
Fey mendongakkan kepalanya dari balik daun pintu kamar mandi untuk memastikan apakah Refald sudah pergi dari kamarnya atau belum. Ia melihat sekeliling dan tidak menemukan Refald dimanapun. Gadis itu bernapas lega dan keluar dari kamar mandi sampai tiba-tiba saja ada seseorang yang mengejutkanya.
“Kau mencariku, Honey?” tanya Refald yang bersandar di dinding kamar mandi tepat dibelakang Fey berdiri.
Tentu saja Fey langsung terperanjat dan berbalik badan menghadap Refald. “Kau? Ba-bagaimana bisa ... jadi sejak tadi kau, disitu?” tanya Fey sedikit terkejut, ia tidak menyangka Refald masih saja betah berada di sini. Ia juga sudah berganti baju dan lebih rapi dari sebelumnya. Sepertinya, Refald membersihkan diri jauh lebih cepat darinya.
“Ehm, aku menunggumu. Kau lama sekali kalau mandi? Apa saja yang kau lakukan di dalam? Ini sudah hampir dua jam? Aku saja tidak selama itu.” Refald mendekat cepat kearah Fey dan meraih pinggang kekasihnya. Refald langsung mencium Fey dengan mesra.
“Kau tidak perlu tahu apa yang aku lakukan di dalam sana.” Kali ini, Fey agak gugup karena ciuman dari Refald. Calon suaminya itu juga terus saja menatapnya lekat-lekat.
“Nanti aku juga tahu sendiri, ayo tidur.” Refald menggendong Fey tanpa permisi dan meletakkannya diatas tempat tidur.
“Kau mau tidur di sini?” tanya Fey penasaran.
“Kenapa? Kau tidak suka?”
“Bukan begitu ... tapi kita, kan ... belum ...,” Fey tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
“Ini bukan pertama kalinya kita tidur seranjang, Honey. Dan tidak terjadi apa-apa. Malam ini pun juga sama, kau jangan khawatir, oke. Kau tahu sendiri seberapa kuat aku menahannya untuk tidak menyentuhmu sampai waktunya tiba. Walaupun aku sangat menginginkannya.” Refald tidur disebelah Fey sambil memeluk erat wanita yang hampir saja menjadi istrinya.
“Apa yang membuatmu bisa sekuat ini? Kalau laki-laki lain pasti sudah melakukannya sekalipun pada wanita yang dicintainya.” Fey memainkan kerah baju Refald.
“Aku rasa kau sudah tahu alasannya.” Refald menatap wajah Fey sambil tersenyum. “Pertama, karena aku tidak ingin kehilangan kekuatanku. Dengan begitu, aku bisa selalu melindungimu, yang kedua ... aku pria baik-baik dan bisa dibilang sangat kuno karena ajaran kakek buyutku. Yang bisa kulakukan padamu sekarang hanya menciummu seperti ini ...,” Refald langsung menyerang bibir Fey tanpa ampun. Saking terlenanya dengan ciuman maut Refald, Fey sampai lupa bernapas. “Kau bisa mati jika tidak benapas, Honey.” Refald menyudahi ciumannya dan memerhatikan kekasihnya sedang ngos-ngosan berusaha mengambil napas.
“Kau menyerangku tanpa peringatan!” cetus Fey.
“Itu karena kau terlalu menggemaskan. Lain kali, bawa handukmu jika mau mandi. Kalau ada aku sih tidak apa-apa. Awas saja jika kau melakukan hal itu lagi di tempat lain.” Sifat protektif Refald mulai keluar.
“Apa kau melihatnya?” tanya Fey penasaran mengingat kejadian tadi.
“Lihat apa?”
“Tubuhku? Kau tidak lihat, kan?” Fey berharap jawaban Refald adalah ‘tidak’.
“Aku bisa melihat tubuhmu meskipun kau berpakaian lengkap, Honey.” Refald tersenyum sambil mengedipkan salah satu matanya.
“Apa?” Fey, langsung lemas. “Jadi kau melihat semua tubuh wanita yang ada diluar sana? Kau ...?” Fey hampir saja berteriak. Ia ingin mengumpat tapi kata-katanya tersangkut ditenggorokan dan tidak bisa keluar.
“Jangan teriak, Honey. Kau bisa membangunkan semua orang dan mereka semua pasti mengira kalau kita sedang berbulan madu sekarang. Aku hanya bisa melihatmu seorang. Aku tidak bisa melihat tubuh wanita lain selain dirimu, karena kau adalah istriku. Apalagi jika mataku berubah, maka hanya kaulah yang bisa aku lihat sekalipun kau memakai baju paling tebal.”
