
Aku tidak percaya dengan apa yang terjadi didepanku. Sesaat aku berfikir akan kehilangan orang yang kusayangi untuk yang kedua kali. Aku berlari sekencang mungkin dengan berlinang air mata, berharap kecepatan berlariku bisa menyelamatkan sahabatku dari ganasnya kecepatan gravitasi bumi. Meski nyatanya, tidak ada manusia manapun yang bisa mengalahkan kecepatan gravitasi yang tidak bisa di hitung dengan pasti seberapa cepat kecepatannya.
Aku berusaha menenangkan pikiranku, akan kukorbankan nyawaku untuk menyelamatkan Yua jika memang itu perlu. Namun, aku tidak tahu apakah aku bisa tepat waktu. Saat pikiranku berada di titik terlemah diantara keputusasaanku, aku menyadari bahwa diriku saat ini tidak berada diduniaku lagi. Tidak ada Yua yang terjatuh didepanku. Bukan hanya Yua yang menghilang, tapi semuanya, tidak ada seorangpun di sini. Hanya ada aku, sendiri, tanpa siapapun. Aku ... benar-benar sendirian.
Aku menghentikan langkahku dan mengamati sekelilingku. Suasananya begitu gelap sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Butuh waktu bagiku untuk menyesuaikan penglihatanku agar aku tahu ada di mana aku sekarang.
Setelah beberapa detik aku menunggu, kini aku mulai menyadari bahwa aku berada tepat di tengah-tengah hutan pinus. Hutan yang sama seperti di lokasi yang kami gunakan untuk berkemah. Hanya saja, suasananya bukan lagi siang, tetapi malam. Meski begitu, sedikit banyak, aku mengenali hutan ini. Jadi, aku masih bisa menguasai dan menenangkan diri untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa tiba-tiba saja suasananya berubah jadi seperti ini.
Aku segera mencari tenda tempat kami berkemah dengan harapan bisa menemukan seseorang di sana. Namun, sejauh aku melangkah aku tidak menemukan apa-apa. Hanya tercium bau pinus yang sangat menyengat menandakan bahwa yang kualami saat ini bukanlah mimpi.
"Aku di mana sekarang? Yang lainnya ke mana?" aku menoleh kesana kemari tapi tidak menemukan siapapun.
"Yua!" teriakku dengan kencang.
"Refald! Apa kalian dengar aku?" teriakku lagi.
Tidak ada sahutan, hanya kegelapan yang menyelimutiku. Bahkan suara binatang yang biasa kudengar, kini tidak bersuara lagi.
"Tempat apa ini? Kenapa gelap sekali? Sungguh tidak ada siapa-siapa di sini."
Aku tidak ingin menyerah. Entah di mana aku sekarang, aku tidak tahu. Aku terus melanjutkan langkahku sambil mengamati sekelilingku. Sampai samar-samar akhirnya aku bisa mendengar suara seseorang. Aku berhenti dan berusaha fokus pada pendengaranku. Aku mencari sumber suara itu.
Aku mengikuti dari mana sumber suara tadi berasal. Semakin dekat, sumber suara itu semakin jelas terdengar. Aku yakin itu pasti suara Refald. Sepertinya ia juga mencariku. Aku senang akhirnya ia bisa menemukanku. Aku berlari menyongsongnya meski aku belum tahu pasti di mana posisi Refald berada.
“Aku di sini, Refald!” teriakku, berharap Refald mendengarku dan menghampiriku.
Aku masih bisa mendengar Refald meneriakiku. Ada yang aneh sebenarnya. Harusnya Refald menyahuti teriakanku. Namun, sejauh yang aku dengar, ia tidak mendengar teriakanku. Ia seperti bicara pada orang lain. Teriakan Refald seperti mencegah orang itu untuk melakukan sesuatu.
“Fey! Berhenti! Jangan kesitu? Dengarkan aku!” suara Refald semakin jelas, dan aku mulai bisa melihat Refald yang berlari kencang ke arah hutan pinus yang lebat.
Ada seseorang di depannya, tapi kenapa Refald memanggil orang itu dengan namaku?
Pandanganku semakin terpaku begitu aku tahu siapa sosok yang diikuti Refald dari belakang.
Orang itu ... dia adalah aku. Aku yakin dengan penglihatanku. Pakaian yang dipakai gadis itu, rambut dan cara gadis itu berjalan, itu sama persis denganku saat ini. Tidak salah lagi. Itu aku!
Jika gadis yang berjalan itu adalah aku, lalu aku yang di sini siapa? Kenapa aku ada dua? Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi saat ini. Bagaimana mungkin diriku bisa menjadi dua?
