
“Sayang ...,” panggilku pada Refald agar pikiranku teralihkan.
“Hemm .... “ Refald masih tetap memelukku.
Aku ragu apakah aku harus lanjut berkata-kata atau tidak, yang jelas, aku sedang memikirkan beberapa hal, ada begitu banyak kejadian luar biasa yang terjadi hari ini, terutama sekembalinya kami dari hutan yang penuh dengan misteri dan teka-teki.
Dimulai dari pertengkaran Refald dengan salah satu petugas perhutani, lalu kedatangan ayah dan nenek yang tiba-tiba, disusul dengan berita pernikahan dadakan kakakku, dan yang terakhir adalah kenangan masa laluku bersama Refald yang tidak seberapa kuingat lagi jalan ceritanya.
Semua hal ini terjadi berurutan dan sukses membuatku terkejut apalagi berita mengenai Sakura yang tiba-tiba saja akan menikah. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa.
Saat ini aku ingin sekali mengenal Refald lebih jauh lagi, terlebih statusku yang sebagai tunangannya, tapi aku tidak pernah tahu siapa Refald sebenarnya. Karena itu, aku ingin mengajukan banyak pertanyaan padanya.
“Siapa nama panjangmu?” Aku memulai wawancaraku. “Kau sudah tahu nama Jepang dan nama Indo-ku, tapi aku sama sekali tidak tahu nama lengkap tunanganku.” Aku menenggelamkan wajahku didadanya. Rasanya sungguh nyaman jika Refald menemaniku malam ini.
“Kau bukan tunangan yang baik kalau begitu, sampai nama tunangan sendiri saja kau tidak tahu.” Refald terlihat santai saat aku menatap marah padanya.
“Refald, aku serius! Kau tahu alasannya, kan?” aku menatap tajam wajah Refald.
“Iya iya aku tahu, Honey. Akan aku beritahu, jangan ngambek lagi, oke. Nama lengkapku adalah ... Andi Refald Dilagara. Dilagara adalah nama ayahku.”
“Apa itu nama dan gelarmu sebagai pangeran? Kau keturunan raja dari mana?” aku masih bingung dengan nama panjang Refald.
“Aku tidak tahu, ayah dan kakekku tidak pernah menceritakannya padaku, yang aku tahu kakekku adalah keturunan Raja dengan gelar Karaeng Sewang. Namanya adalah Andi Agara Karaeng Sewang, sedangkan Ayahku sendiri adalah Andi Dilagara Karaeng Somba, dan aku ....”
“Andi Refald Dilagara Karaeng ... apa ya? Aku jadi bingung, ternyata namamu panjang sekali?” aku memotong kata-kata Refald untuk menebak nama panjang dan gelar Refald sebagai keturunan putra raja.
“Kau salah Honey, aku tidak boleh menggunakan gelar Karaeng.” Refald tertawa saat aku mencoba menebak-nebak nama gelarnya.
“Kenapa?” tanyaku penasaran kenapa Refald tidak boleh menggunakan gelar seperti yang dipakaikan pada gelar kakek dan ayahnya.
__ADS_1
“Karena aku belum menikah denganmu. Jika kita sudah menikah maka aku baru bisa mendapatkan gelar seperti Kakek dan Ayahku. Dan kau, secara otomatis juga harus mengubah nama panggilanmu karena kau adalah istriku.” Tangan Refald mengusap-usap kepalaku dengan lembut.
“Nama panggilan? Itu harus, ya?”
“Harus!”
“Ehm ... kira-kira panggilan apa yang akan kugunakan setelah menikah denganmu? Aku baru tahu kalau ada aturan seperti itu, atau selama ini aku saja yang tidak tahu?” Aku bergumam pada diriku sendiri.
“Itu tergantung gelar apa yang aku dapat nanti, Honey ... kau tidak sabaran sekali? Bagaimana kalau kita menikah sekarang? Supaya kau tahu, apa nama panggilan barumu?”ujar Refald menggodaku.
Mana mungkin dia mengajakku menikah sekarang? Dasar mesum!
Aku memukul pelan dada Refald. “Jangan bermimpi! Aku mau tidur saja daripada harus mendengarmu ngelantur kemana-mana.” Aku menutup wajahku dengan selimut dan membayangkan nama gelar apa yang aku dapat jika aku benar-benar menikah dengan Refald.
Pasti akan menyenangkan mendapat gelar nyonya Refald. Itulah kenapa pangeran William dan pangeran Harry juga baru mendapat gelar mereka setelah keduanya menikah dengan pasangan masing-masing. aku baru mengerti sekarang, ha-ha.
