
Kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini Refald tidak terlalu kencang berlarinya. Sepertinya ia ingin sedikit membuatku tenang dulu agar rasa syok atas apa yang aku alami berkurang. Aku-akui, bersama Refald aku sangat bahagia dan lupa kalau sedang berada dalam masalah.
“Aku masih belum bisa percaya apa yang baru saja aku lihat ini.”Aku memulai pembicaraan saat Refald menggendongku sambil berlari. Suaraku terdengar lirih tanpa tenaga, Refald benar soal karma yang didapat pasangan dua sejoli yang tadi melintas di depan kami. “Tubuh mereka benar-benar menempel satu sama lain. Semoga saja hanya mereka yang mengalami ini. Aku berharap siapapun yang tahu atau mendengar berita ini bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi, dan semoga saja tidak ada yang mencontoh perbuatan buruk mereka.”Aku menyayangkan kejadian seperti ini bisa terjadi, tapi juga tidak membenarkan apa yang sudah mereka lakukan di dalam hutan tadi.
“Aku juga berharap demikian, Honey. Aku tidak habis pikir, di mana moral mereka saat melakukan itu?” Refald terdengar sedang emosi.
“Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kau juga menikmatinya, tadi? Tontonan gratis gitu loh.” Aku meledeknya dan Refald hanya melirikku dengan mimik mencurigakan.
“Harus dengan menggunakan bahasa apa lagi supaya kau percaya bahwa aku sungguh tidak melihat live streaming mereka. Jangan-jangan kau sendiri yang sedang menyaksikan mereka bergeenjot-genjot ria, ya?”
“Enak saja! aku sibuk memerhatikanmu sehingga tidak ada waktu untuk melihat mereka. Kenapa bahasamu mesum sekali, sih?” aku serasa aneh mendengar Refald berkata seperti itu.
“Oh iya? Kenapa? Kau ingin melakukannya bersamaku? Kau bilang kita harus menikah dulu? Bagaimana kalau kita menikah sekarang? Semua pasukanku sudah siap.” Refald berhenti berlari dan menurunkanku. Ia menghadapkan tubuhnya padaku lalu mendekatkan wajahnya di depan wajahku seolah hendak menciumku.
Aku memukul dada bidang Refald. “Kau ini bicara apa, sih? Nggak lucu, tahu!” aku pergi meninggalkan Refald karena ganti dia memojokkanku. Aku sengaja menghindar sebelum kecolongan. Sikap Refald benar-benar sangat sulit ditebak.
Tak kusangka, Refald berlari menyusulku dan menggandeng tanganku sambil tertawa, “Aku bercanda Honey, masih banyak yang harus kita lakukan setelah ini. Aku juga ingin menikmati masa muda kita bersama.” Refald mengecup keningku dan kami pun berjalan meninggalkan hutan bersama dengan kerumunan orang-orang yang membawa jenazah pasangan dua sejoli yang sebelumnya kami temui di dalam hutan tadi.
Aku baru menyadari kalau hari sudah semakin malam. Kejadian ini mengingatkanku akan sesuatu. Mungkin cahaya itu datang menyerang mereka yang berbuat asusila di tempat yang banyak penghuninya dan tentunya berasal dari alam lain.
Para makhluk astral itu mungkin tidak terima karena tempat tinggalnya digunakan untuk hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh manusia dimana mereka masih mempunyai akal, pikiran dan moral sebagai manusia beradab. Bagaimanapun juga, meski dunia kami berbeda, tapi kami juga masih hidup berdampingan satu sama lain. Tidak seharusnya manusia merusak lingkungan yang sudah dijaga oleh penghuninya baik dari segi moral maupun segi lainnya.
Aku mulai mengerti sekarang, pasti bencana itu datang akibat ulah manusia itu sendiri yang merusak hutan, salah satunya adalah pasangan sejoli tadi. Kemungkinan besar masih banyak lagi tangan-tangan jahil manusia yang berupaya merusak lingkungan demi kepentingan pribadi mereka sediri.
Entah dari mana jiwa pecinta alamku ini tiba-tiba saja muncul sehingga aku merasa sangat geram sekali jika memikirkan seperti apa kerusakan yang dilakukan manusia terhadap keindahan alam dan sekitarnya. Salah satunya adalah kehebohan atas penemuan dua sejoli mesum dengan segudang keanehannya. Syukurlah mereka sudah mendapatkan balasan yang setimpal sehingga yang tersisa didiriku saat ini hanya rasa iba.
Para penduduk langsung menyerahkan kasus ini kepada pihak berwajib untuk ditindaklanjuti. Tidak lama kemudian, beberapa wartawan datang dan mewawancarai banyak pihak tak terkecuali keluarga dari jenazah masing-masing. Dari keramaian dan pembicaraan orang-orang baik dari para penduduk desa maupun dari pengunjung yang menyaksikan peristiwa ini, ternyata pasangan dua sejoli itu adalah pasangan selingkuh.
__ADS_1
Aku dan Refald sempat juga menyaksikan kedatangan seorang wanita paruh baya yang menangis histeris melihat jenazah sang suami saling menempel dengan wanita lain dimana alat kelaminnya masih saja tergenceet satu sama lain.
