po kabar tentang pernikahan mbak Kun yang terjadi begitu saja beberapa waktu lalu.


Perlahan, Fey berjalan kearah Divani dan pak Po berada. Gadis itu menatap pasangan suami istri beda dunia itu secara bergantian.


“Di ... maafkan aku, bisakah kau pinjamkan suamimu sebentar padaku? Ada yang ingin aku bicarakan padanya. Empat mata. Kau tidak keberatan jika kami meninggalkanmu berdua saja dengan mbak Kun disini, kan?” tanya Fey pada Divani yang langsung disambut hangat dengan anggukan setuju.


“Silahkan Putri,” ujarnya dengan lembut.


“Terimakasih Di,” ujar Fey lalu beralih menatap mbak Kun. “Mbak Kun, aku titip Di sebentar. Tolong jaga dia untukku.”


“Baik Putri, saya akan menjaganya dengan baik.” mbak Kun pun menunduk tanda mematuhi apa yang dikatakan istri pangerannya, walau dia jadi sedikit tidak nyaman pada istri pak Po.


“Terimakasih, mbak Kun. Ayo pak Po, ikuti aku!” Fey berjalan pelan menerobos masuk ke dalam hutan yang ada di belakang area pasar malam. Tidak ada pilihan lain bagi pak Po untuk tidak menerima ajakan Fey. Dalam diam, pak Po mengikuti langkah istri Refald itu dari belakang.


Karena hari semakin gelap, tak banyak orang yang ada di tempat ini. Sepertinya, sebagain besar pengunjung sudah kembali pulang ke rumah masing-masing dan hanya menyisakan beberapa orang saja.


Fey berdiri tepat ditengah hutan, ia berharap kecanggungan antara pak Po, Divani dan mbak Kun, tidak berlangsung lama.


"Pak Po ... apa kau marah?" tanya Fey begitu melihat pak Po berdiri dibelakangnya.


****



__ADS_1


__ADS_2