Pertanyaan itu tidak bisa kutemukan jawabannya. Bagaimanapun juga, ini sungguh tidak masuk akal. Aku tidak bisa berkata-kata, yang bisa kulakukan saat ini hanyalah mengamati Refald dan diriku satunya yang berada 500 m dari tempatku berdiri. Sepertinya, mereka juga tidak menyadari keberadaanku.
“Fey! Dengarkan aku. Berhenti di situ!”
“Jangan ikuti aku! Pergi sana!” diriku yang satunya tidak menghiraukan panggilan Refald. Ia terus saja melangkah dalam keadaan marah.
“Aku bilang berhenti! Di sana berbahaya!” Refald berusaha meraihku tapi terlambat. Diriku yang satunya terlanjur melewati garis batas yang terpasang sebagai pembatas pagar selama kami melaksanakan kegiatan di tengah hutan ini.
Aku terperanjat menyaksikan apa yang terjadi, diriku yang satunya mendadak tersedot ke dalam sebuah lubang hitam selebar tubuhku tepat saat melewati pembatas. Refald berusaha meraihku dan ia pun ikut terseret masuk ke dalam lubang hitam yang entah darimana datangnya. Dalam hitungan detik mereka berdua menghilang karena tersedot ke dalam sebuah lubang hitam yang sudah mulai menutup.
Tubuhku langsung lemas menyaksikan peristiwa mencengangkan yang tidak masuk akal ini. Aku mengira kejadian yang kulihat tadi hanya ada dalam cerita atau film, tapi kini, aku menyaksikannya sendiri bagaimana diriku yang satunya dan orang yang kucintai tiba-tiba terseret masuk ke dalam lubang hitam yang mengerikan.
Bagaimana ini? Apa mereka berdua bisa keluar?
Aku mulai panik, tapi aku juga mulai menyadari sesuatu yang bisa menjelaskan arti dari semua ini.
Posisiku saat ini ada di luar pembatas yang dipasang untuk menghalangi makhluk astral agar tidak masuk dan mengganggu area kegiatan kami. Jika dugaanku benar, aku yang berada di luar garis pembatas ini pasti tidak bisa masuk juga dan untuk menguatkan dugaanku, perlahan, aku mendekati garisnya lalu mencoba melewatinya.
__ADS_1
Benar saja. Tanganku tidak bisa melewati garis pembatas itu, seolah-olah ada dinding besar yang menghalangi tanganku. Itulah sebabnya Refald dan diriku yang satunya tidak bisa melihat atau mendengar teriakanku. Artinya, saat ini aku sedang berada di dimensi lain. Sebuah dimensi yang tidak bisa di lihat atau didengar oleh manusia di dunia nyata, dan jika ada orang yang melewati garis pembatas itu, maka ia akan berakhir seperti Refald dan diriku yang lainnya.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Fakta bahwa aku berada di dimensi lain dan hilangnya diriku yang satunya bersama dengan Refald membuatku seperti hilang akal antara percaya dan tidak.
Berteriakpun juga percuma, tidak akan ada yang bisa mendengarku. Aku juga tidak melihat apapun di sini. Peristiwa Refald mengejarku sebelum ia menghilang dengan diriku yang satunya adalah peristiwa dimana aku merasa sangat kesal saat para senior menggodaku karena kami ketahuan saling berpelukan. Jika dugaanku benar, maka yang kulihat saat ini adalah penggalan ingatanku yang hilang.
Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa ingatan itu baru muncul sekarang, Di saat aku merasa ketakutan karena akan kehilangan sahabatku yang berharga. Secara tiba-tiba, ingatan ini muncul begitu saja dan membuatku bingung, manakah yang nyata dan yang tidak nyata.
Aku jadi teringat ketika pertama kali aku terbangun di pagi hari. Aku melihat sebuah pohon yang menjadi sandaran Refald saat memelukku. Aku mencari-cari keberadaan pohon itu dan aku langsung menemukannya. Aku mulai berjalan mendekati pohon di mana Refald memelukku saat kami tertidur.
Aku mengamati pohon besar yang agak sedikit berbeda dengan pohon-pohon besar lainnya. Pohon yang satu ini tidak memiliki cabang, hanya dedaunan rimbun yang tumbuh dipucuknya. Meski begitu, pohon ini terkesan paling angker diantara yang lainnya. Aku bisa merasakan energi negatif yang begitu kuat saat aku mendekatinya. Seperti ada daya tarik tersendiri yang menarik tubuhku untuk semakin mendekat ke arah pohon besar ini.