“Matamu berubah? Apa maksudmu?” tanya Fey bingung.
“Ah, mungkin kakek lupa memberitahumu kalau ia memberikan kekuatan tambahan untukku. Mataku akan berubah begitu kita melakukan malam pertama. Kalau kau ingin melihatnya, aku tidak keberatan kalau kita melakukan malam pertama sekarang.”
“Kau bilang kau takut kekuatanmu hilang? Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?”
“Setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya jika menjadi manusia normal selama 2 bulan. Yang penting aku bisa melihat semua tubuhmu setiap saat kapanpun aku mau. Bagaimana? Mau coba?” seringai nakal mulai terlihat di wajah Refald.
“Refald, aku tidak sedang bercanda. Aku akan teriak kalau sampai kau berani macam-macam denganku.”
“Teriak saja, besok kita pasti bakal digelandang ke Swiss untuk dinikahkan.” Seperti biasa, Refald selalu menjawab dengan santai.
Fey sudah tidak tahu lagi bagaimana menghadapi Refald jika ia sudah bersikap menjengkelkan seperti ini. “Aaah, aku mau tidur saja!” Fey menarik selimut dengan kesal sambil tidur membelakangi Refald.
Refald tersenyum simpul melihat tingkah laku istrinya ini. Perlahan, ia pun ikut berbaring sambil memeluk Fey dari belakang. “Aku hanya bercanda, Honey. Terlepas dari apa yang sudah kita lalui bersama, banyak hal sulit yang terjadi. Sudah lama juga ... aku tidak bercanda denganmu seperti ini. Aku sangat merindukan masa-masa indah ini, kau sangat menggemaskan jika kesal padaku. Aku benar-benar mencintaimu. Akan aku lakukan apapun supaya kau tetap bahagia bersamaku.” Refald memeluk erat tubuh kekasihnya.
Fey sendiri hanya tersenyum sambil berbalik badan dan membalas pelukan Refald. Senang rasanya melihat Refald sudah kembali seperti biasanya meskipun belum sepenuhnya. Mungkin rasa sedihnya, masih tersisa dihatinya dan Fey harus terus bisa menghibur Refald apalagi mereka juga benar-benar batal menikah lagi.
“Besok Eric akan kembali ke Swiss. Karena pernikahan kita batal, maka tidak ada alasan baginya untuk tetap tinggal di sini lebih lama. Kita akan mengantarnya ke bandara sekaligus memberitahu semua teman-temanmu.” Refald mencium kening Fey dengan lembut.
“Sejak tadi, mereka semua juga sudah meneleponku, tapi aku tidak bisa mengangkatnya. Aku tidak bisa mendengar suara sedih mereka, sebab itu akan membuat moodku jadi buruk.”
“Kenapa?”
“Untuk kesekian kalinya aku gagal menyandang status sebagai Nyonya Refald Dilagara, istri dari pangeran dengan gelar Mirza Banta, seorang keturunan dari putra raja.”
Refald tersenyum simpul sambil mengeratkan lagi pelukannya. “Aku pun sama, Honey. Moodku jauh lebih buruk darimu, tapi teman-temanmu pasti khawatir padamu kalau kau tidak menjawab panggilan mereka.”
“Akan lebih baik kalau aku mengatakannya langsung didepan mereka, besok.”
__ADS_1
“Kau memiliki teman yang luar biasa, Honey. Mereka semua menangis karena mengira aku mencampakkanmu. Besok, mereka semua pasti mengomeliku dan menyerangku.”
“Mereka memang seperti itu, besok kau diam saja. Biar aku yang menangani mereka. Ehm ... soal Eric, apa kita bisa menjodohkannya dengan Nura?” Fey mencoba bertanya pada Refald. Soalnya kekasihnya itu bisa melihat masa depan meskipun masa depan yang Refald lihat sangat relatif tergantung dari keputusan yang diambil oleh masing-masing orang.
“Mereka ... tidak bisa bersama, Honey.”
“Kenapa?” tanya Fey heran. Ia melihat ekspresi Refald yang terlihat datar.
“Sebab ... Eric sudah menikah.”
“Apa?” Fey sangat terkejut. Ia tidak tahu kalau Eric sudah menikah. “Kapan? Kenapa kau tidak bilang padaku? Dan kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” mata Fey terbelalak menatap Refald.