Refald sendiri tertawa ketika melihatku menenggelamkan kepalaku dalam selimut. Getaran tubuhnya bahkan sampai terasa di tubuhku.
“Kau lucu, Honey ... aku tahu kau sedang membayangkan gelar apa yang akan disematkan padamu setelah menikah denganku.”
“Apa kau juga bisa membaca pikiranku?” buru-buru aku membuka selimutku dan menatap Refald lagi.
Gawat! Apa selama ini dia tahu semua umpatan yang aku lontarkan padanya?
Refald tidak menjawab pertanyaanku, tiba-tiba saja ia beralih ke arah lain yang ada disampingnya, terdiam, dan mengangguk sebentar.
“Apa kau bicara dengan pasukanmu lagi? Mereka semua masih ada di sini?” tanyaku penasaran sekaligus ngeri membayangkan ada banyak dedemit di kamarku.
“Tidak, mereka sudah pergi, mana mungkin mereka berani mengganggu kita yang sedang berduaan, tidurlah atau aku akan memanggil mereka untuk menakutimu.” Refald mengecup ubun-ubun kepalaku dan memelukku dengan erat.
__ADS_1
“Refald ...,” panggilku lagi setelah kembali berbaring disamping Refald.
“Hemm, apalagi Honey, apa kau tidak lelah?”
“Lelah, tapi ... apa tidak apa-apa kita seperti ini? rasanya sangat aneh bagiku, karena aku terbiasa tidur sendiri di kamar ini.” Refald berganti posisi dan berbaring disampingku lalu tangannya mengangkat kepalaku supaya aku tidur di dadanya.
“Kenapa? Apa kau takut aku akan memakanmu malam ini?” Refald menatapku dengan lembut.
“Bukan begitu ... aku hanya tidak biasa saja ada orang lain yang tidur disampingku selain teman-teman dekatku.” Aku merasa gugup saat menjawab pertanyaan Refald.
“Ini bukan pertama kalinya kita tidur bersama seperti ini, Honey. Bukankah selama berada di hutan, kita berdua juga sering tidur berpelukan seperti ini? Harusnya kau sudah terbiasa.”
“Tetap saja, aku masih belum terbiasa. Rasanya aneh sekali. Kalau di dalam hutan, situasinya sudah berbeda dengan sekarang.” aku masih berusaha mendengar detak jantung Refald yang berdegup kencang sama sepertiku.
“Kau harus mulai terbiasa Honey, karena cepat atau lambat, kita akan sering tidur bersama seperti ini.”
Aku langsung bangkit dari tidurku dan menatap Refald. “Apa maksudmu kita akan sering seperti ini? Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak mau menikah denganmu dalam waktu dekat? Aku ingin sekolah dulu dan fokus pada karir yang akan aku ambil nanti.”
“Siapa yang tahu? Sudahlah tidurlah, ini sudah malam ... besok pagi, banyak sekali yang harus kita lakukan. Atau kau mau aku panggilkan semua pasukanku supaya mereka juga menemanimu?” Refald mulai menunjukkan sikap posesifnya.
“Tidak, terima kasih.” Aku langsung tidur di balik selimut dan Refald memelukku dari belakang.
Aku tidak tahu apakah aku harus bahagia atau apa, aku hanya takut kebiasaan baru ini akan membuatku jadi kecanduan dengan sosok Refald yang selalu hadir di sisiku. Hal seperti ini malah membuatku jadi takut jika suatu hari, takdir memisahkan kita kembali meskipun aku tidak begitu yakin. Namun, entah mengapa aku punya firasat buruk soal masalah ini.
Tadi Refald juga sempat membicarakan masalah flashdisk yang kami bawa dari hutan. Aku tidak begitu fokus tadi, karena terlalu memikirkan Sakura yang akan segera menikah. Aku jadi tidak tahu apa saja yang dikatakan Refald soal flashdisk itu.
Aku ingin bicara lagi dengannya, tapi suara dengkuran keras sudah mulai terdengar. Ini pertama kalinya aku melihat Refald tertidur dengan nyenyak akibat suara dengkurannya. Perlahan aku menatap wajah Refald yang tertidur pulas, mengecup keningnya sambil berkata, “Goodnight Honey, have nice dream.”
Setelah itu, aku kembali keposisiku semula dan langsung memejamkan mataku. Tidak berselang lama, akupun mulai terbuai dalam dunia mimpi.
__ADS_1
***