Saat aku hendak menyentuhnya, tiba-tiba ada kilatan cahaya yang keluar dari batang pohon itu dan membuatku harus menutup mata agar terhindar dari cahaya tersebut serta melindungi wajahku dengan lenganku. Namun, cahayanya menghilang setelah melemparkan Refald keluar hingga membentur sebuah pohon di susul dengan tubuhku yang satunya terjatuh tepat di atas Refald.
“Arggghhh!” Refald mengerang kesakitan karena punggungnya yang terbentur pohon lumayan keras. Di tambah juga beban tubuhku yang mendarat mulus di dadanya. Bak jatuh tertimpa tangga, itulah yang di alami Refald saat ini.
Refald tidak bisa bergerak, tapi ia masih bisa bersuara, “Sepertinya dia pingsan. Ini lebih baik daripada dia sadar. Terima kasih atas bantuanmu.” ucap Refald entah kepada siapa sambil memelukku.
Aku tidak yakin dengan apa yang aku dengar, tapi sepertinya Refald sedang berbicara dengan seseorang yang tidak bisa kulihat dan kudengar suaranya.
Siapa yang bicara dengan Refald? Kenapa ia berterima kasih?
Aku masih belum bisa mencerna semua ini dengan akal sehatku. Keberadaanku, ingatanku, suasana aneh dan menakutkan ini ... semua terasa seperti mimpi. Aku bahkan tidak tahu bagaimana nasib temanku. Sejauh yang aku ingat, dihadapan banyak pasang mata, Yua terjatuh dari ketinggian kurang lebih empat meter. Itulah terakhir kali aku melihatnya sebelum aku tiba-tiba saja ada di sini. Entah bagaimana keadaannya kini, apakah ia terluka atau tidak, aku tidak tahu.
Banyaknya peristiwa menegangkan dan aneh yang terjadi, membuatku tidak bisa lagi membedakan mana yang dunia nyata dan mana yang bukan. Kini, bagiku, semua terlihat sama.
Ketika aku bergelut dengan asumsi-asumsiku, sebuah kilatan cahaya lagi-lagi datang dan membuatku seketika menyipitkan mata. Untuk sesaat aku hanya bisa memejamkan mata agar kornea mataku tidak rusak karena cahaya itu. Namun, setelah mataku terbuka kembali, aku terkejut melihat Refald sudah ada di depanku dengan sejuta kekhawatiran di wajahnya.
Sepertinya aku berpindah dimensi lagi.
Perlahan aku membuka mataku untuk memastikan bahwa yang aku lihat saat ini bukanlah mimpi. Aku merasakan genggaman tangan Refald di tanganku, dan aku juga langsung bisa mengenali tempat ini. Aku berada di dalam tenda yang berwarna biru.
Tidak salah lagi, ini adalah tendaku. Itu artinya aku sudah kembali ke dunia nyata.
“Apa yang terjadi padaku?” suaraku terdengar lemah dan lirih.
“Kau pingsan saat berlari tadi.” Refald menjelaskan dengan penuh kecemasan.
Sedikit demi sedikit aku mulai mengingat kembali apa yang terjadi.
“Lalu, bagaimana dengan Yua? Di mana dia?” aku berusaha bangun dan bermaksud ingin keluar untuk mencari tahu bagaimana kondisi Yua.
Aku masih sangat pusing saat memaksa berdiri sehingga tubuhku oleng hampir terjatuh. Untung Refald langsung sigap menangkapku dan mendudukkanku kembali.
“Tenanglah, sayang ... Yua tidak apa-apa. Dia baik-baik saja, dia hanya pingsan, sama sepertimu.“
Aku sedikit lega mendengar bahwa Yua baik-baik saja meski itu sangat mustahil terjadi.
“Kau tidak bohong, kan? Bagaimana mungkin ia baik-baik saja setelah ia jatuh dari atas?”
“Aku tidak bohong, Yua memang jatuh tapi ia mendarat sempurna di tubuh Epank.”
“Apa? Epank?” aku tidak mengerti maksud ucapan Refald.
Apakah itu artinya sama seperti saat aku terjatuh dari cahaya kilat tadi dan mendarat di dada Refald?
__ADS_1
“Iya, dengan gesit Epank berlari ke arah Yua agar bisa menangkap tubuh Yua yang terjatuh. Tapi sepertinya Epank tidak kuat menahan beban tubuh temanmu itu sehingga ia juga ikutan pingsan, dan yang membuatku heran adalah, kenapa kau ikutan pingsan juga?”
Aku tidak mau menjawab pertanyaan Refald. Biarlah dia sendiri yang mencari tahu jawabannya.