“Eric melarangku memberitahumu, karena tepat setelah ia menikah, istrinya meninggalkannya untuk selamanya. Aku tidak yakin, Nura bakal bersedia menerima Eric dengan statusnya sebagai duda.”
Mulut Fey menganga lebar mendengar fakta tentang status Eric yang sebenarnya. Fey pun langsung bangkit berdiri dan hendak pergi keluar tapi Refald mencekal lengannya dengan kuat.
“Kau mau ke mana, Honey? Ini sudah malam.” Refald tahu apa yang akan dilakukan istrinya.
“Aku mau menampar wajah Eric dengan sekuat tenaga?” jawab Fey dengan penuh emosi.
“Kenapa? Harusnya kau berduka untuknya? Dia berusaha kuat di depan kita, tapi sebenarnya dia sangat rapuh. Demi kita, dia rela tersenyum meski hatinya hancur berkeping-keping.”
“Karena itulah aku ingin menghajarnya supaya dia sadar bahwa masih ada aku dan kau yang selalu bersamanya! Kenapa ia harus merahasiakan masalah sebesar itu dan hanya menceritakannya padamu? Apa si kampret itu tidak menganggapku sebagai temannya juga?” Fey terlihat marah dan ia menarik paksa tangannya supaya terlepas dari cengkeraman Refald.
Namun, Refald malah meraih tubuh Fey sehingga gadis itu terjatuh diatas tempat tidurnya. Refald bergerak cepat dan mengunci tubuh Fey dengan tubuhnya agar gadis itu tidak bisa bergerak.
“Kau mau menemui Eric, sekarang?” tanya Refald sambil menatap tajam manik mata istrinya.
“Iya,” jawab Fey cepat dan satu ciuman mendarat mulus dibibirnya.
“Kau masih ingin menemuinya?” tanya Refald lagi. Tatapan matanya lebih tajam dari sebelumnya.
“I-iya.” Kali ini Fey jadi lebih gugup karena Refald mulai terlihat serius. Satu ciuman mendarat lagi di bibir Fey sehingga gadis itu semakin terkejut. Ia merasa terintimidasi oleh Refald saat ini.
“Aku tanya sekali lagi, kau mau menemui Eric?” tatapan mata Refald benar-benar menakutkan.
“Tidak!” jawab Fey cepat, ia tahu jika sampai menjawab ‘iya’, pasti Refald akan menciumnya lagi.
***
Laura terbangun dari tidurnya saat tangan Shena menyentuh kepala sahabatnya. Perlahan Laura mengangkat wajahnya sambil mengusap lembut matanya. Ia menatap Shena yang sudah mulai terjaga. Shena tersenyum melihat Laura. Ia tidak menyangka, Laura bakal menungguinya semalaman.
“Kau sudah sadar, Shena? Apa yang kau rasakan?” tanya Laura. Gadis itu sedikit khawatir sekaligus lega karena akhirnya sahabatnya sadar juga.
“Kau pasti lelah karena menungguiku semalaman, istirahatlah. Aku sudah tidak apa-apa,” jawab Shena lirih.
“Kau yakin? Tidak ada yang kau rasakan?” maksud Laura adalah rasa sakit dibagian intim Shena.
Laura masih curiga Leo macam-macam dengan Shena. Sebab, ini kedua kalinya ia melihat Shena pingsan digendongan Leo, tidak mungkin buaya darat seperti Leo tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, apalagi Shena sedang pingsan.
“Aku tidak ada apa-apa, Ra. Mungkin aku terlalu lelah dan kurang vit juga. Jangan khawatir oke.” Shena meyakinkan sahabatnya, tapi tetap saja Laura tidak percaya karena suara Shena terdengar lemah tak bertenaga. Pikiran Laura semakin traveling kemana-mana.
“Apa tidak ada yang terluka?” lagi-lagi, Laura menatap bagian intim Shena.
“Kau lihat apa?” Shena heran melihat Laura bertingkah aneh.
“Kau yakin tidak merasakan sakit dibagian ... ini?” Laura menunjuk bagian intim Shena dengan jari telunjuknya.
“Apa maksudmu?” Shena semakin bingung dan tidak mengerti mengapa Laura bersikap aneh sekali.
“Kau tidak ingat apapun yang terjadi padamu?” Bukannya menjawab, Laura malah balik bertanya.