Sedangkan sang suami dari jenazah wanita, hanya menatap nanar dengan mata tajam penuh amarah dan kebencian. Laki-laki berbadan tegap dan tinggi itu tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia hanya menatap jenazah sang istri yang mati mengenaskan dengan kondisi yang memalukan dan tidak bermoral. Apa yang dilakukan istrinya dan karma yang didapatnya sangatlah setimpal dengan apa yang mereka perbuat.
“Aku merasa kasihan sama suaminya, dia pasti sangat terluka melihat istri tercintanya meninggal dalam keadaan seperti itu, pasti memalukan sekali punya istri yang mati kena karma akibat berselingkuh,” gumamku. “Sebaliknya, aku salut dengan istri mendiang yang masih saja menangisi jenazah suaminya meski ia tahu bahwa suaminya itu telah berbuat asusila dengan wanita lain dan mengkhianati cita sucinya. Sungguh ironi sekali kisah hidup mereka.” entah mengapa tiba-tiba kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
“Hei hei ... bahasamu sungguh menyakitkan sekali jika didengar, kau ini kasihan atau senang, sih?” Refald merangkul pundakku.
“Keduanya. Aku senang karena pasangan mesum itu mendapatkan balasannya, dan aku sedih karena pasangan yang dikhianati oleh mereka harus terluka dan menanggung malu akibat ulah pasangannya. Nyesek juga membayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang ditinggal mati mengenaskan seperti itu.”
“Kau ini seperti sudah dewasa saja, kau itu masih anak ingusan yang tidak seharusnya tahu urusan rumah tangga.” Refald mengajakku pergi menjauh dari keramaian sambil mengusap-usap kepalaku.
“Lalu? kalau kau tahu aku masih anak-anak kenapa kau mengajakku menikah?” ujarku dalam rangkulannya.
Refald berhenti berjalan dan menatapku sambil menggenggam erat kedua tanganku. “Aku hanya ingin hidup bersamamu, Honey. aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu 24 jam penuh sampai kita tua nanti. Selama 7 tahun kita terpisah, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku sebelum bisa menemukanmu. Selama itu pula, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa jika suatu hari kita bertemu, maka aku tidak akan menunda-nunda peresmian hubungan kita supaya kita bisa selalu bersama setiap saat tanpa ada yang bisa memisahkan kita lagi. Di negara ini, cara satu-satunya supaya keinginanku itu bisa terwujud hanyalah dengan kita menikah. Bagaimana? Will you merrie me?”
Aku tertawa menatap Refald yang juga menatapku. “Kau jangan bercanda, ini sangat tidak lucu.”
“Aku serius, memang belum ada persiapan apa-apa, tapia aku janji setelah dari sini aku akan menyiapkannya secara resmi.” Refald terdengar sangat serius saat mengatakannya sehingga membuat tawaku mendadak hilang dan berubah menjadi kepanikan.
Apa ini? Refald benar-benar melamarku? Konyol sekali dia? Apa dia tidak sadar dengan apa yang barus aja dia katakan? Kami berdua masih SMA? Bagaimana bisa kami menikah sementara kami masih sekolah?
“Aku tidak mau putus sekolah hanya kerena akan menikah denganmu.” Aku menolak ajakan Refald untuk menikah.
“Siapa yang menyuruhmu putus sekolah? Kita bisa melanjutkan pendidikan kita meski kita sudah menikah.”
“Di negara ini tidak ada pelajar dengan status menikah diperbolehkan sekolah.” bantahku. “Aah, sudahlah ... lupakan, kenapa juga kita membahas soal ini, sih? Tidak bisakah kau melamarku saat usiaku sudah matang? Kenapa harus sekarang, sih?” aku jadi merasa dewasa sebelum waktunya. Sejujurnya aku malu sekali degan situasi ini, jadi aku putuskan pergi meninggalkan Refald meski jalanku agak sedikit pincang.
__ADS_1
Tanpa di nyana-nyana, Refald menyusulku dan menggendongku dengan mesra, tentu saja aku terkejut melihat kebiasaan sikap Refald seperti ini.
“Lepaskan aku, Refald, aku bisa jalan sendiri, lagian tidak enak juga dilihat orang.” Aku semakin malu karena orang-orang mulai memerhatikan kami.
“Bodo amat dengan mereka, kakimu masih sakit jadi aku akan menggendongmu sampai kakimu sembuh.”
“Tapi ... apa kita tidak keterlaluan? Di sana banyak orang yang lagi berduka sedangkan kita malah mesra-mesraan seperti ini?” aku tidak bisa melawan Refald karena sudah jelas bahwa dia jauh lebih kuat dariku.
“Mereka yang di sana jauh lebih malu daripada apa yang kita lakukan sekarang. Kita sedang tidak melakukan hal yang tidak pantas. Aku hanya membantumu berjalan. Lagi pula jika jalanmu seperti itu mana bisa kita sampai di posko pengamanan.”
“Tapi, aku ....” aku masih saja berusaha membantah.
“Jika kau masih protes ... sekarang juga, akan kupaksa kau menikah denganku!”
Aku langsung diam seketika mendengar ancaman Refald. Ia tersenyum licik padaku.
Dasar! Bisa-bisanya dia mengancamku seperti itu.
****
mau promo juga nih ... yuk baca juga ceritaku yang lainnya ... judulnya 'PLAYBOY JATUH CINTA (THE KING IN LOVE)' mohon dukungan like nya ya...
semoga juga suka ceritanya...
salam manis dari penulis
😊😊😊😆
__ADS_1