Aku senang mendengar bahwa Epanklah yang menyelamatkan Yua. Entah apa yang akan dirasakan sahabatku itu jika ia tahu siapa pahlawan yang sudah menyelamatkan hidupnya.
Aku bisa membayangkan seperti apa wajah Via saat melihat kekasihnya menyelamatkan wanita lain. Aku menyesal karena tidak bisa melihat bagaimana ekspresi gadis tengil itu karena pada saat yang bersamaan, aku pun juga pingsan dan terjebak dalam mimpi memasuki dimensi lain.
“Sayang, kau kenapa? Kau tidak apa-apa?”
Aku risih mendengar Refald memanggilku mesra seperti itu.
“Bisakah kau tidak memanggilku begitu?”
“Kenapa? Semua orang pasti memanggil kekasihnya dengan sebutan ‘sayang’ bukan? Tidak ada salahnya jika aku juga memanggil tunanganku dengan sebutan, sayangg .... “ ia menyeringai memamerkan giginya yang putih dan rapi.
Sebenarnya aku tidak suka ia memanggilku seperti itu, tapi aku sangat lelah dan malas untuk berdebat dengannya. Aku masih stres memikirkan perjalanan singkatku ke dimensi lain yang membuatku bingung apakah peristiwa yang kualami itu hanya mimpi atau bukan. Sedangkan di sisi lain, aku turut bahagia, Epank bersedia mengorbankan nyawanya hanya demi menyelamatkan Yua, padahal ada Via didekatnya. Entah seperti apa Via sekarang ini. Aku membayangkan pasti mulutnya manyun terus mengenang peristiwa menjengkelkan baginya.
“Refald!”
“Hemmm ... apa, Sayang?” ia mendekatkan wajahnya lekat dengan wajahku, membuatku semakin canggung didepannya. Namun bukan saatnya untuk merasa canggung dalam situasi aneh seperti ini.
“Apa yang terjadi semalam? Kenapa kita berdua ada di luar garis pembatas?”
Senyum mengembang di wajah Refald mendadak hilang mendengar pertanyaanku. Wajahnya yang tadinya ia dekatkan dengan wajahku mulai merenggang mundur.
Refald menunduk. Sepertinya ia ragu antara mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Aku hanya mengamati gerak geriknya.
“Katakan yang sejujurnya padaku, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku. Saat aku pingsan tadi, aku melihat banyak hal yang tidak bisa kumengerti dengan akal sehatku. Aku yakin kau juga mengetahuinya. Inikah yang kau maksud dengan kata ‘bahaya’ waktu itu?”
Refald memejamkan matanya dan mulai menggenggam erat tanganku. Perlahan ia membuka lagi matanya dan menatap tajam kearahku.
“Fey, kau percaya padaku?”
“Sejujurnya aku tidak yakin, karena aku belum mendapat penjelasan apapun darimu.”
“Aku tahu, tapi aku harap kau tetap percaya padaku. Aku tidak bisa menjelaskannya di sini sampai kupastikan bahwa kau aman. Aku tidak ingin kau syok dan tertekan sehingga acara yang sudah kau persiapkan ini menjadi kacau. Kau tidak ingin itu terjadi, kan?”
Aku mengangguk. Refald benar. Terlepas dari semua peristiwa yang terjadi, baik yang menimpaku atau yang menimpa teman-temanku, aku tetap tidak bisa mengesampingkan acara yang sudah dipersiapkan dengan sepenuh jiwa oleh seluruh teman-teman anggota PA ini menjadi kacau hanya karena rasa penasaranku.
“Jangan pikirkan masalah ini. Aku sudah bilang, bahwa aku akan selalu menjaga dan melindunginya apapun yang terjadi. Karena itulah aku di sini, oke. Jangan khawatir lagi. Fokuslah pada kegiatanmu. Aku akan selalu ada disisimu kapanpun kau membutuhkanku. Akan kupastikan selama aku ada di sini, tidak akan ada bahaya apapun yang menyerangmu. Percayalah padaku!”
Aku tersenyum senang, ingin sekali memeluk Refald tapi aku takut peristiwa semalam terulang lagi. Sudah banyak hal memalukan yang kulakukan di sini. Padahal baru dua hari, tapi banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang harus kulalui. Tinggal semalam dan sehari lagi di sini, aku harus bersabar dan tetap fokus pada acara ini.
“Kau tidak ingin memelukku?”
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau terseret masuk ke lubang hitam itu lagi bersamamu!”
Refald langsung diam terpaku mendengar ucapanku.
****
__ADS_1