Shena masih berusaha mengingat-ingat kembali saat terakhir ia berada sebelum pingsan, tapi tidak berhasil juga. Ia tidak mengingat apa-apa. Tentu saja, Shena tidak bisa mengingat apapun karena ingatan Shena dihapus Refald sebagian.
“Aku tidak ingat apa-apa.” Shena memegangi kepalanya karena mulai pusing.
“Wuah! Dasar buaya laknat tuh, si Leo! Awas saja kalau sampai ketemu,” geram Laura sambil memukul-mukul tangannya sendiri.
“Leo? Leo siapa?” tanya Shena sehingga membuat Laura terkejut karena Shena tidak tahu Leo.
__ADS_1
“Shena? Kau sungguh tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?” Laura mulai memerhatikan kondisi Shena. Ia khawatir Shena mengalami amnesia sementara karena terlalu stres.
“Sepertinya nama itu tidak asing lagi ditelingaku, kalau tidak salah ... dia maba yang menyelamatkanku waktu itu, kan? Jadi namanya Leo.” Shena tersenyum simpul. Hanya itu kenangan yang tersisa dan tidak dihapus Refald dari Shena.
Laura hanya menatap Shena tanpa bisa berkata apa-apa. Sebab, ia tidak tahu apa yang dialami sahabatnya itu sampai tidak bisa mengingat Leo dengan baik.
Kurang ajar si Leo! Apa yang sudah ia lakukan pada Shena hingga ia jadi seperti ini! batin Laura.
“Kau tunggu di sini, Shena. Aku akan segera kembali,” ujar Laura.
“Kau mau ke mana?” tanya Shena.
“Mengambilkan air dan beberapa makanan untukmu supaya kau bisa memulihkan kembali tenagamu,” jawab Laura sambil menahan amarah yang memuncak. Ia mengira apa yang terjadi pada Shena adalah kesalahan Leo.
Gadis itu berjalan cepat mencari-cari sosok Leo. Ia sudah mengitari banyak tenda tapi tak juga menemukan dimana si buaya darat itu berada. Sampai akhirnya ia tak sengaja menabrak seseorang.
Buk!
“Aduh!” Laura terjatuh, ia mengusap lututnya yang sedikit terluka akibat terbentur tanah yang kebetulan banyak kerikilnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya seseorang itu sambil mengulurkan tangannya.
“Aku tidak apa-apa.” Laura mendongak setelah ia membersihkan kotoran dilututnya yang terluka. Dan ia sangat terkejut karena orang itu adalah Roy. “Kau?” Laura menerima uluran tangan Roy sambil terus menatapnya.
“Maaf, aku tadi buru-buru, kau terluka?” tanyanya sambil memerhatikan lutut Laura. Gadis itu hanya memakai celana jins pendek, jadi lukanya bisa terlihat.
“Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil biasa. Oh iya, apa kau lihat Leo?” tanya Laura. Sebagai sahabat Leo, Roy pasti tahu ada dimana Leo sekarang.
“Wuah, si bengek Leo makin populer saja di sini. Kau orang ke 50 yang menanyakan di mana keberadaannya.” Roy tersenyum sinis menatap Laura.
“Beritahu saja ada di mana dia?” cetus Laura. Ia tidak peduli jadi orang keberapa yang menanyakan dimana Leo. Bagi Laura, Leo itu seorang playboy, wajar kalau banyak orang yang mencarinya terutama wanita.
“Ada masalah apa? Sepertinya kau marah sekali padanya?” Roy memerhatikan raut wajah Laura yang terlihat kesal.
“Aku ingin membunuhnya! Gara-gara sohib kamu itu? Sahabatku Shena jadi lupa ingatan! Meski nggak sepenuhnya, sih. Aku tidak tahu apa yang sudah Leo lakukan pada Shena, yang jelas aku ingin buat perhitungan dengan si brengsek itu,” geram Laura.
Roy menatap tajam Laura sambil tersenyum. Ternyata ada juga yang tidak menyukai Leo selain Shena. “Kau tidak akan bisa membunuh Leo. Kau tidak tahu, dia itu sangat kuat. Kau bisa dicincang olehnya kalau sampai kau mendekatinya. Ayo, ikut saja denganku!” Roy menarik paksa tangan Laura supaya mau mengikutinya.
“Kita mau ke mana?” tanya Laura. Meski bingung, tidak dapat dipungkiri Laura sangat senang Roy menarik tangannya seperti itu.
“Sudah ikut saja, jangan banyak bertanya.” Roy terus menarik tangan Laura sampai mereka tiba disebuah kursi panjang. Kebetulan, kursi itu kosong. Roy mendudukkan Laura dikursi tersebut. “Kau tunggu di sini dan jangan pergi kemana-mana sampai aku kembali. Hanya 5 menit, oke.” Roy langsung berlari menghilang entah kemana. Dan benar saja, dalam 5 menit Roypun kembali sambil berlari menghampiri Laura lagi. Ia membawa perlengkapan kotak p3k yang entah ia dapatkan darimana.
Roy langsung duduk disebelah Laura. “Berikan kakimu!” pinta Roy tanpa basa-basi.
“Apa?” tanya Laura bingung. “Untuk apa?”
Roy sudah tidak sabar lagi, tanpa permisi ia mengangkat kaki kanan Laura yang lututnya terluka tadi diatas pangkuannya. Dengan telaten Roy mengusapkan alkohol yang ia tuangkan dalam kapas lalu menempelkannya diluka Laura agar tidak terkena infeksi. Setelah lukanya bersih dari kotoran tanah yang menempel pada kulit putih Laura, barulah Roy mengoleskan betadine lalu meniupnya pelan hingga kering. Setelah itu Roy menempelkan plester luka dilutut Laura.
“Nah, beres! Dengan begini, lukamu akan cepat sembuh.” Roy tersenyum manis pada Laura yang sejak tadi memandanginya tanpa kedip. Gadis itu tidak percaya Roy bisa begitu perhatian padanya. Ini pertama kali bagi Laura ada seorang laki-laki memperlakukannya dengan sangat baik. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Roy sambil tertawa kecil melihat ekspresi lucu Laura saat melihatnya.
“Ah, tidak apa-apa, tapi .. kenapa kau baik padaku? Padahal aku membenci sahabatmu.”
“Aku baik pada semua orang, terutama pada wanita. Kau jangan salah paham.” Roy tersenyum lagi dan tanpa sadar senyuman Roy telah membuat Laura kembali meleleh lagi. Rasa kesalnya pada Leopun langsung sirna tak berbekas. Laura benar-benar jatuh cinta pada Roy.
“Oh, terimakasih sudah baik padaku, aku permisi dulu.” Laura berdiri dan hendak pergi, tapi tangannya lagi-lagi dicekal oleh Roy.
“Tunggu!” cegah Roy. “Kau salah paham pada Leo. Aku bicara seperti ini bukan untuk membelanya, tapi kenyataannya, Leo memang menyelamatkan Shena. Jika saja Leo tidak datang tepat waktu, maka saat ini Shena mungkin tidak akan ada disini lagi, dan kau juga tidak akan pernah bertemu dengannya untuk selamanya.
Seharusnya, kau berterimakasih pada Leo karena berkat dia, Shena selamat untuk kesekian kalinya. Akan lebih baik bagi Shena melupakan apa yang sudah menimpanya daripada ia jadi depresi karena mengingat hal-hal buruk yang menimpanya. Percayalah padaku! Shena hanya melupakan kejadian buruk yang menimpanya sampai Leo datang menyelamatkannya.” Roy menatap tajam Laura hingga gadis itu tak bisa berkata-kata. Entah kenapa ucapan yang keluar dari mulut Roy jauh lebih meyakinkan daripada Leo.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa seyakin itu pada sahabatmu? Kau kan tidak ada disana? Kau percaya pada apa yang dikatakan Leo?”
“Aku hidup bersama dengan Leo sejak kami berdua duduk dibangku dasar. Tidak ada yang tidak aku ketahui tentangnya. Meskipun Leo itu adalah bajingaan tengik seperti yang kau bilang, tapi ia tidak pernah berbohong. Aku tidak bisa mengatakan apa yang terjadi sebenarnya padamu sekarang. Jika saatnya tiba nanti, dan kau mengingat moment ini, aku akan menjawab semua pertanyaan yang kau tanyakan padaku.” Roy pergi meninggalkan Laura sendirian dengan sejuta teka-teki. Gadis itu sama sekali tidak mengerti apa maksud Roy.
Tiba-tiba saja ia teringat Shena yang sejak kemarin belum makan apa-apa. Buru-buru Laura berlari dan membeli beberapa makanan serta minuman untuk Shena.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1
maaf kalau episodenya kepanjangan .. kalau bosan .. bilang ya ..nanti aku perpendek episodenya.
love you all ...